Ayo Baca Tafsir Al Qur’an

22 Jan

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Ayo Baca Tafsir Al Qur’an

 

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Anda sudah baca Al Qur’an hari ini ? Jika ya, alhamdulillah. Pujilah Allah dan bersyukurlah kepada Nya karena masih memberikan hidayah taufiq untuk beramal kepada anda. Tak banyak orang di zaman sekarang yang harinya masih terikat dengan bacaan Al Qur’an. Semakin menua umur dunia, keimanan manusianya pun semakin terkikis berbagai kesibukan yang melalaikan dari beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla Sang Pemilik dunia dan segala isinya.

Saudaraku, Al Imam Abu Zakariyaa Yahya bin Syarof atau yang lebih dikenal dengan Imam Nawawiy Rohimahullah, diantara ulama besar mazhab Syafi’i, pernah menukil sebuah perkataan super dari seorang yang luar biasa.

Beliau menuliskan,

وَعَنْ الحَسَنِ رَحِمَهُ اللهُ قَالَ إِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ رَأَوْا القُرْآنَ رَسَائِلَ مِنْ رَبِّهِمْ فَكَانُوْا يَتَدَبَّرُوْنَهَا بِالْلَّيْلِ وَينْفَذُوْنَهَا فِيْ النَّهَارِ

‘Dari Al Hasan Rohimahullah, beliau berkata, “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian (yaitu para shahabat Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam) melihat, menilai, menganggap Al Qur’an sebagai risalah/surat-surat dari Robb mereka. Maka mereka (para shahabat Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam) mentadabburinya/merenungkan maknanya di waktu malam dan mengamalkannya di waktu siang[1].

Lihat juga ungkapan para shahabat Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam,

Al A’masy juga mengatakan dari Abu Wail dari Ibnu Mas’ud Rodhiyallahu ‘anhu, “Dahulu seseorang dari kalangan kami (para shahabat) jika dia mempelajari/membaca 10 ayat (Al Qur’an) maka dia tidaklah melewatinya melainkan hingga dia memngetahui makna-maknanya (baca tafsirnya –pen) dan beramal dengannya[2].

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rohimahullah menukil atsar semisal dari para shahabat Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam, diantara dari Utsman bin ‘Affan dan selainnya.

“Sesungguhnya mereka (para shahabat) apabila mereka mempelajari 10 ayat Al Qur’an dari Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam maka mereka tidak akan melawatinya begitu saja hingga mereka mempelajari apa yang terkandung darinya berupa ilmu dan amal. Mereka (para shahabat) mempelajari Al Qur’an, ilmu dan amal bersamaan. Oleh karena itulah mereka biasanya menetapkan batas waktu untuk menghafal suatu surat.

Anas Rodhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Jika ada yang mampu membaca (menghafal) surat Al Baqoroh dan Ali Imron maka dia memiliki kedudukan yang terhormat di mata kami”[3].

Dari atsar-atsar ini kita dapat ketahui bahwa para shahabat adalah orang-orang yang sering membaca Al Qur’an. Mereka pun merupakan orang-orang yang paling paham makna/ tafsir Al Qur’an setelah Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam. Selanjutnya mereka juga merupakan orang-orang yang paling semangat dalam merealisasikan, mengimplementasikan apa yang telah mereka ketahui dari makna dan kandungan Al Qur’an yang mereka baca.

Beliau Rohimahullah  juga mengatakan[4],

“Termasuk diantara perkara yang yang sudah diketahui bersama bahwasanya setiap ucapan, maksud utamanya adalah pemahaman akan makna-maknanya bukan hanya (mengucapkan -pen) lafazh-lafazhnya semata. Jika demikian tentulah Al Qur’an lebih layak untuk itu (dipahami maknanya –pen). Demikian pula secara adat, tidak ada orang yang membaca salah satu dari cabang ilmu misalnya kedokteran, matematika namun tidak tanpa mencari penjelasannya. Maka Bagaimana pula dengan Kalam Allah (Al Qur’an), yang dia merupakan sesuatu yang akan menjaga mereka, dengannyalah keselamatan dan kebahagiaan mereka, dengannya pula tegak urusan agama dan dunia mereka ?!”

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah mengatakan[5],

“Tidaklah benar jika ada yang mengatakan bahwa sesungguhnya (dalam hal ini -pen) Al Qur’an berbeda dengan buku-buku tersebut (selain Al Qur’an -pen). Sebab bila seseorang membacanya (saja) maka dia akan mendapatkan pahala. Namun (yang benar –pen) bahwa Al Qur’an memiliki dua sisi pandangan, [1] sisi penghambaan diri atau ibadah, [2] sisi mengamalkan dan merelasasikan isinya. (Jika semata membaca –pen) maka yang terlaksana adalah sisi pertama saja yaitu seseorang beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan membaca Al Qur’an. Namun sisi keduanya yang merupakan tujuan diturunkannya Al Qur’an tidak terlaksana oleh orang-orang yang tidak paham makna Al Qur’an dan tidak dapat mengambil petuah dengannya. Firman Allah Ta’ala,

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آَيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran (peringatan) orang-orang yang mempunyai fikiran”. (QS. Shod [38] : 29)”.

 

Kesimpulannya

Ketika kita sudah mulai sering membaca atau bahkan menghapalkan Al Qur’an, maka sudah selayaknya dan sepatutnya kita juga membarengi diri dengan mempelajari tafsirnya dari para shahabat dan para ulama yang mengikuti cara beragama mereka dengan baik. Diantara kitab tafsir yang banyak direkomendasikan dan menjadi rujukan para ulama ahlu sunnah wal jama’ah adalah Tafsir Al Qur’anul ‘Azhim atau yang lebih populer dengan nama Tafsir Ibnu Katsir. Atau yang lebih besar lagi tafsirnya pemimpin ahli tafsir, Tafsir Ibnu Jarir Ath Thobari. Atau mungkin bagi anda yang ingin bahasa sederhana dan ringkas dapat membaca Taisir Karimir Rohman atau dikenal dengan Tafsir As Sa’di. Jika ingin bahasa yang ringan maka silakan baca Tafsir Al Qur’an Al Karim karya Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah. Allahu a’lam

Ayo semangat baca tafsir.

 

Sigambal, 25 Robi’ul Akhir 1439 H / 12 Januari 2018 M ||

 

Aditya Budiman bin Usman

[1] Lihat At Tibyan fii Adaab Hamalat Al Qur’an oleh An Nawawiy dengan tahqiq Abu ‘Abdullah Ahmad bin Ibrohim Abul ‘Aynaiyn hal. 67 terbitan Maktabah Ibnu ‘Abbas Kairo, Mesir.

[2] Lihat Tafsir Ibnu Katsir hal. 8/I terbitan Dar Thoyyibah, Riyadh, KSA.

[3] Syarh Muqoddimah At Tafsir hal. 21-22 terbitan Madarul Wathon, Riyadh, KSA.

[4] Idem hal. 25.

[5] idem.

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply