Inilah Warisan Buatku dan Buatmu

24 Nov

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Inilah Warisan Buatku dan Buatmu

Segala puji yang disertai pengagungan seagung-agungnya hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala dan perendahan diri kita yang serendah-rendahnyanya hanya kita berikan kepadaNya Robbul ‘Alamin. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam.

Mungkin diantara kita banyak yang sudah rajin mengaji, mempelajari agama. Namun tak jarang pula dari yang sekian banyak itu mengalami sindrom futur/malas di tengah menuntut ilmu.

Maka untuk mengingatkan diriku dan dirimu wahai saudaraku, aku nukilkan kisah berikut sebagai renungan dan motivasi.

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ : أَنَّهُ مَرَّ بِسُوْقِ الْمَدِيْنَةِ فَوَقَفَ عَلَيْهَا فَقَالَ يَا أَهْلَ السُّوْقِ مَا أَعْجِزْكُمْ ؟ قَالُوْا وَمَا ذَاكَ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ ؟ قَالَ ذَاكَ مِيْرَاثُ رَسُوْلِ اللهِ يَقْسِمُ وَأَنْتُمْ هَا هُنَا لَا تَذَهَبُوْنَ ؟ فَتَأْخُذُوْنَ نَصِيْبَكُمْ مِنْهُ. قَالُوْا وَأَيْنَ هُوَ قَالَ فِيْ الْمَسْجِدِ فَخَرَجُوْا سُرَاعًا إِلَى الْمَسْجِدِ وَوَقَفَ أَبُوْ هُرَيْرَةَ لَهُمْ حَتَّى رَجِعُوْا. فَقَالَ لَهُمْ مَا لَكُمْ ؟ قَالُوْا يَا أَبَا هُرَيْرَةَ فَقَدْ أَتَيْنَا الْمَسْجِدِ فَدَخَلْنَا فَلَمْ نَرَ فِيْهِ شَيْئًا يَقْسِمُ. فَقَالَ لَهُمْ أَبُوْ هُرَيْرَةَ أَمَا رَأَيْتُمْ فِيْ الْمَسْجِدِ أَحَدًا ؟ قَالُوا بَلَى, رَأَيْنَا قَوْمًا يُصَلُّونَ وَقَوْمًا يَقْرَأُوْنَ الْقُرْآنَ وَقَوْمًا يَتَذَاكَرُوْنَ الْحَلَالَ وَالْحَرَامَ. فَقَالَ لَهُمْ أَبُوْ هُرَيْرَةَ وَيَحْكُمُ, فَذَاكَ مِيْرَاث….

Dari Sahabat Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu, Sesungguhnya dia (Abu Huroiroh) pernah melewati sebuah pasar di Madinah, kemudian dia berhenti dan berkata, “Wahai para orang-orang yang ada di pasar…apa gerangan yang membuat kalian malas/lemah? Maka orang –orang yang ada di pasar mengatakan, “Melemahkan atas apa wahai Abu Huroiroh?” Maka Abu Huroiroh mengatakan, “Mengapa kalian lemah/malas mengambil warisan Rosulullah, warisan beliau saat ini sedang dibagi-bagikan namun kalian malah tidak pergi mengambilnya? Ambillah bagian kalian..Kemudian mereka mengatakan, “Dimana pembagian warisan itu wahai Abu Huroiroh?” Abu Huroiroh pun mengatakan, “Di masjid”. Maka merekapun menuju masjid dengan langakah yang cepat sedangkan Abu Huroiroh tetap berada di tempatnya sampai kemudian mereka kembali ke Abu Huroiroh. Abu Huroirohpun mengatakan, “Kenapa kalian (kok kembali lagipent.)?” Mereka mengatakan, “Wahai Abu Huroiroh sungguh kami telah mendatangi masjid, kamipun telah masuk namun kami tidak melihat suatu apapun yang dibagikan”. Abu Huroiroh mengatakan, “Apakan kalian tidak melihat seorangpun di masjid?” Mereka mengatakan, “Tentu kami melihat ada orang di masjid, ada sekelompok orang-orang yang sedang sholat, ada kelompok yang sedang membaca Al Qur’an, ada sekelompok lainnya memebicarakan hukum tentang halal dan haram (mengkaji hukum-hukum  fiqh)”. Maka Abu Huroiroh mengatakan, “Betapa kasihannya kalian, itulah warisan Rosulullah shollallahu ‘alaihi was sallam”[1].

Mudah-Mudahan kita bisa mengambil faidah dari kisah di atas.

Ketika dinginnya subuh menyelimuti sekitarku,

Aditya Budiman bin Usman

24 November 2010 M.

<p

2 Kemudahan vs 1 Kesulitan

12 Nov

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

2 Kemudahan vs 1 Kesulitan

Segala puji yang disertai pengagungan seagung-agungnya hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala dan perendahan diri kita yang serendah-rendahnyanya hanya kita berikan kepadaNya Robbul ‘Alamin. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam.

Akhir-akhir ini musibah tak henti-hentinya menerpa negri kita, Indonesia ini. Beragam sikap orang dalam menghadapi musibah tersebut. Bahkan ada kabar yang menyebutkan bahwa ada yang bunuh diri karena tidak kuat menghadapi cobaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala ini.

Sikap-sikap seperti ini akan terus muncul jika kita ummat islam tidak kembali kepada kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya yaitu, Al Qur’an dan kepada sebaik-baik pentunjuk yaitu, Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi was Sallam. Oleh karena itulah maka wajib bagi kita untuk mengembalikan semua perkara kita kepada keduanya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman (dengan sebenar-benarnya iman) hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”. (QS : An Nisaa’ [4] : 65).

Renungan Buatku dan Buatmu…

8 Nov

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Renungan Buatku dan Buatmu…

Segala puji yang disertai pengagungan seagung-agungnya hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala dan perendahan diri kita yang serendah-rendahnyanya hanya kita berikan kepadaNya Robbul ‘Alamin. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam.

Pembaca sekalian –semoga Allah merahmati kita semua-, Al Qur’an merupakan sebuah mukjizat terbesar Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi was sallam. Allah turunkan mukjizat terbesar ini dengan tujuan agar ummat NabiNya metadabburinya sehingga mereka dapat mengambil pelajaran darinya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آَيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Ini (Al Qur’an) adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu (Nabi Muhammad) penuh dengan berkah supaya mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran”. (QS : Shood [38] : 29).

Oleh karena itulah sudah menjadi kewajiban dan bentuk syukur kita atas nikmat yang amat agung ini mempelajari isi kandungan Al Qur’an (tadabbur)  sehingga kita bisa mengambil pelajaran darinya.

Takutmu Akan Berbuah Kasih Sayang

4 Nov

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Takutmu Akan Berbuah Kasih Sayang

Segala puji yang disertai pengagungan seagung-agungnya hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala dan perendahan diri kita yang serendah-rendahnyanya hanya kita berikan kepadaNya Robbul ‘Alamin. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam.

Alhamdulillah tertutur dari penulis, ini merupakan artikel baru setelah sekian lama blog ini agak vacum karena terlahang masalah akademik diperkuliahan. Namun alhamdulillah urusan tersebut sudah bisa terlaksana.

Pembaca sekalian –semoga Allah merahmati kita semua-, sudah menjadi sebuah hal yang sering kita temui dalam ayat-ayat Al Qur’an, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengakhiri ayat-ayatNya dengan nama dan shifatNya yang mulia. Maka sudah barang tentulah hal ini mengandung hikmah yang amat sangat dari Dzat Yang Maha Hikmah untuk kita tadabburi. Diantaranya adalah dalam firman Allah ‘Azza wa Jalla dalam sebuah surat yang amat populer di negri kita ini yaitu surat Yaasiin,

إِنَّمَا تُنْذِرُ مَنِ اتَّبَعَ الذِّكْرَ وَخَشِيَ الرَّحْمَنَ بِالْغَيْبِ فَبَشِّرْهُ بِمَغْفِرَةٍ وَأَجْرٍ كَرِيمٍ

“Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan yang khosyah kepada Dzat Yang Maha Rohmah walaupun dia tidak melihatnya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia. “. (QS : Yaasiin [36] : 11).

CinTaH (Cinta, Takut dan Harap)

2 Oct

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

CinTaH (Cinta, Takut dan Harap)

Ketiga kata yang disebutkan dalam judul di atas merupakan kata-kata yang diri kita, hati kita tidak akan lepas darinya. Baik ketika kita masih kecil, menjelang usia muda bahkan ketika kita tua. Namun terkadang kita salah mengartikan dan menyalurkan ketiga hal di atas dengan sesuatu yang terlarang dalam agama. Oleh karena itu menjadi suatu hal yang selayaknya kita tahu ketiga hal di atas dengan benar, untuk itulah mari kita luangkan sejenak waktu kita untuk mempelajari sekelumit tentangnya.

