Tafsir Surat Al Kahfi (20)

24 Nov

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Tafsir Surat Al Kahfi (20)

Segala puji yang disertai pengagungan seagung-agungnya hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala dan perendahan diri kita yang serendah-rendahnyanya hanya kita berikan kepadaNya Robbul ‘Alamin yang telah menurunkan Al Qur’an sebagai petunjuk. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam, istri-istri Beliau, Keluarganya, para Sahabatnya dan ummat Beliau yang senantiasa meniti jalannya dengan baik hingga hari kiamat.

[Tafsir Surat Al Kahfi ayat 25]

Allah Subhana wa Ta’ala berfirman,

وَلَبِثُوا فِي كَهْفِهِمْ ثَلَاثَ مِاْئَةٍ سِنِينَ وَازْدَادُوا تِسْعًا

“Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi)”. (QS. Al Kahfi [18] : 25).

 

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah mengatakan,

tafsir-surat-al-kahfi-ayat-25-1

“Firman Allah Ta’ala (وَلَبِثُوا) ‘Dan mereka tinggal’ mereka adalah para penghuni gua (ashabul kahfi). Firman Allah Ta’ala (فِي كَهْفِهِمْ) ‘dalam gua mereka’ yaitu gua yang mereka pilih sendiri dan mereka pun tidur di dalamnya”.

tafsir-surat-al-kahfi-ayat-25-2

“Firman Allah Ta’ala (ثَلَاثَ مِاْئَةٍ) ‘tiga ratus’. Secara istilah tertulis (ثَلَاثَمِاْئَةٍ) bersambung antara (ثَلَاثَ) dengan (مِاْئَةٍ). (مِاْئَةٍ) tertulis menggunakan alif namun huruf alif ini tidak diucapkan. Sebagian lagi ditulis dengan (ثَلَاثَ) sendiri dan (مِئَةٍ) sendiri pula. Inilah cara yang benar”.

tafsir-surat-al-kahfi-ayat-25-3

“Firman Allah Ta’ala (ثَلَاثَ مِاْئَةٍ سِنِينَ) ‘tiga ratus tahun’. (مِاْئَةٍ) dengan tanwin. Sedangkan (سِنِينَ) merupakan tamyiz untuk tiga ratus. Sebab seandainya tidak tertulis kata (سِنِينَ) tentulah kita tidak tahu tiga ratus hari, pekan atau tahun. Ketika Allah Ta’ala sebutkan (سِنِينَ) maka hal tersebut menjadi jelas”.

tafsir-surat-al-kahfi-ayat-25-4

“Firman Allah Ta’ala (وَازْدَادُوا تِسْعًا) ‘dan ditambah sembilan tahun (lagi)’. Maksudnya ditambahkan antara 300 tahun dan 9 tahun. Sehingga mereka tinggal di gua tersebut selama 309 tahun. Boleh jadi ada yang mengatakan, ‘Mengapa tidak disebut saja (ثَلَاثَ مِاْئَةٍ وَ تِسْعَ سِنِينَ) ‘300 tahun ?’

tafsir-surat-al-kahfi-ayat-25-5

“Maka jawabannya adalah makna keduanya memang sama. Namun Al Qur’an merupakan kitab yang paling bagus. Diantara kebagusannya bersesuainnya bagian akhir ayat, yaitu (ثَلَاثَ مِاْئَةٍ سِنِينَ وَازْدَادُوا تِسْعًا). Bukan seperti yang sebagian orang sebutkan, bahwa maksudnya 300 tahun syamsiah/masehi dan ditambah 9 tahun qomariyah. Sebab kita tidak dapat pastikan maksud Allah adalah yang demikian. Siapa yang dapat membuktikan bahwa itulah makna yang Allah inginkan ? Walaupun seandainya bahwa 300 tahun syamsiah adalah 309 tahun qomariyah benar-benar sesuai, namun tetap kita tidak dapat membuktikan bahwa yang Allah kehendaki adalah hal tersebut. Sebab perhitungan (bulan/tahun) di sisi Allah satu. Selanjutnya apa tanda kalau perhitungan hari di sisi Allah Ta’ala ?

tafsir-surat-al-kahfi-ayat-25-6

“Jawabannya adalah perhitungan menggunakan hilal. Oleh sebab itulah pendapat yang mengatakan 300 tahun di ayat ini adalah tahun syamsiyah dan tambahan 9 tahun qomariah merupakan pendapat yang lemah”.

Alasannya ?

tafsir-surat-al-kahfi-ayat-25-7

Pertama, Tidak dapat dipastikan bahwasanya yang Allah inginkan adalah tafsiran demikian.

Kedua, Sesungguhnya (perhitungan) bulan dan tahun di sisi Allah adalah dengan hilal. Allah Ta’ala berfirman,

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ

“Dia lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu)”. (QS. Yunus [10] : 5).

Demikian juga firman Allah Ta’ala,

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ

“Mereka bertanya kepadamu tentang hilal. Katakanlah, “Hilal itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji”. (QS. Al Baqoroh [2] : 189).

 

[diterjemahkan secara bebas dan diringkas dari Kitab Tafsir Surat Al Kahfi oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin hal. 49-50 terbitan Dar Ibnul Jauzi Riyadh, KSA]

Aditya Budiman bin Usman

Ahsanalllahu Aqibatahu-

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply