Siapa Shahabat Nabi ?

10 Aug

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Siapa Shahabat Nabi ?

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Kalau orang non muslim ditanya, ‘Siapa orang yang paling mulia setelah Nabi kalian ?’ Tentu mereka akan menjawab, ‘Muridnya Nabi’, ‘Shahabat Nabi’. Tentu sebagai seorang muslim tentu kita akan menjawab, ‘Para Shahabat Nabi Rodhiyallahu ‘anhum”. Inilah keyakinan kita sebagai ummat Islam. Bukan sebagaimana kelakuan orang syi’ah rofidhoh yang melaknat mayoritas shahabat Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam. Tentulah kayakinan mereka ini amat sangat aneh.

Pada artikel kali ini kita tidak sedang membahas syi’ah dan kesesatannya. Namun yang akan kita ketengahkan adalah siapa itu para shahabat Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam agar kita lebih mengenal dan mencintai mereka.

Share

Jika Ijtihad Seorang Mufti/Ulama Berubah, Apakah Yang Dilakukan ?

15 Dec

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Jika Ijtihad Seorang Mufti/Ulama Berubah, Apakah Yang Dilakukan ?

Alhamdulillah wa Sholatu wa Salamu ‘alaa Rosulillah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam.

Pembaca yang semoga dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala, judul di atas mungkin keadaan sebagian kita. Ketika kita membaca sebagian fatwa ulama pada sebuah kesempatan. Lalu kemudian sang ulama setelah melakukan penelitian ulang kemudian berubah pendapat dari pendapat sebelumnya pada masalah yang sama. Lalu bagaimanakah yang harus kita lakukan sebagai orang yang awam yang bukan ahlu ijtihad atau orang yang belum mampu berijtihad ?

 

Syaikh DR. Nashir Asy Syatsiy Hafidzahullah mengemukan sebuah pembahasan yang menarik untuk kita simak. Berikut kutipannya.

Share

3 Kaidah Dalam Mengambil Sebab

3 Apr

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

3 Kaidah Dalam Mengambil Sebab

Alhamdulillah wa Sholatu wa Salamu ‘alaa Rosulillah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam.

Langsung saja, latar belakang kami menulis artikel ringkas kali ini adalah sebagian kita belum, atau kurang faham masalah mengambil sebab. Sebab yang kami maksudkan disini bersifat umum. Namun agar lebih mudah difahami, insya Allah akan kami contohkan dalam hal sakit dan obat.

Share

Tafsir Nabi tentang Lafadz Al Qur’an dan Hadits

29 May

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Tafsir Nabi tentang Lafadz Al Qur’an dan Hadits

Segala puji yang disertai pengagungan seagung-agungnya hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala dan perendahan diri kita yang serendah-rendahnyanya hanya kita berikan kepadaNya Robbul ‘Alamin yang telah menurunkan Al Qur’an sebagai petunjuk. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam, istri-istri Beliau, Keluarganya, para Sahabatnya dan ummat Beliau yang senantiasa meniti jalannya dengan baik hingga hari kiamat.

Seiring semakin dekatnya masa kita ke masa akhir zaman, semakin sidikit pula ulama yang benar-benar mengikuti manhajnya para Nabi ‘Alaihimussalam dan para sahabat Rodhiyallahu ‘anhum. Maka banyak sekali kita dengar, baca, saksikan orang-orang yang tidak bertanggung jawab merusak pemahaman ummat seputar risalah agama yang telah dibawa Nabi yang mulia Shollallahu ‘alaihi wa Sallam. Yang lebih menyedihkan lagi sebagian dari kita menganggap orang semisal ini adalah orang yang layak dijadikan ulama bahkan serendah-rendahnya mendapat gelar cendikiawan muslim di negara yang kita cintai ini.

Share

Kaidah Penting Dalam Memahami Al Qur’an dan As Sunnah

3 Oct

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Kaidah Penting Dalam Memahami Al Qur’an dan As Sunnah

Pembaca yang semoga dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala pada kesempatan kali ini kita akan kembali mencoba menggali kaidah-kaidah ushul/dasar yang disampaikan para ulama untuk memamahi Al Qur’an dan Sunnah secara benar. Diantara kaidah yang disampaikan oleh para ulama adalah kaidah singkat yang akan kita ketengahkan dalam tulisan ini yaitu,

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah menjelaskan makna – makna ayat Al Qur’an kepada para sahabatnya”.

Share

Tidak Jadi Beramal Yang Berpahala

10 May

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Tidak Jadi Beramal Yang Berpahala

Alhamdulillah wa Sholatu wa Salamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala Alihi wa Ashabihi Ajma’in. Amma ba’du,

Masalah ini merupakan masalah lanjutan dari pembahasan kita yang telah lalu yaitu kaidah penting seputar niat. Pembahasan ini merupakan sebuah penjelasan singkat dari sebuah hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin ‘Abbas Rodhiyallah ‘Anhuma yang merupakan salah satu hadits Qudsi,

 إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً وَإِنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيرَةٍ وَإِنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً وَإِنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً

“Sesungguhnya Allah telah menetapkan (terjadinya dan pahala atas) kebaikan dan (terjadinya dan dosa atas) keburukan lalu menjelaskan hal itu. Maka barangsiapa yang memiliki himmah/azam untuk melakukan kebaikan namun tidak mengamalkannya maka Allah telah menetapkan baginya sebuah kebaikan/pahala yang sempurna. Apabila dia memiliki himmah/azam dan dia melaksanakannya maka baginya 10 kebaikan/pahala hingga 700 bahkan hingga kelipatan yang banyak. Apabila dia memiliki himmah/azam untuk melakukan keburukan namun tidak jadi melakukannya maka Allah menetapkan sebuah pahala/kebaikan yang sempurna untuknya. Apabila dia memiliki himmah/azam dan ia melakukannya maka baginya sebuah keburukan/dosa[1]

Share

Sebuah Pemahaman Tentang Sebuah Kaidah Penting

5 Sep

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Sebuah Pemahaman Tentang Sebuah Kaidah Penting

Segala puji hanya milik Allah ‘Azza wa Jalla. Dzat yang telah menciptakan langit dan bumi serta segala isinya. Sholawat serta salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi was sallam kepada istri-istri beliau dan seluruh sahabatnya Ridwanullah alaihim ajma’in.

[Pertanyaan]

“Para ‘Ulama’ menyebutkan sebuah kaidah, “Tidaklah boleh mengkafirkan seseorang jika dia melakukan perbuatan kekafiran kecuali telah terdapat syarat-syarat pengkafiran dan tidak adanya penghalang serta telah tegak hujjah”. Apakah kaidah ini benar ?”

Share