[Makna Cinta]

Ibnul Qoyyim rohimahullah menyebutkan dalam kitabnya Roudhotul Muhibbin[1] bahwa paling tidak ada sekitar 60 kata dalam bahasa arab yang digunakan untuk mengungkapkan makna cinta dan beliau menyebutkan 50 diantaranya. Demikian juga sebagaimana namanya cinta juga memilki berbagai macam tingkatan diantaranya[2],

Salafiy atau Murji’ah….

22 Sep

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Salafiy atau Murji’ah….

Segala puji yang disertai pengagungan seagung-agungnya hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala dan perendahan diri kita yang serendah-rendahnyanya hanya kita berikan kepadaNya Robbul ‘Alamin. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam.

Sering kita mendengar ucapan atau perkataan orang yang mengatakan bahwa, “Amalan keta’atan merupakan buah dari adanya tashdiq/iman dalam hati”. Apakah perkataan semisal ini merupakan buah dari aqidah murji’ah atau bahkan aqidah murji’ah itu sendiri sehingga orang yang mengatakan hal demikian keluar dari manhaj ahlus sunnah wal jama’aha atau tidak ?! Maka tak jarang kita temukan sebagian orang yang –Allahu a’lam-terlalu bersemangat dalam masalah memisahkan antara ahlus sunnah dan ahlul bida’ -dalam hal ini murji’ah- langsung memvonis orang yang punya perkataan demikian yaitu “Amalan keta’atan merupakan buah dari adanya tashdiq/iman dalam hati” langsung keluar dari barisan ahlus sunnah dan tidak lagi salafiy.

Apa Kata Mereka Tentang Sunnah/Cara Beragama Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam

5 Sep

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Apa Kata Mereka Tentang Sunnah/Cara Beragama Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam

قَالَ الزُّهْرِيُ : كَانَ مَنْ مَضَى مِنْ سَلَفِنَا يَقُوْلُوْنَ الاِعْتِصُامُ بِالسُّنَّةِ نَجَاةٌ وَذَلِكَ أَنَّ السُّنَّةَ كَمَا قَالَ مَالِكُ رُحِمَهُ اللهُ مِثْلُ سَفِيْنَةِ نُوْحٍ مَنْ رَكِبَهَا نَجَا وَمَنْ تَخَلَّفَ عَنْهَا غَرِقَ

Al Imam Az Zuhriy[1] rohimahullah mengatakan, “Suatu hal yang sering dikatakan orang sebelum kami (yaitu para sahabat) berpegang teguh dengan sunnah (Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam ) adalah sebuah jalan keselamatan”. Hal yang demikian juga dikatakan oleh Al Imam Malik[2] rohimahullah, “Bahwa Sunnah (Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam ) bagaikan perahu Nabi Nuh, barangsiapa yang berlayar dengannya maka ia akan selamat dan barangsiapa yang meyelisihi Sunnah (Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam ) maka ia akan tenggelam/binasa”[3].


[1] Beliau adalah Muhammad bin Muslim bin Abdullah bin Syihab bin Abdullah bin al Harits bin Zuhrah bin Kilab bin Murroh bin Ka’ab bin Lu’ay bin Gholib Syihab Buddin Az Zuhiry rohimahullah seorang imam dari kalangan Tabi’in dalam masalah hadits,  baik riwayah maupun diroyah. Beliau lahir tahun 50 Hijriyah.

[2] Beliau adalah Malik bin Anas bin Malik bin Abu Amir bin Amr bin al Harits bin Ghoiman bin Khutsail bin Amr bin al Harits al Ashbahi al Humairi. Beliau adalah salah seorang imam dari mazhab yang empat, beliau lahir 93 Hijriyah. Beliau memiliki gelar Imam Darul Hijroh.

[3] Lihat Al Ubudiyah oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah dengan tahqiq Syaikh ‘Ali bin Hasan al Halabiy hafidzahullah hal. 54, terbitan Darul Mughni, Riyadh, KSA, cetakan keempat.