Ajak Mereka Dengan Tauhid Dahulu

13 Aug

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Ajak Mereka Dengan Tauhid Dahulu

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Setiap kita tentu menginginkan kebaikan. Kebaikan tersebut kita inginkan untuk diri kita sendiri, orang tua, istri, anak-anak, sanak saudara dan tentunya kaum muslimin seluruhnya. Bahkan kita pun menginginkan kebaikan kepada orang yang tidak seaqidah dengan kita. Tentunya kebaikan untuk mereka adalah kebaikan agar mendapatkan hidayah menuju Islam.

Saking inginnya kita pada kebaikan yang ada pada diri kita juga dapat dirasakan oleh orang-orang yang kita sayangi, masyarakat yang kita cintai, tak jarang membuat kita tergesa-gesa mendapatkannya. Ketika kita sudah tidak mencukur jenggot maka kita pun langsung mengarahkan saudara kita untuk tidak mencukurnya. Ketika kita tidak lagi isbal, maka kita pun langsung menginginkan saudara kita tidak lagi isbal. Kita pun menyampaikan sabda Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam,

مَا أَسْفَلَ مِنْ الْكَعْبَيْنِ مِنْ الْإِزَارِ فَفِي النَّارِ

“Pakaian yang melebihi kedua mata kaki maka tempatnya di neraka”[1].

Ketika kita menyampaikan hadits ini, serta merta kita mengingkan saudara kita untuk seketika itu pun langsung bergerak mengambil gunting dan memotong celananya. Tidaklah yang kita inginkan kepadanya kecuali kebaikan. Namun apa yang terjadi, ketika saudara kita enggan melakukan apa yang kita inginkan sikap kita kepadanya pun berubah 180 derajat. Laa Salam wa laa Kalam (tidak lagi mengucapkan salam kepadanya, tidak pula lagi bertutur kata).

Share

Mengikuti Sunnah Dalam Amal dan Keyakinan

10 Aug

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Mengikuti Sunnah Dalam Amal dan Keyakinan

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Makin ke belakang, makin banyak kaum muslimin yang mulai akrab dengan istilah sunnah Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam. Istilah sunnah Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam pun mulai dipahami sebagai istilah para ulama ahli ushul. Namun lebih kepada masalah yang nampak semata. Misalnya jenggot, celana cingkrang, cadar, dan seterusnya dari sunnah-sunnah Nabi yang terlihat. Padahal istilah sunnah jauh lebih luas dari itu, sebagaimana apa yang disebutkan  Syaikh DR. Muhammad bin Husain bin Hasan Al Jaizaniy Hafizhahullah,

“Yang dimaksud dengan Sunnah di sini (istilah ushul –pen) adalah jalan, metode yang dijalani dalam beragama. Yaitu (metode –pen) yang Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam, Kulafaur Rosyidun berjalan di atasnya baik berupa i’tiqod, keyakinan, amal dan ucapan. Walaupun secara umum istilah sunnah digunakan secara khusus dalam permsalahan i’tiqod/keyakinan sebab inilah pondasinya agama[1] dan menyelisihi sunnah dalam permasalahan i’tiqod/keyakinan merupakan sebuah bahaya yang besar[2].

Share

3 Kelompok Menyimpang Dalam Masalah Takdir

3 Aug

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

3 Kelompok Menyimpang Dalam Masalah Takdir

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maawalaah.

Beriman terhadap takdir baik dan buruknya merupakan salah satu bagian dari rukun iman yang enam. Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam pernah ditanya Jibril ‘alaihissalam tentang apa itu iman. Lantas beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab,

أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

“Engkau beriman kepada Allah, malaikat Nya, kitab-kitab Nya, para rosul Nya, hati akhir dan engkau beriman terhadap takdir baik serta buruknya”[1].

Lalu Jibril ‘alaihissalam pun membenarkan jawaban beliau.

Share

Tadabbur Ayat Istiwa’

29 Jul

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Tadabbur Ayat Istiwa’

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maawalaah.

Diantara keyakinan Ahlu Sunnah wal Jama’ah dari zaman dahulu hingga sekarang adalah Allah Subhana wa Ta’ala berada di atas langit beristiwa’ di atas ‘Arsy Nya. Untuk lebih lanjut mengenai hal ini silakan klik tautan berikut (klik di sini).

Yang ingin kita sampaikan di sini adalah sebuah renungan pada ayat-ayat Allah yang menjadi dalil bahwasanya Allah ‘Azza wa Jalla beristiwa’ di atas ‘Arsy Nya. Diantara adalah firman Allah Subhana wa Ta’ala,

هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa. Kemudian Dia bersemayam di atas ´Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya,  apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”.

(QS. Al Hadiid [57] : 4)

Share

2 Kiat Bersabar di Atas Sunnah

25 Jul

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

2 Kiat Bersabar di Atas Sunnah

 

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Berpegang teguh di atas Sunnah Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam merupakan sebuah kenikmatan luar biasa. Tidak setiap muslim mendapatkan nikmat ini. Sunnah yang dimaksud di sini bukanlah sunnah dalam istilah fiqih. Sunnah di sini merupakan sebuah istilah yang dipakai para ulama salaf dalam memberikan judul kitab mereka yang berkaitan dengan permasalahan aqidah dan pokok-pokok agama.

 

Share

Makna Shifat Allah Istiwa’ di atas ‘Arsy

12 May

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Makna Shifat Allah Istiwa’ di atas ‘Arsy

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maawalaah.

Telah disampaikan pada artikel sebelumnya (klik di sini) seputar keyakinan Ahlu Sunnah wal Jama’ah bahwa Allah Subhana wa Ta’ala berada di atas langit dan beristiwa’ di atas ‘Arsynya.

Lantas apa makna dari shifat istiwa’ tersebut ? Mari simak keterangan berikut.

Share

Beda Shifat ‘Uluw dan Istiwa’ di atas ‘Arsy

1 May

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Beda Shifat ‘Uluw dan Istiwa’ di atas ‘Arsy

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maawalaah.

Ahlu Sunnah wal Jama’ah menyakini bahwa Allah Subhana wa Ta’ala berada di langit dan beristiwa di atas ‘Arsy Nya. Dalil dan perkataan ulama terdahulu seputar hal ini silakan klik link berikut ini.

Lantas apa perbedaan antara Shifat ‘Uluw (Maha Tinggi) dan Istiwa’ di atas ‘Arsy Allah ‘Azza wa Jalla ? Mari simak keterangan berikut.

Share