Tafsir Surat Al Kahfi (15)

9 Jan

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Tafsir Surat Al Kahfi (15)

Segala puji yang disertai pengagungan seagung-agungnya hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala dan perendahan diri kita yang serendah-rendahnyanya hanya kita berikan kepadaNya Robbul ‘Alamin yang telah menurunkan Al Qur’an sebagai petunjuk. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam, istri-istri Beliau, Keluarganya, para Sahabatnya dan ummat Beliau yang senantiasa meniti jalannya dengan baik hingga hari kiamat.

Pada edisi kali ini kita akan melanjutkan pembahasan edisi sebelumnya.

[Tafsir Surat Al Kahfi ayat 18]

Allah Subhana wa Ta’ala berfirman,

وَتَحْسَبُهُمْ أَيْقَاظًا وَهُمْ رُقُودٌ وَنُقَلِّبُهُمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَذَاتَ الشِّمَالِ وَكَلْبُهُمْ بَاسِطٌ ذِرَاعَيْهِ بِالْوَصِيدِ لَوِ اطَّلَعْتَ عَلَيْهِمْ لَوَلَّيْتَ مِنْهُمْ فِرَارًا وَلَمُلِئْتَ مِنْهُمْ رُعْبًا

“Dan kamu mengira mereka itu bangun, padahal mereka tidur; Dan kami bolak-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan diri dan tentulah kamu akan dipenuhi oleh ketakutan terhadap mereka”. (QS. Al Kahfi [18] : 18)

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah mengatakan,

Tafsir Al Kahfi Ayat 18 a

“Firman Allah Subhana wa Ta’ala (تَحْسَبُهُمْ) ‘‘Dan kamu mengira mereka itu” yaitu wahai orang yang melihat ketika anda melihat mereka (أَيْقَاظًا) ‘bangun’. Hal ini terjadi karena pada mereka tidak terdapat tanda-tanda orang tidur. Karena orang yang tidur mungkin saja lemas sedangkan mereka tampak seperti orang yang terjaga. Oleh karena itu orang akan dapat membedakan antara seseorang yang tidur dan orang yang tidak tidur ketika melihatnya. Walaupun seorang yang bangun tadi ingin berpura-pura tidur untuk memperdaya temannya. Maka orang yang berpura-pura tidur tersebut, akan benar-benar dapat diketahui bahwa dia tidak tidur”.

Beliau Rohimallah melanjutkan,

Tafsir Al Kahfi Ayat 18 b

“Firman Allah Subhana wa Ta’ala (وَنُقَلِّبُهُمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَذَاتَ الشِّمَالِ) ‘Dan kami bolak-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri’. Yaitu sekali berbaring ke arah kanan dan sekali lagi ke arah kiri. Allah Subhana wa Ta’ala tidak menyebutkan berbaring terlentang dan telungkup karena tidur dengan berbaring ke arah kanan dan kiri merupakan cara berbaring yang paling sempurna”.

Tafsir Al Kahfi Ayat 18 c

 

 

“Firman Allah Subhana wa Ta’ala (وَنُقَلِّبُهُمْ) ‘Dan kami bolak-balikkan mereka’. Pada potongan ayat ini terdapat dalil yang menunjukkan bahwa perbuatan orang yang tidur tidak dapat disandarkan kepadanya. Sisi pendalilannya bahwa Allah menyandarkan kepada Nya bolak-baliknya mereka ketika tidur. Seandainya ada orang yang tidur kemudian mengigau, ‘Aku telah menceraikan istriku’ atau ‘hutangku kepada si Fulan adalah 1000 real’. Perkataan ini tidak teranggap karena orang yang tidur tidaklah bermaksud mengatakannya, baik pada perkataan dan tidak juga pada perbuatan. Hikmah dibolak-balikkannya mereka ke kanan dan kiri adalah sebagian ulama berpendapat hal itu agar jasad mereka tidak dimakan tanah pada bagian yang melekat pada tanah. Akan tetapi yang benar adalah hikmahnya bukanlah hal itu. Namun hikmahnya adalah untuk tujuan menyeimbangkan peredaran darah yang mengalir di jasad mereka. Karena apabila hanya terbaring pada satu sisi saja maka bagian atas akan mengalir cepat dan bagian atasnya menjadi tercegah suplai aliran darahnya (tidak mendapat aliran darah yang cukup). Karena hikmah Allah, mereka dijadikan bolak-balik”.

Beliau Rohimallah melanjutkan,

Tafsir Al Kahfi Ayat 18 d

“Firman Allah Subhana wa Ta’ala (وَكَلْبُهُمْ بَاسِطٌ ذِرَاعَيْهِ بِالْوَصِيدِ) ‘sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua’. Yaitu seolah-olah Allahu a’lam anjing tersebut tidak tidur”.

Tafsir Al Kahfi Ayat 18 e

“Firman Allah Subhana wa Ta’ala (بَاسِطٌ ذِرَاعَيْهِ) ‘mengunjurkan kedua lengannya’. Yaitu duduk di atas perutnya dan mengunjurkan/menjulurkan kedua lengannya”.

“Firman Allah Subhana wa Ta’ala (بِالْوَصِيدِ) ‘di muka pintu gua’. Yaitu pintu gua atau halaman gua. Maksudnya boleh jadi anjing tersebut berada di pintu gua atau di halaman gua untuk menjaga mereka. Pada ayat ini terdapat dalil yang menunjukkan bolehnya menjadikan anjing dalam rangka penjagaan yaitu, penjagaan manusia. Adapun untuk penjagaan binatang ternak maka hal itu telah terdapat dalam hadits Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam. Demikian juga terdapat hadits Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam yang membolehkan anjing untuk menjaga ladang pertanian[1]. Jika demikian maka untuk menjaga manusia tentu lebih utama. Karena jika boleh memelihara anjing untuk menjaga binatang ternak dan ladang yang merupakan pelengkap kebutuhan hidup maka tentu untuk penjagaan rumah tentu lebih utama[2]”.

Tafsir Al Kahfi Ayat 18 f

 

“Firman Allah Subhana wa Ta’ala (لَوِ اطَّلَعْتَ عَلَيْهِمْ لَوَلَّيْتَ مِنْهُمْ فِرَارًا وَلَمُلِئْتَ مِنْهُمْ رُعْبًا) ‘Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan diri dan tentulah kamu akan dipenuhi oleh ketakutan terhadap mereka’. Maksudnya adalah seandainya kalian orang yang ingin melihat dan melalui mereka maka kalian akan sangat dipenuhi rasa ingin melarikan diri. Rasa takut yang Dia turunkan pada hati orang yang berkeinginan melihat meraka. Hingga tidak seorangpun yang berani melintas untuk mendekati mereka. Oleh karena itu Allah ‘Azza wa Jalla berfirman (لَوِ اطَّلَعْتَ عَلَيْهِمْ لَوَلَّيْتَ مِنْهُمْ فِرَارًا وَلَمُلِئْتَ مِنْهُمْ رُعْبًا) tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan diri dan tentulah kamu akan dipenuhi oleh ketakutan terhadap mereka. walaupun mereka belum bertemu namun mereka takut terhadapnya”.

Tafsir Al Kahfi Ayat 18 g

“Firman Allah Subhana wa Ta’ala (وَلَمُلِئْتَ مِنْهُمْ رُعْبًا) ‘sungguh kamu akan dipenuhi oleh ketakutan terhadap mereka”. Rasa takut tersebut tidak hanya memenuhi hati saja bahkan seluruh tubuh. Ini menunjukkan bahwa orang yang melihat mereka akan mengalami rasa takut yang luar biasa”.

 

[diterjemahkan secara bebas dan diringkas dari Kitab Tafsir Surat Al Kahfi oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin hal. 34-36 terbitan Dar Ibnul Jauzi Riyadh, KSA]

 

Aditya Budiman bin Usman

-yang mengharap ampunan Robbnya

[1] Berdasarkan hadits Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam yang diriwayatkan dari Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda,

مَنْ أَمْسَكَ كَلْبًا فَإِنَّهُ يَنْقُصُ مِنْ عَمَلِهِ كُلَّ يَوْمٍ قِيرَاطٌ إِلاَّ كَلْبَ حَرْثٍ أَوْ مَاشِيَةٍ

“Barangsiapa yang memelihara seekor anjing maka sesungguhnya akan berkurang (pahala -pen.) amalnya setiap hari sebanyak 1 qiroth (1 gunung uhud -pen.) kecuali anjing yang digunakan untuk menjaga ladang dan ternak”. (HR. Bukhori no. 2322, Muslim no.1575).

Diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim juga,

أَوْ كَلْبَ صَيْدٍ

“Atau anjing untuk berburu”.

[2] Namun perlu dipahami maksud perkataan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin Rohimallah (sebagaimana kata Guru Kami Ustadz Aris Munandar Hafidzahullah) untuk menjaga rumah dan manusia di sini adalah apabila rumah dan orang tersebut terpencil dan jauh dari pusat pemukiman (semisal di ladang) untuk membangunkan tuannya apabila ada pencuri. Adapun orang yang tinggal di daerah pemukiman masyarakat umumnya (apalagi sudah ada ronda dan satpam) maka hukum memelihara anjing pada kondisi demikian tidak boleh. Sehingga perkataan beliau ini bukanlah legalisasi memelihara anjing di rumah. [Simak rekaman kajian beliau untuk tafsir surat Al Kahfiy pertemuan ke-8 menit ke 22-27]

 

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply