3 Faidah Agung Menjaga Pandangan

25 Jul

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

3 Faidah Agung Menjaga Pandangan

Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala Semoga sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita, Nabi akhir zaman Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam.

Salah satu ajaran mulia dalam islam adalah menundukkan pandangan bahkan ia diperintahkan Allah ‘azza wa jalla kepada orang-orang yang beriman dari hamba-hambanya, dan ini menunjukkan mulianya apa yang diperintahkan, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ  

“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman[1], “Hendaklah mereka menundukkan pandanganya, dan menjaga kemaluannya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. (QS : An Nuur [24] : 30).

 

Pada ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala mendahulukan penyebutan menundukkan pandangan dari pada menjaga kemaluan, maka hal ini menunjukkan pentingnya menundukkan pandangan sebagai sarana untuk membersihkan hati dari penyakit-penyakit yang dapat merasuk ke dalamnya, setelah itu barulah hati itu dapat tumbuh dan berkembang dengan diberi makanan hati yang berupa amal keta’atan sebagaimana badan yang juga butuh makanan agar dapat tumbuh dan berkembang.

Dia adalah Sebuah Hal yang Pasti Terjaga…!!

20 Jul

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dia adalah Sebuah Hal yang Pasti Terjaga…!!

Segala puji yang disertai pengagungan seagung-agungnya hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala dan perendahan diri kita yang serendah-rendahnyanya hanya kita berikan kepadaNya Robbul ‘Alamin. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam.

Pada kesempatan kali ini kami ingin sedikit mengingatkan kita tentang suatu perkara yang amat penting yang merupakan sebuah pondasi dasar dalam islam yaitu keterjagaan sunnah/hadits Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam.

Hal ini kami anggap penting untuk dikemukakan karena sebagian orang punya pemahaman bahwa kita tidak butuh sunnah/hadits Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam cukup dengan Al Qur’an saja. Atau ada perkataan lain semisal sunnah/hadits Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam sudah banyak yang dipalsukan jadi tidak bisa dijadikan pegangan lagi sekarang..!??! Atau perkataan yang amat sangat buruk sekali yang semisal ini.

Untuk itulah kami memandang perlu menukilkan penjelasan ringkas dalam masalah ini dari para ulama ahlus sunnah. Ayat atau dalil yang kami bawakan di sini mungkin sudah pernah kita baca namun belum kita tadabburi dengan baik.

Jika Mereka Takut padanya….

14 Jul

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Jika Mereka Takut padanya….

Segala puji yang disertai pengagungan seagung-agungnya hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala dan perendahan diri kita yang serendah-rendahnyanya hanya kita berikan kepadaNya Robbul ‘Alamin. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam.

Sudah menjadi sebuah hal yang kita ketahui bersama bahwa ketakukan, harapan dan rasa cinta kita terhadap sesuatu tentu ada sebabnya. Sebagaimana seorang yang budak takut kepada tuannya yang mana rasa takutnya ini mengakibatkan dirinya mampu menahan diri dari melakukan perbuatan yang dibenci dan dilarang tuannya. Demikian juga harapan dan terlebih lagi cinta. Walaupun sebagian orang tidak memiliki alasan yang kuat tentang rasa takut yang di alaminya, semisal rasa takut yang dimiliki seseorang terhadap suasana gelap padahal ia di dalam tempat yang aman semisal rumahnya. Maka takut yang demikian ini adalah rasa takut yang tercela.

Namun ingin kami ketengahkan disini adalah takut terhadap suatu yang lebih besar dari pada kehilangan harta, istri, anak atau bahkan nyawa. Yang mana sebagaian kita terkadang demikian takutnya akan kehilangan hartanya, bahkan yang lebih sepele dari pada itu semisal takut tidak punya teman lagi gara-gara belajar agama, rasa takut ditinggal pacar[1] dan seterusnya…wal iyadzu billah !

Takut yang agung dan terpuji tersebut adalah takut akan terjatuh, tergelincir dalam perkara yang paling berbahaya bagi seorang hamba yaitu kesyirikan. Bagaimana tidak ku katakan demikian…bukankah dua Nabi yang juga merupakan rosul dan kekasih Allah ‘azza wa jalla demikian takutnya terhadap hal ini….!!

Seorang Hamba, Diantara Dosa dan Ta’at

10 Jul

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Seorang Hamba, Diantara Dosa dan Ta’at

Segala puji yang disertai pengagungan seagung-agungnya hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala dan perendahan diri kita yang serendah-rendahnyanya hanya kita berikan kepadaNya Robbul ‘Alamin. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam.

Para pembaca, semoga Allah senantiasa melimpahkan hidayahNya kepada kita, judul yang ada di atas merupakan keadaan yang seorang hamba tidak bisa lepas darinya, keadaan seorang hamba hanya berputar-putar dalam lingkaran tersebut. Jika ia sedang tidak berada dalam keta’atan maka ia akan berada dalam kemaksiatan. Dimana jika ia berada dalam keta’atan maka ketahuilah hal itu adalah sebuah nikmat yang teramat agung yang ia wajib untuk disyukuri. Jika ia sedang tidak dalam keadaan ini maka ia dalam keadaan berbuat dosa yang ia dituntut untuk bertaubat dan meminta ampunan kepada Pemilik dirinya dan Pemilik seluruh alam semesta yaitu, Allah ‘azza wa jalla.

Ada bergitu banyak tulisan Ibnu Qoyyim Al Jauziyah mengenai hal yang demikian diantaranya adalah apa yang akan kami nukilkan terjemahannya sebagai berikut mudah-mudahan bermanfaat bagi kami dan pembaca sekalian.

Beliau rohimahullah mengatakan[1],

Diantara (perwujudan shifat Hikmah Allah Subhanahu wa Ta’ala) jika Dia menginginkan kebaikan pada hambaNya maka Allah akan buat hambaNya tersebut lupa melihat keta’atan yang telah ia kerjakan[2]. Allah akan angkat hal tersebut dari hati dan lisannya. Jika Allah timpakan baginya musibah berupa dosa yang ia kerjakan di masa lalu maka ia manjadikan musibah yang berupa dosa tersebut selalu berada di pelupuk matanya, ia akan selalu mengingat-ingatnya[3] dan ia melupakan keta’atan yang ia kerjakan di masa lalu. Hal yang selalu ada di benaknya adalah ingatan akan dosa-dosanya yang telah berlalu. Maka bayangan berupa ingatan akan betapa dosa-dosanya yang telah lalu tersebut selalu ada di pelupuk matanya, tatkala ia berdiri maka yang ada di benaknya adalah betapa dosa-dosanya yang telah berlalu, tak kata ia duduk maka yang ada di benaknya adalah betapa dosa-dosanya yang telah berlalu demikian seterusnya tatkala ia pergi ke suatu tempat ataupun ketika ia sedang beristirahat maka yang ada di benaknya adalah betapa dosa-dosanya yang telah berlalu. Maka keadaan jiwanya yang demikian ini sesungguhnya telah menjadi rahmat Allah padanya. Hal ini sebagaimana yang dikatakan sebagaian salaf,

Kaidah Ketujuh Metode Al Qur’an dalam Penetapan Kenabian Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam

10 Jul

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Kaidah Ketujuh  Metode Al Qur’an dalam Penetapan Kenabian Muhammad  shallallahu ‘alaihi was sallam

Kaidah ini merupakan kaidah yang sangat agung yang allloh shallallahu ‘alaihi was sallam menetapkannya dalam KitabNya dengan berbagai metode yang  sehingga dengannya dapat diketahui kebenaran Rasulullah  shallallahu ‘alaihi was sallam secara sempurna. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan bahwa Beliau shallallahu ‘alaihi was sallam membenarkan para rasul sebelumnya, menyerukan apa yang diserukan para rasul sebelumnya. Demikian juga seluruh kebaikan yang ada pada rosul terdahulu maka hal itu terkumpul dalam diri Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam demikian juga seluruh sifat buruk dan sifat yang kurang mulia/ sifat yang naqis yang para Nabi tersucikan darinya maka Rasulullah  shallallahu ‘alaihi was sallam adalah orang yang paling awal dan paling layak tersucikan dari sifat-sifat tersebut.  Demikian juga Allah beritakan bahwasanya syari’at yang beliau shallallahu ‘alaihi was sallam bawa merupakan syari’at yang menghakimi syari’at terdahulu dan kitab yang Beliau bawa adalah kitab yang menghakimi kitab-kitab sebelumnya. Maka semua kebaikan dalam agama-agama dan dalam kitab-kitab terdahulu telah terkumpul dalam agama ini (islam, pent.) dan kitab ini (Al Qur’an, pent.). Bahkan agama dan kitab yang beliau bawa merupakan yang tertinggi dengan kebaikan-kebaikan dan sifat-sifat yang belum terdapat dalam kitab-kitab dan agama-agama sebelumnya. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menetapkan bahwasanya Beliau shallallahu ‘alaihi was sallam adalah benar-benar NabiNya dengan Allah jadikan Beliau shallallahu ‘alaihi was sallam sebagai orang yang tidak bisa membaca dan menulis dan tidak pernah duduk untuk belajar kitab terdahulu dengan seorang ahli ilmu. Bahkan manusia tidaklah dikagetkan sampai datangnya Beliau dengan membawa Al Qur’an yang seandainya manusia dan jin bersatu untuk mendatangkannya dengan yang semisal, bahkan hal itu di luar kemampuan mereka walaupun mereka saling tolong menolong untuk melakukannya. Sesungguhnya hal tersebut adalah suatu hal yang mustahil jika Al Qur’an itu adalah buatan Beliau sendiri atau Beliau berani mencatut nama Allah (tanpa ada wahyu dari Allah Subhanahu wa Ta’ala pent.)atau salah sangka dengan wahyu yang datang pada Beliau shallallahu ‘alaihi was sallam, Allah ‘azza wa jalla mengulang-ulang metode ini dan menampakkannya dalam Al Qur’an. Allah ‘azza wa jalla juga menetapkan kerasulan Beliau shallallahu ‘alaihi was sallam dengan Beliau dapat mengabarkan kisah-kisah para Nabi yang terdahulu sebagaimana yang sebenarnya secara panjang lebar yang kabar tersebut tidak ada ada seorangpun yang meragukannya. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala kabarkan bahwasanya tiada cara bagi Beliau shallallahu ‘alaihi was sallam untuk mendapatkan berita tersebut kecuali wahyu dari Allah ‘azza wa jalla sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika menyebutkan kisah Nabi Musa ‘Alahis Salam secara panjang lebar,

Tazkiyatun Nufus, Salah Satu Misi Pengutusan Nabi

6 Jun

Para pembaca yang semoga dimuliakan oleh Allah, sesungguhnya penyucian hati/tazkiyatun nufus, pembersihan jiwa dari kotoran-kotoran yang ada padanya merupakan salah satu hal penting yang karena Allah Ta’la mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menegaskan hal ini dalam kitabNya yang Mulia,

كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولًا مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آَيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ

“Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui”. (QS : Al Baqoroh [2] :151).

Namanya, Menunjukkan Dahsyatnya

25 May

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Namanya, Menunjukkan Dahsyatnya

Para Pembaca, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa melimpahkan hidayah ilmu dan hidayah amal kepada kita. Hari qiyamat merupakan sebuah hal yang diakui oleh akal dan fitroh manusia, demikian juga ia merupakan hal yang dijelaskan oleh kitab suci yang Allah ‘azza wa jalla turunkan (kitab samawiyah). Ia juga merupakan hal yang didakwahkan para Nabi dan Rosul ‘alaihimush sholatu was salam[1].

Demikian menjadi sebuah keharusan bagi kaum mukminin untuk mengimani hari qiyamat bahkan ia adalah salah satu rukun iman yang disebutkan dalam hadits yang amat terkenal, yaitu hadits Jibril ‘alaihis salam ketika beliau bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam tentang islam, iman ihsan dan hari akhir,

قَالَ فَأَخْبِرْنِى عَنِ الإِيمَانِ. قَالَ « أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ ». قَالَ صَدَقْتَ.

Jibril bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam, “Beritahukanlah aku apa itu iman? Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam menjawab, “(Iman adalah) Engkau beriman kepada Allah, para malaikatNya, kitab-kitabNya, para utusanNya, hari akhir (qiyamat) dan engkau beriman pada qodho’ dan qodar yang baik dan buruk”[2].

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyebutkan demikian banyak nama hari qiyamat untuk menunjukkan betapa agung/tingginya perkara tersebut sebagai peringatan kepada para hambaNya agar mereka takut akan datangnya hari tersebut[3]. Tentu saja takut yang dimaksudkan di sini adalah takut yang berbuah amal.

Maka untuk menambah pengetahuan kita akan hal yang amat penting ini kami nukilkan sebagian nama-nama hari qiyamat beserta dalilnya dan alasan yang dikemukan para ulama mengapa hari tersebut dinamakan dengan nama tersebut. Dengan harapan akan menambah iman kita dengan bertambahnya ilmu kita tentangnya dan amal kita untuk bertemu dengannya.

Diantara nama-nama[4] hari qiyamat adalah :

[1.]   As Sa’ah (السَاعَةُ  ), dalilnya adalah firman Allah ‘Azza wa Jalla ,

إِنَّ السَّاعَةَ لَآَتِيَةٌ لَا رَيْبَ فِيهَا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يُؤْمِنُونَ

“Sesungguhnya As Sa’ah (السَاعَةُ ) yaitu hari qiyamat[5] benar-benar akan terjadi, tidak ada keraguan tentangnya, akan tetapi kebanyakan manusia tiada beriman terhadapnya. (QS : Al Mukmin [40] :59).

Hari qiyamat disebut As Sa’ah (السَاعَةُ  ) karena singkat/cepatnya waktu terjadinya hisab pada hari itu atau karena hari qiyamat mandatangi manusia dengan tiba-tiba, ketika itu mahluk mati hanya dengan sekali tiupan (sangkakala)[6].