Sebab dan Akibat Menjadi Teman Dekat Syaihton

14 Jun

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Sebab dan Akibat Menjadi Teman Dekat Syaihton

Segala puji yang disertai pengagungan seagung-agungnya hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala dan perendahan diri kita yang serendah-rendahnyanya hanya kita berikan kepadaNya Robbul ‘Alamin yang telah menurunkan Al Qur’an sebagai petunjuk. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam, istri-istri Beliau, Keluarganya, para Sahabatnya dan ummat Beliau yang senantiasa meniti jalannya dengan baik hingga hari kiamat.

Adalah sebuah hal yang kita ketahui bersama bahwa teman dekat atau karib merupakan seseorang yang sangat spesial/istimewa bagi seseorang. Namun bagaimana jika yang menjadi teman dekat kita/karib kita adalah syaithon ? Untuk itulah kami bahaskan secara ringkas sebab yang dapat menjadikan syaithon menjadi teman dekat seseorang dan akibatnya agar kita dapat menjauhkan diri kita darinya.

Allah Subhana wa Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ (36) وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ (37) حَتَّى إِذَا جَاءَنَا قَالَ يَا لَيْتَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ بُعْدَ الْمَشْرِقَيْنِ فَبِئْسَ الْقَرِينُ (38) وَلَنْ يَنْفَعَكُمُ الْيَوْمَ إِذْ ظَلَمْتُمْ أَنَّكُمْ فِي الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ (39)

“Barangsiapa yang ya’syu dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Quran), kami jadikan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk. Sehingga apabila orang-orang yang berpaling itu datang kepada kami (di hari kiamat) dia berkata: “Aduhai, semoga (jarak) antaraku dan kamu seperti jarak antara masyrik dan maghrib, maka syaitan itu adalah sejahat-jahat teman (yang menyertai manusia)”. (Harapanmu itu) sekali-kali tidak akan memberi manfaat kepadamu di hari itu karena kamu telah menganiaya (dirimu sendiri). Sesungguhnya kamu bersekutu dalam azab itu.” (QS. Az Zukhruf [43] : 36-39)

Al Imam Abul Fida’ ‘Isma’il bin ‘Amr bin Katsir asy Syafi’i Rohimahullah atau yang dikenal dengan sebutan Ibnu Katsir Rohimahullah mengatakan,

يقول تعالى: { وَمَنْ يَعْشُ } أي: يتعامى ويتغافل ويعرض، { عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ } والعشا في العين: ضعف بصرها. والمراد هاهنا: عشا البصيرة، { نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ } كقوله: { وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا } [النساء: 115]، وكقوله: { فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ } [الصف: 5]، وكقوله: { وَقَيَّضْنَا لَهُمْ قُرَنَاءَ فَزَيَّنُوا لَهُمْ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَحَقَّ عَلَيْهِمُ الْقَوْلُ فِي أُمَمٍ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِمْ مِنَ الْجِنِّ وَالإنْسِ إِنَّهُمْ كَانُوا خَاسِرِينَ } [فصلت:25]؛

Allah Ta’ala berfirman, (وَمَنْ يَعْشُ) maksudnya barangsiapa yang pura-pura buta, pura-pura lupa dan berpaling (عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ) dari dzikr kepada Ar Rohman[1], (العشا في العين) kebutaan pada mata artinya seseorang lemah penglihatannya namun yang dimaksud dalam ayat ini adalah buta terhadap hujjah yang nyata. Firman Allah Ta’ala (نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ) artinya kami jadikan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya/teman akrab. Firman Allah ini semisal firmanNya dalam ayat yang lain,

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali”. (QS. An Nisa’ [4] : 115)

Sebagaimana firman Allah Ta’ala juga

فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ

“Maka tatkala hati mereka berpaling dari kebenaran maka Allah akan palingkan hati-hati mereka dari petunjuk”. (QS. Ash Shof [61] : 5)

Sebagaimana firman Allah Ta’ala juga

وَقَيَّضْنَا لَهُمْ قُرَنَاءَ فَزَيَّنُوا لَهُمْ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَحَقَّ عَلَيْهِمُ الْقَوْلُ فِي أُمَمٍ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِمْ مِنَ الْجِنِّ وَالإنْسِ إِنَّهُمْ كَانُوا خَاسِرِينَ

Dan Kami tetapkan bagi mereka teman-teman dekat (dari kalangan Syaithon[2]) yang menjadikan mereka memandang bagus apa yang ada di hadapan (hal-hal yang berhubungan dengan dunia dan mengikuti hawa nafsu yang buruk[3]) dan di belakang mereka (hal-hal yang berhubungan dengan akhirat dengan mengatakan tidak ada hari hisab dan kebangkitan[4]) dan tetaplah atas mereka keputusan azab pada umat-umat yang terdahulu sebelum mereka dari jinn dan manusia, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang merugi”. (QS. Fushilat [41] : 25)

ولهذا قال هاهنا: { وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ . حَتَّى إِذَا جَاءَنَا } أي: هذا الذي تغافل عن الهدى نقيض له من الشياطين من يضله، ويهديه إلى صراط الجحيم. فإذا وافى الله يوم القيامة يتبرم بالشيطان الذي وكل به، { قَالَ يَا لَيْتَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ بُعْدَ الْمَشْرِقَيْنِ فَبِئْسَ الْقَرِينُ } [أي: فبئس القرين كنت لي في الدنيا]

[ولما كان الاشتراك في المصيبة في الدنيا يحصل به تسلية لمن شاركه في مصيبته، كما قالت الخنساء تبكي أخاها:

ولَوْلا كثرةُ الباكين حَوْلي … عَلَى قَتْلاهم لقتلتُ نَفْسي …

وما يَبْكُون مثلَ أخي ولكن … أُسَلِّي النفسَ عنه بالتأسِّي …

قطع الله بذلك بين أهل النار، فلا يحصل لهم بذلك تأسي وتسلية ولا تخفيف] . (6)

ثم قال تعالى: { وَلَنْ يَنْفَعَكُمُ الْيَوْمَ إِذْ ظَلَمْتُمْ أَنَّكُمْ فِي الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ } أي: لا يغني عنكم اجتماعكم في النار واشتراككم في العذاب الأليم.

Oleh karena itulah Allah berfirman dalam ayat ini,

وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ . حَتَّى إِذَا جَاءَنَا

“Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk[5]. Sehingga apabila orang-orang yang berpaling itu datang kepada kami (di hari kiamat)…..”.(QS. Az Zukhruf [43] : 37-38)

Maksudnya inilah yang membuat mereka pura-pura lupa dari petunjuk dan kami jadikan syaithon (yang menyesatkan) dan mengajaknya menuju jalan-jalan neraka jahim. Ketika Allah mendatangkan hari kiamat secara tiba-tiba ditetapkan mereka bersama syaithon yang mereka jadikan sebagai teman dekat dahulu.

Firman Allah Ta’ala,

قَالَ يَا لَيْتَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ بُعْدَ الْمَشْرِقَيْنِ فَبِئْسَ الْقَرِينُ

Dia berkata, “Aduhai, semoga (jarak) antaraku dan kamu (syaithon) seperti jarak antara masyrik/timur dan maghrib/barat, maka syaitan itu adalah sejahat-jahat teman (yang menyertai manusia)”.(QS. Az Zukhruf [43] : 38)

Yaitu seburuk-buruk teman dekatku dahulu di dunia.

Disebabkan kebersamaan dalam kemaksiatan ketika di dunia akan menghasilkan hiburan bagi orang yang bersamanya dalam kemaksiatan. Sebagaimana al khonsa’ (sapi betina) mengatakan ketika menangisi saudaranya,

Kalaulah bukan karena banyaknya tangisan di sekelilingku…

                                Terhadap pembunuhan mereka maka aku akan membunuh diriku sendiri….

Aku tidak akan menangis semisal tangisan saudaraku…

                                Aku berusaha menghibur diriku dengan sebuah hiburan….

Allah telah tetapkan hal itu bagi orang-orang merupakan ahli neraka. Sehingga (nanti di akhirat) tidak akan ada hiburan bagi mereka lagi tidak pula peringanan adzab. Lalu Allah Ta’ala melanjutkan firmanNya,

وَلَنْ يَنْفَعَكُمُ الْيَوْمَ إِذْ ظَلَمْتُمْ أَنَّكُمْ فِي الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ

“(Harapanmu itu) sekali-kali tidak akan memberi manfaat kepadamu di hari itu karena kamu telah menganiaya (dirimu sendiri). Sesungguhnya kamu bersekutu dalam azab itu”.(QS. Az Zukhruf [43] : 39).

Maksudnya tidaklah benmanfaat bagi kalian (pada saat itu/hari kiamat) kebersamaan kalian di dalam neraka dan kebersamaan kalian dalam adzab yang pedih.

[Disadur dan diberikan penambahan seperlunya dari kitab Tafsir Qur’anul Adzim oleh Ibnu Katsir tahqiq Syaikh Sami Bin Muhammad Salamah hal. 288/VII terbitan Dar Thoyyibah, Riyadh, KSA]

Sigambal, Setelah Subuh 24 Rajab 1433 H/ 14 Juni 2012 M

Aditya Budiman bin Usman

-yang mengharap ampunan Robbnya-



[1] Ibnul Qoyyim mencantumkan dalam kitabnya tentang seputar makna dzikr dan Allahu a’lam ini adalah penjelasan yang sangat bagus berikut kami kutipkan pekataan beliau Rohimahullah,

“Allah ‘Azza wa Jalla  berfirman :

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (QS : Thaha [20] : 124)

Beliau Rohimahullah mengatakan makna  وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي  : “Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, adalah dari adz dzikr yang diturunkannya. Kata ذِكْرِ Adz dzikr dalam ayat ini merupakan mashdar (kata benda yang dibentuk dari kata kerja) yang disandarkan kepada fa’il (pelaku suatu kata kerja), seperti قِيَامِيْ (berdiriku) dan bukanlah penyandaran kepada maf’ul (objek suatu kata kerja) sehingga maknanya bukanlah “Barangsiapa yang berpaling dari berdzikir kepadaku”.

Penjelasan yang paling baik tentang makna Kata ذِكْرِ Adz dzikr dalam ayat ini adalah idhofah/penyandaran kepada nama/asma’ dan bukannlah makna idhofah mashdar kepada objek-objeknya/ma’mulaatnya, sehingga maknanya adalah : “Barangsiapa yang berpaling dari Kitabku dan tidak mengikutinya”, karena Al Qur’an disebut sebagai adz dzikr sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla :

وَهَذَا ذِكْرٌ مُبَارَكٌ أَنْزَلْنَاهُ

“Dan Al Quran ini adalah suatu kitab (adz dzikr/peringatan) yang mempunyai berkah yang telah Kami turunkan.”. (QS : Al Anbiya [21] : 50)

Sehingga jelaslah bagi kita tafsir tentang apa yang yang dimaksud oleh kata adz dzikr dalam surat Thaha ayat 124 bukanlah sekadar berpaling dari berdzikir kepada Allah akan tetapi maknanya dan konsekwensinya jadi lebih luas lagi yaitu Kitabullah dan ittiba’ kepadanya. (Penjelasan ini diringkas dari Miftah Daris Sa’adah wa Mansyur Walayata Ahlil ‘Ilmi wal Irodah hal. 204-205 Dar Ibnu ‘Affan, Kairo, Mesir, Cet. Pertama 1425 H [2004 M]. Allahu A’lam bish Showab.)

[2] Lihat Tafsir Jalalain hal. 490 terbitan Darus Salam Riyadh, KSA.

[3] Idem.

[4] Idem.

[5] Syaikh ‘Abdur Rohman As Sa’di Rohimahullah mengatakan, “Disebabkan Syaithon telah menghiasi dan menganggap baik kebathilan untuk mereka sehingga berpalinglah mereka dari kebenaran lalu berkumpullah mereka dalam kemaksiatan”.(Lihat Taisir Karimir Rohman hal. 732 terbitan Dar Ibnu Hazm, Lebanon)

Tulisan Terkait

Leave a Reply