Tafsir Surat Al Kahfi (21)

23 Mar

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Tafsir Surat Al Kahfi (21)

Segala puji yang disertai pengagungan seagung-agungnya hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala dan perendahan diri kita yang serendah-rendahnyanya hanya kita berikan kepadaNya Robbul ‘Alamin yang telah menurunkan Al Qur’an sebagai petunjuk. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam, istri-istri Beliau, Keluarganya, para Sahabatnya dan ummat Beliau yang senantiasa meniti jalannya dengan baik hingga hari kiamat.

[Tafsir Surat Al Kahfi ayat 26]

Allah Subhana wa Ta’ala berfirman,

قُلِ اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثُوا لَهُ غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَبْصِرْ بِهِ وَأَسْمِع مَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا يُشْرِكُ فِي حُكْمِهِ أَحَدًا

“Katakanlah, “Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di gua); kepunyaan-Nya-lah semua yang tersembunyi di langit dan di bumi. Alangkah tajam penglihatan-Nya dan alangkah tajam pendengaran-Nya; tak ada seorang pelindungpun bagi mereka selain dari pada-Nya; dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan”. (QS. Al Kahfi [18] : 26).

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah mengatakan,

“Firman Allah Ta’ala yaitu (قُلِ اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثُو) ‘Katakanlah, “Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di gua)’. Firman Allah Ta’ala (قُلِ) ‘Katakanlah’ maksudnya katakanlah wahai Muhammad. (اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثُو) ‘Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di gua)’ kalimat ini merupakan pegangan bagi orang yang berpendapat bahwa sesungguhnya firman Allah Ta’ala (وَلَبِثُوا فِي كَهْفِهِمْ) ‘Dan mereka tinggal dalam gua mereka’ merupakan ucapan orang-orang yang memperbincangkan tentang tinggalnya para ashabul kahfi di gua, mereka adalah orang-orang Yahudi yang mengklaim bahwasanya Taurot menunjukkan dalil yang demikian. Sehingga berdasarkan hal ini maka firman Allah (وَلَبِثُوا) ‘dan mereka tinggal’ menjadi maf’ul atas firman Allah yang mahdzhuf dan ditakdirkan/ diperkirakan (وقالوا: لبثوا في كهفهم ثلاث مائة سنين وازدادوا تسعاً) ‘Dan mereka mengatakan bahwa mereka (ashabul kahfi) tinggal di gua mereka selama 300 tahun ditambah 9 tahun lagi (menjadi 309)’. Kemudian Dia berfirman (قُلِ اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثُو) ‘Katakanlah, “Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di gua)’.

“Akan tetapi pendapat ini walaupun merupakan pendapat sebagian ahli tafsir, pendapat yang benar kebalikannya. Sesungguhnya firman Allah Ta’ala (وَلَبِثُوا) ‘Dan mereka tinggal’ merupakan perkataan Allah. Sehingga maksud firman Nya yaitu (اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثُو) ‘Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di gua)’ merupakan taukid/ penegasan makna. Tepatnya taukid dari kalimat bahwasanya mereka (ashabul kahfi) tinggal di gua mereka selama 300 tahun lebih 9 tahun. Makna yaitu (اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثُو) ‘Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di gua)’ sungguh kami telah mengajarkan/ memberitahukan kepada mereka bahwsanya mereka tinggal di gua selama 300 tahun lebih 9 tahun. Dan Allah senantiasa lebih mengetahui berapa lama mereka tinggal. Maka tidak ada pendapat orang lain setelahnya (artinya janganlah orang lain menebak-nebak pendapat selain firman Allah ini setelahnya –pen”.

“Firman Allah ‘Azza wa Jalla (لَهُ غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ) ‘kepunyaan-Nya-lah semua yang tersembunyi di langit dan di bumi’ maksudnya milik Nya lah semua ilmu ghoib yang ada di langit dan di bumi atau bagi Nya lah ilmu ghoib langit dan bumi. Kedua makan ini benar. (السَّمَاوَاتِ) merupakan bentuk plural dari (السَّمَاءُ) ‘langit’ jumlahnya ada 7 lapis sebagaimana sudah ma’ruf. Sedangkan bumi juga memiliki 7 lapis. Maka tidak ada yang mengetahui ilmu ghaib –yang ada di bumi ataupun yang di langit melainkan Allah semata. Oleh karena itu siapa saja yang mengaku dia punya kemampuan untuk mengetahui ilmu ghaib yang demikian maka dia kafir. Ilmu ghaib yang dimaksud adalah ilmu ghaib berkaitan dengan masa depan. Adapun yang ada sekarang maupun yang telah lalu maka barangsiapa yang mengklaim dirinya tahu tentang hal yang sekarang dan yang berlalu maka tidak kafir. Karena hal ini boleh jadi seseoang mengetahui ilmunya. Namun ilmu ghaib berkaitan dengan masa depan maka tidak ada seorangpun yang mengetahuinya kecuali Allah semata. Oleh sebab itu, orang yang mendatangi dukun/ tukang ramal yang mengabarkan berkaitan dengan masa depan dan orang tersebut membenarkan ucapan sang dukun maka dia kufur terhadap Allah ‘Azza wa Jalla. Sebab dia mendustakan firman Allah Ta’ala,

قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ

 “Katakanlah, “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”. (QS. An Naml [27] : 65).

“Adapun perkara ghoib yang terjadi sekarang maka sebagaimana diketahui bahwa sesungguhnya boleh jadi perkara tersebut ghaib bagi seseorang namun merupakan sebuah hal yang disaksikan orang lain”.

“Firman Allah (أَبْصِرْ بِهِ وَأَسْمِع) ‘Alangkah tajam penglihatan Nya’. Para ulama nahwu menyebut bentuk fiil demikian dengan sebutan fiil takjub (bentuk keterkaguman -pen). Firman Allah (وَأَسْمِع) ‘alangkah tajam pendengaran Nya’. Maknanya semua hal Allah mendengarnya. Ini merupakan shifat yang paling tinggi. Allah Subhanahu wa Ta’ala melihat segala sesuatu. Dia mendengar langkah semut hitam di atas batu hitam di tengah kegelapan malam. Dia melihat hal yang tidak dapat dilihat mata manusia dari hal-hal yang tersembunyi dan halus/samar. Demikian pula pendengaran Nya. Dia mendengar semua hal. Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi dari rahasia. Dia pun mengetahui hal-hal yang tampak. Firman Nya,

وَإِنْ تَجْهَرْ بِالْقَوْلِ فَإِنَّهُ يَعْلَمُ السِّرَّ وَأَخْفَى

 “Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi”. (QS. Thoha [27] : 65).

“Aisyah Rodhiyallahu ‘anha mengatakan kisah dalam surat Al Mujadilah yang dia menzhihar suaminya. Wanita ini datang mengadu kepada Rosul Shollallahu ‘alaihi wa Sallam dan ‘Aisyah ketika itu berada di kamar yang kecil sebagaimana diketahui. Sedangkan Rosul Shollallahu ‘alaihi wa Sallam berbincang dengan wanita tersebut. Sebagian perbincangan mereka terluput dari pendengaran ‘Aisyah. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَا إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ

“Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (QS. Al Mujadilah [58] : 1).

‘Aisyah Rodhiyallahu ‘anha mengatakan, “Segala puji milik Allah yang pendengaran Nya sangat luas. Sesungguhnya aku berada di kamar dan sebagian perbincangan mereka samar bagi ku”[1]. Allah ‘Azza wa Jalla di atas segala sesuatu”.

“Disamping itu pada pendengaran ‘Aisyah tentang pembicaraan seorang wanita yang mengadu kepada Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam ini terdapat iman bahwsanya Allah Ta’ala merupakan Dzat yang memiliki penglihatan yang tidak ada sesuatu yang ghaib baginya. Dia juga memiliki pendengaran yang tajam, yang tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi darinya. Iman terhadap hal tersebut memberikan konsekwensi bagi seseorang hamba agar tidak melakukan sesuatu yang dibenci Allah, dia tidak mendengarkan hal-hal yang dibenci Allah. Sebab anda tahu bahwasanya amal apapun Dia mampu melihatnya, ucapan apapun Dia mampu mendengarnya. Hal ini akan melahirkan sikap khosyah (takut yang didasari ilmu) kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan tidak akan melakukan perbuatan apapun yang dibenci serta tidak mengucapkan ucapan yang dibenci Allah ‘Azza wa Jalla. Namun iman kita lemah, sehingga anda dapai ada seseorang yang ketika ingin berucap atau melakukan sesuatu, tidak terngiang di fikirannya bahwasanya Allah mendengar dan melihatnya kecuali jika diingatkan. Betapa banyaknya kelalaian maka wajib bagi kita untuk mengingatkan hal yang agung ini”.

“Firman Allah (مَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَلِيٍّ) ‘Tak ada seorang pelindungpun bagi mereka selain dari pada Nya’. Firman Allah (مَا لَهُمْ) ‘Tak ada bagi mereka’ apakah dhomir kata ganti (mereka –pen) kembali merujuk kepada ashabul kahfi atau kepada semua yang ada di langit dan di bumi ?’

“Jawabnya tentu yang kedua. Yaitu tidak ada seorang pun yang menjadi wali/pelindung/penguasa selain Allah ‘Azza wa Jalla walaupun orang kafir sekalipun. Wali mereka adalah Allah ‘Azza wa Jalla. Demikian pula orang yang beriman wali mereka adalah Allah ‘Azza wa Jalla. Allah Ta’ala berfirman,

حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لَا يُفَرِّطُونَ (61) ثُمَّ رُدُّوا إِلَى اللَّهِ مَوْلَاهُمُ الْحَقِّ

“……Sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat- malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya. Kemudian mereka (hamba Allah) dikembalikan kepada Allah, Pelindung/Penguasa mereka yang sebenarnya”. (QS. Al An’am [6] : 61-62).

Allahlah wali bagi setiap orang. Namun ini merupakan bentuk kewalian yang bersifat umum. Bukankah Allah lah yang memberikan rezeki kepada orang-orang kafir ? Bukankah Allah lah yang menumbuh kembangkan tubuh mereka ? Memberikan mereka kemudahan dari arah langit dan bumi ? Bukankah Allah yang menundukkan matahari, rembulan, bintang dan hujan ? Inilah bentuk kewalian Allah kepada mereka. Dalam hal ini kaum mukminin pun wali mereka pun hanya Allah. Inilah bentuk kewalian yang bersifat umum. Orang-orang yang beriman pun walinya adalah Allah dalam hal ini”.

“Adapun bentuk kewalian Allah secara khusus, maka ini untuk orang-orang yang beriman. Allah Ta’ala berfirman,

اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آَمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ

“Allah Pelindung orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Adapun orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaithon, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran)”.

(QS. Al Baqoroh [2] : 257).

Kewalian yang bersifat khusus ini melazimkan adanya pertolongan secara khusus pula. Sesungguhnya Allah menguatkan, meluruskan seorang hamba, membukakan baginya pintu ilmu yang bermanfaat dan amal sholeh. Oleh sebab itulah Allah Subhana wa Ta’ala menyebutkan,

يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ

“Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman)”.

yaitu mengeluarkan mereka dengan ilmu sehingga awalnya mereka berilmu lalu kemudian mengeluarkan mereka kepada bagian yang kedua (amal –pen) dengan adanya taufiq”.

“Firman Allah (وَلَا يُشْرِكُ فِي حُكْمِهِ أَحَدًا) ‘Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan’. Kalimat ini mirip dengan Firman Allah Ta’ala,

إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ

“Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah”. (QS. Al An’am [6] : 57)

Demikian pula,

وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ

“Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusannya (hukumnya ) kepada Allah”. (QS. Asy Syuro [42] : 10)

Ketentuan Allah itu ada yang bersifat kauniy dan syar’i. Pencipataan, pengaturan merupakan hukum kauniyah. Sedangkan hukum diantara manuisa, berupa perintah-perintah, larangan merupakan hukum syar’i”.

“Firman Allah (وَلَا يُشْرِكُ فِي حُكْمِهِ أَحَدًا) ‘Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan’ mencakup kedua jenis hukum ini. Maka tidak ada seorang pun yang bersekutu dengan Nya baik dalam hukum kauniyah maupun syar’iyah. Pada ayat ini terdapat dalil wajibnya kembali kepada hukum syar’i Allah. Sesungguhnya kita tidak boleh menetapkan syari’at dalam agama Allah padahal bukan bagian darinya, baik dalam masalah tata cara peribadahan maupun mu’amalah. Adapun orang yang mengatakan, ‘Sesungguhnya kita mensyar’iatkan pada perkara muamalah yang sesuai dengan zaman. Maka ini merupakan ucapan bathil. Sebab melalui ucapan tersebut mereka melegalisasi riba, judi dan segala jenis pekerjaan yang bathil. Maka syari’at itu sesuai pada setiap waktu dan tempat serta tidak akan baik urusan ummat ini kecuali yang dengannya baik generasi awalnya[2].

“Hukum kauniyah tidak ada seorang pun yang mampu mengklaim dia berserikat dengan Allah. Apakah ada orang yang sanggup menurunkan hujan ? Apakah ada orang yang mampu menahan langit atau bumi? Akan tetapi yang diperselisihkan manusia adalah hukum syar’i, sebagian orang mengklaim bahwa mereka memiliki kewenangan untuk menentukan hukum syar’i bagi orang lain yang menurutnya cocok”.

 

[diterjemahkan secara bebas dan diringkas dari Kitab Tafsir Surat Al Kahfi oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin hal. 50-55 terbitan Dar Ibnul Jauzi Riyadh, KSA]

23 Jumadil Akhiroh 1438 H | 22 Maret 2017 M

Aditya Budiman bin Usman bin Zubir

-mudah-mudahan Allah mengampuni dosa kita-

[1] HR. Ahmad no. 24195, An Nasa’i no. 3490.

[2] Ini merupakan atsar yang terkenal dari Imam Malik Rohimahullah. Lihat Asy Syifa oleh Al Qodhi ‘Iyadh hal. 77-78.

Tulisan Terkait

Leave a Reply