Tafsir Surat An Nashr

20 Jan

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Tafsir Surat An Nashr

Ketika Pertolongan Itu Datang

 

Alhamdulillah wa Sholatu wa Salamu ‘alaa Rosulillah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam.

Kembali kita mengetengahkan tafsir ayat-ayat pendek yang sering kita baca dalam sholat kita.

Allah Subhana wa Ta’ala berfirman,

إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ (1) وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا (2) فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا

Artinya :

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat”. (QS. An Nashr [110] : 1-3)

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah menngatakan[1],

Tafsir Surat An Nashr 1

“Firman Allah Ta’ala (إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ) orang yang diajak bicara pada ayat ini adalah Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam. (نَصْرُ اللَّهِ) adalah pertolongan Allah kepada seorang manusia atas musuhnya untuk menaklukkan dan menguasainya. Pertolongan merupakan kegembiraan luar biasa yang dirasakan seorang hamba pada amalnya. Karena pada umumnya orang yang ditolong akan merasa larut dalam kegembiraan dan kegirangan. Jika kemenangan tersebut di atas kebenaran maka itu merupakan kebaikan. Sungguh telah valid dari Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bahwasanya beliau pernah bersabda,

نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيرَةَ شَهْرٍ

“Aku ditolong (Allah) dengan rasa takut yang ditimpakan kepada musuhku sejauh jarak perjalan 1 bulan”[2].

Maksudnya bahwa musuh beliau ditimpa rasa takut padahal selang waktu pertempuran antara keduanya masih sejauh 1 bulan perjalanan. Rasa takut merupakan serangan yang terhebat untuk musuh. Karena orang yang hatinya telah diselimuti ketakutan atas musuhnya tidak akan mungkin bertahan selamanya. Bahkan dia akan melayang layaknya tiupan angin lalu. Sehingga firman Allah Ta’ala (إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ) maksudnya adalah pertolongan dari Allah kepadamu atas musuh-musuhmu”.

Tafsir Surat An Nashr 2

“Firman Allah Ta’ala (وَالْفَتْحُ) digandengkan dengan (النَصْرُ), padahal kemenangan merupakan bagian dari pertolongan. Ini termasuk dalam pembahasan menggandengkan sesuatu yang khusus dengan yang umum. Misal lainnya adalah firman Allah Ta’ala,

تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا

“Pada malam itu turun Para Malaikat dan Malaikat Jibril”. (QS. Al Qodr [97] : 4)

Yaitu pada mala Lailatul Qodr. Jibril merupakan bagian dari malaikat namun dikhususkan penyebutannya karena agungnya kedudukannya. Huruf Alif dan Lam pada kata (وَالْفَتْحُ) merupakan huruf untuk pengingat apa yang sudah ada di pikiran. Kemenangan tersebut sudah ma’ruf dalam pikiran kalian yaitu penaklukan kota Mekkah. Penaklukan kota Mekkah ini terjadi pada Bulan Romadhon pada tahun 8 Hijriyah. Sebab perang penaklukan kota Mekkah ini adalah Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam melaksankan perjanjian dengan orang Quraisy di Hudaibiyah pada tahun ke 6 Hijriyah. Namun orang kafir Quraisy menyelisihi perjanjian. Lalu Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam pun menyerang mereka dengan membawa pasukan 10.000 personel dari Madinah. Beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam pun bersabda,

اللَّهُمَّ عَمِّيْ أَخْبَارَنَأ عَنْهُمْ

“Yaa Allah jagalah kerahasiaan rencanya kami ini”[3].

Tafsir Surat An Nashr 3

“Kedatangan Pasukan beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam tidak mengejutkan penduduk Mekkah hingga mereka dikepung pasukan Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam. Beliau memasuki Mekkah pada tanggal 20 Romadhon tahun 8 Hijriyah dengan penuh kemenangan dan pertolongan (Allah). Akhirnya beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam berdiri di kerumunan kafir Quroisy di sekitar Ka’bah. Beliau berdiri di depan pintu Ka’bah sedangkan orang kafir Quroisy berada di bawah beliau dalam keadaan menunggu apa yang akan beliau perbuat. Beliau memegang kusen pintu tersebut sambil bersabda,

مَا تَرَوْنَ أَنِّى صَانِعٌ بِكُمْ ؟ قَالُوا : خَيْرًا أَخٌ كَرِيمٌ وَابْنُ أَخٍ كَرِيمٍ. قَالَ : فَإِنِّيْ أَقُولُ لَكُمْ كَمَا قَالَ يُوْسُفُ لِأَخْوَتِهِ. لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ يَغْفِرُ اللَّهُ لَكُمْ وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ اذْهَبُوا فَأَنْتُمُ الطُّلَقَاءُ .

“Menurut kalian apa yang akan aku perbuat kepada kalian ?” Mereka menjawab, ‘Kebaikan wahai saudara kami yang mulia dan anak dari saudara kami yang mulia pula’. Beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab, “Aku akan mengatakan kepada kalian seperti apa yang diucapkan Yusuf kepada saudara-saudaranya,

لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ يَغْفِرُ اللَّهُ لَكُمْ وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

“Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang diantara para penyayang”. (QS. Yusuf [12] : 92).

Pergilah, kalian semua bebas[4].

Beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam memaafkan mereka. Inilah kemenangan yang disebut Allah dengan kemenangan yang nyata. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا

“Pada Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata”.(QS. Al Fath [48] : 1).

Yaitu kemenangan yang nyata, besar dan jelas. Ketika peristiwa ini terjadi maka orang-orang mengetahui bahwasanya akhir kemenangan ada di pihak Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa Sallam dan kejayaan Kafir Quroisy dan pengikutnya telah sirna”.

