Jika Mereka Takut padanya….

14 Jul

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Jika Mereka Takut padanya….

Segala puji yang disertai pengagungan seagung-agungnya hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala dan perendahan diri kita yang serendah-rendahnyanya hanya kita berikan kepadaNya Robbul ‘Alamin. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam.

Sudah menjadi sebuah hal yang kita ketahui bersama bahwa ketakukan, harapan dan rasa cinta kita terhadap sesuatu tentu ada sebabnya. Sebagaimana seorang yang budak takut kepada tuannya yang mana rasa takutnya ini mengakibatkan dirinya mampu menahan diri dari melakukan perbuatan yang dibenci dan dilarang tuannya. Demikian juga harapan dan terlebih lagi cinta. Walaupun sebagian orang tidak memiliki alasan yang kuat tentang rasa takut yang di alaminya, semisal rasa takut yang dimiliki seseorang terhadap suasana gelap padahal ia di dalam tempat yang aman semisal rumahnya. Maka takut yang demikian ini adalah rasa takut yang tercela.

Namun ingin kami ketengahkan disini adalah takut terhadap suatu yang lebih besar dari pada kehilangan harta, istri, anak atau bahkan nyawa. Yang mana sebagaian kita terkadang demikian takutnya akan kehilangan hartanya, bahkan yang lebih sepele dari pada itu semisal takut tidak punya teman lagi gara-gara belajar agama, rasa takut ditinggal pacar[1] dan seterusnya…wal iyadzu billah !

Takut yang agung dan terpuji tersebut adalah takut akan terjatuh, tergelincir dalam perkara yang paling berbahaya bagi seorang hamba yaitu kesyirikan. Bagaimana tidak ku katakan demikian…bukankah dua Nabi yang juga merupakan rosul dan kekasih Allah ‘azza wa jalla demikian takutnya terhadap hal ini….!!

Share

Kaidah Keenam Metode Penetapan Tauhid dan Penafian/Peniadaan Kebalikannya dalam Al Qur’an

22 Apr

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Kaidah Keenam

Metode Penetapan Tauhid dan Penafian/Peniadaan Kebalikannya dalam Al Qur’an[1]

Isi Al Qur’an secara keseluruhan hampir-hampir merupakan penetapan terhadap tauhid dan penafian kebalikannya yaitu syirik. Allah ‘azza wa jalla menetapkan tauhid uluhiyah dan memurnikan ibadah hanya kepada Allah yang tidak ada sekutu baginya pada banyak ayat dalam Al Qur’an. Allah ‘azza wa jalla juga mengabarkan bahwasanya seluruh utusan Allah menyerukan kepada kaumnya agar hanya menyembah Allah dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun. Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla tidaklah menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaNya–mentauhidkanNya, pent.-. Demikian juga seluruh rasul & kitab yang  mereka bawa sepakat terhadap hal yang sangat dasar ini yang merupakan fondasi yang paling mendasar dari seluruh dasar. Barangsiapa yang tidak tunduk terhadap ajaran ini yaitu mengikhlaskan seluruh ibadah hanya kepada Allah maka  seluruh amalannya adalah amalan yang bathil. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ

“Jika kamu mempersekutukan Allah, niscaya akan hapuslah  seluruh amalmu”. (Az Zumar : 65).

Juga firman Allah ‘azza wa jalla,

وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan”. (Al An’am : 88).

Share

Fir’aun dan Iblis Bertauhid Rububiyah pada Allah

9 Mar

Para pembaca yang semoga dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala, pada kesempatan kali ini kita akan melanjutkan apa yang telah disinggung sebelumnya[1] bahwa ada sekelompok orang yang mentauhidkan Allah –tepatnya tauhid rububiyah- namun masih belum cukup memasukkannya ke dalam islam yang benar alias masih musyrik. Nah pada kesempatan kali ini kami akan nukilkan beberapa ayat Allah ‘azza wa jalla yang menunjukkan bahwa mahluk Allah yang paling kufur sekalipun mentauhidkan Allah dalam perkara kerububiyahan Allah, mahluk tersebut adalah simbol kekafiran yang ma’ruf di kalangan manusia dan alam semesta, mahluk ini tidak lain dan tidak bukan adalah iblis –la’natullah ‘alaihi-. Berita tentang hal ini bukanlah isapan jempol belaka bahkan ia adalah kabar dari Dzat yang IlmuNya sempurna pada tingkat tertinggi dan termaktub dalam kitab yang tidak ada keraguan sedikitpun padanya yaitu Al Qur’an, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ . إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ

Iblis berkata, “Wahai Robbku, disebabkan engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, (maka) akan aku perindah[2] bagi mereka (keturunan Adam) apa yang ada di muka bumi dan pasti akan aku sesatkan mereka semua, kecuali hamba-hambaMu yang mukhlashin[3]”. (QS : Al Hijr [15]  : 39-40).

Share

Mentauhidkan Allah tetapi Musyrik

5 Mar

Mentauhidkan Allah tetapi Musyrik

Pendahuluan

Tauhid merupakan sebuah kata yang sangat tidak asing di telinga kita kaum muslimin bahkan mungkin di tengah-tengah orang kafir juga hal ini tidak asing. Namun tauhid apakah yang diinginkan Allah ‘azza wa jalla dan NabiNya shallallahu ‘alaihi was sallam ? Maka marilah merapat kepadaku wahai saudaraku barang sejenak kita telaah apa yang dikatakan para ulama tentangnya.

Pengertian Tauhid

Tauhid secara bahasa arab merupakan mashdar (kata benda yang berasal dari kata kerja) dari kata (تَوْحِيْدًايُوَحِّدُوَحَّدَ) yang artinya menjadikan sesuatu satu[1] tauhid ini tidaklah dikatakan sebagai tauhid sampai terdapat padanya peniadaan selainnya (secara mutlaqpent.) dan penetapan[2]. Sedangkan pengertian tauhid sebagai perbuatan hati adalah beriman tentang adanya Allah, mengesakan Allah dalam hal rububiyah, ulihiyah dan beriman terhadap seluruh nama dan shifat Allah[3]. Kemudian pengertian tauhid secara cabang ilmu adalah hal-hal yang berhubungan dengan aqidah[4] seorang muslim karena inti aqidah adalah tauhid[5], namun aqidah lebih luas dari pada tauhid[6]. Adapun secara istilah maka tauhid artinya adalah mengesakan Allah ‘Azza wa Jalla terhadap seluruh perkara yang merupakan kekhusuan Allah. Sedangkan pengertian secara syar’i adalah menunggalkan Allah dalam hal uluhiyah Allah, sebagaimana hadits Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam,

إِنَّكَ سَتَأْتِى قَوْمًا أَهْلَ كِتَابٍ ، فَإِذَا جِئْتَهُمْ فَادْعُهُمْ إِلَى أَنْ يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ….

Sesungguhnya engkau nanti wahai mu’adz akan bertemu dengan sebuah kaum dari Ahli Kitab, jika engkau bertemu mereka maka ajaklah mereka untuk bersyahadat bahwa Tiada Sesembahan yang Berhak disembah kecuali Allah dan Aku (Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi was sallam) adalah Rosulullah….[7].

Share