Membuka Aib Sendiri Setelah Sebelumnya Allah Tutup

12 Jan

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Membuka Aib Sendiri Setelah Sebelumnya Allah Tutup

Segala puji hanya milik Allah ‘Azza wa Jalla. Sholawat serta salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi was sallam kepada istri-istri beliau dan seluruh sahabatnya Ridwanullah alaihim ajma’in.

Sudah menjadi fitrah dasar setiap insan yang jiwanya masih lurus/hanif, bahwa setiap orang enggan aibnya dibuka oleh orang lain. Namun manusia dengan segala bentuk kedzolimannya pada diri-diri mereka sendiri tak jarang melakukan sebuah perbuatan yang sebenarnya tidak ia sukai apabila fitrahnya masih bersih dari noda dosa-dosa. Maka benarlah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gununggunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat dzolim dan amat bodoh”. (QS. Al Ahzab [33] : 72).

Penulis Tafsir Jalalain menafsirkan yang dimakasu dengan amanah (الْأَمَانَةَ) dalam ayat di atas adalah “(semisal) Sholat-sholat dan kewajiban lainnya yang apabila dikerjakan mendapatkan pahala dan apabila ditinggalkan mendapatkan dosa/hukuman”[1].

Bahkan Allah Azza wa Jalla menyifati manusia dengan sebuah sifat mendzolimi dirinya sendiri sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

وَمَا ظَلَمُونَا وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

“Tidaklah mereka menganiaya Kami, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri”. (QS. Al Baqoroh [2] : 57).

Diantara kedzoliman dan kebodohan manusia terhadap dirinya sendiri adalah ia membuka aibnya padahal sebelumnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menutupnya. Hal ini sesuai dengan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang diriwayatkan oleh Al Bukhori dan Muslim dalam kitab shohih keduanya,

حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيْزِ بْنِ عَبْدِ اللهِ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيْمُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ ابْنِ أَخِي ابْنِ شِهَابٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُوْلُ

: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَقُوْلُ ( كُلُّ أُمَّتِيْ مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِيْنَ وَإِنَّ مِنَ الْمُجَاهِرِةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِالْلَيْلِ عَمَلًا ثُمَّ يُصْبِحُ وَقَدْ سَتَرَهَ اللهُ فَيَقُوْلُ يَا فُلَانُ عَمِلْتُ البَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا وَقدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وُيُصْبِحُ يَكْشِفُ سَتَرَ اللهُ عَنْهُ)

Telah mengabarkan kepada kami Abdul ‘Aziz bin Abdullah, telah mengabarkan kepada kami Ibrohim bin Sa’d dari anak saudaraku Ibnu Syihab dari Ibnu Syihab dari Salim bin Abdullah, dia mengatakan, “Aku mendengar Abu Huroiroh mengatakan, “Aku mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Setiap ummatku akan mendapatkan ampunan dari Allah Azza wa Jalla kecuali al Mujaahiriin yaitu semisal ada seorang laki-laki yang mengerjakan sebuah perbuatan (buruk –ed.) pada malam hari kemudian ia menjumpai waktu subuh dan Allah telah menutupi aibnya (berupa perbuatan buruk – ed.). Lalu laki-laki tersebut mengatakan, “Wahai Fulan, aku telah mengerjakan sebuah perbuatan buruk/jelek ini dan itu”. “Maka itulah orang yang malamnya Allah telah menutup aibnya lalu ia membuka aibnya sendiri di waktu subuh (keesokan harinya –ed.)”[2].

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin Rohimahullah mengatakan,

“Al Mujaahiriin adalah orang-orang yang menunjukkan bahwa ia telah berbuat maksiat kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Orang-orang ini terbagi menjadi dua golongan :

[1]. Orang yang melakukan perbuatan maksiat dan ia menunjukkan perbuatannya tersebut dihadapan manusia dan manusia yang lain pun melihatnya. Yang demikian ini tidaklah kita ragukan lagi bahwa mereka termasuk golongan Al Mujaahiriin dan tidak akan mendapat ampunan dari Allah ‘Azza wa Jalla.

[2]. Orang yang melakukan perbuatan maksiat secara sembunyi-sembunyi missal di waktu malam kemudian Allah menutup aibnya tersebut, atau seseorang yang melakukan maksiat di rumahnya sendiri kemudian Allah menutup aibnya tersebut sehingga manusia lainnya tidak dapat melihatnya sehingga seandainya ia bertaubat kepada Allah maka jelas hal itu akan baik baginya. Namun ketika ia menemui hari berikutnya dan bertemu dengan orang lain dia mengatakan, “Aku telah melakukan perbuatan maksiat ini dan itu” maka orang yang demikian ini termasuk orang yang tidak akan dimaafkan Allah Subhana wa Ta’ala dosa-dosanya. Orang ini termasuk Al Mujaahirin padahal sebelumnya telah Allah tutup aibnya.

Hal di atas tidaklah muncul melainkan karena dua sebab :

[1]. Dia menceritakannya karena lupa dan tidak sengaja sehingga ia menceritakan keburukannya itu dengan hati yang tidak berniat dengan niat yang buruk (semisal ingin berbangga bangga dengan maksiatnya –ed.).

[2]. Dia menceritakannya karena ingin membanggakan perbuatan maksiatnya sehingga ketika ia menceritakannya dengan semangat (dia merasa) seolah-olah ia telah mendapatkan ghonimah (harta rampasan perang) maka jenis ini adalah jenis yang paling buruk diantara dua penyebab di atas”[3].

Bahkan kita katakana bahwa orang yang termasuk al Mujaahiriin ini mendapatkan ancaman khusus dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam,

وَمَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ

“Barangsiapa yang menunjukkan dalam islam sebuah jalan keburukan (menjadi contoh buruk) maka baginya dosa perbuatannya tersebut dan dosa orang-orang yang mengikuti perbuatannya setelahnya tanpa dikurangi sedikit pun”[4].

Maka cukuplah dua ancaman besar ini membuat kita jera untuk menceritakan keburukan-keburukan kita yang telah ditutupi oleh Allah ‘Azza wa Jalla.

Mudah-mudahan kita tidak temasuk orang-orang yang Al Mujaahiriin. Amin

Sigambal,

Selepas Isya,

17 Shafar 1433 H/ 11 Januari 2012 M

 

Aditya Budiman bin Usman



[1] Lihat Tafsir Jalalin oleh Jalaluddin Al Mahalliy dan Jalaluddin As Suyuthiy dengan tahqiq Shofiyurrohman Al Mubarokfuriy hal. 15 terbitan Darus Salam, Riyadh, KSA

[2][2] HR. Bukhori no. 6069 dan Muslim no. 2990.

[3][3] Diringkas dari Kitab Syarh Riyadhus Sholihin oleh Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin hal. 120-121/II terbitan Darul Aqidah, Kairo, Mesir.

[4] HR. Muslim no. 1017.

Tulisan Terkait

51 Comments ( ikut berdiskusi? )

  1. Riko Refani
    Jul 16, 2014 @ 09:04:19

    Assalamualaikum wrb,
    Bagaimana bila membuka aib sendiri di karena-kan rasa cemas/takut dan butuh seseorang untuk berbagi rasa gundah itu? Sama sekali tidak ada niat buruk/bangga akan aib yg di lakukan. Justru takut akan dosa namun butuh seseorang untuk bercerita.
    Mohon di jawab:)

    Wasalamualaikum wrb

    Reply

    • Aditya Budiman
      Jul 17, 2014 @ 02:29:00

      alaikumussalam warohmatullah wa barokatuh
      insya Allah yang demikian tidak termasuk hadits di atas. namun perlu diingat hendaknya orang yang jadi tempat curhat adalah orang yang kompeten dan mengerti syari’at serta amanah

      Reply

    • Live Oja
      Mar 13, 2016 @ 06:15:48

      assalamualaikum
      mohon d jawab. Jika kita sudah menutupi aib kta d masa lalu. Dan tdk ingin pasangan kita mengetahuinya. apa kita salah

      Reply

      • Aditya Budiman
        Mar 14, 2016 @ 05:48:58

        Alaikumussalam
        Jika anda telah bertaubat dan tidak menceritakan aib dosa anda di masa lalu maka tidak perlu menceritakannya di masa sekarang kecuali ada mashlahat yang besar. Terkait situasi yang anda alami, terkadang menceritakan aib di masa lalu kepada istri/suami malah jadi memperkeruh suasana rumah tangga. Allahu a’lam

        Reply

  2. hamba allah
    Oct 06, 2014 @ 08:37:06

    assalamualaikum wr. wb.

    bagaimana bila membuka aib sendiri kpda calon istri/suami misalnya. dikarenakan rasa bersalah, takut, dan karna agar tidak ada keganjalan dan kebohongan untuk kedepannya. dan bermaksud untuk jujur dan terbuka kepadanya. agar bisa tenang setelah menikah.
    itu bagaimana ?
    apa allah juga tidak akan mengampuni dosa tersebut?

    terimakasih.
    mohon segera di jawab.

    Reply

    • Aditya Budiman
      Oct 07, 2014 @ 02:16:02

      Alaikumussalam warohmatullah wa barokatuh
      aib yang bagaimana ? kalo aib maksiat masa lalu, yang Allah Ta’ala telah tutup dari orang lain dan anda telah bertaubat maka tidak perlu diceritakan. Allahu a’lam.

      Reply

  3. hamba allah
    Dec 20, 2014 @ 17:21:36

    bagaimana kalau pasangan kita bertanya mengenai masalalu kita, apakah kita harus tetap menjaga privasi kita? atau kita ungkapkan kepadanya apa yang menjadi aib yang telah kita lakukan?

    Reply

    • Aditya Budiman
      Dec 22, 2014 @ 01:54:12

      Bila tidak ada mashlahat tidak perlu diceritakan. Allahu a’lam

      Reply

      • septi
        Apr 01, 2015 @ 07:24:23

        Bagaimana bila tidak sengaja menceritakan/membuka aib sendiri kepada orang yang salah saya tidak maksud untuk berbangga2 kepada dia malah saya merasa takut cemas dan saya meceritakan ke org yang salah yg telaah mengbeberkan aib kita ke orang2 yg telah kita ceritakan
        Apakah dosa saya di ampunkan dan apakah taubat saya diterima ALLAH SWT
        Mohon balasannya

        Reply

        • Aditya Budiman
          Apr 01, 2015 @ 09:17:21

          Jika Anda benar benar bertaubat Insya Allah diampuni Allah Azza wa Jalla. Allahu a’lam

  4. Aku
    Sep 19, 2015 @ 06:12:28

    Assalamualaikaum, bberapa bulan lalu saya merasa sangat cemas karna sesuatu yg saya lakukan bahkan sampai sekarang..
    Dan dengan terburu2 tanpa berpikir panjang saya menceritakan aib tersebut dgn niat mencari saran,dan nasehat untk saya,dan itu saya juga menceritakan pda teman saya yg lain,bahkan saya sampai mengunjungi dokter untuk berkonsultasi tentang msalah yg berhubungan dgn aib saya ini,karna saya sangat merasa takut dan menyesal,tanpa tau hukum yg akan di dapat dari Allah karna telah membuka aib sendiri.setelah saya mmbaca bahwa membuka aib sendiri itu taubat dan permohonan ampunnya tidak akan di terima Allah,baik menceritakan secara tertulis atau lisan, saya semakin merasa takut..
    Mohon jawabannya, bagaimna untuk masalah saya ini, saya sangat merasa takut jika taubat dan permohonan ampun, saya tidak akan di terima Allah lagi.. ?

    Reply

    • Aditya Budiman
      Sep 20, 2015 @ 00:00:52

      Alaikumussalam… Jika memang orang yang hendak anda curhati tersebut memang mampu memberikan solusi maka Insya Allah tidak termasuk dalam membuka aib yang terlarang. Allahu a’lam.

      Reply

  5. tsabita
    Sep 29, 2015 @ 06:27:58

    Assalamualaikum wr.wb
    Apakah bercerita pengalaman sakit termasuk membuka aib? Setelah sebelumnya hanya beberapa orang saja yg tahu

    Wassalamualaikum wr.wb

    Reply

    • Aditya Budiman
      Sep 29, 2015 @ 13:16:03

      عليكم السلام
      Sakit semisal apa yang dimaksud?

      Reply

  6. Arum Novita
    Feb 11, 2016 @ 08:37:51

    Assalamualaikum.
    Bagaimana kalau saya menceritakan aib saya beserta kerugian yang saya alami karena aib tersebut, dengan tujuan memperingatkan orang lain supaya tidak melakukan kesalahan serupa. Apakah tetap tidak boleh? Syukran

    Reply

    • Aditya Budiman
      Feb 11, 2016 @ 10:18:34

      Alaikumussalam…
      Insya Allah tidak karena bukan dengan tujuan berbangga-bangga dengan maksiat. Namun hati-hati jangan diceritakan kepada orangyang tidak perlu atau berkepentingan. Allahu a’lam.
      afwan

      Reply

  7. hamba allah
    Feb 13, 2016 @ 08:42:06

    biar postingannya sdh lama saya mau bertanya. bagaimana jika saya membuat kesalahan dengan sengaja menutup aib diri sendiri tapi saya berceritanya ke publik alhasil aib saya diketahui orang banyak. kemudian mereka malah meneruskan cerita aib aib saya kepada orang lain. dan akhirnya saya dijauhi oleh orang banyak. sikap yang baik saya tunjukkan harus seperti apa?

    Reply

    • Aditya Budiman
      Feb 14, 2016 @ 21:45:52

      Bertaubat kepada Allah dan jangan ulangi lagi

      Reply

      • Dia
        Mar 19, 2016 @ 09:08:06

        Bolehkah seorang swami menceritakan aib temanya kepada istrinya…
        Padahal swaminya sdah berjanji tidak akan menceritakan kepada siapapun.
        Tapi yang berjanji itu sebelum punya istri.

        Reply

  8. tyo
    Mar 26, 2016 @ 11:03:00

    assalammualaikum wr.wb bagaimana jika ada seseorang yang menceritakan aibnya sndiri ke orang lain karena rasa ketakutan dan kecemasan yang menghantuinya, setelah sadar dia menghindar dari org tersebut karena tau kalau orang diceritakan ternyata orang yang salah dan akhirnya dia bertaubat dan disaat bertaubat dia bertemu dengan orang yang tidak dikenal berasa dia sedang dihipnotis langsung dia waktu ditanya seseorang dia menjawab karena ketakutan tibatiba terlontarkan dan dia menceritakan aibnya lagi dan ketika sadar dan tau bahwa di alquran sudah dijelaskan bahwa membuka aib secara terang terangan tidak diperbolehkan apakah dia termasuk muhajirin? dan satu lagi pertanyaan jika terlanjur bercerita kepada calon suami menceritakan aibnya dimasa lalu tetapi calon suami sudah bersedia dan mengetahuinya apa itu diperbolehkan atau tidak? mohon dibalas,terimakasih

    Reply

    • Aditya Budiman
      Mar 29, 2016 @ 10:50:30

      Alaikumussalam warohmatullah wa barokatuh. jika sudah benar-benar bertaubat berarti urusannya di Tangan Allah. Jika kondisinya demikian insya Allah tidak termasuk mujahir. Namun seharusnya lebih hati-hati menjaga aib sendiri. menceritakan aib di masa lalu yang kita sudah bertaubat darinya sebenarnya dilarang. Namun Alhamdulillah suami anda tidak mempermasalahkannya lagi. Allahu a’lam
      maaf balasnya lama karena pekan ini ada kegiatan.

      Reply

  9. hamba allah
    Mar 29, 2016 @ 11:31:22

    assalamualaikum wr. wb
    bagai mana bila se’orang wanita ingin menyceritakan aib masalalunya
    (maksiat). kepada laki2 yg ingin menghalalkanya, agar wanita itu tida merasa bersalah.
    dan tida ingin membuat laki2 itu menyesal karna aib yg trbongkar setelah menikah.
    apa lebih baik di ceritakan
    atau tida usah?..
    karna wanita itu ingin laki2 itu mau menerima kesalahat d maslalunya.
    bagaymana mohon jawbanya.

    Reply

    • Aditya Budiman
      Mar 29, 2016 @ 17:50:29

      ‘Alaikumussalam warohmatullah wa barokatuh. Tidak perlu diceritakan jika anda memang telah benar bertaubat. Allahu a’lam

      Reply

  10. No Name
    May 13, 2016 @ 13:53:26

    Assalamualaikum Wr.Wb

    perihal aib yang harus kita tutupi, bagaimana anjuran yang terbaik perihal aib yang pernah kita lakukan bila berkaitan hukum Hadd. Lebih baik ditutupi dan bertaubat atau mengakui untuk di hukum had. terima kasih..

    Wasalamualaikum wr. wb

    Reply

    • Aditya Budiman
      May 13, 2016 @ 20:41:08

      Alaikumussalam warohmatullah wa barokatuh.
      Berhubung di negara kita blm ada penegakan hukum had maka Bertaubatlah mulai saat ini dengan taubat nasuha. Silakan search di blog ini ttg syarat taubat.
      Allahu a’lam

      Reply

      • hamba allah
        Jun 24, 2016 @ 09:06:20

        Assalamualaikum,
        Sy dengan bodoh’y tlh mnceritakn aib sy sendiri d masa lalu d medsos,tanpa sy tau hukum’y membuka aib diri sndiri,tp sy bertujuan bahwa sy bnr2 ingn brtobat &ingn tmn2 ikut mndoakn apa yg sy mohon kan pd allah swt yaitu sy ingin sgera dberikn keturunan, apkh sy termasuk golongan mujahir,jika ia,apa yg hrs sy lakukan?tolong jwb,syukran ketter

        Reply

        • Aditya Budiman
          Jun 24, 2016 @ 17:45:11

          Alaikumussalam.
          Jika anda benar2 ingin bertaubat dari aib masa lalu dan ingin bertaubat dari dosa mempublish aib di medsos, mudah2an Allah ampuni, insya Allah.
          Jgn lupa hapus segera apa yg anda publish dulu. Allahu a’lam

  11. Norma setyana
    Jul 17, 2016 @ 00:04:40

    Bagaimana kalau dia mengumbar aibnya dengan niat untuk menjadikan itu sbuah contoh nyta yg buruk dan dg harapan supaya semua orang yg diberitahu itu tdk mengikuti nya?

    Reply

    • Aditya Budiman
      Jul 18, 2016 @ 05:39:07

      Tidak perlu menyebutkan bahwa dia dahulunya pernah melakukan kemaksiatan itu. Misalnya dia katakan dulu ada orang yang saya tahu persis kondisinya pernah melakukan ini dan itu….. Insya Allah maksud agar orang lain tidak mengikutinya sudah tersampaikan.
      Allahu a’lam

      Reply

      • No name
        Aug 05, 2016 @ 13:19:57

        Bagaimana jika mengumbar aib sendiri kepada sahabat karna terlalu gundah sehingga butuh temen untuk cerita karna tidak tahu lg utk berbagi cerita kesiapa.. Setelah membaca artikel sy baru tahu kalo haram utk membuka aib kpd siapapun kecuali Allah. Sy sangat lah menyesal telah meneceritakan aib yg seharusnya disimpan sendiri . Apa kah kasus spt ini akan ampuni dosa dosa oleh Allah? Terimakasih sblmny

        Reply

        • Aditya Budiman
          Aug 06, 2016 @ 08:06:32

          Jika sahabat tersebut bs memberikan solusi agar anda tidak mengulangi aib tsb insya Allah tidak apa-apa… Allahu a’lam

  12. Hancur hatiku
    Aug 11, 2016 @ 11:08:44

    Salam ustaz..bagaimana pula jika dosa lampau itu telah di ceritakan oleh pasangan nya ketika melakukan maksiat itu pada suami..sedangkan aib nya di sembunyikan sehabis baik dari suami selama ni.? Apakah hukum pada si isteri.? Suami dlm keadaan keliru hingga kini. .

    Reply

    • Aditya Budiman
      Aug 22, 2016 @ 06:16:20

      Kami tidak paham apa yang ditanyakan persisnya bagaimana. Yang dapat kami tangkap bahwa saudara bertanya bagaimana jika maksiat yang pernah dahulu dikerjakan terlanjur diceritakan kepada suami. Jika demikian pertanyaannya maka bertaubatlah kepada Allah dengan taubat nashuha dan tidak perlu diceritakan lagi di masa depan jika memang tidak ada manfaatnya. Allahu a’lam.

      Reply

      • Hancur hatiku
        Aug 22, 2016 @ 10:46:58

        Maksud saya begini ustaz. .si isteri menutup aib nya dari suami selama ini,tetapi lelaki yg pernah terlanjur dengan si isteri yang menceritakan pada suami. . Hingga kini saya tidak dapat memujuk hati saya untuk memaafkan. .saya sedih sangat ustaz. . Saya sayang isteri. .

        Reply

        • Aditya Budiman
          Aug 26, 2016 @ 06:02:20

          Apabila istri anda telah benar2 bertaubat kepada Allah maka kewajiban anda menganggap sang istri tidak pernah berbuat maksiat tersebut. Kalaulah Allah Ta’ala saja mau menerima taubat dan memaafkannya dan menghapus dosanya, masa anda sesama makhluk yg pasti pernah bermaksiat tidak memaafkannya ? Allahu a’lam

  13. hamba allah
    Sep 07, 2016 @ 07:47:20

    Assalamualaikum.
    Ust bagaimana menghadapi istri yg selalu membuka masa lalu sedangkan memang istri mwngetahuinya..dan masa lalu itu selalu di jadikan sebagai senjata terus menerus.jazakamullah khairon katsiron

    Reply

    • Aditya Budiman
      Sep 07, 2016 @ 12:43:41

      Alaikumussalam
      Jelaskan padanya dengan penuh kelembutan apakah ada gunanya mengulang2 hal tersebut. Jikalau org harus suci dari masa lalu maka tentulah syariat taubat tidak ada..

      Maaf saya bukan ustadz

      Reply

      • catur
        Sep 22, 2016 @ 16:50:34

        ustadz bagaimana jika sudah terlanjur menceritakan aibnya sendiri apakah masih ada taubat…? apa maksud hadist tersebut yang menjelaskan tdk diampuni apakah maksudya ketika orang itu tidak taubat

        Reply

        • Aditya Budiman
          Sep 25, 2016 @ 21:34:23

          Pintu taubat senantiasa terbuka selama kita memenuhi syarat taubat. Benar.

  14. catur
    Sep 22, 2016 @ 15:46:06

    ustad ketika orang sudah melakukan dosa itu atau mengumbar aibnya apakah masih ada taubat

    Reply

    • Aditya Budiman
      Sep 25, 2016 @ 21:33:01

      Pintu taubat senantiasa terbuka wahai saudaraku, selama kita memenuhi syarat-syaratnya.

      Reply

  15. catur
    Sep 22, 2016 @ 15:47:01

    mohon dijawab ustadz

    Reply

    • Aditya Budiman
      Sep 25, 2016 @ 21:33:29

      Maaf lama jawabnya karena sesuatu dan lain hal

      Reply

      • catur
        Nov 11, 2016 @ 11:24:39

        tidak apa apa terima kasih ? maaf pertanyaanya berdobel

        Reply

  16. Melina Jepsen
    Nov 02, 2016 @ 21:30:21

    Stadz, bagaimana jika saya sudah terlanjur mengatakan aib saya ke calon suami . Krmudian calon suami saya itu tidak jadi menikahi saya. . Apa yg harus saya lakukan stadz..
    Sekatang saya baru tahu jika menceritakan aib sendiri itu tidak boleh.
    Misalkan suatu saat nanti saya akan dinikahi oleh laki2 yg lainnya , saya takut calon suami saya yg pertama itu mengumbarnya..
    Apa saran ustadz .? Mohon jawabannya stadz.

    Jazakalla khair

    Reply

    • Aditya Budiman
      Nov 03, 2016 @ 08:05:05

      Bismillah
      Orang tersebut sekarang berarti telah memutuskan pinangannya kepada anda kan ya ? Pertama, Anda harus benar-benar sudah bertaubat dari aib yang anda ceritakan tersebut dan dosa membuka aib anda sendiri. Kedua, Anda dapat memintanya agar tidak menyebarkan apa yang sudah anda ceritakan kepadanya. Ketiga, urusan jodoh Allah Ta’ala sudah mengaturnya untuk anda. Gantungkan hati anda kepada Nya dan mohonlah jodoh yang baik agamanya sembari anda terus berusaha untuk menjadi orang yang lebih baik lagi ke depannya. Allahu a’lam

      #sayabukanustadz

      Reply

  17. Bayu
    Nov 04, 2016 @ 03:06:37

    Bagaimana jika sudah terlanjur menceritakan aibnya sendiri apa sudah tak ada pintu maaf.dan taubat kunakan sia sia

    Reply

    • Aditya Budiman
      Nov 04, 2016 @ 10:23:23

      Silakan baca komentar sebelumnya ya mas, pertanyaan tersebut sering berulang. Barakallah fik

      Reply

  18. hamba Allah
    Nov 15, 2016 @ 12:35:10

    Assalamualaikum Bapak,

    Bagaimana jika sudah terlanjur menceritakan tidak bermaksud membanggakan diri atau mengumbar aib tentang kemaksiatan yang sudah dilakukan tapi pada saat itu sedang sangat sedih/gundah dan takut tidak bisa bertanggung jawab baik pada Allah maupun pada diri sendiri sehingga perlu curhat pada sahabat, apakah termasuk dalam kategori di atas? Dan apakah jika bertaubat bisa diampuni oleh Allah?

    Jazakallahu bi khair.

    Reply

    • Aditya Budiman
      Nov 15, 2016 @ 17:06:19

      Alaikumussalam… Jika memang sang teman curhat tersebut bisa membantu mengatasi masalah anda maka insya Allah tidak mengapa. Namun tentunya tidak berulang-ulang dan tidak kepada banyak orang. Allahu a’lam.
      Wa iyyak

      Reply

Leave a Reply