Kaidah Keenam Metode Penetapan Tauhid dan Penafian/Peniadaan Kebalikannya dalam Al Qur’an

22 Apr

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Kaidah Keenam

Metode Penetapan Tauhid dan Penafian/Peniadaan Kebalikannya dalam Al Qur’an[1]

Isi Al Qur’an secara keseluruhan hampir-hampir merupakan penetapan terhadap tauhid dan penafian kebalikannya yaitu syirik. Allah ‘azza wa jalla menetapkan tauhid uluhiyah dan memurnikan ibadah hanya kepada Allah yang tidak ada sekutu baginya pada banyak ayat dalam Al Qur’an. Allah ‘azza wa jalla juga mengabarkan bahwasanya seluruh utusan Allah menyerukan kepada kaumnya agar hanya menyembah Allah dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun. Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla tidaklah menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaNya–mentauhidkanNya, pent.-. Demikian juga seluruh rasul & kitab yang  mereka bawa sepakat terhadap hal yang sangat dasar ini yang merupakan fondasi yang paling mendasar dari seluruh dasar. Barangsiapa yang tidak tunduk terhadap ajaran ini yaitu mengikhlaskan seluruh ibadah hanya kepada Allah maka  seluruh amalannya adalah amalan yang bathil. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ

“Jika kamu mempersekutukan Allah, niscaya akan hapuslah  seluruh amalmu”. (Az Zumar : 65).

Juga firman Allah ‘azza wa jalla,

وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan”. (Al An’am : 88).

4 Jenis ‘Athof dalam Al Qur’an dan Sunnah

9 Apr

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

4 Jenis ‘Athof dalam Al Qur’an dan Sunnah

Pembaca yang semoga dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala pada kesempatan kali ini kita akan kembali mencoba menggali kaidah-kaidah ushul/dasar yang disampaikan para ulama untuk memamahi Al Qur’an dan Sunnah secara benar. Diantara kaidah yang disampaikan oleh para ulama adalah kaidah dalam memahami ‘athof dalam nash syari’at. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyampaikan ada 4 jenis athof dalam Al Qur’an dan sunnah[1],

[1]. Athof Dua Kata Atau Lebih yang Berbeda Maknanya.

Ahtof jenis ini merupakan athof yang paling tinggi derajatnya karena menggandengkan 2 hal yang berbeda dalam artian makna satu kata (‘athof) tidak sama dengan makna kata yang lain (ma’thuf ‘alaih/kata yang di’athofkan padanya). Contohnya adalah firman Allah ‘azza wa jalla,

الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ

“Dzat Yang Menciptakan langit dan bumi”. (QS : Al Furqon  [25] : 59).

Maka berarti bahwa (السَّمَاوَاتِ) langit bukanlah (الْأَرْضَ) bumi. Contoh yang lain adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

أَنْزَلَ التَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ

“Dzat Yang Menurunkan Taurot dan Injil”. (QS : Ali ‘Imron  [3] : 3).

Sehingga (التَّوْرَاةَ) taurot bukanlah (الْإِنْجِيلَ) Injil demikian sebaliknya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah mengatakan, “ ‘Athof jenis pertama inilah yang paling banyak (dalam Al Qur’an dan Sunnah pent.)”.

Fawaid dari kitab Tahzib Tashil Al Aqidah Al Islamiyah [6]

6 Apr

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Fawaid dari kitab Tahzib Tashil Al Aqidah Al Islamiyah [6]

Topik Pembahasan Ketiga

Pertengahan Ahlus Sunnah diantara Kelompok-Kelompok Menyimpang

Aqidah/keyakinan Ahlu Sunnah wal Jama’ah -merupakan aqidah yang benar- (memiliki ciri khaspent.) pertengahan diantara aqidah/keyakinan kelompok menyimpang yang menisbatkan kepada agama Islam. Aqidah/keyakinan Ahlu Sunnah wal Jama’ah bersifat pertengahan diantara dua pemikiran menyimpang yang saling bertolak belakang, kelompok yang satu terlalu berlebihan dalam masalah aqidah/keyakinan sedangkan kelompok lainnya terlalu meremehkannya. Maka Ahlus Sunnah bersikap peretengahan diantara dua kelompok yang menyimpang tersebut secara umum dan sikap ini terjadi dalam seluruh perkara.

(Syaikh hafidzahullah) mengatakan, “Maka pada kesempatan ini akan aku sebutkan lima (5) ushul/dasar aqidah yang mana Ahlus Sunnah bersikap pertengahan.

[1] Ushul Pertama : Masalah Ibadah

Sikap Ahlus Sunnah dalam masalah ini pertengahan antara 2 aliran menyimpang antara Rofidhoh, Ad Daruz dan An Nushoyyirin[1]. Adapun Rofidhoh, mereka menyembah/beribadah kepada Allah dengan apa yang tidak Allah syari’atkan berupa dzikr-dzikr, tawassul-tawassul, merayakan hari perayaan dalam agama, maulid, membangun kuburan (melebihi apa yang ditetapkan syari’at) dan sholat mengahadap kuburan, thowaf mengelilinginya, menyembelih di kuburan, bahkan yang paling parah dari rofidhoh ini adalah mereka yang menyembah/beribadah kepada penghuni kubur dengan menyembelih hewan untuknya, berdo’a kepadanya dengan harapan penghuni kubur tersebut dapat mencegah hal-hal yang mereka tidak inginkan.

Sebuah Kalimat untuk Kita Renungkan Bersama

4 Apr

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah[1] rohimahullah seorang ulama’ terkemuka mengatakan,

فَالْمَعْرِفَةُ بِالْحَقِّ إِذَا كَانَتْ مَعَ الْاِسْتِكْبَارِ عَنْ قُبُوْلِهِ وَالْجَحْدِ لَهُ كَانَ عَذَابًا عَلَى صَاحِبِهِ كَمَا قَالَ تَعَالَى

وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ

“Pengetahuan seseorang terhadap kebenaran akan tetapi bersamaan dengan kesombongan untuk mengikuti kebenaran tersebut dan mengingkarinya (maka ketahuilah pent.) hal itu adalah adzab bagi pelakunya, sebagaimana firman Allah Ta’ala (yang artinya pent.),

Mereka menginkarinya karena kedzoliman dan kesombongan  padahal hati mereka yakin maka lihatlah bagaimana akhir dari orang-orang yang berbuat kerusakan”. (QS : An Naml [27]  : 14)[2].


[1] Lihat Al ‘Ubudiyah oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah hal. 29 dengan tahqiq oleh Syaikh ‘Ali bin Hasan Al Halabiy hafidzahullah terbitan Darul Mughniy, Riyadh, KSA.

[2] Silakan lihat tulisan kami yang berjudul “Fir’aun dan Iblis Bertauhid Rububiyah pada Allah” di www.alhijroh.com.

Sebuah Kaidah Emas [2]

28 Mar

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Sebuah Kaidah Emas [2]

Kaidah ini juga bisa kita gunakan pada nama-nama Rosululllah shallallahu ‘alaihi was sallam. Misal diantara nama beliau shallallahu ‘alaihi was sallam Ahmad yang berarti orang yang paling banyak memuji Allah ‘azza wa jalla, dalil salah satu nama beliau adalah Ahmad firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ

“Akan ada Rosul setelah aku (Nabi Isa ‘alaihi salam) yang bernama Ahmad”. (QS : Ash Shof  [61] : 6).

Demikian juga salah satu nama beliau adalah Muhammad yang berarti orang yang banyak dipuji karena memiliki banyak shifat terpuji, dalil salah satu nama beliau adalah Ahmad firman Allah ‘azza wa jalla,

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ

“Tidaklah Muhammad itu bapak dari laki-laku salah seorang diantara kalian melainkan dia adalah utusan Allah dan penutup para nabi”. (QS : Al Ahzab [33] : 40).

Sebuah Kaidah Emas [1]

27 Mar

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Sebuah Kaidah Emas [1]

Alhamdulillah kita haturkan dengan lisan dan bathin serta kita kita realisasikan dengan amal kita atas apa yang Allah berikan kepada kita berupa nikmat memeluk satu-satunya agama yang benar yaitu agama islam. Islam merupakan agama yang telah sempurna, sebagaimana firman Allah ‘azza wa jalla,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kusempurnakan kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridhoi Islam sebagai agama bagimu”[1]. (QS : Al Maidah [5] : 3).

Tidak hanya sampai di situ, islam juga merupakan agama yang mudah sebagaimana sabda Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi was sallam,

إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلاَّ غَلَبَهُ

“Sesungguhnya agama (islam) itu mudah, tidaklah orang yang menyusah-nyusahkan agama kecuali dia akan binasa”[2].

Namun bukanlah berarti kemudahan itu membuat kita terhanyut untuk bermudah-mudah meninggalkan perintah dan melanggar larangan Allah dan RosulNya shallallahu ‘alaihi was sallam. Diantara kemudahan tersebut adalah Allah ilhamkan kepada para ulama untuk membuat kaidah dalam agama, yang dengan kaidah-kaidah tersebut memudahkan orang-orang setelah mereka memahami islam.

Apa Kata Mereka Tentang Iman

26 Mar

Ibnu Abil Izz Al Hanafiy rohimahullah mengatakan,

اخْتَلَفَ النَّاسُ فِيْمَا يَقَعَ عَلَيْهِ اسمُ”الْإِيْمَانِ”، اخْتِلَافًا كَثِيْرًا: فَذَهَبَ مَالِكٌ وَالشَّافِعِيُ وَأَحْمَدُ وَاْلأَوْزَاعِيْ وَإِسْحَاقُ بْنُ رَاهَوَيْه وَسَائِرُ أَهْلِ الْحَدِيْثِ، وَأَهْلُ الْمَدِيْنَةِ وِأَهْلِ الظَّاهِرِ وَجَمَاعَةٌ مِنَ الْمُتَكَلِّمِيْنَ -: إِلَى أَنَّهُ تَصْدِيْقٌ باِلْجِنَانِ، وَإِقْرَارٌ بِالْلِّسَانِ، وَعَمَلٌ بِالْأَرْكَانِ.

“Manusia (banyak orang) berselisih pendapat mengenai makna lafadz iman dengan perselisihan yang banyak, Imam Malik, Imam Asy Syafi’iy, Imam Ahmad, Al ‘Auza’iy, Ishaq bin Rohawayh, dan seluruh Ahli Hadits, Ahlu (Pendudukpent.) Madinah, Ahli (Mahzabpent.) Dhohiriy, dan sebagian dari Ahli Kalam/filsafat bahwa Iman adalah pembenaran dengan hati, ikrar dengan lisan dan amal dengan anggota badan[1].


[1] Lihat Syarh Al Aqidah Ath Thohawiyah oleh Ibnu Abil Izz Al Hanafiy rohimahullah dengan tahqiq oleh Syaikh DR. Abdullah bin Abdul Muhsin At Turkiy dan Syaikh Syu’aib Al Arnauth hal. 505/II, Terbitan Mu’