Tafsir Surat Al Kahfi (22)

20 Apr

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Tafsir Surat Al Kahfi (22)

Segala puji yang disertai pengagungan seagung-agungnya hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala dan perendahan diri kita yang serendah-rendahnyanya hanya kita berikan kepadaNya Robbul ‘Alamin yang telah menurunkan Al Qur’an sebagai petunjuk. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam, istri-istri Beliau, Keluarganya, para Sahabatnya dan ummat Beliau yang senantiasa meniti jalannya dengan baik hingga hari kiamat. [Tafsir Surat Al Kahfi ayat 27] Allah Subhana wa Ta’ala berfirman,

وَاتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنْ كِتَابِ رَبِّكَ لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ وَلَنْ تَجِدَ مِنْ دُونِهِ مُلْتَحَدًا

“Dan bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu kitab Tuhanmu (Al Quran). Tidak ada (seorang pun) yang dapat merubah kalimat-kalimat Nya. Dan kamu tidak akan dapat menemukan tempat berlindung selain dari padaNya”. (QS. Al Kahfi [18] : 27).

  Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah mengatakan, “Firman Allah (وَاتْلُ) ‘Dan bacakanlah’. Membaca pada ayat ini mencakup tilawah lafzhiyah dan tilawah ‘amaliyah. Tilawah lafzhiyah sudah jalas maknanya misalnya anda mengatakan, ‘Si Fulan membaca/tilawah Surat Al Fatihah’. Sedangkan tilawah hukmiyah ‘amaliyah artinya anda mengamalkan isi Al Qur’an. Jika ada telah mengamalkannya berarti anda telah membacanya atau telah melakukan tilawah hukmiyah ‘amaliyah yang maknanya adan telah mengikuti petunjuk al Al Qur’an. Tilwah ini jugalah termasuk dalam firman Allah Ta’ala ini,

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ

 “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat”. (QS. Faathir [35] : 29).

Tilawah ini mencakup tilawah lafzhiyah dan hukmiyah/’amaliyah. Orang yang diperintahkan pada ayat ini adalah Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam. Namun ketahuilah khitob/sesuatu yang Rosulullah diperintahkan terbagi menjadi 3 jenis”. Pertama, khitob yang ada dalilnya bahwa itu terkhusus untuk Nabi maka berarti  khitob itu tersebut khusus untuk beliau. Kedua, khitob yang ada dalilnya bahwa itu bersifat umum maka berarti khitob itu berlaku umum. Ketiga, khitob yang mengandung kemungkinan 2 makna di atas. Sebagian ulama berpendapat itu bersifat umum. Sedangkan sebagian lainnya berpendapat itu bersifat khusus. Namun ummat beliau tetap diperintahkan untuk mengikutinya bukan karena semata konsekwensi khitob ini namun sebagai konsekwensi bahwa Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam merupakan suri tauladan bagi ummatnya”. “Contoh jenis pertama yaitu khitob yang terdapat dalil menunjukkan bahwa itu khusus untuk beliau. Firman Allah Tabaroka wa Ta’ala,

أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ

 “Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu”. (QS. Alam Nasyroh [94] : 1).

Ini tentu tidak perlu diragukan bahwa khitob pada ayat ini adalah Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam. Demikian pula Firman Allah Ta’ala,

أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآَوَى

“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu ?”. (QS. Adh Dhuha [93] : 6).

Ini pun khusus untuk beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam”. “Contoh jenis kedua yaitu yang terdapat dalil yang menunjukkan bahwa khitobnya umum, Firman Allah Ta’ala,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَطَلِّقُوهُنَّ لِعِدَّتِهِنَّ وَأَحْصُوا الْعِدَّةَ

 “Hai Nabi, apabila kamu menceraikan isteri-isterimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) ‘iddahnya (yang wajar) dan hitunglah waktu ‘iddah itu”. (QS. Ath Tholaq [65] : 1).

  “Firman Allah (طَلَّقْتُمُ) ‘kamu menceraikan’ untuk jama’ah yaitu sekelompok orang/ seluruh ummat beliau. Namun Allah Subhana wa Ta’ala memanggil pemimpin mereka (Nabi) sebab beliau pemimpin ummat dan utusan kepada mereka serta karena mereka adalah pengikut beliau. Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا طَلَّقْتُمُ

“Hai Nabi, apabila kamu menceraikan isteri-isterimu”. (QS. Ath Tholaq [65] : 1).

Contoh ayat yang mengandung dua kemungkinan adalah ayat yang sedang kita bahas ini.

وَاتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنْ كِتَابِ رَبِّكَ

“Dan bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu kitab Tuhanmu (Al Quran)”. (QS. Al Kahfi [18] : 27).

Namun boleh jadi ada yang berpendapat bahwa ayat ini memiliki qorinah yang menunjukkan bahwa khithob ayat ini khusus untuk Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam sebagaimana nanti akan kami sampaikan insya Allah. Namun demikian contoh untuk jenis ketiga ini banyak sekali. Pendapat yang tepat sesungguhnya khithob ayat ini adalah ummat Islam. Namun Allah menyebutkannya kepada Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam sebab beliaulah pemimpin dan teladan bagi mereka. Sebab khithob itu hanya ditujukan bagi pemimpin dan orang yang diikuti orang lain”. “Firman Allah (مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنْ كِتَابِ رَبِّكَ) ‘apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu kitab Tuhanmu’ yaitu Al Qur’an. Idhofah Robb kepada kepada Rosul Shollallahu ‘alaihi wa Sallam merupakan dalil yang menunjukkan bahwa apa yang Allah wahyukan kepada Rosul Nya merupakan bagian dari penjagaan Nya terhadap beliau”. “Firman Allah (لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ) ‘Tidak ada (seorang pun) yang dapat merubah kalimat-kalimat Nya’ yaitu tidak ada seorang pun yang mampu merubah kalimat-kalimat Nya, baik berupa kalimat kauniyah dan syar’iyah. Adapun kalimat kauniyah (ketentuan Allah yang berkaitan dengan penciptaan dan alam semesta –pen) maka tidak tida ada seorang pun yang mampu mengganti dan merubahnya. Jika Allah mengatakan ‘Jadilah’ pada suatu perkara kauniyah maka tidak ada seorang pun yang mampu merubahnya. Adapun kalimat/ketentuan syari’ah maka tidak ada seorang pun yang mampu merubahnya. Penafian/peniadaan di sini bukanlah penafian atas kenyataan di lapangan namun penafian terhadap kemungkinannya secara syar’i. Tidak ada seorang pun yang mampu secara syar’i merubah kalimat/ketentuan syar’iyah. Bahkan wajib atas semua orang untuk memasrahkan, menyerahkan dirinya kepada Allah. Namun apabila ada yang mengatakan, ‘Kita dapati ada orang yang berusaha untuk merubah ketentuan Allah !” “Maka sesungguhnya Allah telah mengisyaratkan hal ini pada Firman Nya tentang orang badui. Allah Ta’ala berfirman,

يُرِيدُونَ أَنْ يُبَدِّلُوا كَلَامَ اللَّهِ

“Mereka hendak merobah ketentuan/janji Allah”. (QS. Al Fath [58] : 15).

Kita katakan ini adalah pengubahan ketentuan syar’i. Pengubahan syar’i mungkin saja muncul dari sebagian orang. Mereka merubah kalimat Allah dari maksud sebagaimna mestinya dan juga mereka pun menafsirkan Firman Allah dengan sesuatu yang tidak Allah kehendaki. Diantara mereka adalah Kaum Mu’athilah yang menolak adanya seluruh atau sebagian shifat-shifat Allah ‘Azza wa Jalla. Maka mereka ini termasuk orang yang hendak mengubah kalimat Allah”. “Firman Allah (وَلَنْ تَجِدَ مِنْ دُونِهِ مُلْتَحَدًا) ‘kamu tidak akan dapat menemukan tempat berlindung selain dari padaNya’ yaitu engkau wahai Nabi tidak akan temukan selain Allah sebagai tempat berlindung. Yaitu seseoang yang anda dapat memalingkan diri anda darinya dan bersandar/berlindung padanya. Sebab Iltihad merupakan kata yang berasal dari kata () yang berarti condong, berpaling.  Maksudnya kalau ada orang yang berkeinginan buruk kepada anda maka anda tidak mendapati ada seorang pun yang mampu mencegah keburukan itu dari diri anda selain Allah ‘Azza wa Jalla. Jadi, ketika seseorang ditimpa musibah berupa sesuatu yang dapat membahayakannya atau sesuatu yang ditakutinya maka dia akan berlindung kepada siapa ? Jawabannya tentu kepada Allah. Yang semisal dengan ini adalah Firman Allah Ta’ala,

قُلْ إِنِّي لَا أَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلَا رَشَدًا (21) قُلْ إِنِّي لَنْ يُجِيرَنِي مِنَ اللَّهِ أَحَدٌ وَلَنْ أَجِدَ مِنْ دُونِهِ مُلْتَحَدًا

 “Katakanlah, “Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu kemudharatanpun kepadamu dan tidak (pula) suatu kemanfaatan”. Katakanlah,  “Sesungguhnya aku sekali-kali tiada seorang pun dapat melindungiku dari (azab) Allah dan sekali-kali aku tiada akan memperoleh tempat berlindung selain daripada Nya”. (QS. Al Jin [72] : 21-22).

* * *

[diterjemahkan secara bebas dari Kitab Tafsir Surat Al Kahfi oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin hal. 55-57 terbitan Dar Ibnul Jauzi Riyadh, KSA] 19 Rojab 1438 H | 16 April 2017 M Aditya Budiman bin Usman bin Zubir -mudah-mudahan Allah mengampuni dosa kita-

Tulisan Terkait

Leave a Reply