Takutmu Akan Berbuah Kasih Sayang

4 Nov

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Takutmu Akan Berbuah Kasih Sayang

Segala puji yang disertai pengagungan seagung-agungnya hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala dan perendahan diri kita yang serendah-rendahnyanya hanya kita berikan kepadaNya Robbul ‘Alamin. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam.

Alhamdulillah tertutur dari penulis, ini merupakan artikel baru setelah sekian lama blog ini agak vacum karena terlahang masalah akademik diperkuliahan. Namun alhamdulillah urusan tersebut sudah bisa terlaksana.

Pembaca sekalian –semoga Allah merahmati kita semua-, sudah menjadi sebuah hal yang sering kita temui dalam ayat-ayat Al Qur’an, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengakhiri ayat-ayatNya dengan nama dan shifatNya yang mulia. Maka sudah barang tentulah hal ini mengandung hikmah yang amat sangat dari Dzat Yang Maha Hikmah untuk kita tadabburi. Diantaranya adalah dalam firman Allah ‘Azza wa Jalla dalam sebuah surat yang amat populer di negri kita ini yaitu surat Yaasiin,

إِنَّمَا تُنْذِرُ مَنِ اتَّبَعَ الذِّكْرَ وَخَشِيَ الرَّحْمَنَ بِالْغَيْبِ فَبَشِّرْهُ بِمَغْفِرَةٍ وَأَجْرٍ كَرِيمٍ

“Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan yang khosyah kepada Dzat Yang Maha Rohmah walaupun dia tidak melihatnya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia. “. (QS : Yaasiin [36] : 11).

CinTaH (Cinta, Takut dan Harap)

2 Oct

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

CinTaH (Cinta, Takut dan Harap)

Ketiga kata yang disebutkan dalam judul di atas merupakan kata-kata yang diri kita, hati kita tidak akan lepas darinya. Baik ketika kita masih kecil, menjelang usia muda bahkan ketika kita tua. Namun terkadang kita salah mengartikan dan menyalurkan ketiga hal di atas dengan sesuatu yang terlarang dalam agama. Oleh karena itu menjadi suatu hal yang selayaknya kita tahu ketiga hal di atas dengan benar, untuk itulah mari kita luangkan sejenak waktu kita untuk mempelajari sekelumit tentangnya.

[Makna Cinta]

Ibnul Qoyyim rohimahullah menyebutkan dalam kitabnya Roudhotul Muhibbin[1] bahwa paling tidak ada sekitar 60 kata dalam bahasa arab yang digunakan untuk mengungkapkan makna cinta dan beliau menyebutkan 50 diantaranya. Demikian juga sebagaimana namanya cinta juga memilki berbagai macam tingkatan diantaranya[2],

Salafiy atau Murji’ah….

22 Sep

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Salafiy atau Murji’ah….

Segala puji yang disertai pengagungan seagung-agungnya hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala dan perendahan diri kita yang serendah-rendahnyanya hanya kita berikan kepadaNya Robbul ‘Alamin. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam.

Sering kita mendengar ucapan atau perkataan orang yang mengatakan bahwa, “Amalan keta’atan merupakan buah dari adanya tashdiq/iman dalam hati”. Apakah perkataan semisal ini merupakan buah dari aqidah murji’ah atau bahkan aqidah murji’ah itu sendiri sehingga orang yang mengatakan hal demikian keluar dari manhaj ahlus sunnah wal jama’aha atau tidak ?! Maka tak jarang kita temukan sebagian orang yang –Allahu a’lam-terlalu bersemangat dalam masalah memisahkan antara ahlus sunnah dan ahlul bida’ -dalam hal ini murji’ah- langsung memvonis orang yang punya perkataan demikian yaitu “Amalan keta’atan merupakan buah dari adanya tashdiq/iman dalam hati” langsung keluar dari barisan ahlus sunnah dan tidak lagi salafiy.

Apa Kata Mereka Tentang Sunnah/Cara Beragama Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam

5 Sep

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Apa Kata Mereka Tentang Sunnah/Cara Beragama Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam

قَالَ الزُّهْرِيُ : كَانَ مَنْ مَضَى مِنْ سَلَفِنَا يَقُوْلُوْنَ الاِعْتِصُامُ بِالسُّنَّةِ نَجَاةٌ وَذَلِكَ أَنَّ السُّنَّةَ كَمَا قَالَ مَالِكُ رُحِمَهُ اللهُ مِثْلُ سَفِيْنَةِ نُوْحٍ مَنْ رَكِبَهَا نَجَا وَمَنْ تَخَلَّفَ عَنْهَا غَرِقَ

Al Imam Az Zuhriy[1] rohimahullah mengatakan, “Suatu hal yang sering dikatakan orang sebelum kami (yaitu para sahabat) berpegang teguh dengan sunnah (Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam ) adalah sebuah jalan keselamatan”. Hal yang demikian juga dikatakan oleh Al Imam Malik[2] rohimahullah, “Bahwa Sunnah (Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam ) bagaikan perahu Nabi Nuh, barangsiapa yang berlayar dengannya maka ia akan selamat dan barangsiapa yang meyelisihi Sunnah (Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam ) maka ia akan tenggelam/binasa”[3].


[1] Beliau adalah Muhammad bin Muslim bin Abdullah bin Syihab bin Abdullah bin al Harits bin Zuhrah bin Kilab bin Murroh bin Ka’ab bin Lu’ay bin Gholib Syihab Buddin Az Zuhiry rohimahullah seorang imam dari kalangan Tabi’in dalam masalah hadits,  baik riwayah maupun diroyah. Beliau lahir tahun 50 Hijriyah.

[2] Beliau adalah Malik bin Anas bin Malik bin Abu Amir bin Amr bin al Harits bin Ghoiman bin Khutsail bin Amr bin al Harits al Ashbahi al Humairi. Beliau adalah salah seorang imam dari mazhab yang empat, beliau lahir 93 Hijriyah. Beliau memiliki gelar Imam Darul Hijroh.

[3] Lihat Al Ubudiyah oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah dengan tahqiq Syaikh ‘Ali bin Hasan al Halabiy hafidzahullah hal. 54, terbitan Darul Mughni, Riyadh, KSA, cetakan keempat.

Sebuah Hal yang Besar yang Sering Kita Abaikan

31 Aug

Sebuah Hal yang Besar yang Sering Kita Abaikan

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Alhamdulillahi Robbil ‘Alamin, washolatu wassalamu ‘ala Nabiyina Muhammmad shallallahu ‘alaihi was sallam, amma ba’du,

Sebuah hal yang sering kita alami atau sering bersama kita sering terluput dari pikiran kita. Semisal nikmat yang Allah berikan kepada kita berupa badan yang sehat, sering sekali kita tidak mensyukuri nikmat tersebut sehingga jatuhlah kita dalam kufur nikmat kepada Allah ‘Azza wa Jalla berupa berbuat maksiat semisal pacaran, dan seterusnya. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menegaskan dalam firmanNya,

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Sungguh jika kalian bersyukur akan Aku (Allah) tambah nikmatKu kepada kalian, namun apabila kalian kufur terhadap nikmatKu ingatlah sesungguhnya adzabKu amat pedih”. (QS : Ibrohim [14] : 7).

Maka hal yang sama juga tak jarang sebagian kita tidak menyadari bahwa urusan istinja’ dan berusaha agar tidak terlihat orang lain ketika buang air merupakan urusan yang besar dalam islam, dalam pandangan Allah ‘Azza wa Jalla dan Nabi junjungan dan teladan kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ

“Dan pakaianmu maka bersihkanlah”. (QS : Al Mudatsir [74] : 4).

Syarat Laa Ilaaha Illallahu dan Dalilnya (2)

22 Aug

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Syarat  Laa Ilaaha Illallahu dan Dalilnya  (2)

Alhamdulillahi Robbil ‘Alamin, washolatu wassalamu ‘ala Nabiyina Muhammmad shallallahu ‘alaihi was sallam, amma ba’du,

Telah berlalu penjelasan ringkas tentang syarat diterimanya kalimat Laa Ilaaha Illallah bagian pertama. Maka pada kesempatan yang baik ini kami akan lanjutkan sedikit penjelasan tentang syarat Laa Ilaaha Illallah bagian kedua yaitu yakin.

Syarat Laa Ilaha Illallahu dan Dalilnya (1)

9 Aug

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Syarat  Laa Ilaha Illallahu dan Dalilnya  (1)

Manusia Allah Subhanahu wa Ta’ala ciptakan di muka bumi ini dengan tujuan untuk menegakkan kalimat Allah yaitu Laa Ilaha Illallah (لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ), yang realisasi dari kalimat ini adalah tauhid kepada Allah ‘azza wa jalla. Hal ini sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Aku ciptakan seluruh jin dan seluruh[1] manusia melainkan untuk mentauhidkanKu[2]“. (QS : Adz Dzariyat [51] :56).

Demikian juga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus pada Nabi dan para Rosul adalah untuk mengajarkan kepada manusia kepada pentauhidan kepada Allah, hal ini sebagaimana firman Allah ‘azza wa jalla,

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

“Tidaklah kami mengutus seorang Rosul/utusan sebelummu kecuali kami wahyukan kepadanya bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Aku (Allah) maka bertauhidlah pada Ku (Allah)[3]”. (QS : Al Anbiya’  [21] : 25).

Cukuplah dua ayat di atas untuk menjelaskan kepada kita betapa mulia dan agungnya mentauhidkan Allah ‘azza wa jalla. Namun sayang, tidak sedikit diantara orang di sekililing kita yang mengucapkan kalimat ini akan tetapi tidak paham makna dan konsekwensi dari kalimat ini. Untuk itulah kami akan uraikan secara ringkas tentang syarat kalimat tauhid[4] dan dalil-dalilnya dari kitab para ulama’ namun secara ringkas.