Tafsir Surat Al Zalzalah

29 Dec

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Tafsir Surat Al Zalzalah

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Pada artikel kali ini kita akan membahas seputar tafsir sebuah surat yang mungkin sering kita baca di dalam sholat kita. Surat ini termasuk di dalam Juz ‘Amma. Surat tersebut adalah Surat Al Zalzalah (Goncangan).

Allah Subhanallahu wa Ta’ala berfirman,

إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا (1) وَأَخْرَجَتِ الْأَرْضُ أَثْقَالَهَا (2) وَقَالَ الْإِنْسَانُ مَا لَهَا (3) يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا (4) بِأَنَّ رَبَّكَ أَوْحَى لَهَا (5) يَوْمَئِذٍ يَصْدُرُ النَّاسُ أَشْتَاتًا لِيُرَوْا أَعْمَالَهُمْ (6) فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (7) وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ (8)

Artinya :

  1. Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat),
  2. Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya.
  3. Dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (menjadi begini) ?
  4. Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.
  5. Karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya.
  6. Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka.
  7. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya.
  8. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula. (QS. Al Zalzalah [99] : 1-8)

Syaikh Abu Bakr Jabir Al Jazairiy Rohimahullah mengatakan, “Surat ini disebut dengan surat Al Zalzalah karena adanya lafazh Al Zilzal pada firman Allah (إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا). Surat ini terkenal dengan nama Al Zalzalah, penamaan ini sebenarnya adalah penamaan dengan makna karena tidak terdapat lafazh Al Zalzalah dalam surat ini. Diriwayatkan bahwasanya surat ini memiliki keutamaan seperempat atau setengah Al Qur’an[1]. Namun hadits tersebut adalah hadits yang dho’if (lemah)”[2].

 

Ibnu Katsir Rohimahullah mengatakan,

Tafsir Al Zalzalah 1

 

Ibnu ‘Abbas Rodhiyallahu ‘anhuma mengatakan, “Firman Allah Subhanallahu wa Ta’ala (إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا) ‘Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat)’. Maksud ayat ini adalah bumi digoncangkan dari arah bawah”[3].

 

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah mengatakan,

Tafsir Al Zalzalah 2

“Firman Allah Subhanallahu wa Ta’ala (إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا) ‘Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat)’. Maksud ayat ini adalah sebagaimana dalam firman Allah Subhanallahu wa Ta’ala yang lain,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ (1) يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّا أَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَى وَمَا هُمْ بِسُكَارَى وَلَكِنَّ عَذَابَ اللَّهِ شَدِيدٌ (2)

“Wahai manusia, bertakwalah kepada Robb kalian, sesungguhnya kegoncangan hari Qiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat). (Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat kerasnya”. (QS. Al Zalzalah [22] : 1-2)

Firman Allah Subhanallahu wa Ta’ala (زِلْزَالَهَا) ‘Goncangan (yang dahsyat)’ yaitu goncangan yang sangat dahsyat yang belum pernah sama sekali terjadi sebelumnya. Oleh karena itulah Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَى وَمَا هُمْ بِسُكَارَى

“Kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk”. (QS. Al Zalzalah [22] : 2)

Yaitu karena kebingungan dan siksaan luar biasa yang akan mereka alami. Sehingga mereka terlihat seperti orang yang mabuk padahal mereka tidak mabuk bahkan ketika itu mereka dalam keadaan sehat. Namun disebabkan rasa takut yang mencekam sehingga manusia ketika itu seperti orang mabuk yang tidak tahu apa yang harus dikerjakan dan mengapa dia harus mengerjakan sesuatu”[4].

 

Ibnu Katsir Rohimahullah mengatakan,

Tafsir Al Zalzalah 3

“Firman Allah Subhanallahu wa Ta’ala (وَأَخْرَجَتِ الْأَرْضُ أَثْقَالَهَا) ‘Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya’ maksudnya adalah dikeluarkan apa yang ada di dalam bumi berupa orang-orang yang sudah wafat. Inilah pendapat kebanyakan para salaf[5].

 

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah mengatakan,

Tafsir Al Zalzalah 4

“Firman Allah Subhanallahu wa Ta’ala (وَأَخْرَجَتِ الْأَرْضُ أَثْقَالَهَا) ‘Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya’ maksudnya adalah para penghuni kubur. Karena ketika ditiupkan sangkakala maka maka matilah seluruh penghuni langit dan bumi kecuali yang Allah kehendaki. Kemudian ditiupkan lagi maka merekapun berdiri untuk menunggu. Mereka dikeluarkan dari kubur mereka untuk menghadap Robb semesta alam ‘Azza wa Jalla. Sebagaiman firman Allah Tabaroka wa Ta’ala,

يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ

“Hari (ketika) manusia berdiri menghadap Robb semesta alam”. (QS. Al Muthoffifin [83] : 6)[6]

Firman Allah Subhanallahu wa Ta’ala (وَقَالَ الْإِنْسَانُ مَا لَهَا) ‘Dan manusia bertanya, “Mengapa bumi (menjadi begini) ?”

Syaikh Abu Bakr Jabir Al Jazairiy Rohimahullah mengatakan,

Tafsir Al Zalzalah 4b

‘Tidaklah diragukan lagi bahwa manusia yang bertanya demikian ketika itu adalah orang yang kafir akan adanya hari qiyamat oleh karena itulah mereka (orang kafir) saling bertanya. Sedangkan seorang mukmin maka dia telah mengetahui hal itu karena hal itu merupakan bagian dari aqidah/keyakinannya’[7].

Ibnu Katsir Rohimahullah mengatakan,

Tafsir Al Zalzalah 5

‘Firman Allah Subhanallahu wa Ta’ala (يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا) ‘Pada hari itu bumi menceritakan beritanya’ yaitu buni akan mengabarkan apa yang telah dikerjakan oleh orang-orang yang beramal di atasnya’[8].

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah mengatakan,

Tafsir Al Zalzalah 6

‘Firman Allah Subhanallahu wa Ta’ala (يَوْمَئِذٍ) ‘Pada hari itu bumi’ yaitu hari ketika terjadi keguncangan yang dahysat. Firman Allah Subhanallahu wa Ta’ala (تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا) ‘Bumi menceritakan beritanya’ yaitu menceritakan apa yang diamalkan manusia berupa amalan baik dan buruk. Telah shohih[9] dari Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bahwasanya apabila seorang muadzin melaksanakan adzan maka sesungguhnya tidaklah yang mendengar suaranya berupa pohon, tanah dan bebatuan serta seluruh permukaan bumi melainkan pada hari qiyamat akan bersaksi’[10].

Ibnu Katsir Rohimahullah mengatakan,

Tafsir Al Zalzalah 7

‘Firman Allah Subhanallahu wa Ta’ala (بِأَنَّ رَبَّكَ أَوْحَى لَهَا) ‘Karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya’. Imam Bukhori Rohimahullah mengatakan bahwa أوحى لها و أوحى إليها, ووحى لها ووحى إليها makna merujuk pada satu hal sama. Demikian jugalah pendapatnya Ibnu ‘Abbas Rodhiyallahu ‘anhuma, (أَوْحَى لَهَا) yaitu (أوحى إليها) memberitahukan kepadanya. Yang zhohir bahwasanya maknanya adalah memberikan izin kepadanya[11].

 

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah mengatakan,

Tafsir Al Zalzalah 8

‘Firman Allah Subhanallahu wa Ta’ala (بِأَنَّ رَبَّكَ أَوْحَى لَهَا) ‘Karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya’. Yaitu disebabkan Allah memberikan izin kepadanya untuk mencerikan beritanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Dzat Mampu Melakukan Segala Sesuatu. Jika Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan sesuatu maka sudah pasti akan terjadi. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengajak bicara benda-benda mati maka berbicaralah benda mati tersebut, sebagaimana Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ وَهِيَ دُخَانٌ فَقَالَ لَهَا وَلِلْأَرْضِ اِئْتِيَا طَوْعًا أَوْ كَرْهًا قَالَتَا أَتَيْنَا طَائِعِينَ

“Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi, “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”. Keduanya menjawab, “Kami datang dengan suka hati”. (QS. Fushilat [41] : 11)

 

إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمَ فَقَالَ لَهُ اكْتُبْ. قَالَ رَبِّ وَمَاذَا أَكْتُبُ قَالَ اكْتُبْ مَقَادِيرَ كُلِّ شَىْءٍ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ

‘Sesungguhnya ketika pertama kali Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan pena, maka Dia berfirman kepadanya, “Tulislah”. Pena bertanya, “Apa yang akan kutulis wahai Robbku ?” Allah berfirman, “Tulislah apa yang terjadi hingga hari Qiyamat”[12].

 

Demikian juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan”. (QS. Yaasiin [36] : 65).

Maka Allah ‘Azza wa Jalla jika mengajak berbicara kepada sesuatu walau sesuatu itu berupa benda mati maka sesungguhnya Allah akan mengajaknya bicara dan sesuatu itupun berbicara’[13].

Ibnu Katsir Rohimahullah mengatakan,

Tafsir Al Zalzalah 9

‘Firman Allah Subhanallahu wa Ta’ala (يَوْمَئِذٍ يَصْدُرُ النَّاسُ أَشْتَاتًا) ‘Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam’. Yaitu ketika mereka kembali dari tempat perhitungan/hisab. Firman Allah Subhanallahu wa Ta’ala (أَشْتَاتًا) ‘bermacam-macam’ yaitu bermacam-macam dan bergolongan-golongan, diantara mereka ada yang celaka dan beruntung. Adapun golongan yang beruntung diperintahkan menuju surga sedangkan yang celaka diperintahkan menuju neraka.

Ibnu Juraij Rohimahullah mengatakan, ‘Mereka dibangkitkan dalam keadaan bergolongan-golongan, tidak akan tercampur bagian lain yang bukan golongannya’. Beliau mengatakan Firman Allah Subhanallahu wa Ta’ala (أَشْتَاتًا) maksudnya adalah golongan.

Firman Allah Subhanallahu wa Ta’ala (لِيُرَوْا أَعْمَالَهُمْ) ‘supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka’. Yaitu agar mereka dibalas tentang amal perbuatan mereka ketika di dunia baik amalan kebaikan dan keburukan. Oleh karena itulah Allah Subhanallahu wa Ta’ala berfirman (فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ . وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ) ‘Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula’[14].

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah mengatakan,

Tafsir Al Zalzalah 10

Firman Allah Subhanallahu wa Ta’ala (لِيُرَوْا أَعْمَالَهُمْ) ‘supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka’. Yaitu mereka dibangkitkan dalam keadaan bergolong-golongan kemudian mereka melihat amal perbuatan mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala memperlihatkan amal perbuatan mereka. Jika amal perbuatannya baik maka baiklah balasannya namun jika jelek maka jeleklah balasannya. Ini semua menurut hisab/perhitungan dan kitab catatan amal. Setiap manusia akan diberikan kitabnya dari arah kanan atau kiri. Kemudian dia akan dihisab berdasarkan kitab ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala lah yang akan menghisab mereka.

Adapun orang-orang beriman maka Allah ‘Azza wa Jalla akan mengajaknya berbicara secara tersendiri yang tidak disaksikan orang lain dengan menceritakan dan mengakui dosa-dosa yang telah dia kerjakan. Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengatakan, ‘Engkau telah melakukan perbuatan ini dan itu. Kemudian orang mukmin tersebut mengakuinya dan menyadarinya. Ketika dia melihat bahwa dia akan termasuk orang-orang yang celaka maka Allah ‘Azza wa Jalla akan mengatakan,

فَإِنِّى قَدْ سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِى الدُّنْيَا وَإِنِّى أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ

“Sesungguhnya Aku (Allah) telah menutupi dirimu dari dosa tersebut ketika di dunia. Maka Aku akan berikan ampunan bagimu pada hari ini”[15].

Adapun orang-orang kafir –wal iyyaadzu billah- mereka tidak diperlakukan demikian. Bahkan mereka akan dipanggil di tengah-tengah khalayak ramai sebagaimana Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

هَؤُلَاءِ الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى رَبِّهِمْ أَلَا لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ

“Orang-orang inilah yang telah mendustakan Robb mereka. Ingatlah, laknat Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zholim”. (QS. Huud [11] : 18)[16]

Beliau Rohimahullah melanjutkan,

Tafsir Al Zalzalah 11

Firman Allah Subhanallahu wa Ta’ala (لِيُرَوْا أَعْمَالَهُمْ) ‘supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka’. Susunan kata dalam ayat ini berbentuk mudhof dan mudhof ilaih sehingga memberikan konsekwensi makna umum, secara zhohir ayat maka sesungguhnya mereka akan melihat amal-amal mereka yang kecil maupun yang besar. Memang demikianlah keadaannya kecuali yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah ampuni karena amal perbuatan baik mereka sebelumnya atau dengan sebab do’a dan lain-lain. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ

“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat”. (QS. Huud [11] : 114)

Maka manusia akan melihat amal perbuatannya. Dia akan melihat amalnya yang sedikit maupun yang banyak sehingga akan jelas baginya dan dia akan diberikan kitab catatan amalnya kemudian dikatakan kepadanya,

اقْرَأْ كِتَابَكَ كَفَى بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيبًا

“Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu”. (QS. Al Isroo [17] : 14)

Oleh karena itulah setiap orang wajib tidak mendahulukan sesuatu hal yang Allah ‘Azza wa Jalla tidak meridhoinya. Karena sesungguhnya anda mengetahui bahwasanya hal itu akan tercatat dan dia sendiri akan menghisab amal perbuatannya[17].

Syaikh Rohimahullah melanjutkan,

Tafsir Al Zalzalah 12

Firman Allah Subhanallahu wa Ta’ala (فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ. وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ) ‘Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula’. Huruf (مَنْ) dalam ayat ini merupakan Huruf (مَنْ) syarthiyah yang memberikan konsekwensi makna umum. Yaitu apapun yang diperbuat seorang manusia berupa seuukuran dzarroh maka dia akan melihat balasan baik buruknya. (مِثْقَالَ ذَرَّةٍ) yaitu seukuran dzarroh. Yang dimaksud dengan seukuran dzarroh adalah seukuran semut kecil sebagaimana makna yang sudah dikenal (pada saat itu -ed). Ukuran dzarroh yang dimaksud bukanlah makna yang dikenal sekarang (misalnya ukuran atom –ed) sebagaimana yang didengungkan sebagaian orang. Karena makna ini merupakan makna yang dikenal sekarang namun tidak dikenal pada waktu ayat tersebut turun. Allah ‘Azza wa Jalla tidaklah mengajak bicara manusia dengan makna yang tidak mereka pahami. Namun dzarroh disebutkan dalam rangka menggambarkan ukuran yang paling kecil. Sebagaimana firman Allah Subhanallahu wa Ta’ala,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا

“Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar dzarroh, dan jika ada kebajikan sebesar dzarroh, niscaya Allah akan melipat gandakannya”. (QS. An Nisaa’ [4] : 40)

Merupakan sebuah perkara yang sudah diketahui bahwa barangsiapa yang beramal walaupun lebih ringan dari pada ukuran dzarroh maka kelak di hari qiyamat dia akan mendapatkan balasannya. Oleh karena itulah Allah ‘Azza wa Jalla menggunakan ungkapan dzarroh untuk mengungkapkan sesuatu yang kecil dalam firman Allah Subhanallahu wa Ta’ala,

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ. وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula”. (QS. Al Zalzalah [99] : 7-8)

Syaikh Abu Bakr Jabir Al Jazairiy Rohimahullah mengatakan,

Tafsir Al Zalzalah 13

“Sesungguhnya orang kafir tercegah masuk ke surga. Karena apabila dia beramal baik di dunia maka dia akan mendapatkan balasannya di dunia dan di akhirat tidak akan mendapatkan apa-apa. Hal ini berdasarkan hadits ‘Aisyah Rodhiyallahu ‘anha ketika beliau bertanya kepada Rosulullah Shollalahu ‘alaihi wa Sallam tentang ‘Abdullah bin Jad’an.

كَانَ فِى الْجَاهِلِيَّةِ يَصِلُ الرَّحِمَ وَيُطْعِمُ الْمِسْكِينَ فَهَلْ ذَاكَ نَافِعُهُ قَالَ لاَ يَنْفَعُهُ إِنَّهُ لَمْ يَقُلْ يَوْمًا رَبِّ اغْفِرْ لِى خَطِيئَتِى يَوْمَ الدِّينِ.

‘Dia (‘Abdullah bin Jad’an –ed) dahulu di masa jahiliyah merupakan orang yang menyambung tali silaturahim dan memberi makan orang miskin. Maka apakah hal tersebut bermanfaar baginya (di akhirat –ed) ?’ Maka Rosulullah Shollalahu ‘alaihi wa Sallam menjawab, “Tidak, sesungguhnya dia ketika hidup tidak pernah berdo’a Wahai Robb ku ampunilah kesalahanku di hari akhirat”[18].

Diantara Faidah Tafsir Surat Al Zalzalah :

  1. Penetapan aqidah adanya hari kebangkitan dan hari pembalasan.
  2. Berbicaranya benda mati merupakan tanda kekuasan, hikmah, kemampuan dan ilmu Allah Ta’ala. Hal ini merupakan hal yang mewajibkan kita untuk hanya mentauhidkan Allah ‘Azza wa Jalla dalam ibadah.
  3. Penguat dan penetapan benarnya hadits Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam,

اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ

“Berusahalah menjauhi neraka walaupun dengan setengah kurma”[19].

  1. Orang kafir yang beramal kebaikan hanya mendapatkan balasan di dunia dan tidak di akhirat.

 

Allahu a’lam bi showab.

 

Sigambal, selesai Maghrib.

12 Shoffar 1436 H / 6 Desember 2014 M / Aditya Budiman bin Usman

[1] Sebagaimana dalam Sunan Tirmidzi no. 2894.

[2] Lihat Aisarut Tafaasir oleh Syaikh Abu Bakr Jabir Al Jazairiy hal. 485/V terbitan Maktabah Al ‘Ulum wal Hikaam, Madinah, KSA.

[3] Lihat Tafsir Al Qur’an Al Azhim oleh Ibnu Katsir Rohimahullah hal. 460/VIII Terbitan Dar Thoyyibah, Riyadh,KSA.

[4] Lihat Tafsir Juz ‘Amma oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah hal. 288 terbitan Dar Tsuroya, Riyadh, KSA.

[5] Lihat Tafsir Al Qur’an Al Azhim hal. 460/VIII.

[6] Idem.

[7] Lihat Aisarut Tafaasir oleh Syaikh Abu Bakr Jabir Al Jazairiy hal. 485/V.

[8] Lihat Tafsir Al Qur’an Al Azhim hal. 460/VIII.

[9] HR. Bukhori no. 609.

[10] Lihat Tafsir Juz ‘Amma oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah hal. 289.

[11] Lihat Tafsir Al Qur’an Al Azhim hal. 461/VIII.

[12] HR. Abu Dawud no. 4700. Hadits ini dinilai shohih oleh Al Albani Rohimahullah.

[13] Lihat Tafsir Juz ‘Amma oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah hal. 289-290.

[14] Lihat Tafsir Al Qur’an Al Azhim hal. 461/VIII.

[15] HR. Bukhori no. 2441, Muslim no. 2768.

[16] Lihat Tafsir Juz ‘Amma hal. 291.

[17] Lihat Tafsir Juz ‘Amma hal. 291.

[18] HR. Muslim no. 540.

[19] HR. Bukhori no. 1351.

 

 

 

 

 

Tulisan Terkait

One Comment ( ikut berdiskusi? )

Leave a Reply