Tafsir Surat Al Kahfi (24)

13 Sep

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Tafsir Surat Al Kahfi (24)

Segala puji yang disertai pengagungan seagung-agungnya hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala dan perendahan diri kita yang serendah-rendahnyanya hanya kita berikan kepadaNya Robbul ‘Alamin yang telah menurunkan Al Qur’an sebagai petunjuk. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam, istri-istri Beliau, Keluarganya, para Sahabatnya dan ummat Beliau yang senantiasa meniti jalannya dengan baik hingga hari kiamat.

 

[Tafsir Surat Al Kahfi ayat 29]

Allah Subhana wa Ta’ala berfirman,

وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَا وَإِنْ يَسْتَغِيثُوا يُغَاثُوا بِمَاءٍ كَالْمُهْلِ يَشْوِي الْوُجُوهَ بِئْسَ الشَّرَابُ وَسَاءَتْ مُرْتَفَقًا

“Dan katakanlah, ‘Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu. Maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir.” Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zholim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek”. (QS. Al Kahfi [18] : 29).

 

Share

Ketika Diberdirikan di Neraka

10 Sep

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Ketika Diberdirikan di  Neraka

 

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Allah Subhana wa Ta’ala berfirman,

وَلَوْ تَرَى إِذْ وُقِفُوا عَلَى النَّارِ فَقَالُوا يَا لَيْتَنَا نُرَدُّ وَلَا نُكَذِّبَ بِآَيَاتِ رَبِّنَا وَنَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ. بَلْ بَدَا لَهُمْ مَا كَانُوا يُخْفُونَ مِنْ قَبْلُ وَلَوْ رُدُّوا لَعَادُوا لِمَا نُهُوا عَنْهُ وَإِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ

“Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka diberdirikan ke neraka, lalu mereka berkata, “Sekiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan kami tidak akan mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, kami pun akan menjadi orang-orang yang beriman”. “Tetapi (sebenarnya) telah nyata bagi mereka keburukan yang mereka dahulu selalu mereka sembunyikan. Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya. Dan sesungguhnya mereka itu adalah pendusta belaka”. (QS. Al An’am [6] : 27-28)

Share

Makna Asmaul Husna, Al Ahad dan Al Wahid

2 Sep

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Makna Asmaul Husna, Al Ahad dan Al Wahid

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maawalaah.

Kembali kita melanjutkan artikel yang sudah sangat lama tidak berlanjut yaitu seputar penjelasan ringkas makna dari Asma’ul Husna Allah ‘Azza wa Jalla. Silakan klik di sini untuk melihat pembahasan sebelumnya. Pada kesempatan kali ini kita telah sampai pada makna Al Ahad dan Al Wahid.

Share

Apakah Berobat Mengurangi Iman ?

26 Aug

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Apakah Berobat Mengurangi Iman ?

 

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Iman merupakan modal seorang muslim dalam menghadap Allah ‘Azza wa Jalla di hari qiyamat. Mengenai apa itu iman, kami mempersilahkan para pembaca sekalian untuk merujuk ke tulisan kami beberapa tahun yang lalu dengan mengklik di sini.

Dalam hidup dan kehidupannya manusia tentu tak luput dari musibah. Salah satu bentuk musibah yang Allah Subhana wa Ta’ala berikan sebagai ujian kepada para hamba Nya adalah sakit. Beberapa tahun yang lalu juga kami pernah memposting beberapa point agar orang yang sakit dapat lebih bersabar dan berharap pahala dari apa yang sedang menimpanya. (silakan klik di sini).

Lantas apakah berusaha menyembuhkan sakit yang diujikan Allah Subhana wa Ta’ala kepada kita dapat mengurangi kadar pahala yang kita terima, atau malah dapat mengurangi iman kita ? Atau dengan kata lain, apakah berobat dapat mengurangi kadar keimanan seseorang ?

Mari simak tanya jawab berikut ?

Share

Iedul Fithri dan Iedul Adha, Afdhol Mana ?

21 Aug

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Iedul Fithri dan Iedul Adha, Afdhol Mana ?

a.k.a Hari Raya Dunia Akhirat

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Insya Allah besok kaum muslimin di negeri kita akan merayakan salah satu hari raya ummat Islam, Iedul Adha. Berikut catatan ringan terkait hari raya, yang mungkin terlupa bagi kita atau malah belum pernah kita baca. Mudah-mudahan dengan ini hari raya besok lebih bermakna. Amin.

Share

Belumkah Bersemangat Di 10 Awal Dzulhijjah ?

17 Aug

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Belumkah Bersemangat Di 10 Awal Dzulhijjah ?

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Tak pelak lagi, setiap orang yang berakal tentu ingin mendapatkan sesuatu yang terbaik walaupun seringnya dengan harga yang suangat mahal. Bahkan sebagian rela merogoh kocek lebih dalam lagi untuk mendapatkan limited edition atau malah cuma ada satu di penjuru dunia.

Namun begitulah kita manusia yang lemah iman ini, gilirian dikasih kabar Nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallam bahwa 10 hari awal bulan Dzulhijjah ini merupakan hari-hari spesial di sisi Allah ‘Azza wa Jalla, malah kayaknya gak yakin atau malah merasa gak punya urusan untuk itu. Padahal kabar itu sangat jelas dan tegas.

Share

Dzikir Dengan Hati, Lisan dan Anggota Badan

9 Aug

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dzikir Dengan Hati, Lisan dan Anggota Badan

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Sekitar 9 tahun yang lalu kami pernah memposting makna dzikr dalam Firman Allah Subhana wa Ta’ala Surat Thoha ayat : 124. Ibnul Qoyyim Rohimahullah memberikan tafsiran makna yang sangat luas terkait makna dzikir dalam ayat ini yang intinya adalah ittiba’ kepada Kitabullah (silakan klik di sini).

Hal yang intinya hampir sama namun lebih mudah dipahami insya Allah sebagaimana yang dikemukan oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah berikut ini[1],

Share