Siapa Bilang Pacaran Haram ??

2 Oct

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Siapa Bilang Pacaran Haram ??

Segala puji hanya milik Allah ‘Azza wa Jalla. Hanya kepadaNya kita memuji, meminta tolong, memohon ampunan, bertaubat dan memohon perlindungan atas kejelekan-kejelekan diri dan amal-amal yang buruk. Barangsiapa yang diberi Allah petunjuk maka tidak ada yang dapat menyesesatkannya dan barangsiapa yang Allah sesatkan maka tidak ada yang dapat memberikannya hidayah taufik. Aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah dan tiada sekutu baginya. Aku bersaksi bahwasanya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hambaNya dan UtusanNya. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya dan para sahabatnya ridwanulloh ‘alaihim jami’an.

Adalah suatu hal yang telah menyebar luas dikalangan masyarakat sebuah kebiasaan yang terlarang dalam islam namun sadar tak sadar telah menjadi suatu hal yang sangat sering kita lihat bahkan sebahagian orang menganggapnya adalah suatu hal yang boleh-boleh saja, kebiasan tersebut adalah apa yang disebut sebagai pacaran. Oleh karena itu maka penulis mencoba untuk memaparkan sedikit tinjauan islam tentang hal ini dengan harapan penulis dan pembaca sekalian dapat memahami bagaimana islam memandang pacaran serta kemudian dapat menjauhinya.

Pacaran yang dikenal secara umum adalah suatu jalinan hubungan cinta kasih antara dua orang yang berbeda jenis yang bukan mahrom dengan anggapan sebagai persiapan untuk saling mengenal sebelum akhirnya menikah[1].

Inilah mungkin definisi pacaran yang banyak tersebar dikalangan muda-mudi. Maka atas dasar inilah kebanyakan orang menganggap bahwa hal ini adalah suatu yang boleh-boleh saja, bahkan lebih parahnya lagi dianggap aneh kalau menikah tanpa pacaran terlebih dahulu –wal ‘iyyadzubillah –. Lalu jika demikian bagaimanakah tinjauan islam tentang hal ini? Berikut penulis coba jelaskan sedikit kepada pembaca –sesuai dengan ilmu yang sampai kepada penulis– bagaimana islam memandang pacaran.

Pacaran adalah suatu yang sudah jelas keharamannya dalam islam, dalil tentang hal ini banyak sekali diantaranya adalah firman Allah ‘Azza wa Jalla :

وَلاَ تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلاً

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan seburuk-buruk jalan”. (Al Isra’ [17] : 32).

Ayat ini adalah dalil tegas yang menunjukkan haramnya pacaran.

Berkaitan dengan ayat ini seorang ahli tafsir Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah- mengatakan dalam tafsirnya,

Larangan mendekati suatu perbuatan nilainya lebih daripada semata-mata larangan melakukan suatu perbuatan karena larangan mendekati suatu perbuatan mencakup larangan seluruh hal yang dapat menjadi pembuka/jalan dan dorongan untuk melakukan perbuatan yang dilarang”.

Kemudian Beliau –rahimahullah- menambahkan sebuah kaidah yang penting dalam hal ini,

Barangsiapa yang mendekati suatu perbuatan yang terlarang maka dikhawatirkan dia terjatuh pada suatu yang dilarang[2].

Hal senada juga sebelumnya dikatakan penulis Tafsir Jalalain demikian juga Asy Syaukanirahimahullah- namun Beliau menambahkan, “Jika suatu yang haram itu telah dilarang maka jalan menuju keharaman tersebut juga dilarang dengan melihat maksud pembicaran[3]. Bahkan diakatakan oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaiminrahimahullah-,termasuk dalam ayat ini larangan melihat wanita yang bukan istrinya (yang tidak halal baginya, pen.), mendengarkan suaranya, menyentuhnya, sama saja apakah ketika itu dia sengaja untuk bersenang-senang dengannya ataupun tidak”[4]. Dari penjelasan para ulama ini jelaslah bahwa pacaran dalam islam hukumnya haram karena pacaran termasuk dalam perkara menuju zina yang Allah haramkan ummat nabiNya untuk mendekatinya.

Jika ada yang mengatakan bahwa pacaran belumlah dapat dikatakan sebagai perbuatan menuju zina, maka kita katakan kepadanya bukankah orang yang paling tahu tentang perkara yang dapat mendekatkan ummatnya ke surga dan menjauhkannya dari api neraka telah mengatakan :

وَ احْفَظُوْا فُرُوْجَكُمْ وَ غَضُّوْا أَبْصَارَكُمْ وَ كَفُّوْا أَيْدِيَكُمْ

Jagalah kemaluan kalian, tundukkanlah pandangan-pandangan kalian dan tahanlah tangan-tangan kalian”.[5]

Dalam hadits yang mulia ini terdapat perintah untuk menundukkan pandangan dan

hukum asal dari suatu perintah baik itu perintah Allah ‘Azza wa Jalla ataupun perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah wajib dan adanya tunututan untuk melaksanakan apa yang diperintahkan dengan segera[6].