Tafsir Surat An Nashr 4

“Maka manusiapun (يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا) ‘masuk agama Allah dengan berbondong-bondong’. Yaitu dalam jumlah yang banyak setelah dahulu mereka hanya masuk Islam sendiri-sendiri dan sembunyi-sembunyi. Namun setelah peristiwa ini mereka masuk Islam dengan berbondong-bondong. Sehingga Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam pun mengirimkan banyak utusan ke berbagai kota di seluruh penjuru. Hingga tahun 9 Hijriyah dinamakan sebagai ‘Aamul Wuufuud (Tahun banyak utusan).

Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan jika engkau melihat tanda-tanda yang demikian maka (فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ) ‘Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya’. Firman Allah Ta’ala ini mirip dengan firman Allah Ta’ala,

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآَنَ تَنْزِيلًا (23) فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ

“Sesungguhnya Kami menurunkan Al Quran kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur. Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu”. (QS. Al Insan [76] : 23-24).

Tafsir Surat An Nashr 5

“(Sesuai konteks -pen) kelanjutan ayat ini ‘seharusnya’ “Maka bersyukurlah kepada Tuhanmu atas nikmat diturunkannya Al Qur’an dan tunaikanlah haknya. Namun Allah berfirman melanjutkan ayat sebelumnya (فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ) ‘Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu’. Maka ini merupakan pemberitahuan bahwasanya kelak setelah diturunkannya Al Qur’an ini maka engkau akan menghadapi gangguan karena telah menyampaikan dan menyebarkan Al Qur’an di tengah-tengah mereka. Demikian juga firman Allah Ta’ala (فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ) ‘Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya’. Ketika diresapi maka akan jelas bagi kita hikmahnya. Sehingga makna ayat adalah sesungguhnya apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan maka sungguh telah dekat ajalmu (Muhammad)[5]. Tidak ada lagi tugasmu yang tersisa kecuali hanya bertasbih dengan memuji Tuhanmu dan memohon ampunan. (فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ) ‘Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya’ yaitu sucikanlah Dia dengan kalimat tasbih yang diiringi dengan pujian”.

Tafsir Surat An Nashr 6

Tasbih adalah menyucikan Allah Ta’ala dari hal-hal yang tidak layak dengan keagungan Nya. Sedangkan Al Hamdu (memuji) adalah memberikan pujian kepada Allah dengan pujian sempurna karena penuh kecintaan dan pengagungan. (Allah memerintahkan beliau) agar menggabungkan penyucian dan pujian. Sedangkan firman Allah (وَاسْتَغْفِرْهُ) ‘Mohonlah ampun kepada-Nya’ yaitu mintalah ampunan kepada Nya. Maka Allah Ta’ala memerintahkan 2 hal kepada beliau pada ayat ini :

Pertama, Bertasbih yang dikaitkan dengan pujian.

Kedua, Beristighfar.

Istighfar adalah memohon ampunan. Sedangkan ampunan atau maghfiroh adalah Allah Ta’ala menutupi dosa-dosa seorang hamba dan bersamaan dengan itu mengampuni dan menghapusnya. Inilah tujuan yang yang diinginkan seorang hamba. Karena seorang hamba memiliki banyak dosa yang butuh kepada maghfiroh. Kalau Allah tidak memberikan rahmat kasih sayang Nya maka hamba tersebut akan binasa. Oleh sebab itulah Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda,

لَنْ يَدْخُلَ أَحَدٌ مِنْكُمْ الْجَنَّةَ بِعَمَلِهِ. قَالَوْا : وَلاَ أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ : وَلاَ أَنَا إِلاَّ أَنْ يَتَغَمَّدَنِىَ اللَّهُ مِنْهُ بِرَحْمَتِهِ

“Tidak akan masuk surga salah seorang dari kalian semata-mata karena amalnya”. Para shahabat bertanya, ‘Demikian juga dengan engkau ya Rosulullah ?’ Beliau menjawab, ‘Iya demikian pula denganku kecuali Allah memberikan rahmat kasih sayangnya kepadaku”[6].

Karena amalmu ini jika engkau bandingkan dengan 1 nikmat dari sekian banyak nikmat yang ada padamu maka amal itu sudah mencakup 1 nikmat tersebut bahkan nikmat tersebut lebih. Maka bagaimana engkau bisa membandingkan amalmu sebagai harga surga ?”

Tafsir Surat An Nashr 7

“Firman Allah (إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا) ‘Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat’. Yaitu Allah ‘Azza wa Jalla senantiasa menerima taubat para hamba Nya. Jika engkau memohon ampunan kepada Allah maka Diapun akan mengampunimu. Inilah makna surat ini’.

 

Bersama Syifa putri tercinta,

Selesai Subuh, 1 Robi’ul Akhir 1437 H, 11 Januari 2016 M

Aditya Budiman bin Usman bin Jubir

[1] Lihat Tafsir Al Qur’an Al Karim (Juz ‘Amma) hal. 343-347 terbitan Dar Tsuroya, Riyadh, KSA.

[2] HR. Bukhori no. 335 ,Muslim no. 521.

[3] HR. Thobroni dalam Al Kabir 1052/XXIII.

[4] HR. Baihaqi dalam Sunan Al Kubro no. 18739.

[5] Ini pulalah yang ditafsirkan ‘Abdullah bin ‘Abbas Rodhiyallahu ‘anhuma sebagaimana dalam Shohih Bukhori no. 4968 dan Muslim no. 484. (Pen)

[6] HR. Bukhori no. 6463, Muslim 2816.

 

 

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply