Syarat Diterimanya Ibadah

19 Feb

Syarat Diterimanya Ibadah

Ibadah merupakan sebuah kata yang amat sering terdengar di kalangan kaum muslimin, bahkan mungkin bisa kita pastikan tidaklah seorang muslim kecuali pernah mendengarnya. Lebih jauh lagi, ibadah merupakan tujuan diciptakannya seluruh jin dan seluruh manusia, sebagaimana firman Allah ‘azza wa jalla,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Aku ciptakan seluruh jin dan seluruh manusia melainkan untuk beribadah kepadaKu“.

(QS : Adz Dzariyat [51] :56).

Namun telah tahukah kita bahwa ibadah memiliki syarat agar ibadah tersebut diterima di sisi Allah sebagai amal sholeh dan bukan amal yang salah ?? Dua syarat dalam ibadah itu adalah berniat ikhlas kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan meniru/ittiba’ kepada Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam[1]. Untuk itulah mari sejenak kita luangkan beberapa gilintir waktu kita untuk mempelajarinya lewat tulisan singkat ini.

Fawaid dari kitab Tahzib Tashil Al Aqidah Al Islamiyah [4]

7 Feb

Fawaid dari kitab Tahzib Tashil Al Aqidah Al Islamiyah [4]

karya Syaikh Prof. DR. Abdullah bin Abdul Aziz Al Jibrin hafidzahullah

Syaikh hafidzahullah melanjutkan penjelasan beliau, beliau mengatakan,

Sebagian ulama memutlakkan bahwa

ahlu sunnah adalah nama untuk mereka para ashabul hadits atau ahlul hadits hal ini karena perhatian mereka terhadap hadits yang dinukil dari Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam, perhatian mereka untuk memisahkan mana hadits yang shohih dan mana hadits yang dho’if dan ketundukan mereka terhadap apa yang ada dalam kandungan hadits baik itu berupa aqidah dan ketentuan hukum-hukum islam.

Tata Cara Tayammum

5 Feb

Segala puji hanya kembali dan milik AllahTabaroka wa Ta’ala, hidup kita, mati kita hanya untuk menghambakan diri kita kepada  Dzat yang tidak membutuhkan sesuatu apapun dari hambanya. Sholawatdan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulul Islam,Muhammad bin Abdillah shollallahu ‘alaihi wa sallam, beserta keluarga dan para sahabat beliauradhiyallahu ‘anhum.

Mungkin tidak jarang dari kita melihat sebagian dari saudara-saudara kita kalangan kaum muslimin yang masih asing dengan istilah tayammum atau pada sebagian lainnya hal ini tidak asing lagi akan tetapi belum mengetahui bagaimana tayammum yang Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam ajarkan serta yang diinginkan oleh syari’at kita. Maka penulis mengajak pembaca sekalian untuk meluangkan waktu barang 5 menit untuk bersama mempelajari hal ini sehingga ketika tiba waktunya untuk diamalkan sudah dapat beramal dengan ilmu.

Pengertian Tayammum

Kami mulai pembahasan ini dengan mengemukakan pengertian tayammum. Tayammum secarabahasa diartikan sebagai Al Qosdu (القَصْدُ) yang berarti maksud.

Sedangkan secara istilah dalam syari’at adalah sebuah peribadatan kepada Allah berupa mengusap wajah dan kedua tangan dengan menggunakan sho’id yang bersih[1].

Sho’id adalah seluruh permukaan bumi yang dapat digunakan untuk bertayammum baik yang terdapat tanah di atasnya ataupun tidak[2].

Sikap Terhadap Perintah dan Larangan Nabi Shollallahu 'Alaihi wa Sallam

31 Jan

الحديث التاسع

عَنْ أَبي هُرُيرة – رضي الله عنه – قال : سَمِعتُ رَسولَ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – يقولُ : (( ما نَهَيتُكُمْ عَنْهُ ، فاجْتَنِبوهُ ، وما أمرتُكُم به ، فأتُوا منهُ ما استطعتُم ، فإنَّما أهلَكَ الَّذين من قبلِكُم كَثْرَةُ مسائِلِهم واختلافُهم على أنبيائِهم )) . رواهُ البخاريُّ ومُسلمٌ

Dari Abu Huroiroh[1] rodhiyallahu ‘anhu Beliau berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam mengatakan, “Semua perkara yang aku larang maka jauhilah dan seluruh perkara yang aku perintahkan maka laksanakanlah sesuai kemampuan kalian. Sesungguhnya tidaklah yang menyebabkan ummat sebelum kalian hancur melainkan banyaknya mereka bertanya kepada Nabinya dan menyelisihinya”.[2]

Hadits yang mulia ini dikatakan para ulama sebagai hadits yang sangat penting dan faidah yang agung. Al Imam An Nawawi Asy Syafi’i rohimahullah berkata dalam Al Mihaaj Syarah Shohih Muslim,

“Hadits ini merupakan salah satu dari kaidah/pegangan penting dalam islam dan merupakan dari mu’jizat yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala pada NabiNya shallallahu ‘alaihi was sallam berupa jawami’ul kalim.

Fawaid dari kitab Tahzib Tashil Al Aqidah Al Islamiyah [3]

31 Dec

[2] Ahlus Sunnah wal Jama’ah

Pada kesempatan yang lalu pengertian bahwa ahlus sunnah merupakan

shifat/karakter (وَصْفٌ) dan bukan merupakan kelompok tertentu.

Fawaid dari kitab Tahzib Tashil Al Aqidah Al Islamiyah [2]

27 Dec

Fawaid dari kitab Tahzib Tashil Al Aqidah Al Islamiyah [2]

karya Syaikh Prof. DR. Abdullah bin Abdul Aziz Al Jibrin hafidzahullah

Setelah beliau menjelaskan pengertian aqidah maka beliau mulai penjelasan istilah berikutnya dengan pengertian ahlus sunnah wal jama’ah.

[2] Ahlus Sunnah wal Jama’ah

Yang dimaksudkan dengan istilah ahlus sunnah wal jama’ah adalah

para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam dan orang-orang yang mengikuti[1] mereka (dalam masalah agama Pent.) dengan baik[2] hingga hari qiyamat.

Ada juga pengertian lain yaitu,

orang-orang yang berpegang teguh dengan aqidah yang benar, yang terbebas dari kotoran bid’ah dalam aqidah serta yang bebas kurofat serta aqidah inilah yang dipegangi Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam dan para sahabatnya rodhiyallahu ‘anhum serta para sahabat bersepakat tentangnya.

Terkadang ahlus sunnah wal jama’ah disebut dengan kata ahlus sunnah, hal ini dikarenakan

amal mereka yang bersesuaian dengan sunnah/ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam yang dibangun di atas Al Qur’an,

sebagai bentuk pengamalan mereka terhadap sabda Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam,

عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ المَهْدِيِيْنَ مِنْ بَعْدِيْ وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَوَاجِذِ

“Wajib bagi kalian berpegang teguh dengan sunnahku/ajaran dan sunnah khulafaur rosyidin setelahku, peganglah ia erat-erat dengan gigi graham”.[3]

Demikian juga terkadang mereka ahlus sunnah wal jama’ah disebut juga dengan kata al jama’ah, karena mereka bersatu dalam ittiba’ kepada sunnah Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam dan perkara yang disepakati oleh salaf ummat ini. Demikian juga karena mereka bersatu di atas kebenaran, aqidah islam yang bersih dari noda/kotoran. Dalil tentang penamaan ini adalah hadits yang diriwayatkan dari sahabat Mu’awiyah bin Abu Sufyan rodhiyallahu ‘anhuma,

إِنَّ أَهْلَ الْكِتَابَيْنِ افْتَرَقُوا فِى دِينِهِمْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَإِنَّ هَذِهِ الأُمَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً – يَعْنِى الأَهْوَاءَ – كُلُّهَا فِى النَّارِ إِلاَّ وَاحِدَةً وَهِىَ الْجَمَاعَةُ وَإِنَّهُ سَيَخْرُجُ فِى أُمَّتِى أَقْوَامٌ تَجَارَى بِهِمْ تِلْكَ الأَهْوَاءُ كَمَا يَتَجَارَى الْكَلْبُ بِصَاحِبِهِ…..

“Sesungguhnya kedua ahlul kitab[4] telah berpecah dalam agama mereka menjadi 72 sekian kelompok dalam agama, dan sesungguhnya umat ini akan berpecah menjadi 73 sekian kelompok agama –yaitu al ahwa’ firqoh-[5], semuanya masuk neraka[6] kecuali satu, mereka itu adalah Al Jama’ah. Sesungguhnya akan keluar dari umaku sekelompok orang yang mereka itu terjangkiti al ahwa’/firqoh ini sebagaimana cepatnya penyakit yang disebabkan gigitan anjing menjangkiti penderitanya…..”[7]

Panduan Praktis Tata Cara Wudhu

21 Dec

Panduan Praktis Tata Cara Wudhu

Segala puji hanya kembali dan milik Allah Tabaroka wa Ta’ala, hidup kita, mati kita hanya untuk menghambakan diri kita kepada  Dzat yang tidak membutuhkan sesuatu apapun dari hambanya. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah, Muhammad bin Abdillah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam, beserta keluarga dan para sahabat beliau radhiyallahu ‘anhum.

Kedudukan wudhu dalam sholat

Wudhu merupakan suatu hal yang tiada asing bagi setiap muslim, sejak kecil ia telah mengetahuinya bahkan telah mengamalkannya. Akan tetapi apakah wudhu yang telah kita lakukan selama bertahun-tahun atau bahkan telah puluhan tahun itu telah benar sesuai dengan apa yang diajarkan Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam? Karena suatu hal yang telah menjadi konsekwensi dari dua kalimat syahadat bahwa ibadah harus ikhlas mengharapkan ridho Allah dan sesuai sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam. Demikian juga telah masyhur bagi kita bahwa wudhu merupakan syarat sah sholat[1], yang mana jika syarat tidak terpenuhi maka tidak akan teranggap/terlaksana apa yang kita inginkan dari syarat tersebut. Sebagaimana sabda Nabi yang mulia, Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam,

« لاَ تُقْبَلُ صَلاَةُ مَنْ أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ »

Tidak diterima sholat orang yang berhadats sampai ia berwudhu.[2]

Demikian juga dalam juga Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan kepada kita dalam KitabNya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki”. (QS Al Maidah [5] : 6).

Maka marilah duduk bersama kami barang sejenak untuk mempelajari shifat/tata cara wudhu Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam.

Pengertian wudhu

Secara bahasa wudhu berarti husnu/keindahan dan nadhofah/kebersihan, wudhu untuk sholat dikatakan sebagai wudhu karena ia membersihkan anggota wudhu dan memperindahnya[3]. Sedangkan pengertian menurut istilah dalam syari’at, wudhu adalah peribadatan kepada Allah ‘azza wa jalla dengan mencuci empat anggota wudhu[4] dengan tata cara tertentu. Jika pengertian ini telah dipahami maka kita akan mulai pembahasan tentang syarat, hal-hal wajib dan sunnah dalam wudhu secara ringkas.