Betapa Tingginya Kandungan Sabda Nabi – 2

23 Feb

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Betapa Tingginya Kandungan Sabda Nabi – 2

Segala puji hanya milik Allah ‘Azza wa Jalla. Sholawat serta salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi was sallam kepada istri-istri beliau dan seluruh sahabatnya Ridwanullah alaihim ajma’in.

Telah berlalu nukilan perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rohimallah seputar hadits Abdullah bin Abu ‘Aufaa Rodhiyallahu ‘anhu. Selanjutnya pada kesempatan ini akan kami nukilkan perkataan Murid Beliau yaitu Ibnul Qoyyim Rohimallah seputar masalah itu dan hadits-hadits yang semisal itu.

Diantara kesempurnaan metode penjelasan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah Beliau mengumpamakan/membuat permisalan hal yang bersifat maknawi dengan sesuatu yang indrawi. Hal ini banyak sekali kita jumpai dalam sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, seperti sabda beliau yang diriwayatkan oleh Muslim dan lain-lain,

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ سَعِيدٍ ، قَالَ : حَدَّثَنَا أَبُو خَالِدٍ ، قَالَ : حَدَّثَنَا شُعْبَةُ ، عَنْ عَاصِمٍ ، عَنْ زِرِّ بْنِ حُبَيْشٍ ، عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : يَا عَلِيُّ ، سَلِ اللَّهَ الْهُدَى وَالسَّدَادَ ، وَاذْكُرْ بِالْهُدَى هِدَايَتَكَ الطَّرِيقَ ، وَالسَّدَادَ تَسْدِيدَكَ السَّهْمَ.

Telah mengabarkan kepada kami Abdullah bin Sa’id, Dia berkata, Telah mengabarkan kepada kami Abu Kholid. Dia mengatakan, Telah mengabarkan kepada kami Syu’bah dari ‘Ashim dari Zir bin Hubaisy dari ‘Ali Rodhiyallahu ‘anhu. Dia mengatakan, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Wahai ‘Ali minta petunjuk dan kebenaran/keteguhan pada kebenaran kepada Allah. Dan Ingatlah petunjuk seperti saat dirimu mendapat petunjuk jalan. Dan Ingatlah kebenaran/keteguhan seperti saat dirimu menempatkan anak panah pada sasarannya[1].

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam memerintahkan kepada ‘Ali untuk meminta petunjuk kepada jalan yang diridhoi Nya dan surga Nya seperti saat dirimu sedang dalam keadaan safar/dalam perjalanan pada saat dirimu dalam keadaan tersesat dan tidak tahu akan menuju ke arah mana. Tiba-tiba datanglah menemuinya seseorang yang yang tahu arah jalan yang harus dia tempuh. Maka dirimu memintanya agar memberitahukan arah yang harus engkau tempuh. Maka demikianlah juga hendaknya dirimu ketika meminta arah/petunjuk untuk menempuh kehidupan akhirat. Bahkan hajat/rasa butuh seorang hamba terhadap permintaan arah/petunjuk berupa hidayah lebih butuh dan agung lagi dari keadaan musafir tersebut.

Demikian juga keadaan kita ketika hendak meminta kebenaran/keteguhan di atas kebenaran baik berupa perkataan dan perbuatan. Maka Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam memisalkannya sebagaimana ketika diri kita yang akan menembakkan anak panah ketika tepat menemui sasaran. Jika panah tersebut tidak tepat pada sasarannya maka pasti ada yang salah pada panahnya. Maka demikian jugalah keadaan orang yang teguh pada kebenaran ia laksana orang yang tepat menembakkan anak panahnya.

Demikian juga Allah Azza wa Jalla telah membuat permisalan dalam Al Qur’an[2]. Bahkan hal ini banyak ditemui dalam Al Qur’an, diantaranya adalah Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa”.

(QS. Al Baqoroh [2] : 197).

Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan orang-orang yang hendak pergi haji untuk mempersiapkan bekal untuk perjalan haji mereka agar mereka tidak berangkat safar untuk menunaikan haji kecuali telah mempersiapkan bekal. Kemudian Allah Azza wa Jalla mengingatkan agar mencari bekal juga untuk menghadapi perjalan akhirat yaitu dengan bekal taqwa. Sebagaimana seseorang tidak akan sampai menuju tempat yang ia tempuh dalam safarnya (di dunia semisal untuk melaksanakan perjalanan haji) kecuali membawa bekal maka demikianlah juga orang yang akan menempuh safar (perjalan) menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala dan negeri akhirat maka ia tidak akan dapat sampai ke tujuan melainkan dengan mempersiapkan bekal yaitu taqwa.

Demikian juga dalam tempat yang lain Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا بَنِي آَدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآَتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْر

“Wahai keturanan Adam, sesungguhnya Kami (Allah) telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik”. (QS. Al A’rof [7] : 26).

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengumpulkan dua pakaian dalam ayat ini yaitu pakaian/perhiasan untuk jasmani (untuk menutup aurat) dan pakaian/perhiasan bagi hati yaitu taqwa. Sebagaimana kita membutuhkan pakaian jasmani untuk menutupi aurat dan tubuh kita. Maka apatah lagi pakaian untuk hati dan kehidupan yang akan datang (yaitu akhirat yang kekal abadi) maka tentulah kita lebih membutuhkannya lagi.

Namun di akhir tulisan ini kami sampaikan kembali perkataan beliau (Ibnul Qoyyim) dalam masalah ini, “Sungguh rahasia ucapan-ucapan dan doa-doa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam (bahkan terlebih lagi firman Allah Subhanahu wa Ta’ala) di atas apa yang kita bayangkan”.

[Diterjemahkan dan disesuaikan gaya penyampaian bahasanya dari Kitab Mawaaridul Amaan Al Muntaqoo min Ighotsatil Lahfan fi Mashoyidisy Syaihthon oleh Ibnul Qoyyim dan ditahqiq oleh Syaikh ‘Ali bin Hasan Al Halabiy hal. 93-94 terbitan Dar Ibnul Jauziy, Riyadh, KSA.]

Mudah-mudahan bermanfaat. Amin

Sigambal di pondok tempat berteduh diriku, istriku dan buah hatiku,

Selepas Isya sebelum tidur,

28 Robi’ul Awal 1433 H/ 21 Februari 2012 M

 

Aditya Budiman bin Usman



[1] Syaikh ‘Ali bin Hasan Al Halabiy hafidzahullah mengatakan, “HR. Ahmad (72/I), Al Humaidy no. 52, An Nasa’i meringkasnya (157/VIII), Muslim no. 2725 dan selainnya.

[2] Bahkan perumpamaan dalam Al Qur’an itu lebih agung kandungannya.

Tulisan Terkait

Leave a Reply