Pelajaran Mendidik Anak Dari Kisah Nabi Yusuf

12 Aug

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Pelajaran Mendidik Anak Dari Kisah Nabi Yusuf

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Sering kita mendengar kalimat ‘mendidik anak itu harus ada seninya’. Benar memang, mendidik anak itu gampang-gampang susah. Kalau kita biarkan berbahaya namun kalau terlalu keras juga salah. Demikian juga sering sekali muncul pertikaian antar anak karena orang tua tidak mampu menghadirkan kenyamanan sesama anak.

Berikut akan kita nukilkan kisah Nabi Yusuf bersama ayah dan saudaranya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

إِذْ قَالُوا لَيُوسُفُ وَأَخُوهُ أَحَبُّ إِلَى أَبِينَا مِنَّا وَنَحْنُ عُصْبَةٌ إِنَّ أَبَانَا لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

“Yaitu ketika mereka berkata, “Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya lebih dicintai oleh ayah kita dari pada kita sendiri, padahal kita (ini) adalah satu golongan (yang kuat). Sesungguhnya ayah kita dalam kekeliruan yang nyata”. (QS. Yusuf [12] : 8)

Syaikh ‘Abdur Rohman bin Nashir As Sa’diy Rohimahullah mengatakan[1],

Pelajaran Mendidik Anak Dari Kisah Nabi Yusuf 1

“Diantara faidah kisah ini faidah kisah ini sesungguhnya wajib diperhatikan oleh setiap orang agar berbuat adil diantara anak-anaknya. Seyogyanya baginya jika dia mencintai salah seorang anak-anaknya dibanding yang lainnya agar dia menyembunyikan (kelebihan) cintanya itu sekuat mungkin. Demikian juga janganlah dia mengutamakan kelaziman cinta itu dengan lebih mengutamakan sang anak dalam suatu hal dibandingkan yang lainnya. Karena itu lebih dekat untuk memperbaiki keadaan anak-anak, berbuat baik kepada mereka dan menjaga kesatuan mereka”.

Pelajaran Mendidik Anak Dari Kisah Nabi Yusuf 2

Oleh sebab itulah ketika Ya’qub menampakkan kecintaan lebihnya yang sangat terhadap Yusuf dibandingkan anak-anaknya yang lain ditambah lagi dia tidak menahan perasaannya dan menyibukkan dirinya dengan yang lain. Maka mereka pun berusaha melakukan perkara yang berbahaya yaitu memisahkan Yusuf dari ayah mereka. Mereka mengatakan (sebagaimana Allah abadikan dalam Firman Nya),

إِذْ قَالُوا لَيُوسُفُ وَأَخُوهُ أَحَبُّ إِلَى أَبِينَا مِنَّا وَنَحْنُ عُصْبَةٌ إِنَّ أَبَانَا لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ. اقْتُلُوا يُوسُفَ أَوِ اطْرَحُوهُ أَرْضًا يَخْلُ لَكُمْ وَجْهُ أَبِيكُمْ وَتَكُونُوا مِنْ بَعْدِهِ قَوْمًا صَالِحِينَ

“Yaitu ketika mereka berkata, “Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya lebih dicintai oleh ayah kita dari pada kita sendiri, padahal kita (ini) adalah satu golongan (yang kuat). Sesungguhnya ayah kita dalam kekeliruan yang nyata. Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia kesuatu daerah (yang tak dikenal) supaya perhatian ayahmu tertumpah kepada kalian saja, dan sesudah itu hendaklah kalian menjadi orang-orang yang baik”. (QS. Yusuf [12] : 8-9)”

Pelajaran Mendidik Anak Dari Kisah Nabi Yusuf 3

Maksudnya/ringkasnya :

Sesungguhnya motif yang mendorong saudara Yusuf terhadap apa yang mereka lakukan adalah sikap membeda-bedakan Ya’qub terhadap Yusuf. Bersamaan dengan itu maka tidak halal baginya perkara yang buruk ini. Merekapun tahu kalau perbuatan mereka tidak boleh mereka kerjakan. Namun mereka mengatakan, ‘Lakukanlah kejahatan besar ini lantas nanti setelahnya kalian bertaubat kepada Allah”.

 

25 Syawwal 1436 H / 10 Agustus 2015 M

Aditya Budiman bin Usman

[1] Lihat Badai’ul Fawaaid Al Muntanbathoh min Qishoti Yusuf ‘alaihissalam hal. 53-54 terbitan Maktabah Ar Rusyd, Riyadh, KSA.

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply