Jangan Kotori Dirimu Dengan Maksiat Setelah Romadhon

30 Jun

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Jangan Kotori Dirimu Dengan Maksiat Setelah Romadhon

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Pertama

Allah Subhana wa Ta’ala berfirman tentang tujuan akhir yang diharapkan dari kewajiban puasa di Bulan Romadhon,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”. (QS. Al Baqoroh [2] : 183)

Maksud pokok Allah ‘Azza wa Jalla mewajibkan kita berpuasa adalah agar mampu bertaqwa. Sebab, ketika berpuasa kita mampu meninggalkan hal-hal yang halal di luar puasa. Maka sudah sepatutnya dan kita seharusnya mampu meninggalkan hal-hal yang Allah Ta’ala haramkan setelah Bulan Romadhon.

Intinya ingat tujuan puasa bukanlah sekedar menahan rasa lapar dan haus. Sungguh rugi jika puasa kita hanya menghasilkan rasa lapar dan haus namun tidak melahirkan insan baru, yang lebih bertaqwa dari sebelum Romadhon. Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ

“Betapa banyak orang yang berpuasa namun tidak menghasilkan apapun kecuali rasa lapar semata”[1].

Sebelum Menyesal di Kemudian Hari

16 Jun

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Sebelum Menyesal di Kemudian Hari

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Pertama

Setiap muslim dan muslimah pasti menyakini Al Qur’an merupakan sebuah mukjizat yang tidak ada keraguan padanya. Allah Subhana wa Ta’ala berfirman,

الم (1) ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ (2)

“Alif Laam Miim. Itulah Kitab (Al Qur’an) yang tiada keraguan sedikit pun padanya, petunjuk bagi mereka yang bertaqwa”. (QS. Al Baqoroh [2] : 1-2)

Wajib bagi setiap muslim untuk meyakini semua yang ada di dalam Al Qur’an merupakan kebenaran mutlak yang tak terbantahkan.

Jumlah Rokaat Sholat Witir

9 Jun

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Jumlah Rokaat Sholat Witir

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Bulan Romadhon merupakan bulan yang sangat dinanti-nanti kaum muslimin karena berlimpahnya pahala dan disyariatkannya berbagai amalan yang tidak ada di selain Bulan Romadhon. Diantaranya adalah disyariatkannya sholat malam berjama’ah di mesjid. Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا, غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Siapa saja yang mengerjakan Qiyam Romadhon (termasuk sholat malam di Bulan Romadhon -pen) atas dasar iman dan mengharapkan pahala maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”[1].

Pelipatgandaan Ganjaran Puasa Romadhon

29 May

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Pelipatgandaan Ganjaran Puasa Romadhon

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Rasa syukur beriring pujian kita haturkan kepada Allah sebab kita masih dapat berjumpa dengan Bulan Romadhon, bulan yang penuh keberkahan.

قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرٌ مُبَارَكٌ افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ

“Telah datang kepada kalian Bulan Romadhon, bulan yang penuh berkah. Allah mewajibkan bagi kalian puasa pada bulan tesebut”[1].

Syrup dan Romadhon

25 May

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Syrup dan Romadhon

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Eh udah mau Romadhon aja ya, udah banyak yang jual dan iklan syrup dan kurma’. Ungkapan ini mungkin pernah meluncur dari lisan kita atau pernah kita dengar. Sekilas ini ungkapan biasa aja sih, namun kalau kita dalami lagi dan tarik pada diri kita masing-masing, berujung pada betapa lalainya kita dari persiapan menjelang Romadhon. Hal ini juga menunjukkan betapa jauhnya kita dari iman dan amal para salafus sholeh Rodhiyallahu ‘anhum.

Perbedaan Waktu Negara Terkait Puasa dan Berbuka (Hari Raya)

19 May

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Perbedaan Waktu Negara Terkait Puasa dan Berbuka (Hari Raya)

 

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Seseorang muslim bertempat tinggal di sebuah negara. Penetapan 1 Romadhon sudah di tetapkan di negaranya. Dia pun berpuasa mengikuti ketetapan pemerintahannya tersebut. Selang beberapa hari puasa dia pun berpindah (mungkin kerja atau yang lainnya) ke negara muslim lainnya. Dia negara kedua ini penetapan puasanya lebih lambat sehari dari negara sebelumnya. Lantas bagaimanakah dia harus bersikap terkait jumlah bilangan hari puasanya dan hari rayanya ?

Mari simak tanya jawab berikut ini.

Makna Shifat Allah Istiwa’ di atas ‘Arsy

12 May

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Makna Shifat Allah Istiwa’ di atas ‘Arsy

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maawalaah.

Telah disampaikan pada artikel sebelumnya (klik di sini) seputar keyakinan Ahlu Sunnah wal Jama’ah bahwa Allah Subhana wa Ta’ala berada di atas langit dan beristiwa’ di atas ‘Arsynya.

Lantas apa makna dari shifat istiwa’ tersebut ? Mari simak keterangan berikut.