Tafsir Surat Al Kahfi (7)

31 Jan

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Tafsir Surat Al Kahfi (7)

Segala puji yang disertai pengagungan seagung-agungnya hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala dan perendahan diri kita yang serendah-rendahnyanya hanya kita berikan kepadaNya Robbul ‘Alamin yang telah menurunkan Al Qur’an sebagai petunjuk. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam, istri-istri Beliau, Keluarganya, para Sahabatnya dan ummat Beliau yang senantiasa meniti jalannya dengan baik hingga hari kiamat.

Pada edisi kali ini kita akan melanjutkan pembahasan edisi sebelumnya.

[Tafsir Surat Al Kahfi ayat 10]

Allah Subhana wa Ta’ala berfirman,

 إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آَتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا (10

“(Ingatlah) tatkala para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa: “Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)”. (QS. Al Kahfi [18] : 10)

Firman Allah Ta’ala (إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ) dari ayat inilah dimulai kisah pemuda – pemuda ini. Kaum kafir Qiroisy bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tentang kisah mereka padahal Beliau tidak pernah membaca Al Kitab. Allah Subhana wa Ta’ala berfirman,

وَمَا كُنْتَ تَتْلُو مِنْ قَبْلِهِ مِنْ كِتَابٍ وَلَا تَخُطُّهُ بِيَمِينِكَ إِذًا لَارْتَابَ الْمُبْطِلُونَ (48

“Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al Quran) sesuatu Kitabpun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu. Andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu)”. (QS. Al ‘Ankabut [29] : 48)

Firman Allah Ta’ala (الْفِتْيَةُ) merupakan bentuk jamak dari kata (فتى) maksudnya adalah pemuda yang telah sempurna fisik dan fasih bicaranya.

Firman Allah Ta’ala (إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ) maksudnya  berlari untuk mencari perlindungan dari kaumnya. Hal ini mereka lakukan karena takut tertimpa fitnah yang menimpa kaumnya yaitu syirik dan kekufuran terhadap adanya hari kebangkitan. Kemudian mereka berdo’a meminta perlindungan kepada Allah ‘Azza wa Jalla,

رَبَّنَا آَتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً

 “Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu”. (QS. Al Kahfi [18] : 10)

Firman Allah Ta’ala (رَحْمَةً) maksudnya adalah rahmat yang dengannya Engkau menyayangi kami. Hal ini adalah mirip dengan yang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam katakan kepada Abu Bakar Rodhiyallahu ‘anhu ketika Abu Bakar Rodhiyallahu ‘anhu berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ‘Ajarkanlah kepadaku sebuah do’a yang aku akan gunakan sebagai do’a di dalam sholatku[1]’. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mengajarkan do’a,

اللَّهُمَّ إِنِّى ظَلَمْتُ نَفْسِى ظُلْمًا كَبِيرًا – وَقَالَ قُتَيْبَةُ كَثِيرًا – وَلاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ فَاغْفِرْ لِى مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْنِى إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

 “Ya sesungguhnya aku telah mendzolimi diriku sendiri dengan kedzoliman yang amat banya dan besar, sedangkan tidak ada yang mampu mengampuniku melainkan Engkau, maka ampunilah aku dengan keampunan dari sisimu. Sayangilah aku karena Engkau adalah Dzat Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”[2].

Firman Allah Ta’ala (وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا),  (وَهَيِّئْ) maknanya adalah jadikanlah/berikanlah dan sempurnakanlah bagi kami (petunjuk) agar petunjuk tersebut kami amalkan sehingga bernilai sebagai amal sholeh.

Firman Allah Ta’ala (مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا), (رَشَدًا) merupakan kebalikan dari (الغَيُّ) kesesatan dalam ilmu. Firman Allah Ta’ala (مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا) yaitu jadikanlah keadaan kami sesuai dengan kebenaran.

***

[Diringkas dari Kitab Tafsir Surat Al Kahfi oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin hal. 22-23 terbitan Dar Ibnul Jauzi Riyadh, KSA]

Aditya Budiman bin Usman

-yang mengharap ampunan Robbnya-



[1] Maksudnya adalah do’a yang diucapkan sebelum salam setelah tahiyat sebagaimana Imam Bukhori member judul ketika membawakan hadits ini dalam Shahihnya dengan judul ‘Bab Ad Du’a Qobla As Salaam’ (Bab Do’a Sebelum Salam).

[2] HR. Bukhori no. 834 dan Muslim no. 2705

 

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply