Tafsir Surat Al Kahfi (4)

7 Jun

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Tafsir Surat Al Kahfi (4)

Segala puji yang disertai pengagungan seagung-agungnya hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala dan perendahan diri kita yang serendah-rendahnyanya hanya kita berikan kepadaNya Robbul ‘Alamin yang telah menurunkan Al Qur’an sebagai petunjuk. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam, istri-istri Beliau, Keluarganya, para Sahabatnya dan ummat Beliau yang senantiasa meniti jalannya dengan baik hingga hari kiamat.

Pada edisi kali ini kita akan melanjutkan pembahasan edisi sebelumnya.

[Tafsir Surat Al Kahfi ayat 7]

Allah Subhana wa Ta’ala berfirman,

 

إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْأَرْضِ زِينَةً لَهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا (7)

“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik amal/perbuatannya”.  (QS. Al Kahfi [18] : 7)

Jika anda membaca Al Qur’an maka anda akan temui bahwa secara umum di dalam Al Qur’an syari’at didahulukan dari pada penciptaan. Allah Subhana wa Ta’ala berfirman,

 

الرَّحْمَنُ (1) عَلَّمَ الْقُرْآَنَ (2) خَلَقَ الْإِنْسَانَ (3)

“Ar Rohman. Rob Yang telah mengajarkan al Quran. Dia menciptakan manusia”.  (QS. Ar Rohman [55] : 1-3)

Jika anda membaca ayat-ayat dalam Al Qur’an maka anda akan menemui bahwa Allah memulai firmannya dengan mengedepankan syari’at dari pada penciptaan dan hal-hal yang berkaitan dengan hal itu. Hal itu karena mahluk-mahluk (jin dan manusia) hanya diciptakan untuk menegakkan keta’atan dalam syari’at Allah ‘Azza wa Jalla. Allah Tabaroka wa Ta’ala berfirman,

 

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Tidaklah Aku (Allah) ciptakan manusia melainkan untuk beribadah hanya kepada Ku (mentauhidkan Ku)”. (QS. Adz Dzariyat [51] : 56)[1]

 

Firman Allah Subhana wa Ta’ala,

 

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا

“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu”. (QS. Al Baqoroh [2] : 29)

 

Kesimpulannya yang terpenting adalah menunaikan keta’atan kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan renungkanlah point ini hingga jelaslah bagi anda sesungguhnya hal yang terpenting di dunia dan adanya dunia ini adalah untuk menegakkan syari’at Alla ‘Azza wa Jalla.

Penjelasan Ayat

Firman Allah ‘Azza wa Jalla, (إِنَّا جَعَلْنَا) yaitu Kami jadikan, kata-kata (جَعَلَ) dapat diartikan dengan dua makna yaitu, menciptakan dan menjadikan. Jika kata tersebut kembali ke maf’ul tunggal maka makanya adalah menciptakan. Sebagaimana dalam firman Allah Subhana wa Ta’ala,

 

وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ

 “Allah Yang telah menciptakan gelap dan terang”. (QS. Al An’am [6] : 1)

Jika kata-kata (جَعَلَ) kembali ke 2 maf’ul maka maknanya adalah jadikan. Sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla,

إِنَّا جَعَلْنَاهُ قُرْآَنًا عَرَبِيًّا

“Sesungguhnya Kami telah menjadikan Al Qur’an itu dalam Bahasa Arab”. (QS. Az Zukhruf [42] : 3)

Yaitu Kami (Allah) jadikan Al Qur’an dengan/dalam Bahasa Arab.

Kami menambahkan penjelasan di atas karena Jahmiyah berpendapat bahwa (جَعَلَ) bermakna penciptaan/menciptakan dalam seluruh ayat di dalam Al Qur’an. Sehingga mereka menjadikan makna Firman Allah Ta’ala dalam surat Az Zukhruf ayat 3 di atas menjadi sesungguhnya kami menciptakan Al Qur’an dalam Bahasa Arab. Namun pemaknaan semisal ini adalah pemaknaan yang salah/nyeleneh secara Bahasa Arab.

