Untungkah Membalas Gangguan Orang Lain ?

20 Apr

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Untungkah Membalas Gangguan Orang Lain ?

  Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Ketika anda diganggu orang lain, lantas andapun membalaskan gangguannya pada anda. Balasan tersebut boleh jadi semisal dengan yang pernah anda terima darinya. Atau bahkan anda membalasnya melebihi apa yang dilakukannya pada anda. Akhirnya terlampiaskanlah apa yang ada di hati anda.

Beruntungkah anda atau malah buntung ?

Mari simak penuturan berikut dari orang yang sudah teruji pengalamannya atas gangguan orang lain.

Beliaulah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rohimahullah. Beliau Rohimahullah mengatakan, Untungkah Membalas Gangguan Orang Lain 1Ketiga (Perkara yang mampu membantu seorang mewujudkan sabar) adalah, hendaknya seorang hamba benar-benar mengetahui betapa baiknya ganjaran yang Allah janjikan bagi orang-orang yang memaafkan dan sabar. Allah Ta’ala berfirman,

وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

“Balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zholim”. (QS. Asy Syuro [42] : 40)

Manusia dalam menyikapi gangguan orang lain ada 3 jenis, yaitu (1) orang zholim yang menuntut di luar haknya, (2) orang yang pertengahan menuntut sesuai haknya dan (3) orang yang berbuat kebaikan memaafkan, tidak mengambil haknya. Allah Ta’ala menyebutkan ketiga jenis orang ini pada ayat tersebut. Pada bagian pertama orang yang pertengahan, di bagian tengah ayat orang-orang yang sabiqun (berbuat kebaikan -pen) dan di akhir ayat orang-orang yang zholim”. Untungkah Membalas Gangguan Orang Lain 2 “Hendaklah dia benar-benar mengetahui bahwa panggilan di hari qiyamat kelak, ‘Berdirilah orang-orang yang Allah janjikan ganjaran pahala baginya’. Maka tidak ada yang berdiri ketika itu melainkan orang-orang yang memaafkan dan berbuat baik (tidak menuntut hak balas dendamnya –pen). Jika dia benar-benar mengetahui bahwa jika mengambi sesuai haknya atau mengambil penuh haknya maka dia akan kehilangan ganjaran tersebut. Maka akan mudah baginya untuk sabar dan memaafkan orang lain”[1]. Syaikh Prof. DR. ‘Abdur Rozzaq bin ‘Abdul Muhsin Al Badr Hafizhahullah mengatakan, Untungkah Membalas Gangguan Orang Lain 3 “Ini merupakan derajat ihsan, tidak semua orang mampu menggapainya. Sesungguhnya hanya hamba-hamba Allah Tabaroka wa Ta’ala yang benar-benar ingin mendekatkan diri kepada Nya dan ihsanlah yang mampu menggapainya. Perkara yang mampu memotivasi kita untuk menggapainya adalah dengan benar-benar mengetahui pahala yang disiapkan. Sehingga dia mampu bersabar atas gangguan orang lain karena mengharapkan pahala dari Allah Ta’ala. Atau bahkan dia mampu menggapai derajat yang lebih tinggi yaitu mampu memaafkan gangguan mereka karena mencari pahala dari Allah Subhana wa Ta’ala. Karena Allah ‘Azza wa Jalla mencintai orang-orang yang memaafkan dan muhsin”[2]. Untungkah Membalas Gangguan Orang Lain 4 “Jadi, manusia dalam hal ini memiliki 3 tingkatan :

  1. Orang yang zholim, mereka adalah orang yang mengambil di atas haknya.
  2. Orang yang pertengahan, mereka adalah orang yang mengambil hanya sekadar haknya.
  3. Orang yang berbuat ihsan, mereka adalah orang yang memaafkan dan meninggalkan haknya. Inilah tingkatan terbaik.

Allah Subhana wa Ta’ala menggabungkan 3 tingkatan ini pada ayat yang mulia tersebut (QS. Asy Syuro [42] : 40)

INTINYA, Kita akan terbantu untuk sabar atas gangguan orang lain kepada kita ketika kita mengetahui ganjaran yang disiapkan oleh Dzat Yang Tidak Menyelisihi Janji. Dengan itu kita akan terbantu untuk lebih mudah memaafkan dan tidak menuntut balas atas apa yang diperbuatnya kepada kita. Untung atau rugikah kita jika melakukan yang demikian ?? Jawabannya pasti untung. Namun apakah kita sanggup ?? Jawabannya mari sama-sama latih diri kita agar mampu melakukannya.

Mudah-mudahan bermanfaat

10 Rojab 1437 H, 18 April 2016 M

Aditya Budiman bin Usman bin Zubir

 

[1] Al Umur Al Mu’inah ‘ala Ash Shobri ‘ala Adzaa Al Kholq dengan ta’liq Syaikh ‘Abdur Rozzaq hal. 13 Terbitan Dar Al Ilmu Ash Shohih.

[2] Idem hal. 14.

Tulisan Terkait

Leave a Reply