Sebab Pertumpahan Darah Pertama

17 Aug

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Sebab Pertumpahan Darah Pertama

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Hari ini semangat kemerdekaan demikian berkobar-kobar di negeri kita. Di balik peristiwa besar yang terjadi di masa lalu. Ada sebuah nikmat yang wajib kita syukuri hingga hari ini yaitu rasa aman. Walaupun perlahan rasa aman ini semakin tergerus namun sekali lagi masih patut kita syukuri.

Diantara rasa aman yang masih dapat kita rasakan pada saat ini adalah masih terlindungi jiwa kita. Terkait dengan hal ini tahukah anda sebab terjadinya perenggutan jiwa pertama sekali di muka bumi ini ? Mari simak goresan berikut.

Allah Subhana wa Ta’ala berfirman,

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آَدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآَخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

“Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan qurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil), “Aku pasti membunuhmu”. Berkata (Habil), “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa”. (QS. Al Maidah [5] : 27)

Ibnu Katsir Rohimahullah,

Sebab Pertumpahan Darah Pertama 1

“Allah Ta’ala menjelaskan kepada kita tentang bahaya, akibat buruk dari penganiayaan, iri hati dan zholim pada kisah tentang permusuhan dua putra kandung Nabi Adam ‘alaihissalam. Jumhur/mayoritas ulama berpendapat nama kedua putra tersebut adalah Habil dan Qobil. Salah satunya membunuh saudaranya karena dorongan ingin menganiayanya dan karena iri hati terhadapnya, disebabkan Allah menganungrahkan nikmat kepadanya dan menerima qurbannya yang ikhlas kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Maka beruntunglah pihak yang terbunuh dengan gugurnya dosa dan masuk surga. Sebaliknya merugilah pihak yang membunuh dan kembali dengan seluruh kesengsaraan di kehidupan dunia dan akhirat”[1].

Maka lihatlah betapa buruknya iri hati. Iri hati menjadi sebab terjadinya pembunuhan pertama di muka bumi dan dilakukan oleh saudara kandung sendiri !!

Lantas apa itu iri hati atau hasad ?

Ibnul Qoyyim Rohimahullah mengatakan,

Sebab Pertumpahan Darah Pertama 2

“Pokok iri hati adalah benci terhadap nikmat Allah yang ada pada orang yang diirihatikan diiringi dengan harapan hilangnya nikmat tersebut darinya. Orang yang iri hati tidak suka terhadap nikmat. Iri ini merupakan keburukan yang bersumber dari jiwa pelaku dan sudah menjadi tabi’atnya. Iri bukan disebabkan sesuatu yang berasal dari orang lain bahkan iri berasal dari buruknya dan kejinya jiwa”[2].

Syaikhul Islam Ahmad bin Abdul Halim Rohimahullah mengatakan,

Sebab Pertumpahan Darah Pertama 3

Kesimpulannya iri hati adalah benci, tidak suka terhadap hal baik yang ada pada orang yang diirikan. Iri hati ada dua jenisnya. Pertama benci terhadap nikmat yang ada pada diri orang yang diirikan secara mutlak. Ini merupakan jenis iri yang tercela. Ketika seseorang membenci hal tersebut maka sesungguhnya dia tersakiti dan terganggu dengan adanya sesuatu yang dia benci. Sehingga hal ini menjadi penyakit di hatinya. Dia akan senang dengan hilangnya nikmat dari orang tersebut walaupun dia sendiri tidak mendapatkan manfaat darinya. Namun dia merasa mendapatkan manfaat dengan hilangnya nikmat tersebut dari orang[3].

#Maka mari merdekakan diri kita dari sifat dan karakter buruk dan merusak diri dan orang lain ini.

Kita memohon kepada Allah Robb Pemilik Arsy Yang Agung agar Allah menghindarkan diri kita dari iri hati dan akibat buruk iri hati.

 

Setelah ‘Ashar, 2 Dzul Qo’dah 1436 H bertepatan dengan 17 Agustus 2015

Aditya Budiman bin Usman.

[1] Idem hal. 81-82/III.

[2] Lihat Dzammul Hasad wa Ahlihi oleh Ibnu Qoyyim hal. 17 terbitan Darul ‘Ammar, Amman,Yordan.

[3] Lihat Amrodul Quluub wa Syifa’uhaa oleh Ahmad bin Abdul Halim hal. 31 terbitan Dar Imam Ahmad, Kairo, Mesir.

 

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply