Tafsir Surat Al Kahfi (11)

29 Nov

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Tafsir Surat Al Kahfi (11)

 

Segala puji yang disertai pengagungan seagung-agungnya hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala dan perendahan diri kita yang serendah-rendahnya hanya kita berikan kepadaNya Robbul ‘Alamin yang telah menurunkan Al Qur’an sebagai petunjuk. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam, istri-istri Beliau, Keluarganya, para Sahabatnya dan ummat Beliau yang senantiasa meniti jalannya dengan baik hingga hari kiamat.

Pada edisi kali ini kita akan melanjutkan pembahasan edisi sebelumnya.

[Tafsir Surat Al Kahfi ayat 14]

Allah Subhana wa Ta’ala berfirman,

 

وَرَبَطْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُونِهِ إِلَهًا لَقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًا (14)

“Dan Kami meneguhkan hati mereka di atas kebenaran diwaktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata, “Robb (Tuhan) kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi. Kami sekali-kali tidak menyembah Sesembahan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran”. (QS. Al Kahfi [18] : 14)

Firman Allah Subhana wa Ta’ala (وَرَبَطْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ) ‘‘Dan Kami meneguhkan hati mereka’’ yaitu kami akan menetapkan, meneguhkan, menguatkan dan kami akan menjadikannya ikatan. Hal ini disebabkan karena mayoritas kaumnya atau masyarakat sekitar mereka berkeyakinan yang menyelisihi keyakinan mereka yang benar. Sedangkan sesuatu yang berbeda dari kebanyakan orang memerlukan keteguhan hati[1], terlebih lagi karena mereka adalah para pemuda. Betapa banyak pemuda yang terpengaruh perkataan yang dikatakan orang tuanya, semisal dikatakan padanya ‘kamu telah berbuat ingkar’. Akan tetapi Allah meneguhkan hati mereka. Ya Allah teguhkanlah hati kami.

Firman Allah ‘Azza wa Jalla (إِذْ قَامُوا) “diwaktu mereka berdiri” yaitu ketika mereka mengajak untuk bertauhid dan berlepas diri dari sesembahan yang disembahkan kebanyakan masyarakat mereka. Penulis Tafsir Jalalain Rohimahumallah mengatakan, “Firman Allah (إِذْ قَامُوا) yaitu ketika mereka berdiri di hadapan raja mereka dan mereka diperintahkan untuk sujud kepada berhala-berhala kaumnya”[2].

Firman Allah ‘Azza wa Jalla (رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ) “Robb (Tuhan) kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi”. Robb dalam ayat ini bukanlah hanya terbatas pada Robb si Fulan dan Fulan saja bahkan yang dimaksud adalah Robb seluruh langit dan bumi. Dia adalah Allah Subhana wa Ta’ala Pemilik, Pencipta dan Pengatur seluruh langit dan bumi. Karena Robb merupakan salah satu dari ‘Asma’ul Husna yang maknanya Yang Maha Pencipta, Pemilik dan Pengatur. Dunia dan segala isinya pasti akan ada akhirnya. Boleh jadi anda dipanjangkan umurnya maka anda akan menemui ketuaan atau umur anda pendek sehingga anda lebih dahulu didatangi maut. Namun walaupun anda mendapatkan umur yang panjang sehingga menemui masa tua namun pasti anda juga akan didatangi maut.

Semua manusia telah mengetahui bahwa dia pasti akan mati, cepat atau lambat. Karena tidak ada obat bagi ketuaan. Akan tetapi merupakan sebuah nikmat dari nikmat-nikmat Allah Subhana wa Ta’ala manusia dijadikan lupa hal ini[3]. Akan tetapi orang-orang yang lupa akan hal ini diantara mereka ada yang lupa karena menyibukkan diri mereka di atas keta’atan kepada Allah[4] dan ada yang lupa karena kesibukan dunia mereka.

Firman Allah Subhana wa Ta’ala (السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ) “Seluruh langit dan bumu”. Yaitu langit yang jumlahnya tujuh lapis demikian juga bumi yang jumlahnya tujuh lapis. Hal sebagaimana terdapat dalam banyak nash. Namun kesempatan kali ini bukanlah tempat untuk menyebutkan dalilnya.

Firman Allah ‘Azza wa Jalla (لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُونِهِ إِلَهًا) “Kami sekali-kali tidak menyembah Sesembahan selain Dia”. Yaitu kami tidak akan menyembah/beribadah baik itu dalam bentuk do’a ibadah (ibadah keta’atan secara umum) dan do’a mas’alah (do’a dalam istilah orang awam di negara kita)[5] kepada selain Allah. Maka pengikraran terhadap Tauhid Rububiyah (bahwasanya Allah adalah satu-satunya Dzat Yang Pencipta, Pemilik dan Pengatur alam semesta) mengharuskan adanya pengakuan akan Tauhid Uluhiyah (bahwasanya yang berhak diibadahi hanyalah Allah ‘Azza wa Jalla). Tauhid Rububiyah dalam ayat ini ada pada potongan (رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ) “Robb (Tuhan) kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi”. Sedangkan Tauhid Uluhiya ada pada potongan ayat (لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُونِهِ إِلَهًا) “Kami sekali-kali tidak menyembah Sesembahan selain Dia”.

Firman Allah Subhana wa Ta’ala (لَقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًا) “sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran”. Kalimat ini memiki tiga penguatan makna (taukid), pertama huruf lam, kedua kata (قَدْ) ‘sungguh’ dan ketiga adanya sumpah yang ditunjukkan adanya huruf lam (وَاللهِ لَقَدْ قُلْنَا….).

Firman Allah Subhana wa Ta’ala (إِذًا شَطَطًا) “yang amat jauh dari kebenaran”. Yaitu jika kami mengakui Tauhid Rububiyah namun mengingkari Tauhid Uluhiyah maka hal ini sungguh perkataan yang amat jauh dari kebenaran dan sangat dekat dengan kekufuran.

 

***

[diterjemahkan secara bebas dengan penambahan catatan kaki sebagai faidah dari Kitab Tafsir Surat Al Kahfi oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin hal. 26-28 terbitan Dar Ibnul Jauzi Riyadh, KSA]

 

Aditya Budiman bin Usman

-yang mengharap ampunan Robbnya-



[1] Guru kami Ustadz Aris Munandar hafidzahullah mengatakan, “Ini merupakan sebuah kaidah kejiwaan”.

[2] Lihat Tafsir Jalalain hal. 205 dengan Tahqiq Syaikh Shofiyyur Rohman.

[3] Dikatakan demikian karena dilupakan dari musibah merupakan sebuah kenikmatan. Sedangkan kematian merupakan musibah bagi seseorang.

[4] Hal ini merupakan sebab seseorang dapat melupakan kematian yang baik.

[5] Ashl atau dasar dari do’a mas’alah adalah do’a ibadah, karena pada do’a mas’alah ada perendahan diri yang serendah rendahnya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Sebaliknya di dalam do’a ibadah ada kandungan do’a mas’alah karena setiap orang yang beribadah (dengan benar) pasti mengaharapkan pahala dari Allah Subhana wa Ta’ala.

Tulisan Terkait

Leave a Reply