Sering Diganggu Orang ? Bertaubatlah Dari Maksiat

11 Apr

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Sering Diganggu Orang ? Bertaubatlah Dari Maksiat

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Kita mungkin pernah atau bahkan sering diganggu orang lain. Sepertinya kok ya ada saja orang yang ingin mengganggu kenyamanan, ketenangan kita. Tindakan atau sikap yang sering kita ambil ketika itu adalah ingin membalaskan dendam sesegera mungkin.

Nah, mari memandangnya dari sisi lain, sisi yang lebih bermanfaat buat kita.

Check this out…

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rohimahullah mengatakan,

Sering Digangguan Orang Bertaubatlah Dari Maksiat 1

“Kedua, (Perkara yang mampu membantu seorang mewujudkan sabar) adalah hendaklah dia benar-benar mengetahui, mengakui dosa-dosanya. Sesungguhnya Allah Subhana wa Ta’ala hanyalah menimpakan kepadanya gangguan tersebut disebabkan dosa-dosanya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh dosa-dosamu sendiri. Dan Allah memaafkan sebagian besar (dari dosa-dosamu)”.

(QS. Asy Syuro [42] : 30)

Apabila seorang hamba benar-benar memahami, mengakui bahwa seluruh hal yang menimpanya berupa hal yang tidak dia sukai sebabnya adalah dosa-dosanya. Maka dia akan menyibukkan dirinya dengan taubat dan memohon ampunan atas dosa-dosanya yang menjadi sebabnya daripada mencela dan menghardik mereka”.

Beliau Rohimahullah melanjutkan,

Sering Digangguan Orang Bertaubatlah Dari Maksiat 2

“Jika anda lihat ada seorang hamba yang jika orang lain mengganggunya dan dia tidak mengkaji dirinya sendiri, mencela dirinya sendiri dan memohon ampunan (atas dosa-dosanya). Maka ketahuilah itulah musibah hakiki yang menimpanya.

Jika dia bertaubat dan memohon ampun dan mengatakan, ‘Ini karena dosa-dosaku’. Maka pada hakikatnya musibah tersebut merupakan nikmat baginya.

‘Ali bin Abi Tholib Rodhiyallahu ‘anhu mengatakan sebuah kalimat yang memiliki kandungan luar biasa, “Tidaklah yang diharapkan seorang hamba melainkan Robbnya dan tidaklah yang dia takutkan melainkan dosa-dosanya”.

Diriwayatkan juga dari beliau melalui jalur periwayatan lainnya, “Tidaklah bala bencana turun melainkan karena dosa dan tidak akan diangkat melainkan dengan taubat[1].

Syaikh Prof. DR. ‘Abdur Rozzaq bin ‘Abdul Muhsin Al Badr Hafizhahullah mengatakan,

Sering Digangguan Orang Bertaubatlah Dari Maksiat 3

“Apabila seorang hamba merenungkan bahwasanya seluruh perbuatan hamba merupakan makhluk ciptaan Allah. Dia akan melihat bahwa musibah yang menerpanya berupa gangguan orang lain maka celaan, hardikan akan terpulang pada dirinya sendiri. Dia akan mengatakan, ‘Sesungguhnya Allah menimpakan gangguan mereka ini kepadaku disebabkan dosaku, kelalailanku menunaikan kewajiban dan kecerobohanku melakukan maksiat’. Dengan ini, dia akan menyibukkan dirinya atas celaan mereka padanya dengan mengkaji aib dirinya sendiri. Dosa-dosa yang ada pada dirinyalah yang menyebabkan musibah tersebut menimpanya. Sehingga dia akan memperbanyak istighfar dan taubat kepada Allah Subhana wa Ta’ala atas dosa-dosanya ini baik yang dia sadari ataupun tidak”.

Beliau menutup,

Sering Digangguan Orang Bertaubatlah Dari Maksiat 4

Dia tidak akan berharap melainkan kepada Robbnya pada semua keperluan yang diinginkannya baik pada urusan agama dan dunianya. Karena seluruh perkara ada di Tangan Allah Subhana wa Ta’ala.

Tidaklah yang dia takutkan melainkan dosa-dosanya. Karena dosa-dosanyalah yang menyebabkan bala bencana pada dirinya. Maka bala bencana tidak turun melainkan karena dosa dan tidak akan diangkat melainkan dengan taubat”[2].

 

Inilah sisi pandang seorang yang benar-benar mengharapkan keridhoan Allah ‘Azza wa Jalla pada semua aspek kehidupannya. Dengan sisi pandang ini maka hati akan terasa lapang walaupun orang lain berusaha menjadikannya sempit. Hidup akan terasa ringan walaupun dalam pandangan orang lain berat.

Susah ?? Iya memang betul namun mari terus berusaha mendekatinya agar kita mendapatkan apa yang beliau paparkan.

 

Mudah-mudahan bermanfaat

3 Rojab 1437 H, 11 April 2016 M

Aditya Budiman bin Usman bin Zubir

[1] Al Umur Al Mu’inah ‘ala Ash Shobri ‘ala Adzaa Al Kholq dengan ta’liq Syaikh ‘Abdur Rozzaq hal. 10-11 Terbitan Dar Al Ilmu Ash Shohih.

[2] Idem hal. 11-12.

 

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply