Tafsir Dari Kelaziman/Konsekwensi Lafadz Al Qur’an

21 Apr

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Tafsir Dari Kelaziman/Konsekwensi Lafadz Al Qur’an

Alhamdulillah wa Sholatu wa Salamu ‘alaa Rosulillah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam.

Syaikh ‘Abdur Rohman bin Nashir As Sa’di Rohimahullah mengatakan,

Tafsir Dari KelazimanKonsekwensi Lafadz Al Qur'an 1

“Sebagaimana ahli tafsir Al Qur’an memperhatikan makna yang ditunjukkan oleh lafazh, muthobaqoh[1], yang termasuk dalam tadhommunnya[2], maka wajib juga memperhatikan kelaziman/konsekwensi dan hal yang diinginkan oleh makna-makna tersebut yang tidak terlihat shorih/jelas pada lafazhnya”.

Tafsir Dari KelazimanKonsekwensi Lafadz Al Qur'an 2

“Kaidah ini adalah diantara kaidah tafsir yang agung dan paling bermanfaat. Kaidah ini sangat membutuhkan kuatnya fikiran, baiknya perenungan makna dan niat yang benar. Karena Dzat yang menurunkan Al Qur’an adalah Dzat Yang Maha Mengetahui segala sesuatu, yang ilmu Nya meliputi apa yang ada di dalam hati, hal-hal yang terkandung dalam makna, yang menyertainya, yang mendahuluinya ataupun yang tawaqquf. Berdasarkan sebab inilah para ulama sepakat benarnya pendalilan secara iltizam/konsekwensi[3]”.

Tafsir Dari KelazimanKonsekwensi Lafadz Al Qur'an 3

“Cara yang ditempuh pada kaidah yang bermanfaat ini adalah hendaklah anda memahami makna-makna yang ditunjukkan lafazh. Jika anda telah memahaminya dengan baik selanjutnya fikirkanlah perkara yang hal tersebut tercegah atasnya, tidak terlaksana tanpanya dan perkara yang menjadi syarat baginya. Demikian juga fikirkanlah hal-hal yang berakibat padanya dan hal yang menjadi cabangnya serta yang seharusnya ada padanya. Kemudian anda teruslah memikirkan hal-hal ini hingga anda memiliki penguasaan/naluri yang bagus untuk menyelami makna-makna yang tersirat. Karena sesungguhnya Al Qur’an merupakan sebuah kebenaran, kelaziman/konsekwensi dari kebenaran merupakan kebenaran pula. Hal-hal yang tawaqquf pada kebenaran merupakan sebuah kebenaran dan hal-hal yang merupakan cabang dari kebenaran merupakan kebenaran pula. Maka barangsiapa yang memahami, berdiri di atas metode ini dan Allah berikan berikan padanya taufik serta cahaya pemahaman maka akan terbukalah baginya ilmu-ilmu yang bermanfaat dan pengetahuan yang mulia”[4].

 

Bingung ? Maaf mungkin kami kurang bagus menerjemahkan ucapan Syaikh As Sa’di Rohimahullah. Buat yang masih bingung mari kita pertajam dengan contoh yang beliau Rohimahullah bawakan.

Tafsir Dari KelazimanKonsekwensi Lafadz Al Qur'an 4

“Kami akan berikan contoh kaidah ini untuk memperjelasnya. Diantaranya adalah pada Asma’ul Husnaa, Ar Rohman Ar Rohim. Maka sesungguhnya nama Allah ini dari lafazhnya menunjukkan shifat dan betapa luasnya rohmah/kasih sayang Nya. Jika anda telah memahami bahwa shifat Rohmah Allah ini tidak ada satu makhlukpun serupa dengannya, shifat ini merupakan shifat yang pasti Allah miliki dan sesungguhnya shifat Rohmah Allah ini dirasakan seluruh makhluk serta tidak ada yang luput darinya walaupun dalam satu kedipan mata. Maka anda akan mengetahui sesungguhnya shifat Rohmah ini juga menunjukkan kesempurnaan shifat Hidup Allah, Qudroh Nya, Ilmu Nya yang meliputi segala sesuatu, pasti terwujudnya setiap kehendak Nya, sempurnanya Hikmah Nya karena semua shifat tersebut tergantung pada shifat Rohmah Allah.

Kemudian berdasarkan adanya shifat Rohmah Allah yang luas maka dapat kita tetapkan pula bahwasanya syari’at/ketentuan Allah merupakan cahaya dan bentuk kasih sayang Allah pada Hamba Nya. Oleh karena itu Allah Ta’ala dalam banyak ayat menyatakan bahwa alasan penetapan hukum syari’at disebabkan Rohmah/kasih sayang Allah dan kebaikan dari Nya. Karena hal itu merupakan konsekwensi dan dampak darinya”[5].

Tafsir Dari KelazimanKonsekwensi Lafadz Al Qur'an 5

“Contoh lainnya adalah Firman Allah Ta’ala,

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا

“Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian agar menunaikan amanat kepada orang yang berhak menerimanya”. (QS. An Nisaa’ [4] : 58)

Jika anda telah mampu memahami bahwasanya Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan untuk menunaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, maka anda dapat berdalil dengan ayat ini untuk menetapkan wajibnya menjaga amanah, tidak menyia-nyiakannya, tidak lalai dan berlebihan atasnya. Karena sesungguhnya tidak akan tercapai sempurna penunaian amanat kepada orang yang berhak menerimanya melainkan dengan hal-hal tersebut”[6].

 

Masih banyak contoh yang dibawakan oleh Syaikh ‘Abdur Rohman As Sa’di Rohimahullah. Namun kami kira contoh di atas cukup dan silakan anda kembangkan dengan contoh di atas. Allahu Ta’ala a’lam.

 

 

Sigambal, Menjelang Subuh

1 Rojab 1436 H, 20 April 2015 M

[1] Muthobaqoh/adekusi (دلالة المطابقة) adalah tinjauan dari seluruh bagian makna kata termasuk makna kata itu sendiri/tunggal (أفراد) nya.

[2] Tadhommun/inklusi (دلالة التضمن) adalah tinjaun lafadz/kata atas sebagian makna yang terkandung di dalamnya. Atau dengan kata lain tinjauan makna kata itu sendiri.

[3] Iltizam/konsekwnsi adalah tinjauan lafadz/kata atas makna diluar makna asalnya namun makna tersebut merupakan konsekwensi/sebuah kemestian dari makna lafadz/kata yang dimaksud

[4] Lihat Al Qowaa’idul Hisaan oleh Syaikh ‘Abdur Rohman bin Nashir As Sa’di Rohimahullah hal. 34 terbitan Dar Ibnul Jauziy, Riyadh, KSA.

[5] Idem hal. 35.

[6] Idem.

 

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply