Tafsir Surat Al Kautsar

20 Sep

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Tafsir Surat Al Kautsar

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Surat ini merupakan surat yang sangat istimewa di tengah-tengah kita. Karena hampir setiap kita hafal dan sering membacanya di dalam sholat kita karena pendeknya. Surat tersebut adalah firman Allah Subhana wa Ta’ala,

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ (1) فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ (2) إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ (3

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu Al Kautsar. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berqurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus”. (QS. Al Kautsar [108] : 1-3)

Dalam ayat ini Allah Subhana wa Ta’ala mengabarkan bahwa Dia telah memberikan Al Kautsar kepada Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam. Terdapat banyak riwayat tentang makna Al Kautsar dalam ayat ini.

عَنْ أَبِيْ عُبَيْدَةَ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَ

: سَأَلْتُهَا عَنْ قَوْلِهِ تَعَالَى { إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ } . قَالَتْ نَهَرٌ أُعْطِيَهُ نَبِيُّكُمْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ شَاطِئَاهُ عَلَيْهِ دُرٌّ مَجَوَّفٌ آنِيَتُهُ كَعَدَدِ النُّجُوْمِ

Dari Abu ‘Ubaidah dari ‘Aisyah Rodhiyallahu ‘anha, Dia (Abu ‘Ubaidah) berkata, “Aku bertanya kepada ‘Aisyah tentang firman Allah (إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ)”. Beliau menjawab, “Dia adalah sungai yang telah diberikan kepada Nabi kalian Shollallahu ‘alaihi wa Sallam. Kedua tepinya terdapat mutiara yang berlubang. Bejana-bejananya seperti bintang di langit”[1].

Dalam hadits lain disebutkan,

عَنْ سَعِيْدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : الكَوْثَرُ الخَيْرُ الكَثِيْرُ الَّذِيْ أَعْطَاهُ اللهُ إِيَّاهُ .

Dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas Rodhiyallahu ‘anhuma, dia (Ibnu ‘Abbas) berkata, “Al Kautsar adalah kebaikan yang sangan banyak yang Allah berikan kepada Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam di dunia dan akhirat”[2].

Pengertian terakhir ini lebih umum dan mencakup pengertian yang pertama. Allahu a’lam.

Selanjutnya Firman Allah Subhana wa Ta’ala (فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ) ‘Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berqurbanlah’

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin rohimahullah mengatakan,

Tafsir Surat Al Kautsar 1

“Firman Allah (فَصَلِّ لِرَبِّكَ) ‘Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu’ yaitu sholat-sholat wajib dan yang nafilah, termasuk sholat Jum’at dan Sholat ‘Ied. Firman Allah Ta’ala (وَانْحَرْ) ‘Dan berqurbanlah’ yaitu dekatkanlah dirimu kepada Allah dengan berqurban. Nahar merupakan cara menyembelih yang dikhususkan untuk onta. Sedangkan Adz Dzabh untuk sapi dan kambing. Dalam ayat ini disebutkan Nahar karena onta lebih bermanfaat dari yang lainnya untuk orang-orang miskin”[3].

Ayat ini merupakan dalil sebagian ulama yang mengatakan bahwa hukum berqurban wajib bagi yang mampu karena Allah Ta’ala menggandengkan antara perintah sholat dan qurban.

Firman Allah Ta’ala Ta’ala (إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ) ‘. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus’.

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin rohimahullah mengatakan,

Tafsir Surat Al Kautsar 2

“Allah ‘Azza wa Jalla menjelaskan bahwa orang yang membenci Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam mereka orang-orang terputus dari seluruh kebaikan, tidak ada keberkahan pada mereka, kehidupannya merupakan kehidupan yang menyedihkan. Ayat ini juga merupakan ancaman bagi orang yang membenci syari’at Beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam[4].

Tafsir Surat Al Kautsar 3

“Kesimpulannya mengandung penjelasan tentang nikmat yang sangat banyak yang Allah berikan kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Allah memerintahkan mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla baik dalam sholat dan qurban, demikian juga untuk ibadah lainnya.

Kemudian Allah menjelaskan bahwa orang yang membenci Rosul shollallahu ‘alaihi wa sallam atau syari’atnya maka dia merupakan orang yang terputus, tidak ada kebaikan dan keberkahan padanya. Nas’alullah As Salamah dan ‘afiyah[5].

 

 

Setelah Jum’atan, 4 Dzul Hijjah 1436 H bertepatan dengan 18 September 2015

Aditya Budiman bin Usman.

[1] HR. Bukhori no. 4965.

[2] HR. Bukhori no. 6578.

[3] Lihat Tafsir Juz ‘Amma.

[4] Idem.

[5] Idem.

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply