Dianggap Bi’dah Padahal Nikmat Allah

2 Mar

Pertanyaan :

Jika Anda Mengatakan Semua Perkara yang Tidak Ada di Zaman Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam adalah Bid’ah Maka Pengeras Suara yang Anda Gunakan untuk Kajian Juga Bid’ah ?

Jawaban :

Jawaban masalah ini sebenarnya simpel/sederhana, namun perlu kami jelaskan bahwa penanya belum paham apa yang dimaksud dengan bid’ah dan ibadah.  Oleh karena itu kami akan jelaskan dua hal tersebut secara ringkas.

Pertama, Bid’ah/perkara baru yang dimaksudkan dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam,

إِيَّاكُمْ وَالأُمُورَ الْمُحْدَثَاتِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Jauhilah oleh kalian perkara-perkara baru karena sesungguhnya semua bid’ah adalah sesat[1].

Fawaid dari kitab Tahzib Tashil Al Aqidah Al Islamiyah [5]

27 Feb

Topik Bahasan Kedua

Kekhususan Aqidah Al Islamiyah

Kekhususan-kekhususan (الخصائص) merupakan bentuk jama’ dari kekhususan (الخصيصة).

Kekhususan-kekhususan (الخصائص) merupakan sebuah karakter baik yang dengannya dapat dibedakan dan dengannya sesuatu tidak akan tercampur sesuatu dengan yang lainnya. Kekhususan aqidah islamiyah jumlahnya sangat banyak sekali, akan tetapi kami (penulisa kitab aslinya) mencukupkan diri dengan menyebutkan dua hal diantaranya,

[1] Keyakinan/iman Terhadap Perkara yang Ghaib

Ghaib (الغيب) adalah sesuatu yang tidak tampak oleh indra, hal yang ghaib ini tidak dapat diindra oleh kelima pancaindra berupa pendengaran, penglihatan, peraba, penciuman dan indra pengecap.

Seluruh masalah aqidah dalam islam yang wajib atas seorang hamba untuk mengimaninya dan menyakininya sebagai aqidahnya adalah hal yang bersifat ghoib, seperti beriman kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab, para rosul, hari akhirat, qodar, adzab dan nikmat qubur dan lain sebagainya yang merupakan perkara yang ghoib. Perkara ini diyakini sebagaimana yang dikabarkan di Kitabullah dan sunnah rosulNya shallallahu ‘alaihi was sallam.

Ilmu Dunia atau Ilmu Akhirat ?

24 Feb

Ilmu dalam Al Qur’an, Hadits dan Para Ulama

Ilmu merupakan sebuah hal yang sangat berharga bagi setiap orang. Demikian juga halnya dalam agama yang mulia ini ilmu memiliki kedudukan yang amat tinggi, dalam Al Qur’an Allah Subhanahu wa Ta’ala,

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Allah Subhanahu wa Ta’ala akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat”.

(QS : Al Mujadalah [58] :11).

Demikian juga dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam,

إِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Sesungguhnya Para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham melainkan mereka hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa yang mengambilnya maka ia telah mengambil bagian yang besar”[1].

Demikian juga sabda beliau shallallahu ‘alaihi was sallam,

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ

“Barangsiapa yang Allah inginkan padanya seluruh[2] kebaikan maka Allah akan jadikan ia faham terhadap urusan agamanya[3].

Jika Isim Nakiroh Terletak dalam Konteks Penafian/Peniadaan, Larangan, Syarat, Pertanyaan Menunjukkan Keumuman

20 Feb

Kaidah Keempat

Jika Isim Nakiroh Terletak dalam Konteks Penafian/Peniadaan, Larangan, Syarat, Pertanyaan Menunjukkan Keumuman

Contoh penerapan kaidah ini seperti yang terdapat dalam firman Allah Ta’ala,

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun” . ( An Nisa’ : 36 ).

Maka larangan terhadap syirik baik itu syirik dalam niat–niat, perkataan-perkataan, perbuatan–perbuatan, baik itu dari syirik akbar, syirik ashghor/kecil, syirik yang tersembunyi (terletak di hati), syirik yang jelas. Maka terlarang bagi seorang hamba menjadikan tandingan apapun bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sekutu pada salah satu dari semua hal-hal yang tersebut di atas. Semisal dengan itu firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا

“Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah”. ( Al Baqoroh : 22 ).

Syarat Diterimanya Ibadah

19 Feb

Syarat Diterimanya Ibadah

Ibadah merupakan sebuah kata yang amat sering terdengar di kalangan kaum muslimin, bahkan mungkin bisa kita pastikan tidaklah seorang muslim kecuali pernah mendengarnya. Lebih jauh lagi, ibadah merupakan tujuan diciptakannya seluruh jin dan seluruh manusia, sebagaimana firman Allah ‘azza wa jalla,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Aku ciptakan seluruh jin dan seluruh manusia melainkan untuk beribadah kepadaKu“.

(QS : Adz Dzariyat [51] :56).

Namun telah tahukah kita bahwa ibadah memiliki syarat agar ibadah tersebut diterima di sisi Allah sebagai amal sholeh dan bukan amal yang salah ?? Dua syarat dalam ibadah itu adalah berniat ikhlas kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan meniru/ittiba’ kepada Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam[1]. Untuk itulah mari sejenak kita luangkan beberapa gilintir waktu kita untuk mempelajarinya lewat tulisan singkat ini.

Fawaid dari kitab Tahzib Tashil Al Aqidah Al Islamiyah [4]

7 Feb

Fawaid dari kitab Tahzib Tashil Al Aqidah Al Islamiyah [4]

karya Syaikh Prof. DR. Abdullah bin Abdul Aziz Al Jibrin hafidzahullah

Syaikh hafidzahullah melanjutkan penjelasan beliau, beliau mengatakan,

Sebagian ulama memutlakkan bahwa

ahlu sunnah adalah nama untuk mereka para ashabul hadits atau ahlul hadits hal ini karena perhatian mereka terhadap hadits yang dinukil dari Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam, perhatian mereka untuk memisahkan mana hadits yang shohih dan mana hadits yang dho’if dan ketundukan mereka terhadap apa yang ada dalam kandungan hadits baik itu berupa aqidah dan ketentuan hukum-hukum islam.

Tata Cara Tayammum

5 Feb

Segala puji hanya kembali dan milik AllahTabaroka wa Ta’ala, hidup kita, mati kita hanya untuk menghambakan diri kita kepada  Dzat yang tidak membutuhkan sesuatu apapun dari hambanya. Sholawatdan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulul Islam,Muhammad bin Abdillah shollallahu ‘alaihi wa sallam, beserta keluarga dan para sahabat beliauradhiyallahu ‘anhum.

Mungkin tidak jarang dari kita melihat sebagian dari saudara-saudara kita kalangan kaum muslimin yang masih asing dengan istilah tayammum atau pada sebagian lainnya hal ini tidak asing lagi akan tetapi belum mengetahui bagaimana tayammum yang Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam ajarkan serta yang diinginkan oleh syari’at kita. Maka penulis mengajak pembaca sekalian untuk meluangkan waktu barang 5 menit untuk bersama mempelajari hal ini sehingga ketika tiba waktunya untuk diamalkan sudah dapat beramal dengan ilmu.

Pengertian Tayammum

Kami mulai pembahasan ini dengan mengemukakan pengertian tayammum. Tayammum secarabahasa diartikan sebagai Al Qosdu (القَصْدُ) yang berarti maksud.

Sedangkan secara istilah dalam syari’at adalah sebuah peribadatan kepada Allah berupa mengusap wajah dan kedua tangan dengan menggunakan sho’id yang bersih[1].

Sho’id adalah seluruh permukaan bumi yang dapat digunakan untuk bertayammum baik yang terdapat tanah di atasnya ataupun tidak[2].