Maka jelaslah bahwa pacaran adalah suatu yang diharamkan dalam islam.

Kemudian jika ada yang mengatakan kalau seandainya pacaran tidak dibolehkan maka bagaimanakah dua orang insan bisa menikah padahal mereka belum saling kenal?

Maka kita katakan pada orang yang beralasan demikian dengan jawaban yang singkat namun tegas bukankah petunjuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebaik-baik petunjuk? Bukankah Beliau adalah orang yang paling kasih kepada ummatnya tidak memberikan petunjuk yang demikian? Firman Allah ‘Azza wa Jalla,

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, amt berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin”. (At Taubah [9] : 128).

Kata حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ pada ayat di atas ditafsirkan oleh Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’dirahimahullah- berarti bahwa, “Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang mencintai kebaikan kepada kita ummatnya, mengerahkan seluruh kesungguhannya dalam rangka menyampaikan kebaikan kepada mereka, bersemangat untuk dapat memberikan hidayah (irsyad, pent.) berupa iman kepada mereka, tidak suka jika kejelekan menimpa mereka dan menegerahkan seluruh usahanya untuk menjauhkan mereka dari kejelekan[7]. Dengan demikian ayat di atas jelas menunjukkan bahwa Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling kasih pada ummatnya dan paling menginginkan kebaikan untuk mereka namun Beliau tidaklah mengajarkan kepada ummatnya yang demikian. Simak pula sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

إِنَّهُ لَمْ يَكُنْ نَبِىٌّ قَبْلِى إِلاَّ كَانَ حَقًّا عَلَيْهِ أَنْ يَدُلَّ أُمَّتَهُ عَلَى خَيْرِ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ وَيُنْذِرَهُمْ شَرَّ مَا يَعْلَمُهُ

Sesungguhnya tidak ada Nabi sebelumku kecuali wajib baginya menunjukkan kepada umatnya kebaikan yang dia ketahui untuk umatnya, dan mengingatkan semua kejelekan yang dia ketahui bagi umatnya…”.[8]

Maka hendak kemanakah lari orang yang berpendapat kalau seandainya pacaran tidak dibolehkan maka bagaimanakah dua orang insan bisa menikah padahal mereka belum saling kenal? Bukankah Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan dan mempraktekkan bagaimana tatacara menuju pernikahan? Apakah Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengajarkan kepada kita  cara mencari pasangan hidup dengan pacaran? Wahai pengikut hawa nafsu hendak kemanakah lagi engkau palingkan sesuatu yang telah jelas dan gamblang ini ??!!!

Kalau seandainya yang demikian dapat mengantarkan kepada kebaikan tentulah Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkannya kepada kita.

Sebagai penutup kami nukilkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang posisi shaf laki-laki dan perempuan dalam sholat, Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan :

خَيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرُهَا وَخَيْرُ صُفُوفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا

Sebaik-baik shaf laki-laki adalah yang pertama, sejelek-jeleknya adalah yang paling akhir dan Sebaik-baik shaf perempuan adalah yang paling akhir, sejelek-jeleknya adalah adalah yang paling awal”.[9]

Maka renungkan wahai saudaraku

apakah lebih layak orang –bukan suami istri­­– yang tidak sedang dalam keadaan beribadah kepada Allah untuk berdekatan, berdua-duan dan bermesra-mesraan serta merasa aman dari perbuatan menuju zina padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia mengatakan yang demikian !!!??

Bukankah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyatakan :

ما نَهَيتُكُمْ عَنْهُ ، فاجْتَنِبوهُ

“Semua perkara yang aku larang maka jauhilah[10]

Allahu Ta’ala a’lam bish showaab, mudah-mudahan yang sedikit ini dapat menjadi renungan bagi orang-orang yang masih melakukannya dan bagi kita yang tidak mudah-mudahan Allah jaga anak keturunan kita darinya.

Menjelang malam, 17 Jumadi Tsaniyah 1430/11 Juni 2009.

Abu Halim Budi bin Usman As Sigambali

Yang selalu mengharap ampunan Robbnya


[1] Jika tujuannya seperti ini saja terlarang bagaimana jika tidak dengan tujuan yang demikian semisal hanya ingin berbagi rasa duka dan bahagia ??!! Tentulah hukumnya lebih layak untuk dikatakan haram.

[2] Lihat Taisir Karimir Rahman fi Tafsiri Kalaamil Mannan hal. 431 terbitan Dar Ibnu Hazm Beirut, Libanon.

[3] Lihat Fathul Qodhir hal. 258, terbitan Maktabah Syamilah.

[4] Lihat Syarh Al Kabair hal. 60 terbitan Darul Kutub Al Ilmiyah, Beirut, Lebanon.

[5] HR. Ibnu Khuzaimah no. 91/III, Ibnu Hibban no. 107, Al Hakim no. 358-359/IV, Ahmad no. 323/V, Thobroni no. 49/I dan Baihaqi no. 47/II, dan dihasankan oleh Al Albani dalam Ash Shahihah no. 1525.

[6] Lihat Ushul Min Ilmi Ushul oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin –rahimahullah– hal. 24 terbitan Darul Aqidah Iskandariyah, Mesir.

[7] Lihat Taisir Karimir Rahman fi Tafsiri Kalaamil Mannan hal. 334 terbitan Dar Ibnu Hazm Beirut, Libanon.

[8] HR. Muslim no. 1844 dari jalan Ibnu Amr radhiyallahu ‘anhu.

[9] HR. Muslim no. 132 dan lain-lain.

[10] HR. Bukhori no. 7288, Muslim no. 1337.

Tulisan Terkait

465 Comments ( ikut berdiskusi? )

  1. Indra utama
    Aug 17, 2016 @ 16:18:27

    Sapa bilang pacaran mendekati zina??
    Siapa yang bisa menjamin hal itu??
    Muhammad dengan Khadijah. Anda tahu tidak kisah pertemuan keduanya??
    Adam Dengan hawa Anda tau tidak kisah percintaan keduanya??
    Jangan terlalu sempit memandang Islam… Hingga detik ini pintu ijtihad masih terbuka..
    Oh ya please tolong Anda kroscek lagi dong asbabun Nuzul ayat yang Anda trgaskan diatas..

    Reply

    • Aditya Budiman
      Aug 22, 2016 @ 06:28:31

      Saudara kami Indra Utama…
      Tolong ceritakan bagaimana pertemuan keduanya beserta sumbernya. Kemudian ijtihad ulama mana yang anda maksudkan yang hasil ijtihadnya membolehkan pacaran ? Kemudian coba cantumkan asbabun nuzul ayat yang anda maksudkan karena ilmu kami yang sangat terbatas.
      Syukron

      Reply

    • ummi faqih
      Aug 31, 2016 @ 10:13:24

      saudaraku indra utama, penjelasan diatas sudah sangat jelas, jika anda cerdas tidak perlu menanya lagi. Khadijah engenal Rasul itu melalui pembantunya maysarah, TIDAK PERNAH PACARAN. Artis2 yang berpacaran saja banyak yang cerai

      Reply

  2. Nmap2703
    Aug 19, 2016 @ 02:05:55

    Assalamualaikum
    Saya mau nanya nih. Saya pernah dikasih tau oleh guru agama saya katanya “boleh punya pacar asa jangan pacaran”, bagaimana ustadz maksud dari kalimat ini? Apakah emang bener boleh punya pacar asal jangan pacaran?

    Reply

    • Aditya Budiman
      Aug 22, 2016 @ 06:30:03

      Alaikumussalam
      Punya pacar tapi gak pacaran ? Mirip mau makan tapi gak ada makanan. Bisa ?
      Allahu a’lam.

      Reply

    • Akmal
      Sep 08, 2016 @ 02:04:59

      mksdnya teman dekat??

      Reply

  3. Fuji Iklima
    Aug 28, 2016 @ 09:04:20

    Syukro katsir..
    Sbelumnya Maaf ya sya bnyak nanya, sya mau brtanya lagi. Di tmpat tinggal sya jrang orang menikah melalui ta’aruf bhkan mngkin tdk ada orang yg mnikah melalui ta’aruf, klau gk pcaran dlu ya mereka di jdohkan,
    bgaimana nnti saat sya mau melaksanakan prnikahan melalui berta’aruf? Sdangkan org2 di skitar sya sngat asing dngan hal berta’aruf, cranya pun mungkin mereka tidak tau..

    Reply

    • Aditya Budiman
      Aug 28, 2016 @ 09:06:59

      Afwan… Barakallah fik

      Reply

      • Fuji Iklima
        Aug 28, 2016 @ 10:52:06

        Wa Barakallahu fika..

