Tafsir Surat Al Kahfi (10)

24 May

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Tafsir Surat Al Kahfi (10)

Segala puji yang disertai pengagungan seagung-agungnya hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala dan perendahan diri kita yang serendah-rendahnyanya hanya kita berikan kepadaNya Robbul ‘Alamin yang telah menurunkan Al Qur’an sebagai petunjuk. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam, istri-istri Beliau, Keluarganya, para Sahabatnya dan ummat Beliau yang senantiasa meniti jalannya dengan baik hingga hari kiamat.

Pada edisi kali ini kita akan melanjutkan pembahasan edisi sebelumnya.

[Tafsir Surat Al Kahfi ayat 13]

Allah Subhana wa Ta’ala berfirman,

 نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آَمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى (13)

“Kemudian Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk”. (QS. Al Kahfi [18] : 13)

Sebaik-baik perkataan adalah perkataan yang terkandung padanya ilmu, terdapat padanya penjelasan dan kejelasan maksud. Karena Kalam Allah Tabaroka wa Ta’ala terkandung padanya  4 hal yaitu ilmu, kebenaran, kejelasan maksud dan tujuan.

Firman Allah Subhana wa Ta’ala (نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ) ‘Kemudian Kami kisahkan kepadamu (Muhammad)’, Allah ‘Azza wa Jalla mengisahkan sebuah kisah yang paling sempurna dan terbaik. Karena pada kisah tersebut terdapat 4 hal :

[1]. Ilmu

[2]. Kebenaran

[3]. Dengan perumpaan yang paling fasih dan jelas

[4]. Dengan keinginan/tujuan yang terbaik. Allah tidaklah menginginkan dengan kisah yang Dia kisahkan kepada para hambanya agar mereka sesat, mendzolimi mereka bahkan tujuannya adalah untuk memberikan petunjuk bagi mereka dan menegakkan keadilan.

 

Firman Allah Ta’ala (نَحْنُ), ‘Kami’, jika ada yang bertanya bukankah Allah ‘Azza wa Jalla adalah Dzat Yang Maha Esa ?

Maka jawabannya, benar Allah adalah Dzat Yang Maha Esa. Akan tetapi juga tidak diragukan lagi juga bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Agung dan cara pengungkapan Bahasa Arab jika sesuatu yang tunggal mengatakan dirinya sendiri dengan sebutan/penggunaan kata jama’ maka hal itu menunjukkan bahwa ia adalah sesuatu yang agung. Sebuah hal yang diketahui bersama bahwa tidak ada Dzat yang lebih agung melainkan Allah ‘Azza wa Jalla. Demikianlah sehingga anda akan mendapatkan bahwa raja-raja atau para pemimpin jika dia ingin menyampaikan sebuah keputusan peraturan maka mereka akan mengatakan, “Kami Fulan bin Fulan memerintahkan ini dan itu”. Kesimpulannya setiap dhomir atau kata ganti jama’ yang disandarkan kepada Allah maka maksudnya adalah pengagungan.

Firman Allah Subhana wa Ta’ala (نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ) kami akan bacakan kepadamu (نَبَأَهُمْ) khabar/cerita tentang mereka (بِالْحَقِّ) yaitu dengan benar sesuai dengan kenyataan yang terjadi.

Firman Allah Ta’ala (إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آَمَنُوا بِرَبِّهِمْ) ‘Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka’. (فِتْيَةٌ) adalah pemuda, namun mereka memiliki kekuatan tekad, kekuatan fisik dan kekuatan iman.

Firman Allah Ta’ala (وَزِدْنَاهُمْ هُدًى) ‘Kami tambah pula untuk mereka petunjuk’. Allah Subhana wa Ta’ala akan menambahkan bagi mereka petunjuk karena Allah akan menambahkan petunjuk bagi orang-orang yang mencari petunjuk/ilmu. Maka setiap kali anda mengamalkan ilmu yang telah anda miliki maka Allah akan tambahkan petunjuk yaitu ilmu selanjutnya. Demikianlah hidayah dapat bertambah dan berkurang sebagaimana iman.

***

[Diringkas dari Kitab Tafsir Surat Al Kahfi oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin hal. 25-26 terbitan Dar Ibnul Jauzi Riyadh, KSA]

 

Aditya Budiman bin Usman

-yang mengharap ampunan Robbnya-

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply