Senantiasa Bersama Ahlu Sunnah

14 Oct

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Senantiasa Bersama Ahlu Sunnah

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Beberapa waktu belakangan ini istilah sunnah demikian populer. Di berbagai penjuru negeri ini pun demikian marak kajian sunnah. Berbagai daruroh diadakan, tema yang menarik pun dipilih panita. Yang hadir pun demikian banyak jumlahnya. Namun demikian, tak sedikit pula diantara kita yang kurang paham prinsip-prinsip pokok ahlu sunnah wal jama’ah.

 

Diantara prinsip pokok ahlu sunnah wal jama’ah adalah senantiasa bersatu bersama ahlu sunnah. Al Imam Al Barbahari (wafat Tahun 329 H) Rohimahullah mengatakan,

“Diantara sunnah adalah senantiasa bersama al Jama’ah. Barangsiapa yang tidak suka dan memisahkan diri dari Al Jama’ah berarti dia telah melapaskan tali Islam dari pundaknya. Sehingga dia menjadi tersesat dan menyesatkan orang lain”.

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Ar Rojihi Hafizhahullah mengatakan,

“Maksudnya senantiasa bersama jama’ah kaum muslimin. Seorang muslim wajib senantiasa bersama jama’ah kaum muslimin dan tidak menyempal dari mereka dalam permasalahan keyakinan, amal perbuatan dan perkataan. Allah Subhana wa Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

 “Dan barangsiapa yang menentang Rosul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali”. (QS. An Nisa [4] : 115)

Barangsiapa yang menyimpang dari jalannya jama’ah kaum muslimin maka berarti dia telah menempuh jalan selain jalan orang-orang yang beriman dan terancam akan Allah serahkan kepada pihak yang dia berikan loyalitas kepadanya serta akan dimasukkan ke neraka jahannam”[1].

Namun ada hal yang perlu diperhatikan di sini, yaitu apakah yang dimaksud jama’ah kaum muslimin di sini ? Apakah mayoritas kaum muslimin meskipun mereka tidak di atas kebenaran ?

Terkait hal ini Syaikh DR. Sholeh Al Fauzan Hafizhahullah mengatakan,

“Yang dimaksud dengan jama’ah dalam ungkapan Al Barbahari adalah jama’ah kaum muslimin yang mereka berada di atas kebenaran. Adapun jama’ah yang tidak berada di atas kebenaran maka tidak disebut sebagai jama’ah yang hakiki. Semua jama’ah yang mereka berkumpul di atas kesesatan/penyimpangan atau di atas manhaj yang bertentangan dengan Islam/ Sunnah maka pada hakikatnya tidak dapat dikatakan sebagai Al Jama’ah yang dipuji dan kita tidak diperintahkan untuk senantiasa bersama mereka”[2].

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Ar Rojihi Hafizhahullah mengatakan,

“Jamaah kaum muslimin mereka adalah para shahabat, tabi’in dan para imam setelah mereka yang beramal dengan Al Qur’an dan Sunnah Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam serta melaksanakan berbagai perintah dan menjauhi berbagai larangan. Mereka pun adalah orang-orang yang memperingatkan ummat dari bid’ah terkait ucapan/pendapat, amal ibadah, masalah akidah serta niat. Nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

افْتَرَقَتِ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى أَوْ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى اثْنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِى عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلَّا وَاحِدَةً. قِيْلَ مَا هِيَ يَا رَسُوْلَ اللهِ ؟ قَالَ : مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِيْ

“Ummat Yahudi akan terpecah menjadi 71 golongan, ummat nashrani akan terpecah menjadi 72 golongan sedangkan ummatku akan terpecah menjadi 73 golongan semuanya di neraka kecuali satu. Ada yang bertanya, “Siapakah yang satu itu wahai Rosulullah ?” Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab, “Mereka yang aku dan para shahabatku berada di atasnya[3].

Dalam lafazh lainnya disebutkan,

وَإِنَّ أُمَّتِيْ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ كُلُّهَا فِيْ النَّارِ  إلا وَاحِدَةً وَهِىَ الْجَمَاعَةُ

“Sesungguhnya ummatku akan terpecah menjadi 73 golongan semuanya di neraka kecuali satu mereka adalah Al Jama’ah[4].

Hadits ini diriwayatkan dalam lafazh yang beragam. Dalam hadits ini terdapat penjelasan wajibnya senantiasa bersama Al Jama’ah, yaitu golongan yang selamat. Merekalah ahlus sunnah wal jama’ah. Merekalah yang bersesuian dengan kebenaran[5].

Inilah dalil syari’i terkait apa yang dimaksud dengan Al Jama’ah dalam terminologi agama.

 

Syaikh Robi’ bin Hadi Al Madkholi Hafizhahullah mengatakan,

“Mereka adalah orang-orang yang berada di atas kebenaran baik dalam masalah aqidah, manhaj, amal ibadah dan hal-hal yang ulama ijma’ atasnya[6].

 

Syaikh DR. Sholeh Al Fauzan Hafizhahullah mengatakan,

“Maka Al Jama’ah yang dimaksud di sini adalah mereka yang berada di atas kebenaran. Al Jama’ah bukan berarti mereka yang jumlahnya banyak. Bahkan walaupun jumlahnya hanya satu namun dia berada di atas kebenaran maka dialah Al Jama’ah itu. Sehingga Al Jama’ah itu adalah siapa saja yang berada di atas jalan kebenaran entah itu jumlahnya banyak atau sedikit”[7].

Ringkasnya : yang dimaksud dengan Al Jama’ah dalam hal ini adalah Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam, para shahabat Rodhiyallahu ‘anhum, para tabi’in dan tabi’ut tabi’in, para imam yang mengikuti sunnah mereka serta orang-orang seterusnya yang senantiasa mengikuti mereka dengan benar walaupun jumlahnya sedikit.

 

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Ar Rojihi Hafizhahullah mengatakan,

“Jadi, termasuk petunjuk Nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallam adalah senantiasa bersama Al Jama’ah. Senantiasa bersama Al Jama’ah itu maksudnya adalah beramal sesuai dengan sunnah. Yaitu beramal sesuai dengan apa yang diamalkan jama’ah kaum muslimin dari kalangan para shahabat, tabi’in dan orang-orang setelah mereka yang berada di atas kebenaran. Senantiasa bersesuaian dengan mereka baik dalam hal keyakinan, amal perbuatan dan ucapan[8].

Terkait hadits perpecahan ummat Nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallam menjadi 73 golongan, ada hal yang perlu dipahami dengan benar. Sebab sebagian kalangan baik itu yang tidak suka dengan perkembangan dakwah sunnah ataupun orang yang ghuluw.

Syaikh Yahya bin Ahmad An Najmi Rohimahullah mengatakan,

“Ketahuilah bahwsanya ancaman neraka untuk seluruh firqoh/ golongan dalam hadits ini bukan maksudnya bahwa mereka semuanya kekal di neraka. Namun siapa saja yang menyelisihi Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam, para shahabat Rodhiyallahu ‘anhum jika penyelisihannya terkait hal yang mewajibkan dia keluar dari Islam maka inilah yang kekal di neraka. Sedangkan orang-orang yang menyelisihi beliau Shollallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabat Rodhiyallahu ‘anhum dalam masalah juz’iyah maka mereka tetap di atas Islam namun terancam api neraka. Mereka masih dapat mengharapkan apa yang diharapkan oleh orang-orang yang bertauhid berupa keluar dari neraka. Berdasarkan hadits-hadits Nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallam terkait syafaat. Bahwasanya Allah ‘Azza wa Jalla akan mengeluarkan orang-orang yang meninggal di atas tauhid yang bersamanya masih ada iman walaupun sedikit”[9].

Terkait dengan ungkapan Al Imam Al Barbahari Rohimahullah,

فَمَنْ رَغِبَ عَنْ الجَمَاعَةِ وَفَارَقَهَا فَقَدْ خُلِعَ رِقْبَةَ الإِسْلَامِ مِنْ عُنُقِهِ, وَكَانَ ضَالًّا مُضِلًّا

“Barangsiapa yang tidak suka dan memisahkan diri dari Al Jama’ah berarti dia telah melapaskan tali Islam dari pundaknya. Sehingga dia menjadi tersesat dan menyesatkan orang lain”.

Syaikh DR. Sholeh Al Fauzan Hafizhahullah mengatakan[10],

“Kalimat ini bersesuaian dengan nash hadits Nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ أَوْ قِيدَ شِبْرٍ فَقَدْ خَلَعَ رَبْقَةَ الإِسْلاَمِ مِنْ عُنُقِهِ

 “Barangsiapa yang memisahkan diri dari Al Jama’ah sejengkal berarti dia telah melepaskan tali pengikat Islam dari lehernya”[11].

Ini merupakan ancaman yang sangat serius, jika bentuk memisahkan dirinya terkait akidah misalnya dia beribadah kepada selain Allah maka berarti dia telah kafir. Namun bila bentuk penyimpangannya di bawah itu maka berarti dia telah tersesat. Memisahkan diri dari Al Jama’ah tidak ada kebaikan padanya. Sebab dalam hadits Nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan,

فَعَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّ يَدَ اللهِ عَلَى الجَمَاعَةِ

 “Wajib bagi kalian senantiasa bersama Al Jama’ah, sebab sesungguhnya tangan Allah bersama Al Jama’ah”[12].

Beliau Hafizhahullah juga mengatakan[13],

“Ungkapan Al Barbahari Rohimahullah (وَكَانَ ضَالًّا مُضِلًّا) ‘dia menjadi tersesat dan menyesatkan orang lain’maksudnya dia sendiri tersesat dari jalan yang lurus dan menyesatkan orang lain yang mengikutinya”.

 

Syaikh Robi’ bin Hadi Al Madkholi Hafizhahullah mengatakan[14],

“Sesungguhnya persatuan kaum muslimin di atas kebenaran merupakan salah satu kekuatan besar dan penopang agama. Termasuk dalam hal ini sabda Nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ فَمِيتَةٌ جَاهِلِيَّةٌ

 “Siapa saja yang melihat sesuatu yang dia tidak sukai pada pemimpinnya maka hendaklah dia sabar. Sesungguhnya barangsiapa yang memisahkan dirinya dari Al Jama’ah sejengkal saja sungguh dia telah mati seperti matinya orang jahiliyah”[15].

 

Kesimpulannya :

  1. Termasuk Sunnah, petunjuk Nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallam yang harus diikuti adalah senantiasa mengikuti, menapaki jejak Al Jama’ah.
  2. Al Jama’ah adalah Nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallam, para shahabatnya Rodhiyallahu ‘anhum dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam seluruh aspek agamanya.
  3. Memisahkan diri, mencari metode beragama selain jalan Nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallam, para shahabat Rodhiyallahu ‘anhum dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan benar maka dia telah tersesat dan dapat menyesatkan pengikutnya.
  4. Ketersesatan seseorang dalam beragama terukur dari sejauh mana dia memisahkan dirinya dari Al Jama’ah.
  5. Persatuan hakiki bukanlah persatuan badan, melainkan persatuan akidah dan manhaj di atas kebenaran Al Qur’an dan sunnah Nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallam sesuai pemahaman salaful ummah.

 

 

 

Ketika hujan, 5 Shoffar 1440 H / 14 Oktober 2018 M

 

 

Aditya Budiman bin Usman Bin Zubir

[1] ‘Aunul Qori hal. 16.

[2] Ittihaful Qori hal. 18.

[3] HR. Abu Dawud no. 4596, Tirmidzi no. 2640, Ibnu Majah no. 3993. Tirmidzi Rohimahullah berkata, “Hadits ini hasan shohih”.

[4] HR. Ahmad no. 12208.

[5] ‘Aunul Qori hal. 16-17.

[6] ‘Aunil Baari hal. 54.

[7] Ittihaful Qori hal. 18

[8] Aunul Qori hal. 17.

[9] Irsyadus Sari hal. 28.

[10] Ittihaful Qori hal. 18.

[11] HR. Tirmidzi no. 2863, Ahmad no. 21601. Hadits ini dinilai shohih oleh Al Albani Rohimahullah.

[12] HR. Tirmidzi no. 2165, An Nasa’i no. 9225, dan Ahmad no. 21293. Hadist ini dinilai hasan oleh Al Albani Rohimahullah.

[13] Ittihaful Qori hal. 20.

[14] ‘Aunul Baari hal. 54.

[15] HR. Muslim no. 1849.

 

 

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply