Tafsir Surat Al Kahfi (5)

27 Sep

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Tafsir Surat Al Kahfi (5)

Segala puji yang disertai pengagungan seagung-agungnya hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala dan perendahan diri kita yang serendah-rendahnyanya hanya kita berikan kepadaNya Robbul ‘Alamin yang telah menurunkan Al Qur’an sebagai petunjuk. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam, istri-istri Beliau, Keluarganya, para Sahabatnya dan ummat Beliau yang senantiasa meniti jalannya dengan baik hingga hari kiamat.

Pada edisi kali ini kita akan melanjutkan pembahasan edisi sebelumnya.

[Tafsir Surat Al Kahfi ayat 8]

Allah Subhana wa Ta’ala berfirman,

 وَإِنَّا لَجَاعِلُونَ مَا عَلَيْهَا صَعِيدًا جُرُزًا (8)

“Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menjadikan (pula) apa yang di atasnya menjadi tanah rata lagi tandus”.  (QS. Al Kahfi [18] : 8)

Firman Allah Ta’ala (صَعِيدًا) maksudnya adalah permukaan bumi/tanah dengan perhiasannya yaitu bangunannya, pepohonannya dan tumbuhannya. Kemudian Allah Ta’ala menjadikannya (صَعِيدًا جُرُزًا) yaitu rata dan tandus yang tidak ditumbuhi tanaman. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْجِبَالِ فَقُلْ يَنْسِفُهَا رَبِّي نَسْفًا (105)

“Dan mereka bertanya kepadamu tentang gunung-gunung, maka katakanlah, “Tuhanku akan menghancurkannya (di hari kiamat) sehancur-hancurnya”.  (QS. Thoohaa [20] : 105)

 

Yaitu hancur sehancur-hancurnya. Oleh karena itu kata (نَسْفًا) datang dalam bentuk nakiroh. Sehingga maknanya hancur sehancur-hancurnya. Allah Subhana wa Ta’ala berfirman,

 فَيَذَرُهَا قَاعًا صَفْصَفًا (106) لَا تَرَى فِيهَا عِوَجًا وَلَا أَمْتًا (107)

“Maka Dia akan menjadikan (bekas) gunung-gunung itu datar sama sekali. Tidak ada sedikitpun kamu lihat padanya tempat yang rendah dan yang tinggi”.  (QS. Thoohaa [20] : 106-107)

Oleh karena itu wahai saudaraku, dunia ini adalah sesuatu yang akan berakhir maka janganlah kau gantungkan hatimu padanya karena apa yang ada di dunia ini akan menjadi sesuatu yang tak pernah ada yaitu menjadi sesuatu yang tidak ada apa-apanya. Allah Subhana wa Ta’ala berfirman,

كَأَنْ لَمْ تَغْنَ بِالْأَمْسِ

 “Seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin”. (QS. Yunus [10] : 24)

Maka perhatikan ayat ini kembali (إِنَّا لَجَاعِلُونَ) padanya ada dua takkid/penguatan makna, yaitu kata (إِنَّا) dan huruf lam (لَجَاعِلُونَ). Lalu kalimat setelahnya dalam bentuk jumlah/kalimat ismiyah yang memberikan fiadah menunjukkan adanya kemampuan yang terus menerus. Jika terjadi kiamat lalu dimanakah istana-istana yang dulu ada ? jika itu terjadi maka tiada lagi istana, gunung dan pepohonan sehingga jadilah bumi sebagaimana sebongkah batu yang saling mengikat, tidak ada tumbuhan, pepohonan dan lainnya. Maka Allah akan mengubahnya menjadi (جُرُزًا) yaitu tanah yang rata dan sangat tandus yang tidak ada perhiasan bumi (berupa pepohonan, gunung dsb) padanya.

[Diringkas dari Kitab Tafsir Surat Al Kahfi oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin hal. 17-20 terbitan Dar Ibnul Jauzi Riyadh, KSA]

 

Sigambal, Ditemani Syifa 11 Dzul Qo’dah 1433 H/ 27 September 2012 M

Aditya Budiman bin Usman

-yang mengharap ampunan Robbnya-

 

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply