Musibah Boleh Jadi Tanda Sayang

2 Jul

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Musibah Boleh Jadi Tanda Sayang

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Dalam hidup dan kehidupan kita, ada kalanya kita diberikan begitu banyak kesenangan. Namun tak jarang pula kesusahan dan musibah menimpa kita. Namun sebagai seorang muslim, kita tentu harus mengembalikan semua permasalahan hidup kita kepada Kitabullah Al Qur’an. Sebab di dalam Al Qur’an terdapat penjelasan segala sesuatu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ

 “Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang bertauhid”.(QS. An Nahl [16] : 89)

Syaikh ‘Abdur Rohman As Sa’diy Rohimahullah (wafat Tahun 1376 H) mengatakan,

في أصول الدين وفروعه، وفي أحكام الدارين وكل ما يحتاج إليه العباد، فهو مبين فيه أتم تبيين بألفاظ واضحة ومعان جلية

“Baik pada perkara ushul (fondasi agama) dan cabangnya (syari’at lainnya), perkara-perkara hukum terkait kehidupan dunia dan akhirat, serta semua hal yang dibutuhkan para hamba Allah. Di dalam Al Qur’an terdapat penjelasan yang jelas, bahkan sempurna dengan lafazh/kata yang jelas dan maknanya agung”[1].

Demikian pula jika ditimpa musibah baik musibah yang berkaitan dengan dunia maupun agama hendaknya seorang muslim memuhasabah/mengkaji dirinya. Bagaimana keta’atannya selama ini, sedang menurun atau bagaimana. Sebab Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabadikan ucapan gambaran kesadaran seorang lelaki yang sholeh kepada kaumnya di Al Qur’an.

إِنْ يُرِدْنِ الرَّحْمَنُ بِضُرٍّ

“Jika (Allah) Yang Maha Pemurah menghendaki kemudhorotan terhadapku”. (QS. Yasin [36] : 23)

Dalam ayat ini dikaitkan antara musibah/ kemudhorotan dan Nama Allah Ar Rohman (Dzat Yang Maha Luas Kasih Sayang-Nya), Syaikh Muhammad bin Sholeh Rohimahullah (wafat Tahun 1421 H) menyebutkan,

“Allah Subhanahu wa Ta’ala boleh jadi menginginkan keburukan namun dalam rangka mashlahat yang amat besar”[2].

Beliau juga mengatakan,

“Maka perbuatan Allah Subhanahu wa Ta’ala seluruhnya karena adanya hikmah dan tujuan yang mulia. Perhatikanlah sakit misalnya. Jika seseorang sakit, maka tentu tidak diragukan lagi bahwa sakit itu merupakan keburukan dari sisi kesehatan orang yang sakit. Namun ketika sehat, orang kurang mampu merasakan nikmatnya sehat. Ketika anda sakit maka anda akan merasakan nikmatnya sehat. Sebagaimana kaidah “Dengan kebalikan sesuatu maka jelaslah sesuatu itu”. Contohnya, anda sekarang mampu bernafas dengan mudah dan lega. Ketika anda makan anda bernafas, ketika anda berbicara anda bernafas, ketika anda berdiri anda bernafas, demikian pula ketika anda berdiri, berbaring anda bernafas. Namun anda tidak merasakannya (sebagai nikmat -pen). Namun seandainya Allah Ta’ala mentakdirkan nafas anda sesak, sehingga anda merasakan sesak ketika bernafas. Ketika itu anda akan mampu merasakan nikmatnya mampu bernafas lega. Kesimpulannya keburukan ini (tidak mampu bernafas) sebenarnya adalah keburukan yang sifatnya nisbi bagi anda”[3].

Yang lebih jelas lagi pada Firman Allah ‘Azza wa Jalla,

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

 “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. (QS. Ar Ruum [30] : 41)

Demikianlah salah satu bentuk kasih sayang Allah kepada kita. Sehingga hendaknya ketika kita merasa diri kita sedang diuji dengan keburukan maka sadarlah bahwa keburukan itu bukanlah keburukan namun sejatinya adalah bentuk kasih sayang kepada Anda bila mampu menyikapi sesuai petunjuk Al Qur’an dan Sunnah Nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallam.

Medan, 29 Syawal 1440 H / 2 Juli 2019 M.

Selepas subuh.

Aditya Budiman bin Usman

[1] Lihat Taisir Karimir Rohman.

[2] Lihat Tafsir Surat Yasin hal. 84 terbitan Dar Tsuroya, Riyadh, KSA.

[3] Idem.

Tulisan Terkait

Leave a Reply