Aqidah dan Sikap Ahlu Sunnah Tentang Pemimpin

4 Jan

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Aqidah dan Sikap Ahlu Sunnah Tentang Pemimpin

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Sebuah perkara yang tidak demikian susah saat sekarang untuk menemukan rakyat yang membicarakan keburukan para pemimpinnya. Kami katakan ini adalah musibah. Mengapa? Karena yang demikian sangat bertentangan dengan aqidah Ahlu Sunnah wal Jama’ah dan sikap para ulama dari zaman dahulu hingga sekarang. Yang lebih mengenaskan lagi, orang yang membicarakan keburukan pemimpin di negeri kaum muslimin ini bukan hanya mereka yang fasiq. Bahkan sudah menggerogoti mereka yang menisbatkan pergerakannya atas nama Islam dan mereka nilai ini sebuah perkara yang termasuk Al Amru bil Ma’ruf wa Nahyu ‘Anil Mungkar. Na’udzubillah, sekali kali ini bukan aqidah kita ummat Islam Ahlu Sunnah wal Jama’ah.

Tidak percaya, berikut akan kita nukilkan teks ucapan beberapa ulama seputar masalah ini. Dialah Imam Abu ‘Utsman Isma’il bin ‘Abdur Rohman Ash Shobuniy Asy Syafi’i Rohimahullah. beliau adalah seorang ulama ahli hadits bermazhab Syafi’i. Beliau wafat tahun 449 H. Beliau Rohimahullah mengatakan[1],

Aqidah dan Sikap Ahlu Sunnah Tentang Pemimpin 1

Para ulama ahli hadits berpendapat bahwa Sholat Jum’at, Sholat ‘Ied dan selainnya diselenggarakan bersama seluruh penguasa/pemimpin yang muslim baik dia orang yang baik/sholeh ataupun fajir (gemar maksiat –pen).

Mereka para ulama ahli hadits juga berpendapat bahwa jihad dilaksanakan bersama mereka baik mereka orang yang lalim dan fajir.

Mereka para ulama ahli hadits juga berpendapat bahwa (seyogyanya –pen) mendo’akan perbaikan, taufik dan kebaikan untuk mereka.

Mereka para ulama ahli hadits berpendapat bahwa tidak boleh memberontak mengangkat senjata kepada mereka walaupun kalian melihat diantara mereka (para penguasa) menyimpang dari keadilan menjadi kelaliman dan aniaya”.

Maka lihatlah betapa jauhnya kita dari mereka. Betapa banyak penyimpangan yang telah kita lakukan kepada pemimpin kaum muslimin.

Demikian pula Abu Ja’far Ath Thohawiy Rohimahullah yang wafat pada tahun 792 H, Beliau Rohimahullah mengatakan,

Aqidah dan Sikap Ahlu Sunnah Tentang Pemimpin 2

Kami tidak menilai (boleh -pen) memberontak kepada pemimpin, penguasa dan pengatur urusan kita (kaum muslimin –pen) walaupun mereka adalah orang yang lalim. Kita juga tidak boleh mendo’akan keburukan untuk mereka dan tidak boleh mencabut tangan kita dari keta’atan kepada mereka. Kami menilai keta’atan kepada mereka merupakan bagian dari keta’atan kepada Allah ‘Azza wa Jalla yang hukumnya wajib, selama bukan pada perkara maksiat. Kami juga mendo’akan kebaikan dan keselamatan/keterjagaan untuk mereka[2].

Ungkapan para ulama di atas bukan berdasarkan pepesan kosong atau karena ingin menjilat penguasa. BUKAN SAMA SEKALI !!! Mereka melakukan yang demikian tidak lain dan tidak bukan karena mengikuti dalil Kalam Allah ‘Azza wa Jalla dan Rosul Nya Shollallahu ‘alaihi wa Sallam.

Diantaranya adalah firman Allah Ta’ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman ta’atilah Allah, ta’atilah Rosul dan ulil amri kalian”. (QS. An Nisa’ [4] : 59).

Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

مَنْ أَطَاعَنِى فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ يَعْصِنِى فَقَدْ عَصَى اللَّهَ وَمَنْ يُطِعِ الأَمِيرَ فَقَدْ أَطَاعَنِى وَمَنْ يَعْصِ الأَمِيرَ فَقَدْ عَصَانِى

“Barangsiapa yang menta’ati aku berarti dia telah menta’ati Allah. Barangsiapa yang bermaksiat kepadaku berarti dia telah bermaksiat kepada Allah. Barangsiapa yang menta’ati pemimpin berarti dia telah menta’ati aku. Barangsiapa yang bermaksiat kepada pemimpinnya berarti dia telah bermaksiat kepadaku”[3].

Imam Bukhori Rohimahullah (wafat tahun 256 H) meletakkan ayat dan hadits di atas dalam Kitab Al Ahkam dalam Kitab Shohihnya

Demikian juga melalui riwayat shahabat Abu Dzar Rodhiyallahu ‘anhu,

إِنَّ خَلِيلِى أَوْصَانِى أَنْ أَسْمَعَ وَأُطِيعَ وَإِنْ كَانَ عَبْدًا مُجَدَّعَ الأَطْرَافِ

“Sesungguhnya kekasih hatiku mewasiatkan kepadaku agar mendengar dan menta’ati walaupun yang memerintah kalian adalah seorang budak yang berhidung pesek”[4].

dalam riwayat Bukhori,

اسْمَعُوا وأطِيعُوا ، وَإنِ استُعْمِلَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حَبَشيٌّ ، كأنَّ رأْسَهُ زَبيبةٌ

“Dengar dan ta’atilah kalian walaupun yang berkuasa atas kalian adalah seorang budak habasyi yang rambutnya keriting seperti kismis”[5].

Imam Bukhori Rohimahullah meletakkan hadits ini dalam bab ‘Mendengar dan ta’at kepada penguasa selama bukan pada perkara kemaksiatan’. Sedangkan Imam An Nawawi Rohimahullah (wafat tahun 676 H) memberikan judul Bab ‘Wajib ta’at kepada pemimpin selama bukan dalam kemaksiatan’.

Saudaraku, mereka semua bukan ulama kacangan, bukan orang yang berucap dengan dasar semangat perubahan semata. Melainkan mereka berucap demikian berdasarkan kedalaman ilmu dan kepatuhan berdasarkan dalil yang ada.

Kalau ada yang bertanya, ‘Mengapa harus ta’at padahal dia fajir, pelaku maksiat, tidak amanah, kita membenci dia dan seterusnya ?’

Maka perhatikan perintah Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam pada hadits berikut,

عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ ». قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلاَ نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ فَقَالَ « لاَ مَا أَقَامُوا فِيكُمُ الصَّلاَةَ وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلاَتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُونَهُ فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ وَلاَ تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍ ».

Dari ‘Auf bin Malik dari Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam. Beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Sebaik-baik pemimpin kalian yang kalian mencintai mereka dan merekapun mencintai kalian. Mereka mendo’akan kalian dan kalianpun mendo’akan mereka. Seburuk-buruk pemimpin kalian adalah yang kalian membenci mereka dan mereka pun membenci kalian, kalian melaknat mereka dan merekapun melaknat kalian”. Para shahabat bertanya, ‘Wahai Rosulullah tidakkah kita boleh memerangi mereka ?’ Beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab, “Tidak, selama mereka masih mendirikan sholat bersama kalian. Jika kalian melihat sesuatu yang kalian benci ada pada para pemimpin kalian maka bencilah tindakannya dan janganlah kalian melepaskan keta’atan kalian kepada mereka”[6].

Demikian juga hadits berikut,

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ يَرْوِيهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم « مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ فَمِيتَةٌ جَاهِلِيَّةٌ ».

Dari Ibnu ‘Abbas Rodhiyallahu ‘anhuma dari Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam. Beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa yang melihat sesuatu yang dia benci pada pemimpinnya maka hendaklah dia sabar. Karena barangsiapa memisahkan diri dari jama’ah sejengkal maka dia akan mati dalam keadaan jahiliyah (tidak punya pemimpin)”[7].

Ibnu Abil ‘Izz Rohimahullah mengatakan,

Aqidah dan Sikap Ahlu Sunnah Tentang Pemimpin 3

“Adapun pada mena’ati para pemimpin walaupun mereka lalim adalah karena dampak keluar dari keta’atan terhadap mereka kerusakan yang ditimbulkan berlipat ganda dibandingkan kelaliman mereka (kepada kita –pen). Bahkan terdapat penghapusan keburukan (dosa-dosa -pen) dan pahala yang berlimpah ruah ada pada sikap sabar terhadap kelaliman mereka. Sebab Allah Ta’ala tidaklah menimpakan kepada kita (musibah dipimpin –pen) mereka melainkan dikarenakan buruknya amal kita. Balasan sebuah perbuatan semisal dengan perbuatan yang dilakukan. Maka wajib bagi kita untuk bersungguh-sungguh dalam memohon ampun, istighfar, taubat serta memperbaiki amal perbuatan kita. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri (maksiat). Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)”. (QS. Asy Syuro [42] : 30).

Juga firman Allah Ta’ala,

وَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّى هَذَا قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ

“Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: “Darimana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri”. (QS. Ali ‘Imron [3] : 165).

Juga firman Allah Ta’ala,

مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ

“Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri”. (QS. An Nisaa [4] : 79).

Juga firman Allah Ta’ala,

وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Dan demikianlah Kami jadikan sebahagian orang-orang yang zalim itu menjadi teman bagi sebahagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan”. (QS. Al An’am [6] : 129).

Jika rakyat ini terbebas dari kezholiman para pemimpinnya yang zholim, maka mereka harus meninggalkan kezholiman[8].

Ibnu Abil ‘Izz Rohimahullah juga mengatakan,

Aqidah dan Sikap Ahlu Sunnah Tentang Pemimpin 4

“Dari Malik bin Diinaar, bahwa sesungguhnya telah ada pada sebagian kitab Allah (yang terdahulu –pen), “Aku adalah Allah, Rajanya para raja. Hati para raja berada di Tangan Ku. Maka barangsiapa yang ta’at kepada Ku, Aku akan jadikan mereka (para raja) sebagai rahmat baginya. Namun barang siapa yang melakukan kemaksiatan kepada Ku maka Aku akan jadikan mereka (para raja) sebagai siksaan untuknya. Maka janganlah kalian menyibukkan diri kalian dengan mencela para raja (para penguasa, para pemimpin –pen) namun bertaubatlah kalian maka Aku akan lembutkan (hati –pen) mereka (para raja) kepada kalian[9].

Saudaraku, ketahuilah keluar dari keta’atan kepada pemimpin kaum muslimin merupakan perkara jahiliyah.

Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahab At Tamimiy Rohimahullah mengatakan termasuk keyakinan orang-orang jahiliyah,

Aqidah dan Sikap Ahlu Sunnah Tentang Pemimpin 5

إِنَّ مُخَالَفَةَ وَلِيِّ الأَمْرِ وَعَدَمَ الإِنْقِيَادِ لَهُ فَضِيْلَةٌ وَالسَّمْعُ وَالطَّاعَةُ ذُلٌّ وَمَهَانَةٌ فَخَالَفَهُمْ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ وَأَمَرَ بِالصَّبْرِ عَلَى جُوْرِ الْوُلَاةِ وَأَمَرَ بِالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ لَهُمْ وَ النَّصِيْحَةِ وَغَلَّظَ فِيْ ذَلِكَ وَأَبْدَى وَأَعَادَ

Sesungguhnya menyelisihi para pemimpin dan tidak ta’at para mereka merupakan sebuah keutamaan. Sedangkan mena’ati mereka merupakan bentuk kerendahan dan kehinaan.

Maka Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam menyelisihi keyakinan mereka tersebut. Beliau memerintahkan untuk (sabar terhadap kelaliman pemimpin[10]), tetap mendengar dan ta’at kepada mereka serta menasehatinya. Beliau menyalahkan, memusuhi dan menentang sikap demikian (menyelisihi pemimpin –pen)[11].

Syaikh DR. Sholeh Al Fauzan Hafizhahullah mengatakan,

Aqidah dan Sikap Ahlu Sunnah Tentang Pemimpin 6

Jika para pemimpin memerintahkan kalian untuk bermaksiat maka (perintah tersebut -pen) tidak boleh dita’ati namun tidak boleh menyelisihi mereka pada perkara lainnya yang bukan kemaksiatan. Ketidakta’atan ini bersifat khusus pada perkara yang ada padanya kemaksiatan. Adapun perkara selain kemaksiatan maka tidak batal serta merta karena (pernah -pen) perintah untuk melakukan maksiat selama mereka para pemimpin masih Islam…………..”.

Beliau juga mengatakan,

Aqidah dan Sikap Ahlu Sunnah Tentang Pemimpin 7

Walaupun para pemimpin tersebut bukanlah orang yang ta’at beragama dan orang yang fasiq (gemar maksiat) selama kemaksiatannya belum mencapai kekafiran. Hal ini sebagaimana sabda Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam,

اسْمَعُوْا وَأَطِيْعُوا إِلاَّ أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ مِنَ اللَّهِ فِيهِ بُرْهَانٌ

“Tetap mendengar dan ta’atlah kalian, kecuali kalian melihat kekufuran yang nyata, terang-terangan yang kalian punya bukti nyata dari (syari’at) Allah”[12].

Maka selama kemaksiatannya bukan kekafiran maka pemimpin tersebut wajid didengar dan dita’ati. Kefasiqkannya (akibatnya –pen) bagi dirinya sendiri sedangkan kepemimpinannya, mena’ati kepemimpinannya untuk mashlahat kaum muslimin[13].

Pada kesempatan yang lain Syaikh DR. Sholeh Al Fauzan Hafizhahullah mengatakan,

Aqidah dan Sikap Ahlu Sunnah Tentang Pemimpin 8

“Kefasikan dan perbuatan maksiat (yang mereka kerjakan –pen) tidak mewajibkan kita keluar dari keta’atan kepada mereka. Sikap ini berkebalikan dengan kelompok khowarij dan mu’tazilah. Yang mana mereka berpandangan bolehnya keluar dari keta’atan kepada pemimpin jika mereka melakukan kemaksiatan dan kefasiqkan”[14].

Kami tidak keluar dari keta’atan kepada mereka. Kami hanya enggan mendo’akan kebaikan untuk mereka. Apakah penyataan ini dapat diterima ?

Syaikh DR. Sholeh Al Fauzan Hafizhahullah mengatakan,

Aqidah dan Sikap Ahlu Sunnah Tentang Pemimpin 9

Tidak boleh mendo’akan keburukan kepada para pemimpin karena ini merupakan bentuk ketidakta’atan kepada mereka secara maknawi. Hal ini juga semisal memberontak mengangkat senjata kepada mereka. Karena sesungguhnya dia tidak menilai (sahnya –pen) kepemimpinan mereka. Namun wajib mendo’akan kebaikan kepada mereka berupa hidayah dan kebaikan lainnya bukan malah mendo’akan keburukan. Hal ini merupakan salah satu fondasi dari aqidah ahlu sunnah wal jama’ah. Jika anda melihat seseorang yang mendo’akan keburukan kepada para pemimpin maka ketahuilah sesungguhnya aqidahnya telah menyimpang dan tidak berada di atas manhaj salaf[15].

Beliau juga mengatakan,

Aqidah dan Sikap Ahlu Sunnah Tentang Pemimpin 10

“Maka orang-orang yang mendo’akan keburukan kepada para pemimpin kaum muslimin tidak berada di atas manhaj ahlu sunnah wal jama’ah. Demikian pula orang-orang yang tidak mau mendo’akan kebaikan untuk mereka para pemimpin. Hal ini merupakan ciri-ciri yang menunjukkan adanya penyimpangan dari aqidah ahlu sunnah wal jama’ah[16].

Inilah diantara aqidah dan sikap ahlu sunnah wal jama’ah terhadap pemimpin mereka. Baik pemimpin tersebut orang yang sholeh ataupun pelaku banyak kemaksiatan.

Sebagai penutup kami sampaikan sebuah ucapan Imam Fudhail bin ‘Iyaadh Rohimahullah tentang Imam Ahmad bin Hambal Rohimahullah,

Aqidah dan Sikap Ahlu Sunnah Tentang Pemimpin 11

‘Imam Ahmad Rohimahullah mengatakan, “Kalau aku mengetahui bahwa aku punya sebuah do’a yang pasti diterima maka sungguh akan aku tujukan untuk (kebaikan -pen) penguasa[17].

Demikian pula ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rohimahullah,

Aqidah dan Sikap Ahlu Sunnah Tentang Pemimpin 12

Tidaklah sekelompok orang yang tidak menta’ati para pemimpin mereka melainkan keadaan mereka setelah keluar dari keta’atan tersebut lebih buruk dari keadaan mereka sebelumnya[18].

Ucapan beliau ini sangat sesuai dengan realita yang nampak di dunia nyata. Lihatlah orang-orang yang suka koar-koar tentang keburukan para pemimpin keadaan mereka tidak lebih baik dari para pemimpin yang mereka hujat, caci, ejek dan maki.

Lihat pula keadaan orang yang enggan mendo’akan kebaikan untuk para pemimpinnya sungguh keengganan mereka itu lebih kepada dorongan ego dan kesombongan terhadap petunjuk Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam, para shahabat Rodhiyallahu ‘anhum dan para ulama ahlu sunnah wal jama’ah.

Lihat juga keadaan negeri yang melakukan pemberontakan kepada para pemimpinnya yang bermaksiat yang belum pada taraf kekufuran yang mengeluarkan dari Islam. Keadaan mereka setelah memberontak jauh lebih buruk dibandingkan sebelumnya.

Allahu a’lam.

 

 

Setelah ‘Isya, 8 Robi’ul Awwal 1437 H, 19 Desember 2015 M

Aditya Budiman bin Usman bin Zubir

[1] Lihat Aqidatus Salaf wa Ashabul Hadits hal. 294 terbitan Dar Ashomah, Riyadh, KSA.

[2] Lihat Syarh Aqidah Ath Thohawiyah oleh Ibnu Abil ‘Izz Al Hanafi tahqiq Al Arnauth hal. 575/II, terbitan Mu’asasah Risalah, Mesir.

[3] HR. Bukhori no. 7137 dan Muslim no. 1835.

[4] HR. Muslim no. 1837.

[5] HR. Bukhori no. 7142 dan Muslim no. 1839.

[6] HR. Muslim no. 1855.

[7] HR. Bukhori no. 7143 dan Muslim no. 1849.

[8] Lihat Syarh Aqidah Ath Thohawiyah oleh Ibnu Abil ‘Izz Al Hanafi tahqiq Al Arnauth hal. 578-579/II.

[9] Idem hal 579/II.

[10] Tambahan berdasarkan Matan Di Jami’ Mutun Aqidah cet. Darul Atsar, Mesir.

[11] Lihat Syarah Masai’l Jahiliyah oleh DR. Sholeh Al Fauzan Hafizhahullah hal. 48 terbitan Darul ‘Ashomah, Riyadh, KSA.

[12] HR. Bukhori no. dan Muslim no. 1709.

[13] Lihat Syarh Masa’il Jahiliyah oleh Syaikh DR. Sholeh bin Fauzan Al Fauzan Hafizhahullah hal. 48-49 terbitan Darul ‘Ashomah, Riyadh, KSA.

[14] Lihat At Ta’liqot Al Mukhtashoroh ‘ala Al Aqidah Ath Thohawiyah hal. 169-170 terbitan Darul ‘Ashomah, Riyadh, KSA.

[15] idem hal. 171.

[16] idem. hal. 172

[17] Idem.

[18] Idem hal. 169.

 

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply