Mencampuradukkan Kebenaran dan Menyembunyikannya

11 Aug

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Mencampuradukkan Kebenaran dan Menyembunyikannya

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Al Qur’an merupakan sebuah mu’jizat terbesar Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa Sallam. Bersamaan dengan itu diantara keistimewaan Al Qur’an adalah tidak ada keraguan sedikitpun padanya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dalam surat kedua, yang sering dibacakan para imam ketika sholat berjama’ah :

اللم . ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ.

“Alif Laam Miim. Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertaqwa”. (QS. Al Baqoroh [2] : 1-2)

Maka sebagai seorang muslim wajib bagi kita meyakini bahwa seluruh isi Al Qur’an adalah sebuah kebenaran mutlak yang tidak boleh ada keraguan sedikitpun padanya.

Namun, bukanlah hal ini yang akan kita bahas melainkan sebuah firman Allah Subhana wa Ta’ala dalam Surat Ali ‘Imron ayat ke-71.

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَلْبِسُونَ الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Wahai Ahlul Kitab, mengapa kalian mencampuradukkan kebenaran dengan kebathilan, dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahuinya?” (QS. Ali ‘Imroon [3] : 71)

Ibnu Katsir Rohimahullah mengatakan,

أي: تكتمون ما في كتبكم من صفة محمد صلى الله عليه وسلم وأنتم تعرفون ذلك وتتحققونه.

“Yaitu mereka menyembunyikan sifat-sifat Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa Sallam yang ada pada kitab-kitab mereka. Padahal mereka mengetahui hal itu dan memastikan kebenaran hal itu”[1].

Artinya orang-orang Yahudi dan Nashrani merupakan orang-orang yang mengetahui akan kebenaran sifat-sifat Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa Sallam dan hal itu ada di dalam kitab-kitab mereka. Namun sayang hal itu tiada berguna sebagai petunjuk bagi mereka bahkan mereka menyembunyikan hal itu.

Pada ayat yang mulia ini Allah Tabaroka wa Ta’ala mengabarkan kepada kita bahwa diantara sifat dan keburukan yahudi dan nashrani adalah menyembunyikan kebenaran dan mencapuradukkan kebenaran dan kebathilan padahal mereka mengetahuinya.

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah mengatakan,

“Meraka (yahudi dan nashrani) memperdaya, menipu dan mempermainkan serta mencampuradukkan kebenaran dan kebathilan dalam kekufuran mereka. Makna dari menyamarkan kebenaran dan kebathilan adalah dengan mencampuradukkan keduanya. Mereka membawakan kebathilan dan menyembunyikan kebenaran. Mereka melakukan hal itu karena apabila mereka menunjukkan/menampakkan kebathilan yang jelas maka tidak akan ada yang mau menerimanya. Akan tetapi mereka membawakan kebathilan tersebut dengan mencampurkannya dengan kebenaran. Dengan tujuan agar kebenaran tersembunyi/menjadi samar bagi orang-orang yang tidak mengerti kebenaran yang sebenarnya. Inilah tipu daya, makar orang-orang yang membawakan kebathilan dan memcampuradukkan kebenaran dengan kebathilan.

Diantara bentuknya adalah seseorang membawakan, mengatakan sebuah ungkapan yang indah namun padanya mengandung kebenaran dan kebathilan. Namun sebenarnya yang diinginkannya adalah kebathilan walaupun orang yang mendengar ungkapan tersebut boleh jadi memaknainya dengan makna yang benar. Maka hal semisal ini juga termasuk menyembunyikan kebenaran dengan kebathilan”[2].

Firman Allah Subhana wa Ta’ala (وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ) “Padahal kamu mengetahuinya”. Mereka orang-orang yahudi dan nashrani mengetahui dua hal yaitu, [1] mereka mengetahui kebenaran dengan jelas dan [2] mereka juga mengetahui bahwa mereka telah mencampuradukkan dan mensamarkan kebenaran dan kebathilan. Bahkan terlebih lagi orang yahudi. Karena mereka telah berbuat maksiat kepada Allah padahal mereka mengetahui bahwa mereka sedang bermaksiat kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Artinya mereka bermaksiat kepada Allah atas bukti yang ada pada mereka”[3].

Diantara faidah[4] dari ayat yang mulia ini adalah :

  1. Sesungguhnya diantara kebiasan orang-orang kafir dari kalangan yahudi dan nashrani adalah mereka membuat makar dan tipu daya kepada kaum muslimin dengan menyembunyikan kebenaran dengan kebathilan.

  2. Wajib mewaspadai mereka karena mereka mencampuradukkan kebenaran dan kebathilan. Jangan tertipu dengan mereka karena mereka membawakan ungkapan yang indah sebagai tipuan. Hal ini jugalah yang ditempu oleh ahlu bid’ah.

  3. Wajibnya menjelaskan kebenaran bagi orang-orang yang mengetahuinya. Berdasarkan Firman Allah Subhana wa Ta’ala,

وَتَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahuinya”.

Adapun orang yang tidak mengetahui kebenaran maka hal itu merupakan udzur yang jelas baginya.

Kemudian ketehuilah bahwasanya menjelaskan kebenaran wajib hukumnya apabila ada hal yang mendorong untuk hal itu (semisal pertanyaan). Hal yang mendorong itu boleh jadi dalam bentuk lisan maqool (semisal pertanyaan) atau boleh jadi dengan lisan haal/keadaan tertentu.

Misalnya dengan lisan maqool, ada seseorang yang bertanya kepada anda apa hukum tentang hal ini dan itu ?

Misalnya dengan lisan haal, masyarakat terjatuh dalam sebuah kemaksiatan, mereka membutuhkan anda menjelaskan hal itu kepada mereka. Maka anda tidak boleh mengatakan, ‘masyarakat tidak datang kepada saya dan bertanya tentang hal itu kepada saya, maka saya tidak wajib menjelaskannya’. Bahkan yang benar adalah anda tetap wajib menjelaskan kebenaran dan tidak menyembunyikannya.

 

Mudah-mudahan bermanfaat.

 

Sigambal, setelah subuh.

9 Romadhon 1435 H / 7 Juli 2014 M / Aditya Budiman bin Usman

 

[1]Lihat Shohih Tafsir Ibnu Katsir hal. 358.

[2]Lihat Tafsir Surat Ali ‘Imroon hal. 403/I terbitan Dar Ibnul Jauziy, Riyadh, KSA.

[3]Idem hal. 403-404/I.

[4]Diringkas dari Tafsir Surat Ali ‘Imroon hal. 404-406/I.

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply