Tafsir Surat Al Kahfi (16)

29 Jan

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Tafsir Surat Al Kahfi (16)

Segala puji yang disertai pengagungan seagung-agungnya hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala dan perendahan diri kita yang serendah-rendahnyanya hanya kita berikan kepadaNya Robbul ‘Alamin yang telah menurunkan Al Qur’an sebagai petunjuk. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam, istri-istri Beliau, Keluarganya, para Sahabatnya dan ummat Beliau yang senantiasa meniti jalannya dengan baik hingga hari kiamat.Pada edisi kali ini kita akan melanjutkan pembahasan edisi sebelumnya.

[Tafsir Surat Al Kahfi ayat 19]

Allah Subhana wa Ta’ala berfirman,

وَكَذَلِكَ بَعَثْنَاهُمْ لِيَتَسَاءَلُوا بَيْنَهُمْ قَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْ كَمْ لَبِثْتُمْ قَالُوا لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ قَالُوا رَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثْتُمْ فَابْعَثُوا أَحَدَكُمْ بِوَرِقِكُمْ هَذِهِ إِلَى الْمَدِينَةِ فَلْيَنْظُرْ أَيُّهَا أَزْكَى طَعَامًا فَلْيَأْتِكُمْ بِرِزْقٍ مِنْهُ وَلْيَتَلَطَّفْ وَلَا يُشْعِرَنَّ بِكُمْ أَحَدًا

“Dan demikianlah Kami bangunkan mereka kemudian mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka, ‘Sudah berapa lamakah kamu berada (disini)?” Mereka menjawab, ‘Kita berada (disini) sehari atau setengah hari”. (yang lain lagi) Berkata, ‘Robb kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini)’. Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang paling baik, maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah ia berlaku lemah-lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorangpun”. (QS. Al Kahfi [18] : 19).

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah mengatakan,

Tafsir Al Kahfi1

“Firman Allah Subhana wa Ta’ala (وَكَذَلِكَ بَعَثْنَاهُمْ لِيَتَسَاءَلُوا بَيْنَهُمْ) ‘Dan demikianlah Kami bangunkan mereka kemudian mereka saling bertanya di antara mereka sendiri’ yaitu sebagaimana kami berikan pertolongan kepada mereka berupa kemudahan yang ada pada gua bagi mereka, kami tidurkan mereka dalam waktu yang sangat lama dan Allah Ta’ala bangunkan mereka. Firman Allah (لِيَتَسَاءَلُوا بَيْنَهُمْ) ‘kemudian mereka saling bertanya di antara mereka sendiri’. Sebagaimana kebiasaan, manusia jika mereka tertidur kemudian ketika mereka bangun diantara mereka ada yang bertanya, ‘Apa yang kamu lihat dalam mimpimu’. Sebagian orang lain lagi akan mengatakan, ‘Tidur anda kelihatan enak sekali’ dan yang semisal dengan itu”.

Tafsir Al Kahfi2

“Firman Allah Subhana wa Ta’ala (لِيَتَسَاءَلُوا بَيْنَهُمْ) ‘Kemudian mereka saling bertanya di antara mereka sendiri’.  Bukanlah makna ayat ini bahwa mereka dibangunkan Allah agar mereka saling bertanya namun yang benar adalah mereka dibangunkan kemudian mereka saling bertanya. Maka huruf lam (اللام) merupakan lam aqibat dan bukan ta’lil/agar. Sebagaimana terdapat dalam firman Allah Ta’ala,

فَالْتَقَطَهُ آَلُ فِرْعَوْنَ لِيَكُونَ لَهُمْ عَدُوًّا وَحَزَنًا

“Maka dipungutlah ia oleh keluarga Fir’aun kemudian dia (Nabi Musa ‘alaihissalam –pen.) menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka”. (QS. Al Qoshosh [28] : 8)

Huruf Lam tidak selamanya bermakna agar. Karena pada ayat di atas tidak mungkin keluarga Fira’un memungut beliau agar menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka. Namun mereka memungut beliau kemudian beliau menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka”.

Tafsir Al Kahfi3

“Firman Allah Ta’ala (لَبِثْنَا يَوْمًا) ‘Kita berada (disini) sehari’. Yaitu sehari sempurna”.

Tafsir Al Kahfi4a

“Firman Allah Ta’ala (أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ) ‘atau setengah hari’ yaitu sebagian hari. Karena mereka masuk ke gua pada waktu awal hari kemudian dibangunkan dari tidurnya pada waktu sore hari. Mereka mengatakan, (لَبِثْنَا يَوْمًا) ‘Kita berada (disini) sehari’ hal ini berarti mereka bangun pada hari kedua atau (أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ) ‘atau setengah hari’ berarti mereka bangun pada hari pertama. Ini menunjukkan nyenyaknya tidur mereka”.

Tafsir Al Kahfi4

“Firman Allah ‘Azza wa Jalla (قَالُوا رَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثْتُمْ) ‘(yang lain lagi) Berkata, ‘Robb kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini)’. Yaitu sebagian mereka ada yang mengatakan demikian kepada sebagian yang lain. Pemuda yang mengatakan ini boleh jadi telah merasa bahwa mereka telah dengan tidur yang lama. Namun dia tidak mampu menghitungnya. Sedangkan pemuda yang pertama mengatakan demikian karena atas dasar zhohirnya. Sedangkan yang lain tidak menentukan jumlahnya berdasarkan kenyataan. Karena orang dapat membedakan tidur yang sebentar dan lama”.

Tafsir Al Kahfi5

“Firman Allah Tabaroka wa Ta’ala (فَابْعَثُوا أَحَدَكُمْ بِوَرِقِكُمْ هَذِهِ إِلَى الْمَدِينَةِ) ‘Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini’. (الوَرَقُ) adalah perak, sebagaimana terdapat dalam hadits Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam,

وَ فِيْ الرَّقَّةِ رُبُعُ العُشْرِ

“Pada perak ada kewajiban zakat 2,5 %”[1].

Mereka dahulu memiliki memiliki dirham yang terbuat dari perak”.

Tafsir Al Kahfi6

“Firman Allah Tabaroka wa Ta’ala (فَابْعَثُوا أَحَدَكُمْ بِوَرِقِكُمْ هَذِهِ إِلَى الْمَدِينَةِ فَلْيَنْظُرْ أَيُّهَا أَزْكَى طَعَامًا فَلْيَأْتِكُمْ بِرِزْقٍ مِنْهُ) ‘Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang paling baik, maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu’. Ayat ini mengandung beberapa faidah, diantaranya :

Pertama, Bolehnya mewakilkan dalam beli. Mewakilkan dalam beli hukumnya boleh demikian juga dalam masalah jual. Karena Rosulullah Shollalahu ‘alaihi wa Sallam mewakilkan kepada salah seorang shahabat untuk membelikan beliau sembelihan qurban dengan memberikan satu dinar. Beliau Shollalahu ‘alaihi wa Sallam belikanlah dengan satu dinar hewan qurban. Kemudian shahabat tersebut membelikan satu dinar tersebut untuk 2 ekor kambing. Kemudian dia menjual salah satunya dengan harga satu dinar. Lalu beliau kembali dengan membawa 1 ekor kambing plus uang satu dinar. Kemudian Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam berdo’a agar Allah Subhana wa Ta’ala memberkahi jual belinya. Sehingga shahabat ini apabila dia menjual debu/tanah niscaya dia akan beruntung/laku”[2].

Tafsir Al Kahfi7

“Para ulama mengambil hukum dari hadits tersebut bahwa bolehnya mengalihkan sesuatu kepada sesuatu yang lebih baik. Yaitu seseorang boleh mengalihkan sesuatu yang merupakan harta orang lain kepada yang lebih baik jika dia mengetahui bahwa orang yang dia wakilkan ridho dengannya. Mereka para penghuni gua mewakilkan salah seorang dari mereka untuk berangkat ke kota agar membawakan makan yang lebih baik”.

Tafsir Al Kahfi8

Kedua, Pada ayat ini juga terdapat dalil bahwasanya seseorang boleh mencari makanan yang paling baik, berdasarkan firman Alla ‘Azza wa Jalla,

فَلْيَنْظُرْ أَيُّهَا أَزْكَى طَعَامًا

“Hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik”. (QS. Al Kahfi [18] : 19).

Tafsir Al Kahfi9

“Ketiga, Pada ayat ini terdapat dalil yang menunjukkan lemahnya pendapat sebagaian ahli fikih, ‘Sesungguhnya tidak boleh menyifati suatu barang dengan bentuk superlatif (kata paling)’. Yaitu tidak boleh menyifati barang yang akan dijual dengan mengatakan bahwa barang tersebut adalah barang yang paling baik diantara lainnya. Maka janganlah anda mengatakan, ‘Aku jual kepada anda tepung/gandum yang terbaik’. (alasannya) karena segala sesuatu yang baik melainkan ada sesuatu yang lebih baik di atasnya’.

Namun pendapat lain mengatakan, ‘Kata-kata paling ini dikembalikan pada istilah urf/kebiasaan sekitar’. Maka sesuatu yang paling baik maksudnya adalah yang terbaik pada waktu dan tempat tertentu. Lantas adakah dalil dari Hadits Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam yang menjadi syahid/penguat pendapat yang membolehkan mencari makanan yang paling baik ? Jawabannya ya tentu. Dalilnya sesungguhnya Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam menyetujui shahabat yang menukar kurma yang buruk dengan kurma yang bagus agar Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam memakannya, beliau Shollalahu ‘alaihi wa Sallam pun tak melarangnya[3]. Beliau juga tidak mengatakan bahwa hal itu termasuk bermewah-mewah maka tinggalkanlah. Seseorang mungkin saja Allah ‘Azza wa Jalla mudahkan baginya untuk memilih sesuatu yang terbaik untuk makan, minum, tempat tinggal, pakaian dan kendaraan. Selama kemampuan yang Allah berikan padanya dapat memenuhinya maka mencari yang terbaik tidak tercela”.

Tafsir Al Kahfi10

“Firman Allah Ta’ala (فَلْيَأْتِكُمْ بِرِزْقٍ مِنْهُ) ‘Maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu’ yaitu membeli dan membawakannya. Pada ayat ini terdapat keterangan (bolehnya –pen) mewakilkan dalam hal membeli dan membawakan”.

Tafsir Al Kahfi11

“Firman Allah Ta’ala (وَلْيَتَلَطَّفْ وَلَا يُشْعِرَنَّ بِكُمْ أَحَدًا) ‘Dan hendaklah ia berlaku lemah-lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorangpun’. Yaitu hendaklah dia bermuamalah dengan mualamah yang lembut agar mereka (kaum mereka yang musyrik) tidak menggangu. Hal ini didasari keyakinan bahwa mereka masih mengira bahwa mereka tinggal di gua tersebut dalam waktu yang singkat”.

Tafsir Al Kahfi12

“Pada ayat ini terdapat dalil waspada terhadap musuh dengan semua sarana yang dimiliki kecuali yang haram. Karena sesuatu yang haram maka seseorang tidak boleh melakukannya”.

[diterjemahkan secara bebas dan diringkas dari Kitab Tafsir Surat Al Kahfi oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin hal. 36-40 terbitan Dar Ibnul Jauzi Riyadh, KSA]

 

Aditya Budiman bin Usman

-yang mengharap ampunan Robbnya

[1] HR. Bukhori no. 1454.

[2] Beliau adalah shahabat Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam yang bernama Urwah bin Rodhiyallahu ‘anhu sebagaimana dalam Shohih Bukhori no. 3642.

[3] HR. Bukhori no. 2312 dan Muslim no. 1594 dari shahabat Abu Sa’id Al Khudri Rodhiyallahu ‘anhu.

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply