Tafsir Surat Al Kahfi (6)

5 Jan

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Tafsir Surat Al Kahfi (6)

Segala puji yang disertai pengagungan seagung-agungnya hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala dan perendahan diri kita yang serendah-rendahnyanya hanya kita berikan kepadaNya Robbul ‘Alamin yang telah menurunkan Al Qur’an sebagai petunjuk. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam, istri-istri Beliau, Keluarganya, para Sahabatnya dan ummat Beliau yang senantiasa meniti jalannya dengan baik hingga hari kiamat.

Pada edisi kali ini kita akan melanjutkan pembahasan edisi sebelumnya.

[Tafsir Surat Al Kahfi ayat 9]

Allah Subhana wa Ta’ala berfirman,

 أَمْ حَسِبْتَ أَنَّ أَصْحَابَ الْكَهْفِ وَالرَّقِيمِ كَانُوا مِنْ آَيَاتِنَا عَجَبًا (9)

“Bahkan kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) raqim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan?”.  (QS. Al Kahfi [18] : 9)

Firman Allah Ta’ala (أَمْ حَسِبْتَ), (أَمْ) maknanya adalah (بَلْ) akan tetapi/bahkan. Sedangkan (حَسِبْتَ) maknanya adalah (ظَنَنْتَ) kamu mengira. (“أم” المنقطعة) pada ayat ini mengandung makna istifham (makna yang mengandung pertanyaan) merupakan cara/metode untuk menarik perhatian jiwa untuk mendengarkan kisah yang akan disampaikan karena kisah tersebut adalah kisah yang mengagumkan dan benar-benar terjadi.

Firman Allah Ta’ala (الْكَهْفِ) merupakan sebuah gua yang ada di gunung. Sedangkan (وَالرَّقِيمِ) maknanya tertulis karena kisah ashabul kahfi ini ditulis di batu pada gua kahfi dari awal hingga akhirnya.

Firman Allah Ta’ala (مِنْ آَيَاتِنَا عَجَبًا) makna merupakan ayat Allah yang kauniyah. Firman Allah Ta’ala (عَجَبًا) maknanya adalah mengagumkan/mengherankan karena mereka tujuh orang pemuda (ashabul kahfi) bersama seekor anjing. Mereka membenci apa yang terjadi di lingkungan mereka tinggal yaitu kesyirikan. Maka mereka pun keluar untuk mencari ridho Allah dengan tujuan agar mereka tidak terpengaruh kesyirikan yang terjadi pada orang-orang di lingkungannya. Mereka pun berlindung di gua tersebut. Mereka mendapatkan sebuah keburuntungan yaitu pada gua yang mereka tinggali terdapat sebuah pintu. Pintu ini tidak menghadap ke timur atau barat. Karena seandainya menghadap ke timur maka matahari akan ‘memakan’ mereka ketika matahari terbit. Demikian juga seandainya menghadap ke barat maka matahari akan memakan mereka ketika tenggelamnya matahari. Allah Subhana wa Ta’ala berfirman,

وَتَرَى الشَّمْسَ إِذَا طَلَعَتْ تَزَاوَرُ عَنْ كَهْفِهِمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَإِذَا غَرَبَتْ تَقْرِضُهُمْ ذَاتَ الشِّمَالِ وَهُمْ فِي فَجْوَةٍ مِنْهُ ذَلِكَ مِنْ آَيَاتِ اللَّهِ

“Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah”.  (QS. Al Kahfi [18] : 17)

Akan datang penjelasan ayat ini insya Allah.

[Diringkas dari Kitab Tafsir Surat Al Kahfi oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin hal. 21 terbitan Dar Ibnul Jauzi Riyadh, KSA]

 

Aditya Budiman bin Usman

-yang mengharap ampunan Robbnya-

 

Tulisan Terkait

One Comment ( ikut berdiskusi? )

  1. Ibrahimauwal50
    Mar 23, 2013 @ 13:37:04

    DO GOOD WHERE EVER YOU ARE.

    Reply

Leave a Reply