Jika Huruf Istifham Mendahului Huruf Nafi Menunjukkan Penetapan

4 Jun

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Jika Huruf Istifham Mendahului Huruf Nafi Menunjukkan Penetapan

 

Segala puji yang disertai pengagungan seagung-agungnya hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala dan perendahan diri kita yang serendah-rendahnyanya hanya kita berikan kepadaNya Robbul ‘Alamin yang telah menurunkan Al Qur’an sebagai petunjuk. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam, istri-istri Beliau, Keluarganya, para Sahabatnya dan ummat Beliau yang senantiasa meniti jalannya dengan baik hingga hari kiamat.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rohimahullah menyebutkan kaidah di atas ketika menyampaikan seputar bab mengenal Robb Subhana wa Ta’ala. Sesunguhnya setiap manusia pasti mengenal Robb dalam hatinya. Karena pengakuan, pengetahuan/pengenalan terhadap pencipta adalah sebuah hal yang fitrah dan sebuah hal yang doruri/bawaan bagi jiwa manusia. Walaupun sebagian dari manusia ada yang fitrahnya telah rusak sehingga dia membutuhkan pengkajian khusus untuk bisa mengenal Robb.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rohimahullah menyebutkan kisah Fir’aun tentang ucapannya kepada Nabi Musa ‘alaihissalam, “(وَ مَا رَبُّ الْعَالَمِيْنَ ؟) siapakah Robbul ‘Alamin/ Robb Pencipa Alam Semesta ?” kemudian Syaikhul Islam Rohimahullah menjelaskan bahwa kata tanya/pertanyaan fir’aun ini merupakan kata tanya/pertanyaan namun yang dimaksudkan adalah pengingkaran dan bukanlah pertanyaan siapakah Robbul ‘Alamin ?

Demikian juga pertanyaan para utusan Allah (أَ فِيْ اللهِ شَكٌّ ؟) apakah ada keraguan tentang Allah? Ini merupakan istifham taqriri / kata tanya yang berarti penetapan. Berarti bahwa seluruh ummat mengakui tidak keraguan tentang Allah. Karena sesungguhnya huruf istifham/kata tanya jika masuk mendahului huruf nafi/peniadaan maka artinya adalah penetapan/pengakuan. Sebagaimana firman Allah Subhana wa Ta’ala,

أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ

Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu”. (QS. Alam Nashroh [94] : 1)

Dalam ayat yang lain,

أَلَمْ نَجْعَلْ لَهُ عَيْنَيْنِ

Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata”. (QS. Al Balad [90] : 8)

Dalam ayat yang lain,

أَلَمْ يَأْتِهِمْ نَبَأُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ

Belumkah datang kepada mereka berita penting tentang orang-orang yang sebelum mereka”. (QS. At Taubah [9] : 70)

Maka hal ini berbeda dagan kata tanya yang digunakan Fir’aun. Maka yang dikatakan fir’aun adalah istifham/kata tanya yang berarti pengingkaran bukan penetapan[1].

Mudah-mudahan bermanfaat.

[Terinspirasi dari Kitab Qowaa’idul Hissan min Kalami Syaikh Al Islam Ahmad bin Taimyah oleh Syaikh DR. Muhammad ‘Abdul ‘Aziz Al Musnid hal. 73 terbitan Dar ‘Ashimah, Riyadh, KSA]

 

Aditya Budiman bin Usman

-yang mengharap ampunan Robbnya-



[1] Majmu’ Fataawa hal. 340/XVI.

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply