Tafsir Nabi tentang Lafadz Al Qur’an dan Hadits

29 May

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Tafsir Nabi tentang Lafadz Al Qur’an dan Hadits

Segala puji yang disertai pengagungan seagung-agungnya hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala dan perendahan diri kita yang serendah-rendahnyanya hanya kita berikan kepadaNya Robbul ‘Alamin yang telah menurunkan Al Qur’an sebagai petunjuk. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam, istri-istri Beliau, Keluarganya, para Sahabatnya dan ummat Beliau yang senantiasa meniti jalannya dengan baik hingga hari kiamat.

Seiring semakin dekatnya masa kita ke masa akhir zaman, semakin sidikit pula ulama yang benar-benar mengikuti manhajnya para Nabi ‘Alaihimussalam dan para sahabat Rodhiyallahu ‘anhum. Maka banyak sekali kita dengar, baca, saksikan orang-orang yang tidak bertanggung jawab merusak pemahaman ummat seputar risalah agama yang telah dibawa Nabi yang mulia Shollallahu ‘alaihi wa Sallam. Yang lebih menyedihkan lagi sebagian dari kita menganggap orang semisal ini adalah orang yang layak dijadikan ulama bahkan serendah-rendahnya mendapat gelar cendikiawan muslim di negara yang kita cintai ini.

Untuk itulah sebagai bentuk keinginan baik kami kepada diri kami, keturunan kami dan saudara kami kaum muslimin, kami ketengahkan sebuah kaidah yang benar-benar lurus dan salah satu kaidah pokok dalam memahami agama ini. Kaidah tersebut adalah “Lafadz-lafadz yang ada di Al Qur’an dan Sunnah Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam jika telah dijelaskan dari Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam tidak butuh istidlal lagi dari ahli Sastra (‘Arab –ed) dan selainnya”.

Kaidah ini adalah kaidah yang disampaikan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rohimahullah ketika menjelaskan hakikat iman dan islam serta perselisihan pendapat manusia tentangnya.

Beliau Rohimahullah mengatakan,

“Diantara perkara yang harus diketahui bahwa lafadz-lafadz yang ada di dalam Al Qur’an dan Hadits, jika telah diketahui maknya berdasarkan penjelasan Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam tidak membutuhkan istidlal dari perkataan ahli sastra (‘Arab –ed) dan selainnya. Oleh karena itulah para ulama fikih mengatakan, ‘Kata/ismun itu adalah tiga jenis. [1]. Kata yang diketahui pengertiannya menurut syari’at, seperti sholat dan zakat. [2]. Kata yang diketahui pengertiannya secara bahasa/sastra, semisal matahari dan rembulan. [3]. Kata yang diketahui maknanya berdasarkan al ‘urf (kebiasaan) semisal kata ma’ruf/baik dalam firman Allah Ta’ala,

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

Dan pergauliah mereka (istri-istrimu) dengan ma’ruf/baik/patut”. (QS. An Nisa’ [4] : 19)

Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Abbas Rodhiyallahu ‘anhuma bahwa beliau berkata,

‘Metode menafsirkan Al Qur’an ada 4. [1]. Tafsir dengan apa yang dipahami Bangsa ‘Arab, [2]. Tafsir yang seseorang tidak teranggap apabila ia tidak tahu, [3]. Tafsir yang diketahui para ulama dan [4]. Tafsir yang Allah semata yang tahu dan barang siapa yang mengklaim dia bisa menafsirkan jenis yang ketiga ini maka ia telah berdusta’.

Maka kata sholat, zakat, puasa, haji dan yang lain-lain serta elah dijelaskan Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam tentang apa yang Allah dan rosulNya inginkan.  Demikian juga lafadz khomer. Jika seandainya ada seseorang yang menafsirkan maknanya bukan dengan yang dijelaskan Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam maka tafsirannya tidak diterima. Adapun pembahasan seputar etimologinya dan sisi pendalilannya maka ini adalah bagian dari ilmu bayan. Sebab hukum yang merupakan tambahan ilmu dan penjelasan hikmah lafadz-lafadz Al Qur’an. Akan tetapi pengertian yang dimaksud dengan makna lafadz tersebut bukanlah terbatas pada makna secara etimologi, sebab dan hikmahnya. Diantara lafadz yang dijelaskan maknanya oleh Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam dengan penjelasan yang tidak membutuhkan istidlal dengan selainnya adalah lafadz iman, islam, nifaq dan kufur. Maka wajib mengembalikan pengertiannya kepada penjelasan Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam. Karena penjelasan yang beliau ajarkan adalah penjelasan yang tinggi dan cukup menyeluruh”[1].

Mudah-mudahan bermanfaat.

[Terinspirasi dari Kitab Qowaa’idul Hissan min Kalami Syaikh Al Islam Ahmad bin Taimyah oleh Syaikh DR. Muhammad ‘Abdul ‘Aziz Al Musnid hal. 49-50 terbitan Dar ‘Ashimah, Riyadh, KSA]

 

Aditya Budiman bin Usman

-yang mengharap ampunan Robbnya-



[1] Majmu’ Fataawa hal. 286/VII.

 

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply