Keberkahan dan Tips Mendapatkannya

22 Feb

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Keberkahan dan Tips Mendapatkannya

Alhamdulillah wa Sholatu wa Salamu ‘alaa Rosulillah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam.

Di sekeliling kita ada orang yang sangat kaya, harta berlimpah, deretan mobil mangkir di garasi rumahnya. Di sekeliling kita juga banyak dapati orang yang sangat miskin. Keadaan yang 180 derajat berbeda dibandingkan dengan orang yang sebelumnya. Demikian pula ada di sekeliling kita orang yang berada di tengah-tengah golongan yang sebelumnya.

Sebenarnya pembeda setiap orang di atas bukanlah kuantitas namun lebih kepada keberkahan yang ada pada diri, makanan dan harta benda mereka.

Lantas apa itu keberkahan ? Bagaimana cara menggapainya ?

Mari simak penuturan berikut.

Makna Berkah

Ar Roghib Al Asfahani Rohimahullah mengatakan[1],

Keberkahan dan Tips Mendapatkannya 1

“Keberkahan adalah tetapnya, langgengnya kebaikan ilahi pada sesuatu”.

Dalam Lisanul ‘Arob[2] disebutkan,

Keberkahan dan Tips Mendapatkannya 2

“Keberkahan adalah berkembang dan bertambah”.

Syaikh DR. Amin ‘Abdullah Asy Syaqowi Hafizhahullah mengatakan,

Keberkahan dan Tips Mendapatkannya 3

“Maka keberkahan tidaklah terdapat pada sesuatu yang sedikit melainkan akan menjadikannya (terasa -pen) banyak. Tidaklah terdapat pada sesuatu yang banyak melainkan kan akan bermanfaat. Sesungguhnya buah yang paling agung dari keberkahan pada segala sesuatu adalah penggunaannya untuk keta’atan kepada Allah ‘Azza wa Jalla[3].

Beliau juga mengatakan,

Keberkahan dan Tips Mendapatkannya 4

“Disebabkan Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam dan para shahabat beliau Rodhiyallahu ‘anhum merupakan orang-orang yang paling konsisten menegakkan ketaqwaan dan konsekwensi dari keta’atan, maka keberkahan yang ada pada mereka lebih besar dan lebih menyeluruh.

 

Diantara Cara Mendapatkan Keberkahan

Pertama, Cara atau sebab terbesar dan yang paling utama adalah dengan bertaqwa dan meningkatkan ketaqwaan. Allah Subhana wa Ta’ala berfirman,

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”.

(QS. Al A’rof [7] : 96)

Ibnu Katsir Rohimahullah mengatakan,

Keberkahan dan Tips Mendapatkannya 5

“Firman Allah Ta’ala (وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوا وَاتَّقَوْا) ‘Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa’ yaitu hati mereka mengimani atas apa yang dibawa para rosul, (lisan) mereka membenarkannya, mengikutinya, bertaqwa dengan melaksanakan berbagai keta’atan dan meninggalkan beragam larangan. (لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ) ‘pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi’. Yaitu berupa hujan dari langit dan ditumbuhkannya berbagai tanaman. Allah Ta’ala berfirman (وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ) ‘tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya’ yaitu akan tetapi mereka mendustakan para rosul maka kami hukum mereka dengan kerusakan atas apa yang mereka perbuat berupa perbuatan dosa dan melanggar larangan Allah”[4].

 

Kedua, Berdo’a memohon keberkahan kepada Allah Ta’ala.

Banyak sekali do’a dari Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam yang berisikan permohonan berkah kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Misalnya do’a kepada pengantin.

بَارَكَ اللَّهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِى خَيْرٍ

“Semoga Allah memberkahimu, memberikan berkahnya atasmu dan mengumpulkan kalian dalam kebaikan”[5].

Demikian pula do’a beliau,

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُمْ فِيمَا رَزَقْتَهُمْ وَاغْفِرْ لَهُمْ وَارْحَمْهُمْ

“Ya Allah berkahilah mereka atas apa yang Engkau rizkikan kepada mereka. Ampunilah mereka dan sayangilah mereka”[6].

Doa lainnya,

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِى مَدِينَتِنَا وَفِى ثِمَارِنَا وَفِى مُدِّنَا وَفِى صَاعِنَا بَرَكَةً مَعَ بَرَكَةٍ

“Ya Allah berkahilah kota kami, buah-buahan kami, mud dan sho’ (ukuran timbangan) kami dengan keberkahan di atas keberkahan”[7].

Ketiga, Mengumpulkan harta dengan cara (hati) yang baik, tanpa melanggar larangan dan terlalu memaksakan kehendak.

Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam berucap kepada Hakim bin Hizam Rodhiyallahu ‘anhu,

يَاحَكِيمُ إِنَّ هذَا الْمَالَ خَضِرَةٌ حُلْوَةٌ، فَمَنْ أَخَذَهُ بِسَخَاوَةِ نَفْسٍ بُورِكَ لَهُ فِيهِ، وَمَنْ أَخَذَهُ بِإِشْرَافِ نَفْسٍ لَمْ يُبَارَكْ لَهُ فِيهِ، كَالَّذِي يَأْكُلُ وَلاَ يَشْبَعُ

“Wahai Hakim, sesungguhnya harta itu hijau (indah) dan manis. Barangsiapa yang mengambilnya dengan jiwa yang lapang[8] maka akan dianugrahi keberkahan. Dan barangsiapa yang mengambilnya dengan jiwa yang rakus, tamak maka tidak akan diberkahi apa yang dia dapat, seperti orang yang makan namun tak pernah kenyang[9][10].

Keempat, Mencarinya dengan kejujuran.

Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِى بَيْعِهِمَا وَإِنْ كَذَبَا وَكَتَمَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا

“Kedua pihak yang bertransaksi jual beli memiliki hak khiyar selama belum berpisah. Apabila keduanya jujur maka transaksi mereka akan diberkahi. Namun apabila keduanya berdusta dan menyembunyikan cacat maka akan dihilangkan keberkahan pada keduanya”[11].

 

Allahu a’lam

 

Selesai Isya, 10 Jumadil Awwal 1437 H, 18 Pebruari 2016 M

Aditya Budiman bin Usman.

[1] Lihat Mu’jam Mufrodat Alfaz Al Qur’an hal. 41.

[2] Lihat Lisanul ‘Arob hal. 265/I.

[3] Lihat Ad Duror Al Muntaqo min Kalimat Al Maqolah hal. 47/I terbitan Maktabah Mulk Fahad, Riyadh

[4] Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim hal. 451/III terbitan Dar Thoyyibah Riyadh.

[5] HR. Tirmidzi no. 1091. Dinilai shohih oleh Al Albani Rohimahullah.

[6] HR. Muslim no. 1773.

[7] HR. Muslim no. 2042.

[8] misal legowo, tidak terlalu ngoyo.

[9] semakin makan semakin rakus dan lapar.

[10] HR. Bukhori no. 1472, Muslim no. 1035.

[11] HR. Bukhori no. 2110, Muslim no. 1532.

 

 

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply