Tafsir Surat Al Ashr Part 1

13 Oct

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Tafsir Surat Al Ashr Part 1

Alhamdulillah wa Sholatu wa Salamu ‘alaa Rosulillah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam.

Surat Al Ashr merupakan salah satu surat yang mayoritas ummat Islam menghafalnya bahkan surat ini mungkin termasuk surat yan sering kita baca atau kita dengar dibacakan imam. Oleh sebab itu sudah selayaknya kita mengetahui dan memahami tafsir surat ini. Kemudian setelah itu dapat kita amalkan isi kandungannya.

Allah Subhana wa Ta’ala berfirman,

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآَنَ

“Maka apakah mereka tidak mentadabburi Al Qur’an”. (QS. An Nisa [4] : 82).

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dalam surat Al Ashr,

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)

Artinya :

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”. (QS. Al Ashr [103] : 1-3).

 

Keistimewaan Surat Ini

Ibnu Katsir Rohimahullah menukil ucapan Imam Syafi’i Rohimahullah tentang surat ini,

‘Imam Syafi’i Rohimahullah berkata, “Seandainya manusia mentadabburi surat ini niscaya itu sudah mencukupi mereka”[1].

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah mengatakan,

“Maksudnya cukup bagi mereka sebagai peringatan, dorongan untuk berpegang pada iman, amal sholeh, berdakwah kepada Allah dan sabar atas hal tersebut. Maksudnya bukanlah bahwa surat ini cukup bagi seluruh manusia dalam hal pensyari’atan. Melainkan cukup bagi mereka sebagai peringatan. Oleh sebab itu setiap orang yang berakal jika dia tahu bahwa dia dalam sebuah kerugian kecuali bila dia memiliki keempat shifat yang disebutkan ini maka dia akan segera berusaha semaksimal kemampuannya agar memiliki keempat shifat tersebut agar dia terbebas dari kerugian”[2].

Ringkasnya surat yang mulia ini berisi 4 shifat agar tidak merugi. Apabila kita merenungkannya dengan benar tentu wejangan yang ada pada keempat shifat ini akan menjadi sebab kita selamat dari kerugian baik dalam menjalani kehidupan dunia maupun akhirat. Allahu a’lam.

 

Tafsir Ringkas

Huruf waw pada ayat ayat pertama ini merupakan huruf qosam/sumpah sebagaimana diketahui dalam kesusastraan Arab.

Para ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan apa yang dimaksud dengan Al Ashr pada surat ini. Syaikh Musthofa Al Adawiy Hafizhahullah mengatakan,

“Para ulama memiliki beberapa pendapat terkait yang dimaksud dengan al ashr, berikut kami sebutkan ringkasannya :

Pertama : yang dimaksud dengan al ashr adalah kata benda untuk seluruh waktu/ zaman.

Kedua : yang dimaksud dengan al ashr adalah malam dan siang hari.

Ketiga : yang dimaksud dengan al ashr adalah umur manusia.

Keempat : yang dimaksud dengan al ashr adalah waktu pagi dan sore/senja hari.

Kelima : yang dimaksud dengan al ashr adalah waktu ashar yaitu waktu sholat ashar.

Keenam : yang dimaksud dengan al ashr adalah sholat ashar sebab sholat ashar ini adalah sholat wushto/ pertengahan menurut jumhur ulama.

Ketujuh : yang dimaksud dengan al ashr adalah zaman Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam.

Kedelapan : yang dimaksud dengan al ashr adalah waktu setelah tergelincir matahari hingga terbenamnya.

Kesembilan : yang dimaksud dengan al ashr adalah umum semua yang disebutkan termasuk di dalam pengertian al ashr yang dengannya Allah bersumpah”[3].

Pendapat terakhir inilah yang dinilai benar oleh Syaikhnya Mufassir Ibnu Jarir Ath Thobari Rohimahullah.

 

Sisi hikmah Allah Subhana wa Ta’ala bersumpah dengan Al Ashr

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah mengatakan,

“Allah bersumpah dengan al ashr sebab padanyalah terjadinya berbagai keadaan, berbolak baliknya berbagai perkara, perputaran waktu diantara manusia dan lain-lain yang dapat kita saksikan sekarang ini dan diceritakan pada kita di masa lalu. Maka al ashr dialah zaman, waktu, masa yang padanyalah makhluk mengalami kehidupan, beragamnya waktu mereka ada yang sempit ada yang lapang, ada yang perang/mencekam, ada yang damai, sehat dan sakit, amal sholeh dan amal buruk dan seterusnya sebagaimana kita ketahui bersama”.

Intinya waktu, zaman, masa adalah sesuatu yang sangat-sangat berharga bagi manusia. Disanalah mereka merasakan seluruh kehidupannya baik yang baik ataupun yang buruk. Bahkan kita dapati banyak orang rela menukar apapun yang dimilikinya asalkan dapat membeli waktu. Dan Allah Subhana wa Ta’ala tidaklah bersumpah atas nama makhluk Nya melainkan makhluk tersebut merupakan suatu yang sangat berharga. Allahu a’lam.

 

“Firman Allah Ta’ala (إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ) ‘Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian’. Huruf (إِنَّ) merupakan salah satu huruf tawkid[4] yang berfungsi sebagai penguat makna.

Firman Allah (الْإِنْسَانَ) ‘Manusia’ pada ayat ini maksudnya umum sebagaimana disebutkan dalam Tatimmu Adwa’il Bayaan[5] bahwa (الْإِنْسَانَ) merupakan isim mufrod namun huruf alif dan lam pada kata ini merupakan alif lam jinsiyah sehingga maknanya umum sehingga termasuk di dalam kata manusia ini seluruh manusia baik yang muslim maupun yang kafir kecuali orang-orang yang dikecualikan Allah Ta’ala. Sebagian ulama lain menyebutkan bahwa yang dimaksud manusia dalam ayat ini bersifat khusus yaitu orang-orang kafir. Namun pendapat pertama lebih kuat.

Pendapat ini juga dikuatkan oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah[6]. Beliau menyebutkan setiap alif lam pada kata (الْإِنْسَانَ)  Al Insan yang dapat digantikan dengan kata (كُلُّ) kullu maka yang dimaksudkan adalah manusia secara umum.

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah mengatakan,

“Makna ayat yang mulia ini, Allah telah bersumpah dengan sebuah sumpah tentang kondisi manusia bahwasanya seluruh manusia berada dalam kerugian. Yaitu kerugian yang banyak pada setiap keadaan mereka di dunia dan akhirat kecuali orang-orang yang Allah ‘Azza wa Jalla kecualikan. Kalimat ini memiliki 3 tawkid/ penegasan. Yang pertama pada adanya sumpah, kedua pada huruf (إِنَّ) inna ‘sesungguhnya’ dan yang ketiga ada pada huruf lam tawkid. Allah menyebutkan dengan lafazh (لَفِي خُسْرٍ) agar lebih tegas maknanya dibandingkan lafazh (لَخَاسِر). Pada penggunaan huruf (فِي) fi zhorfiyah memberikan makna seakan-akan seluruh manusia tenggelam dalam kerugian. Kerugian dalam jumlah besar yang meliputi berbagai sisi[7].

Intinya jika kita termasuk manusia, siapa pun kita, maka kita terancam dalam kerugian yang amat banyak terkait perkara dunia maupun akhirat kecuali mereka yang memiliki pengecualian yang Allah kecualikan. Pengecualian tersebut adalah 4 shifat yang akan disebutkan pada ayat selanjutnya. Allahu a’lam.

bersambung insya Allah…………….

 

Bersama kedua anak tercinta, Syifa dan Hudzaifah

Selesai Ashar, 23 Muharrom 1439 H, 13 Oktober 2017 M

Aditya Budiman bin Usman bin Jubir

[1] Lihat Tafsir Ibnu Katsir hal. 479/VIII terbitan Dar Thoyyibah, Riyadh, KSA.

[2] Lihat Tafsir Juz ‘Amma karya Syaikh Muhammad bin sholel Al ‘Utsaimin Rohimahullah hal. 317 terbitan Dar Tsuroya, Riyadh, KSA

[3] Lihat At Tashilu Li Ta’wilil Tanziil Tafsir Juz ‘Amma hal. 528-529/II terbitan  Maktabah Makkah, Mesir.

[4] Lihat Mulakhosh Qowa’idil Lughoh Al ‘Arobiyah oleh Fu’ad Ni’mah hal. 39 terbitan Darul Tsaqofah Al Islamiyah, Beirut.

[5] Hal. 494/II.

[6] Lihat Tafsir Juz ‘Amma hal. 311-312.

[7] Idem hal 312.

Tulisan Terkait

Leave a Reply