Ketika Berilmu Tidak Lebih Mulia Dibanding Jahil

22 Dec

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Ketika Berilmu Tidak Lebih Mulia Dibanding Jahil

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Tidak perlu diragukan lagi bahwa menuntut ilmu agama adalah sebuah kewajiban bagi setiap muslim dan muslimah. Nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu (agama) wajib bagi setiap muslim”[1].

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabadikan bahwa hanya orang-orang yang berilmulah yang takut kepadaNya. Allah Jalla Jalaluh berfirman,

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara para hamba-Nya hanyalah para ulama”. (QS. Fathir [34] : 28)

Bahkan Allah ‘Azza wa Jalla pun secara tegas menegaskan bahwa orang yang berilmu tidak sama dengan orang yang tidak berilmu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

“Apakah sama orang-orang yang berilmu dengan orang-orang yang tidak berilmu”. (QS. Az Zumar [39] : 9)

Namun tahukah kita, bahwa salah satu orang yang pertama kali dilemparkan ke neraka adalah orang berilmu ? Nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى فِيهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثَلَاثَةٌ وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ، فَعَرَفَهَا، فَقَالَ: مَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ فِيكَ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ، وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ. فَقَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ لِيُقَالَ: هُوَ عَالِمٌ، فَقَدْ قِيلَ، وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ: هُوَ قَارِئٌ، فَقَدْ قِيلَ. ثُمَّ أَمَرَ بِهِ، فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ

“Sesungguhnya kelompok orang yang pertama kali urusannya diselesaikan di hari qiyamat ada 3 golongan : (Nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan yang pertama dan kedua) lalu beliau menyebutkan golongan yang ketiga : seorang lelaki yang menuntut ilmu dan dia mengajarkannya, dan orang yang membaca/mengajarkan Al Qur’an. Orang tersebut pun didatangkan, disebutkan kepadanya nikmat-nikmat yang telah didapatkannya di dunia (misal dipanggil ulama dan semisalnya –pen) dia pun mengakuinya. Lalu dia ditanya, “Apa yang motivasimu melakukan itu semua ?” Dia menjawab, “Aku mempelajari ilmu sehingga menjadi orang berilmu karena Mu (Allah), aku pun mengajarkannya karena Mu. Aku membaca/mengajarkan Al Qur’an karena Mu”. Lalu dikatakan kepadanya, “Engkau dusta, engkau mempelajari ilmu agar disebut sebagai ulama, dan itu sudah kau dapatkan. Engkau membaca/mengajarkan Al Qur’an agar engkau disebut sebagai qori dan itupun telah engkau dapatkan”. Lalu orang itu diseret dengan wajahnya berada di bawah lalu dilemparkan ke neraka”[2].

Terlalu banyak kisah dan contoh para shahabat pun shahabiyah yang membuktikan bahwa mereka adalah orang-orang yang belajar ilmu agama untuk diamalkan dan diajarkan. Salah satu kisah yang menakjubkan. Diriwayatkan dari Umar bin Abi Salamah Rodhiyallahu ‘anhuma,

كُنْتُ غُلاَمًا فِي حَجْرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَكَانَتْ يَدِي تَطِيشُ فِي الصَّحْفَةِ، فَقَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا غُلاَمُ، سَمِّ اللَّهَ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ، وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ فَمَا زَالَتْ تِلْكَ طِعْمَتِي بَعْدُ

“Ketika aku masih kanak-kanak di pangkuan Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam, saat itu ada makan berseliweran di nampan tepat di hadapanku. Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam bertutur (ketika melihatku ingin mengambil makanan itu –pen), “Wahai anak kecil ucapkanlah bismillah dan makanlah dengan menggunakan tangan kananmu, makanlah makanan yang dekat dengan mu”. Umar bin Abi Salamah mengatakan, “Demikianlah cara aku makan sejak peristiwa itu”[3].

Lihatlah betapa luar biasa keinginan para shahabat untuk mengamalkan ilmu yang baru saja mereka dapat. Lihat pula betapa semangat mereka mengamalkan ilmu itu sejak didapatkan. Yang lebih menakjubkan lagi, lihatlah usia shahabat tersebut ketika itu ? Masih kanak-kanak !

Kisah lainnya tatkala para shahabat berada di medan juang. Diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah Rodhiyallahu ‘anhu,

قَالَ رَجُلٌ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ أُحُدٍ أَرَأَيْتَ إِنْ قُتِلْتُ فَأَيْنَ أَنَا؟ قَالَ: «فِي الجَنَّةِ فَأَلْقَى تَمَرَاتٍ فِي يَدِهِ، ثُمَّ قَاتَلَ حَتَّى قُتِلَ

“Seorang lelaki bertanya kepada Nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallam ketika Perang Uhud, “Bagaimana menurut anda, jika aku ikut berjuang di medan perang lalu aku terbunuh, dimanakah tempatku ?” Beliau Shollallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Di surga”. Lalu orang itu pun melemparkan kurma yang ada di tangannya lalu terjun ke medan perang hingga dia terbunuh di medan juang”[4].

Lihatlah betapa semangat shahabat ini untuk langsung mengamalkan ilmu yang sudah didapatkannya. Tak pikir panjang langsung mengamalkan sesuai arahan Nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallam detik itu juga. Padahal yang dipertaruhkan adalah jiwa dan raganya.

Terkait judul dan pembahasan kita ini, Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah pernah mengatakan,

“Para shahabat Rodhiyallahu ‘anhum, diantara kebiasaan mereka adalah mereka bertanya tentang hukum syar’i  suatu permasalahan dengan tujuan untuk mengamalkan apa diajarkan kepada mereka. Berbeda dengan kebanyakan orang sekarang ini, mereka bertanya tentang suatu hukum syar’i, namun ketika mereka telah mengetahui hukumnya mereka pun meninggalkannya, tidak mengamalkannya, mereka letakkan ilmu itu di punggung mereka (ditinggalkan). Seolah-olah mereka tidak menginginkan ilmu kecuali hanya untuk sekedar menambah wawasan semata. Padahal sejatinya inilah kerugian yang nyata. Sebab orang yang meninggalkan amal setelah memiliki ilmunya maka orang yang benar-benar tidak berilmu lebih baik darinya[5].

Mari kita ingat ucapan Abu Darda’ Rodhiyallahu ‘anhu,

إِنَّكَ لَنْ تَكُوْنَ عَالِمًا حَتَّى تَكُوْنَ مُتَعَلِّمًا, وَلَنْ تَكُوْنَ مُتَعَلِّمًا حَتَّى تَكُوْنَ بِمَا عَلِمْتَ عَامِلًا

“Sesungguhnya engkau tidak akan menjadi seorang yang benar-benar berilmu hingga engkau mengajarkannya. Engkau tidak akan pula menjadi seorang yang mengajarkan ilmu hingga engkau mengamalkan ilmu yang yang telah engkau ketahui”[6].

Sigambal, sebelum tidur.

25 Robi’ul Akhir 1441 H, 22 Desember 2019 M

Aditya Budiman bin Usman Bin Zubir

[1] HR. Ibnu Majah no. 224 dan dinilai shohih oleh Al Albani.

[2] HR. Ahmad no. 8277. Syaikh Syua’ib Al Arnauth Rohimahullah mengatakan, “Sanadnya shohih sesuai syarat Muslim”.

[3] HR. Bukhori no. 4957.

[4] HR. Bukhori no. 4046 dan Muslim no. 1899.

[5] Lihat Syarh Riyadhus Sholihin hal. 28/II terbitan Madarul Wathon, Riyadh, KSA.

[6] Lihat I’tidhoul Ilmi Al Amal oleh Al Khothib Al Baghdadi Rohimahullah dengan tahqiq Syaikh Al Albani Rohimahullah hal. 26, terbitan Al Maktab Al Islami, Beirut, Lebanon.

Tulisan Terkait

Leave a Reply