Anda Lebih Mulia Jika Memaafkan

26 Jan

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Anda Lebih Mulia Jika Memaafkan

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maawalaah.

Berbagai cara dilakukan orang yang membenci anda untuk mengganggu anda. Waktu dan fikirannya dia habiskan untuk memikirkan bagaimana caranya untuk mengganggu anda dengan ucapan, hasutan atau bahkan perbuatan. Namun ketika anda mampu terus menerus bersabar atas apa yang dia lakukan kepada anda. Pada akhirnya dia akan merasa bahwa anda lebih baik dari dirinya.

Simak penuturan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (Wafat 728 H) Rohimahullah berikut[1].

Kesembilanbelas, Sesungguhnya jika seseorang mampu memaafkan orang yang mengganggunya maka jiwa orang yang mengganggu tersebut akan merasa bahwa orang yang diganggu berada di atasnya dan telah beruntung atas gangguan tersebut. Sehingga penganggu ini akan senantiasa menilai (kedudukan -pen) dirinya berada di bawah orang yang diganggu. Jika demikian, sudah cukuplah hal tersebut menjadi sebuah keutamaan dan kemuliaan bagi orang yang mau memaafkan”.

Syaikh Prof. DR. ‘Abdur Rozzaq Hafizhahullah mengatakan[2],

“Cukuplah keutamaan dan kemuliaan ini yang berasal dari orang lain ini bagi orang yang mau memaafkan atas gangguan orang yang mengganggunya. Yaitu jiwa, diri orang yang mengganggu merasa bahwa orang yang diganggu lebih mulia dan lebih tinggi kedudukannya dari dirinya. Inilah kemuliaan dan ketinggian derajat yang sesungguhnya sebagaimana telah disebutkan sebelumnya tentang makna Hadits Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam,

وَمَا زَادَ اَللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا

“Tidaklah Allah menambahkan kepada orang yang mau memaafkan melainkan kemuliaan”[3].

Kemuliaan ini jauh lebih bermanfaat bagi seorang hamba daripada membalas gangguan orang yang mengganggunya”.

Ringkasnya :

Jika kita mampu terus menerus bersabar atas gangguan orang lain kepada kita maka Allah akan jadikan kedudukan kita lebih mulia dibandingkan orang yang mengganggu. Hal ini akan terasa bagi orang lain demikian juga orang yang mengganggu kita walaupun mungkin mereka tidak mengakuinya secara lisan.

 

So, buat apa membalas gonggongan para pengganggu.

Allahu a’lam.

 

 

 

Setelah subuh, 27 Robi’ul Akhir 1438 H | 25 Januari 2017 M,

 

Aditya Budiman bin Usman

[1] Al Umur Al Mu’inah ‘ala Ash Shobri ‘ala Adzaa Al Kholq dengan ta’liq Syaikh ‘Abdur Rozzaq hal. 40

[2] Idem hal. 42.

[3] HR. Muslim no. 2588.

 

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply