Jika Huruf Istifham Mendahului Huruf Nafi Menunjukkan Penetapan

4 Jun

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Jika Huruf Istifham Mendahului Huruf Nafi Menunjukkan Penetapan

 

Segala puji yang disertai pengagungan seagung-agungnya hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala dan perendahan diri kita yang serendah-rendahnyanya hanya kita berikan kepadaNya Robbul ‘Alamin yang telah menurunkan Al Qur’an sebagai petunjuk. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam, istri-istri Beliau, Keluarganya, para Sahabatnya dan ummat Beliau yang senantiasa meniti jalannya dengan baik hingga hari kiamat.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rohimahullah menyebutkan kaidah di atas ketika menyampaikan seputar bab mengenal Robb Subhana wa Ta’ala. Sesunguhnya setiap manusia pasti mengenal Robb dalam hatinya. Karena pengakuan, pengetahuan/pengenalan terhadap pencipta adalah sebuah hal yang fitrah dan sebuah hal yang doruri/bawaan bagi jiwa manusia. Walaupun sebagian dari

Share

Susunan Mufrod Mudhof Memberikan Faidah Keumuman Makna, Sebagaimana Faidah Keumuman dari Isim Jama’ yang Mudhof

14 Mar

Kaidah Kelima

Susunan Mufrod Mudhof Memberikan Faidah Keumuman Makna, Sebagaimana Faidah Keumuman dari Isim Jama’ yang Mudhof


Contoh penerapan kaiadah ini sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْوَ بَنَاتُكُمْ

“Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu dan anak-anak perempuanmu[1]”. ( An Nisa’ : 23 ).

Maka kata-kata ibu dalam ayat ini mencakup seluruh ibu yang engkau menasabkan diri dengannya (yaitu garis dari ibu, nenek dan seterusnya ke atas, pent.). Demikian juga kata anak perempuan yang terdapat dalam ayat ini mencakup seluruh anak perempuan yang mereka menasabkan dirinya kepadamu (yaitu garis dari anak perempuan, cucu perempuan dan seterusnya ke bawah, pent. ). Demikian seterusnya hingga akhir ayat. Demikan juga dalam firman Allah Subahanahu wa Ta’ala,

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

“Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)”. ( Adh Dhuha : 11 ).

Share

Jika Isim Nakiroh Terletak dalam Konteks Penafian/Peniadaan, Larangan, Syarat, Pertanyaan Menunjukkan Keumuman

20 Feb

Kaidah Keempat

Jika Isim Nakiroh Terletak dalam Konteks Penafian/Peniadaan, Larangan, Syarat, Pertanyaan Menunjukkan Keumuman

Contoh penerapan kaidah ini seperti yang terdapat dalam firman Allah Ta’ala,

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun” . ( An Nisa’ : 36 ).

Maka larangan terhadap syirik baik itu syirik dalam niat–niat, perkataan-perkataan, perbuatan–perbuatan, baik itu dari syirik akbar, syirik ashghor/kecil, syirik yang tersembunyi (terletak di hati), syirik yang jelas. Maka terlarang bagi seorang hamba menjadikan tandingan apapun bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sekutu pada salah satu dari semua hal-hal yang tersebut di atas. Semisal dengan itu firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا

“Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah”. ( Al Baqoroh : 22 ).

Share