        Reply

  4. Al
    Aug 31, 2016 @ 02:22:47

    Super sekali artikelnya 😀
    Pacaran Islami —-> 2 kata yang tidak bisa dijadikan 1 kalimat , karena keduanya saling kontradiksi :p
    Oh ya , mungkin bisa dijelaskan bagaimana kita umat islam seharusnya menjalani hidup hingga proses pernikahan itu sendiri , untuk memperjelas haramnya pacaran . Ilmu saya masih awam , dan biar bagaimanapun kondisi umat sekarang sudah mengacuhkan larangan ini. Syukron 😀

    Reply

    • Aditya Budiman
      Aug 31, 2016 @ 06:22:31

      Intinya untuk mengenali calon pasangan dapat melalui keluarganya, teman dekatnya, tetangganya tempat dia bekerja atau berinteraksi dan yg semisal. Allahu a’lam

      Reply

      • Akmal
        Sep 08, 2016 @ 02:03:07

        mksdnya berinteraksi , apakah kita ngechat dia di fb,line,wa dan berbicara dgnnya agar saling mengenal??

        Reply

        • Aditya Budiman
          Sep 25, 2016 @ 21:31:27

          Silakan baca ulang artikel ini beserta kolom komentarnya…

  5. lilis agustina
    Sep 19, 2016 @ 18:03:15

    jika pacaran sudah jelas di haramkan krn mndekati zina, bagaimana cara kita bergaul dgn lawan jenis yg bukan mahrom,saling menatap ,berbicara, bahkan brcanda dgn lawan jenis,itu hukumnya gimana trus solusinya gimana

    Reply

    • Aditya Budiman
      Sep 25, 2016 @ 21:32:16

      Silakan baca artikel ini dengan lengkap beserta komentar-komentarnya.

      Reply

  6. windah
    Oct 02, 2016 @ 17:32:49

    Sebenarnya . Tdk ada sesuatu hal di dunia ini yg kita ketahu.i apa kehendak dari sang ilahi yg mengetahu.i hal itu hanyalah orang” yg berada di tingkat marifat. Karena haram tidaknya sesuatu hal tergantung oleh siapa , untuk siapa dan karena apa kita menjalaninya. Jadi pacaran menurut saya boleh saja tergantung dari kta yang menjalaninya selama kta mengetahui batasan dan tdk selamanya orang yg berpacaran akan mendekati perbuatan zina tergantung dari cara dan pandangan seseorang terhadap apa yg akan di jalani

    Reply

    • Aditya Budiman
      Oct 02, 2016 @ 17:38:59

      Dalilnya sudah jelas, dan jelas pacaran haram kecuali bagi yg sudah menikah.

      Reply

  7. Vessel
    Oct 03, 2016 @ 19:00:34

    Bismillah…
    Assalamu’alaikum..
    Mau nanya,jadi intinya “pacaran” nya yang tidak boleh atau “perbuatan” yang dilakukan oleh orang pacaran pada zaman ini yang tidak boleh?
    Afwan
    Syukron
    Wassalamu’alaikum

    Reply

    • Aditya Budiman
      Oct 03, 2016 @ 23:27:54

      Alaikumussalam, apapaun namanya jika nyatanya seperti itu ya tidak boleh..
      Afwan.
      Alaikumussalam

      Reply

  8. Rumah Belanja Muslim
    Oct 11, 2016 @ 10:31:22

    Menarik sekali.. Pacaran islami ini sering di gaungkan oleh sebagian itong (ikhwan sepotong katanya) buat melegalkan hubungan haram antar lawan jenis, dengan berbagai macam argumen yang tidak bisa dipertanggung jawabkan.

    Mudah-mudahan hal ini dapat memberi pencerahan ..

    Salam kenal,
    admin
    http://www.RumahBelanjaMuslim.Com

    Reply

  9. sabila
    Oct 12, 2016 @ 23:07:19

    Asslmualaikum.Mhon tanggapannya…dan trimksih sbelumnya..
    Begini,sya tdk mau pacran,karena tau ini haram,tidak dibolehkan dalm islam.dalam ikhtiar sy dalam memperoleh pendamping hidup,saya upload pin bbm d satu artikel jodoh,alhasil ada beberapa yang invite…hanya saja saya d buat repot karena harus menguraikan tentang taaruf dulu termsuk tujuan2 didalamnya,yaitu bahwa ini semata2 sebagai media kenal untuk menikah jika memang cocok,bukn untuk pacaran atau hubugn lain yg tdk jelas,…karena rata2 mreka ini menganggap taaruf itu cm sekedar kenal biasa tanpa komitmen yg pasti,padahal setau sy taaruf itu hal yg sangat serius untuk dijalani,jadinya sy bagai guru sekolah dasar yg harus ngajarin cara anak kecil pegang pensil buat nulis,agak repot memang.satu hal yg saya sadari…apa taaruf tanpa mediator yg lakukan via bbm sperti ini bs d bolehkn/tidak?

    Reply

    • Aditya Budiman
      Oct 13, 2016 @ 11:03:04

      Alaikumussalam… Ta’aruf yang anda sebutkan itu sangat rawan malah menjadi pacaran terselebung yang dilabeli ta’aruf. Kalau memang mau ta’aruf maka ta’aruf lah di dunia nyata. Karena dunia maya seperti sosmed dan lainnya banyak yang sesuai namanya yaitu maya. Allahu a’lam.

      Reply

      • sabila
        Oct 13, 2016 @ 16:14:58

        Mf mhon tanggapnnya kembali…..
        sy pernah bberapakali taaruf yang endingnya sbb:
        1.stelah sesi ketemu,pihak pria yg tdk bersedia melanjutkan proses
        2.setelah sesi ktemu sy yang tdk bs melanjut proses
        3.setelh sesi ketemu..pihak kluarga sy yg tdk bs mnerima calon pria,trkait status dan masalalunya.bgaimnpun sy ini masih seorg anak yg berada dlm lingkp kluarga, tentu sy jg kurg nyamn jika harus melangkah dlm urusn besar ini tanpa dukugan kluarga.

        Slanjutnya sy ikhtiar menympaikn niat kpd temn/orag2 dekat d skitar sy yang sy tau tingkat kebaikan mreka,spy bs mnjdi mediator jk mreka menilai ada profil yg sesuai dg sy.
        Seperti qt ketahui prosedur taaruf masih awam dlm masyarakat,termasuk juga dlm lingkungan sosil masyarkat sy,dampaknya adalah mnjadikn agk sulit untuk menemukn lobi taaruf,skalipun ada juga dalam “komunitas” tertntu yg memahami prosedur ini,tetap sj dalam jumlah personal yg terbatas dan minimnya pilihan.dgn uplod pin tersebut sy cm berhrp itu satu jaln alternatif sbg lagkah ikhtiar tnpa brmksud kluar dr koridor taaruf itu sendiri

        Reply

        • Aditya Budiman
          Oct 13, 2016 @ 18:01:05

          Media taaruf dunia maya amatlah besar mudhorotnya.. Berusalah jd org yg baik karena org baik insya Allah akan mendapatkan yg baik pula. Masalah waktu serahkan pada Allah. Perlu dibedakan buru buru nikah dan menikah sesegera mungkin.

  10. Aniss
    Oct 14, 2016 @ 19:28:32

    Dosen agama ku bilang pacaran sama taaruf itu sama.
    Asalkan pacarannya sesuai dg norma masyarakat, agama. Mslnya tdak berduaan dll. Nah kan sudah jelas jika pacaran itu tdk ada dlm islam. Melainkan taaruf kan.

    Reply

    • Aditya Budiman
      Oct 14, 2016 @ 20:57:54

      Perkataan manusia selain Nabi bukanlah dalil bila bertentangan dengan Al Qur’an dan Sunnah… Allahu a’lam.

      Reply

  11. Dimas adrian
    Oct 29, 2016 @ 11:44:54

    Assalamu’alaikum wrwb
    Saya mau tanya tentang kalimat diatas yang berbunyi
    “Maka renungkan wahai saudaraku

    apakah lebih layak orang –bukan suami istri­­– yang tidak sedang dalam keadaan beribadah kepada Allah untuk berdekatan, berdua-duan dan bermesra-mesraan serta merasa aman dari perbuatan menuju zina ”
    Kalau begitu apakah 2orang bukan mahrom yang sedang sholat atau ibadah boleh melakukannya berjamaah?

    Reply

    • Aditya Budiman
      Oct 29, 2016 @ 12:53:29

      Alaikumussalam wa rohmatullah wa barokatuh…
      Maksud kami dalam kalimat di atas adalah jika laki-laki dan perempuan saja yang sedang sholat shof perempuan di tempatkan di belakang laki2, maka kok bisa-bisanya orang yang berduan/pacaran merasa tidak khawatir digoda syaithon ??

      Reply

  12. Haikal
    Nov 30, 2016 @ 21:11:35

    pak apakah pacaran kalo pacarannya hanya sekedar bertemu , chatan di bbm , foto bareng, sama main, tpi gak pernah saling menyentuh satu sama lain main juga hanya sekedar jalan berdua tapi tetep jaga jarak aman tangan gak pernah di sentuhkan .. apakah dosa atau tidakM

    Reply

Leave a Reply