Susunan Mufrod Mudhof Memberikan Faidah Keumuman Makna, Sebagaimana Faidah Keumuman dari Isim Jama’ yang Mudhof

14 Mar

Kaidah Kelima

Susunan Mufrod Mudhof Memberikan Faidah Keumuman Makna, Sebagaimana Faidah Keumuman dari Isim Jama’ yang Mudhof


Contoh penerapan kaiadah ini sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْوَ بَنَاتُكُمْ

“Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu dan anak-anak perempuanmu[1]”. ( An Nisa’ : 23 ).

Maka kata-kata ibu dalam ayat ini mencakup seluruh ibu yang engkau menasabkan diri dengannya (yaitu garis dari ibu, nenek dan seterusnya ke atas, pent.). Demikian juga kata anak perempuan yang terdapat dalam ayat ini mencakup seluruh anak perempuan yang mereka menasabkan dirinya kepadamu (yaitu garis dari anak perempuan, cucu perempuan dan seterusnya ke bawah, pent. ). Demikian seterusnya hingga akhir ayat. Demikan juga dalam firman Allah Subahanahu wa Ta’ala,

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

“Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)”. ( Adh Dhuha : 11 ).

Fir’aun dan Iblis Bertauhid Rububiyah pada Allah

9 Mar

Para pembaca yang semoga dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala, pada kesempatan kali ini kita akan melanjutkan apa yang telah disinggung sebelumnya[1] bahwa ada sekelompok orang yang mentauhidkan Allah –tepatnya tauhid rububiyah- namun masih belum cukup memasukkannya ke dalam islam yang benar alias masih musyrik. Nah pada kesempatan kali ini kami akan nukilkan beberapa ayat Allah ‘azza wa jalla yang menunjukkan bahwa mahluk Allah yang paling kufur sekalipun mentauhidkan Allah dalam perkara kerububiyahan Allah, mahluk tersebut adalah simbol kekafiran yang ma’ruf di kalangan manusia dan alam semesta, mahluk ini tidak lain dan tidak bukan adalah iblis –la’natullah ‘alaihi-. Berita tentang hal ini bukanlah isapan jempol belaka bahkan ia adalah kabar dari Dzat yang IlmuNya sempurna pada tingkat tertinggi dan termaktub dalam kitab yang tidak ada keraguan sedikitpun padanya yaitu Al Qur’an, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ . إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ

Iblis berkata, “Wahai Robbku, disebabkan engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, (maka) akan aku perindah[2] bagi mereka (keturunan Adam) apa yang ada di muka bumi dan pasti akan aku sesatkan mereka semua, kecuali hamba-hambaMu yang mukhlashin[3]”. (QS : Al Hijr [15]  : 39-40).

Teruntuk Bagimu Saudaraku yang Tengah Terbaring

7 Mar

Teruntuk Bagimu Saudaraku yang Tengah Terbaring

Musibah, sakit, derita merupakan sebuah pemandangan yang amat sering kita lihat di sekitar kita, entah itu terjadi pada diri kita atau pada orang lain. Di lain sisi manusia merupakan mahluk Allah yang melakukan banyak kedzoliman pada dirinya sendiri berupa maksiat ataupun kepada orang lain. Sebagaimana sabda Nabi yang mulia alaihish sholatu was salam,

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

“Seluruh keturunan Adam (pasti pernahpent.) berbuat banyak[1] kesalahan/dosa dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah orang yang banyak bertaubat”[2].

Mentauhidkan Allah tetapi Musyrik

5 Mar

Mentauhidkan Allah tetapi Musyrik

Pendahuluan

Tauhid merupakan sebuah kata yang sangat tidak asing di telinga kita kaum muslimin bahkan mungkin di tengah-tengah orang kafir juga hal ini tidak asing. Namun tauhid apakah yang diinginkan Allah ‘azza wa jalla dan NabiNya shallallahu ‘alaihi was sallam ? Maka marilah merapat kepadaku wahai saudaraku barang sejenak kita telaah apa yang dikatakan para ulama tentangnya.

Pengertian Tauhid

Tauhid secara bahasa arab merupakan mashdar (kata benda yang berasal dari kata kerja) dari kata (تَوْحِيْدًايُوَحِّدُوَحَّدَ) yang artinya menjadikan sesuatu satu[1] tauhid ini tidaklah dikatakan sebagai tauhid sampai terdapat padanya peniadaan selainnya (secara mutlaqpent.) dan penetapan[2]. Sedangkan pengertian tauhid sebagai perbuatan hati adalah beriman tentang adanya Allah, mengesakan Allah dalam hal rububiyah, ulihiyah dan beriman terhadap seluruh nama dan shifat Allah[3]. Kemudian pengertian tauhid secara cabang ilmu adalah hal-hal yang berhubungan dengan aqidah[4] seorang muslim karena inti aqidah adalah tauhid[5], namun aqidah lebih luas dari pada tauhid[6]. Adapun secara istilah maka tauhid artinya adalah mengesakan Allah ‘Azza wa Jalla terhadap seluruh perkara yang merupakan kekhusuan Allah. Sedangkan pengertian secara syar’i adalah menunggalkan Allah dalam hal uluhiyah Allah, sebagaimana hadits Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam,

إِنَّكَ سَتَأْتِى قَوْمًا أَهْلَ كِتَابٍ ، فَإِذَا جِئْتَهُمْ فَادْعُهُمْ إِلَى أَنْ يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ….

Sesungguhnya engkau nanti wahai mu’adz akan bertemu dengan sebuah kaum dari Ahli Kitab, jika engkau bertemu mereka maka ajaklah mereka untuk bersyahadat bahwa Tiada Sesembahan yang Berhak disembah kecuali Allah dan Aku (Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi was sallam) adalah Rosulullah….[7].

Dianggap Bi’dah Padahal Nikmat Allah

2 Mar

Pertanyaan :

Jika Anda Mengatakan Semua Perkara yang Tidak Ada di Zaman Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam adalah Bid’ah Maka Pengeras Suara yang Anda Gunakan untuk Kajian Juga Bid’ah ?

Jawaban :

Jawaban masalah ini sebenarnya simpel/sederhana, namun perlu kami jelaskan bahwa penanya belum paham apa yang dimaksud dengan bid’ah dan ibadah.  Oleh karena itu kami akan jelaskan dua hal tersebut secara ringkas.

Pertama, Bid’ah/perkara baru yang dimaksudkan dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam,

إِيَّاكُمْ وَالأُمُورَ الْمُحْدَثَاتِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Jauhilah oleh kalian perkara-perkara baru karena sesungguhnya semua bid’ah adalah sesat[1].

Fawaid dari kitab Tahzib Tashil Al Aqidah Al Islamiyah [5]

27 Feb

Topik Bahasan Kedua

Kekhususan Aqidah Al Islamiyah

Kekhususan-kekhususan (الخصائص) merupakan bentuk jama’ dari kekhususan (الخصيصة).

Kekhususan-kekhususan (الخصائص) merupakan sebuah karakter baik yang dengannya dapat dibedakan dan dengannya sesuatu tidak akan tercampur sesuatu dengan yang lainnya. Kekhususan aqidah islamiyah jumlahnya sangat banyak sekali, akan tetapi kami (penulisa kitab aslinya) mencukupkan diri dengan menyebutkan dua hal diantaranya,

[1] Keyakinan/iman Terhadap Perkara yang Ghaib

Ghaib (الغيب) adalah sesuatu yang tidak tampak oleh indra, hal yang ghaib ini tidak dapat diindra oleh kelima pancaindra berupa pendengaran, penglihatan, peraba, penciuman dan indra pengecap.

Seluruh masalah aqidah dalam islam yang wajib atas seorang hamba untuk mengimaninya dan menyakininya sebagai aqidahnya adalah hal yang bersifat ghoib, seperti beriman kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab, para rosul, hari akhirat, qodar, adzab dan nikmat qubur dan lain sebagainya yang merupakan perkara yang ghoib. Perkara ini diyakini sebagaimana yang dikabarkan di Kitabullah dan sunnah rosulNya shallallahu ‘alaihi was sallam.

Ilmu Dunia atau Ilmu Akhirat ?

24 Feb

Ilmu dalam Al Qur’an, Hadits dan Para Ulama

Ilmu merupakan sebuah hal yang sangat berharga bagi setiap orang. Demikian juga halnya dalam agama yang mulia ini ilmu memiliki kedudukan yang amat tinggi, dalam Al Qur’an Allah Subhanahu wa Ta’ala,

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Allah Subhanahu wa Ta’ala akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat”.

(QS : Al Mujadalah [58] :11).

Demikian juga dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam,

إِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Sesungguhnya Para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham melainkan mereka hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa yang mengambilnya maka ia telah mengambil bagian yang besar”[1].

Demikian juga sabda beliau shallallahu ‘alaihi was sallam,

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ

“Barangsiapa yang Allah inginkan padanya seluruh[2] kebaikan maka Allah akan jadikan ia faham terhadap urusan agamanya[3].