Firman Allah (إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْأَرْضِ زِينَةً لَهَا) artinya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya. Kata (جَعَلَ) dalam ayat ini bermakna menjadikan karena terdapat dua maf’ul yaitu (مَا) dan (زِينَةً) yaitu sesungguhnya seluruh yang di bumi Allah jadikan sebagai perhiasan bagi bumi dan hal itu sekaligus sebagai cobaan/ujian bagi manusia. Jadi perhiasan dunia ini merupakan ujian/cobaan dari Allah bagi manusia baik perhiasan itu Allah yang menjadikannya ataupun yang dibuat oleh manusia sebagaimana rumah mewah merupakan salah satu perhiasan dunia tanpa ragu. Demikian juga bumi dengan gunung-gunungnya dan sungai-sungainya serta tumbuh-tumbuhannya.

Firman Allah (لِنَبْلُوَهُمْ) artinya menguji/mencoba mereka.

Firman Allah (أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا) artinya siapakah di antara mereka yang terbaik amal/perbuatannya. Lihatlah Allah tidaklah memfirmankan (أَيُّهُمْ أَكثْرُ عَمَلًا) : siapa diantara mereka yang paling banyak amalannya. Karena yang dijadikan patokan dalam hal ini adalah yang terbaik bukan yang terbanyak. Atas dasar inilah sekiranya ada orang yang sholat 4 roka’at namun dengan hati/keyakinan/niat yang lemah atau sholatnya banyak kekurangannya secara syari’at dan orang lain yang sholat dua roka’at dengan keyakinan hati/niat yang mantap dan mutaba’ah yang baik, maka siapakah diantara mereka yang paling baik ? maka jawabannya adalah yang kedua tanpa ada keraguan. Karena yang menjadi tolak ukur adalah niat yang ikhlas dan mutaba’ah dengan syari’at (kesesuaian dengan ajaran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam).

Demikian juga terkadang pada beberapa amal ibadah yang terbaik adalah yang lebih ringan seperti dua rokaat sholat sunnah sebelum subuh (rowatib ba’diyah subuh). Jika ada seseorang yang mengatakan, “Aku lebih menyukai memperlama berdiri dengan memperpanjang membaca ayat Al Qur’an demikian juga memperlama saat ruku’ dan sujud”. Kemudian ada orang lain yang mengatakan, “Aku ingin meringankannya”. Maka yang lebih utama adalah adalah orang yang kedua. Oleh karena itu jika kita melihat seseorang yang awam dan ia memperlama sholatnya ketika melaksanakan sholat dua roka’at pada waktu sebelum subuh (rowatib ba’diyah subuh) bertanya kepadanya, “Apakah dua roka’at yang anda kerjakan tadi sholat tahiyatul mesjid atau sholat dua roka’at sebelum subuh (rowatib ba’diyah subuh) ? Jika yang dia kerjakan adalah sholat tahhiyatul mesjid maka itu terserah dia, namun apabila yang dia kerjakan adalah sholat dua roka’at sebelum subuh (rowatib ba’diyah subuh) maka kita katakan padanya janganlah lakukan yang demikian lagi, lebih utama untuk meringankannya.

[Diringkas dari Kitab Tafsir Surat Al Kahfi oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin hal. 17-20 terbitan Dar Ibnul Jauzi Riyadh, KSA]

 

Sigambal, Ditemani Tangisan Syifa 10 Rajab 1433 H/ 31 Mei 2012 M

Aditya Budiman bin Usman

-yang mengharap ampunan Robbnya-



[1] Tentang penjelasan ayat ini silakan baca tulisan kami di www.alhijroh.com (https://alhijroh.com/aqidah/allah-menciptakan-seluruh-mahluk-agar-mereka-mentauhidkan-nya-semata-dalam-seluruh-ibadah/)

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply