Mengikuti Sunnah Dalam Amal dan Keyakinan

10 Aug

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Mengikuti Sunnah Dalam Amal dan Keyakinan

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Makin ke belakang, makin banyak kaum muslimin yang mulai akrab dengan istilah sunnah Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam. Istilah sunnah Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam pun mulai dipahami sebagai istilah para ulama ahli ushul. Namun lebih kepada masalah yang nampak semata. Misalnya jenggot, celana cingkrang, cadar, dan seterusnya dari sunnah-sunnah Nabi yang terlihat. Padahal istilah sunnah jauh lebih luas dari itu, sebagaimana apa yang disebutkan  Syaikh DR. Muhammad bin Husain bin Hasan Al Jaizaniy Hafizhahullah,

“Yang dimaksud dengan Sunnah di sini (istilah ushul –pen) adalah jalan, metode yang dijalani dalam beragama. Yaitu (metode –pen) yang Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam, Kulafaur Rosyidun berjalan di atasnya baik berupa i’tiqod, keyakinan, amal dan ucapan. Walaupun secara umum istilah sunnah digunakan secara khusus dalam permsalahan i’tiqod/keyakinan sebab inilah pondasinya agama[1] dan menyelisihi sunnah dalam permasalahan i’tiqod/keyakinan merupakan sebuah bahaya yang besar[2].

Demikian pengertian sunnah menurut ulama ushul secara umum. Sehingga istilah sunnah sebenarnya mencakup seluruh aspek kehidupan Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam, baik yang hukumnya wajib ataupun sunnah/mustahab/dianjurkan. Demikian pula cakupannya luas mencakup seluruh aspek kehidupan, keyakinan, ucapan, amal, muamalah dan seterusnya. Namun yang paling digarisbawahi dan paling ditekankan adalah masalah keyakinan/i’tiqod.

Di sisi lain, Istilah hijrah atau hijroh pun mulai populer di tengah-tengah kita. Si Fulan sudah hijroh, maksudnya Si Fulan telah meninggalkan kemaksiatan dan kembali kepada keta’atan kepada Allah dan Rosul Nya Shollallahu ‘alaihi wa Sallam. Namun sebagaimana istilah sunnah, istilah hijrah ini pun kebanyakan ‘masih dipahami dan dinilai pada aspek sunnah yang tampak’. Sehingga berdampak pada kehidupan nyata di masyarakat. Yang dijadikan tolak ukur dan aspek penilaian utama adalah hal-hal yang fisik atau yang tampak. Padahal hijrah terpenting adalah hijrah dari kekufuran menuju tauhid, hijrah dari kemusyrikan menuju memurnikan ibadah hanya kepada Allah Ta’ala semata.

Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahab Rohimahullah mengatakan setelah menjelaskan Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam diangkat menjadi menjadi Rosul dengan turunnya surat Al Mudatsir ayat 1-7,

“Berdasarkan hal ini, (Nabi) Shollallahu ‘alaihi wa Sallam selama 10 tahun menyeru, mengajak dan mendakwahkan tauhid”.

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah mengatakan,

“Maksudnya sesungguhnya Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam tetap, senantiasa mendakwahkan kepada mentauhidkan Allah ‘Azza wa Jalla yaitu menunggalkan peribadatan hanya untuk Allah Subhana wa Ta’ala semata selama 10 tahun”[3].

Artinya Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam memfokuskan dakwah tauhid dan menjauhkan ummat dari kesyrikan selama 10 tahun sebelum mewajibkan syari’at lainnya. Walaupun sebagian syariat terlah diwajibkan namun masih secara umum[4].

Intinya fokus dakwah Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam adalah tauhid dan menjauhkan kemusyrikan. Maka sudah sepantasnya jika kita benar-benar ingin mengikuti sunnah Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam dan hijrah maka mulailah dengan ilmu tentang aqidah, i’tiqod dan masalah ushul dalam keyakinan dan manhaj Ahlu Sunnah wal Jama’ah. Bukan terfokus pada masalah fisik yang tampak semata apalagi disibukkan dengan masalah kekinian dunia dalam berita yang tidak akan ada putusnya.

Syaikh Prof. DR. ‘Abdur Rozzaq Al Badr Hafizhahullah mengatakan[5],

Sesungguhnya mengikuti petunjuk Nabi kita yang mulia Shollallahu ‘alaihi wa Sallam dan sunnahnya harus mengikutinya dalam permasalahan i’tiqod, keyakinan dan amal secara simultan/bersamaan. Barangsiapa yang mengikuti sunnah dalam permasalahan amaliyah semata namun menyelisihi sunnah beliau dalam masalah aqidah, keyakinan maka dia bukanlah orang yang benar-benar/ totalitas mengikuti sunnah Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam. Bukan juga termasuk orang-orang yang menyesuaikan dirinya dengan petunjuknya dengan sempurna sampai dia mengikuti sunnah beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam dalam masalah i’tiqod, keyakinan dan amal. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ

 “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rosul Nya”. (QS. Al Hujurot [49] : 1)

“Ibnul Qoyyim Rohimahullah berkata menjelaskan makna ayat ini, ‘Maka prilaku mendahului manakah yang lebih parah dari pada mendahulukan akalnya atas apa yang dibawa Nabi ?!’ Sebahagian salaf mengatakan dalam menjelaskan ayat ini, ‘Janganlah engkau mengatakan sesuatu sampai beliau (Nabi) mengatakannya. Janganlah engkau mengerjakan, beramal sampai beliau memerintahkannya’. Sebuah perkara yang diketahui bersama bahwa barangsiapa yang mendahulukan akalnya atau akal orang lain di atas apa yang dibawa beliau (sunnah -pen) maka dia adalah orang yang paling bermaksiat kepada Nabi dan yang paling sok tahu/mendahului terhadap sunnah beliau[6].

 

Kesimpulannya :

Ketika seseorang hendak hijrah dari kemaksiatan menuju keta’atan, dari kufur kepada ketauhidan maka hendaklah dia memulai perjalanannya hijrah itu dengan membekali diri dengan ilmu agama terutama masalah aqidah, i’tiqod atau keyakinan ahlu sunnah wal jama’ah.

Demikian pula ketika kita berdakwah di keluarga kita, lingkungan masyarakat kita maka mulailah dakwah tersebut dengan mengejak, menjelaskan kepada mereka tentang aqidah, i’tiqod atau keyakinan ahlu sunnah wal jama’ah. Sembari memperkenalkan sunnah Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam dalam hal yang berkaitan dengan amal perbuatan. Allahu a’lam

 

اللهم آتِ نفوسنا تقواها ، زكِّها أنت خير من زكاها ، أنت وليُّها ومولاها ، اللهم إنا نسألك الهدى والتقى والعفة والغنى

Sigambal, 18 Dzul Qo’dah 1438 H / 10 Juli 2017 M.

Aditya Budiman bin Usman bin Zubir

[1] Lihat keterangannya di sini.

[2] Lihat Ma’alim Fi Ushul Fiqh ‘Inda Ahli Sunnah wal Jama’ah hal. 17 terbitan Dar Ibnul Jauziy, Riyadh.

[3] Lihat Syarh Tsalatsatul Ushul hal. 124 terbitan Dar Tsuroya, Riyadh, KSA.

[4] Lihat Taisirul Wushul Ilaa Nailil Ma’mul bi Syarhi Tsalatsatil Ushul hal. 97-98 terbitan Maktabah Darul Haromain Al Islamiyah, Shon’a, Yaman

[5] Lihat Ta’liqoh ‘ala Syarhus Sunnah lil Muzani hal. 46.

[6] Lihat Ta’liqoh ‘ala Syarhus Sunnah lil Muzani hal. 45-46.

 

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply