13 Kesalahan dalam Sholat yang Sering Terjadi

21 Mar

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

13 Kesalahan dalam Sholat yang Sering Terjadi

Segala puji yang disertai pengagungan seagung-agungnya hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala dan perendahan diri kita yang serendah-rendahnyanya hanya kita berikan kepadaNya Robbul ‘Alamin. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam.

Tak ayal lagi dan merupakan sebuah hal yang diketahui bersama bahwa sholat memiliki keagungan yang sangat tinggi dalam islam. Bersamaan dengan itu tak jarang kita lihat berbagai praktek sholat yang salah dikerjakan oleh sebagian kaum muslimin. Oleh karena itulah banyak kalangan para ulama’ menulis kitab yang berhubungan dengan kesalahan yang terjadi dalam sholat. Semisal apa yang ditulis Syaikh Masyhur Hasan Alu Salman dan Abdul Aziz bin Abdur Rahman al Musanid. Hal ini menunjukkan perhatian mereka tentang masalah yang dihadapi kaum muslimin dan bukti kalau hal tersebut benar-benar melanda di hampir semua penjuru dunia.

Untuk itulah kami nukilkan sebagian kesalahan tersebut yang sering kami lihat terjadi di sekitar kita dan bagaimana sikap yang benar.

Kesalahan :

[1]. Melafadzkan niat dalam sholat, seperti ucapan sebagian orang ketika hendak mengangkat tabirotul ihrom

نَوَيْتُ أَنْ أُصَلِّيَ الْظُهْرِ أَرْبَعَ رَكْعَاتٍ فِيْ جَمَاعَةٍ أَدَاءً لِلَّهِ تَعَالَى

“Aku berniat mengerjakan sholat dzuhur empat roka’at secara berjama’ah karena mengharapkan (ridho) Allah Ta’ala”[1].

Koreksi :

Sesungguhnya niat sebuah amalan letaknya di hati dan tidak boleh dilafadzkan. Syaikhul Islam Ahmad bin Taimiyah rohimahullah memiliki pembahasan yang bagus seputar masalah ini. Diantara pembahasan beliau, beliau mengatakan, “Sesungguhnya melafadzkan niat merupakan salah satu bentuk lemahnya cara berfikir dan lemahnya pengetahuan agama seseorang. Hal ini juga termasuk bid’ah yang buruk”. [Majmu’ Fatawa hal. 227-258/XXII].

Siapa yang Lebih Berhak Menjadi Imam ?

11 Mar

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Siapa yang Lebih Berhak Menjadi Imam ?

Segala puji yang disertai pengagungan seagung-agungnya hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala dan perendahan diri kita yang serendah-rendahnyanya hanya kita berikan kepadaNya Robbul ‘Alamin. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam.

Kedudukan menjadi imam/pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa adalah sebuah keutamaan besar. Bahkan ia adalah do’a orang-orang yang sholeh. Sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla,

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”. [QS. Al Furqon (25) : 74]

Menjadi imam dalam sholat adalah merupakan salah satu cakupan dari ayat di atas. Namun sebagian orang –Allahu a’lam- karena terlalu bersemangat dalam meraih kedudukan yang mulia ini, mereka tidak segan-segan meraih posisi ini padahal ia tidaklah layak untuk itu dan masih ada orang yang layak untuk itu.

Seputar Mengucapkan Amin dalam Sholat

3 Mar

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Seputar Mengucapkan Amin dalam Sholat

Segala puji yang disertai pengagungan seagung-agungnya hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala dan perendahan diri kita yang serendah-rendahnyanya hanya kita berikan kepadaNya Robbul ‘Alamin. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam.

Sholat merupakan rukun islam yang kedua, sebagaimana terdapat dalam hadits Jibril ‘alaihissalam,

يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِى عَنِ الإِسْلاَمِ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « الإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَتُقِيمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِىَ الزَّكَاةَ وَتَصُومَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيلاً

“Wahai Muhammad beritahukanlah aku apa itu Islam?” Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi was sallam mengatakan, “Islam adalah engkau bersyahadat bahwasanya tiada sesembahan yang benar disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, engkau mengerjakan sholat, engkau menunaikan zakat (wajib bagimu[1]), engkau berpuasa pada Bulan Romadhon, engkau melaksanakan haji ke Mekkah jika engkau mampu[2]”.

Bahkan Sholat merupakan pembeda orang kafir dan orang muslim, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi was sallam,

إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلاَةِ

“Sesungguhnya (pemisah) bagi seseorang dengan kesyirikan dan kekafiran adalah meninggalkan sholat”[3].

Syarat-Syarat Sabar

4 Feb

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Syarat-Syarat Sabar

Segala puji yang disertai pengagungan seagung-agungnya hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala dan perendahan diri kita yang serendah-rendahnyanya hanya kita berikan kepadaNya Robbul ‘Alamin. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam.

Sabar merupakan sebuah hal yang wajib dimiliki oleh setiap muslim dalam mengahadapi hidup dan kehidapan ini dalam setiap keadaannya, baik ketika ia sedang beribadah kepada Allah, ketika menjauhi hal haram dan ketika musibah dunia Allah timpakan kepadanya[1].

Oleh karena itulah menjadi sebuah hal yang penting mengetahui apa yang menjadi topik tulisan ini yaitu syarat-syarat sabar[2] agar sabar yang kita kerjakan bernilai di sisi Allah ‘Azza wa Jalla.

[Syarat Pertama, Ikhlas]

Sabar merupakan perkara yang bisa dimiliki oleh setiap manusia, akan tetapi yang membedakan antara sabar yang syar’i dengan yang lainnya adalah pendorongnya. Sabar yang dipuji sebagaimana dalam Al Qur’an dan As Sunnah adalah sabar yang dilakukan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ

“Dan demi (memenuhi perintah) Robbmu, bersabarlah (terhadap perintah-perintah dan laranganNya[3])”. (QS : Al Mudatsir [74] : 7).

Betapa Tidak Benarnya Berdo’a Kepada Selain Allah

25 Jan

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Betapa Tidak Benarnya Berdo’a Kepada Selain Allah

Segala puji yang disertai pengagungan seagung-agungnya hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala dan perendahan diri kita yang serendah-rendahnyanya hanya kita berikan kepadaNya Robbul ‘Alamin. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam.

Jika kita melihat Al Qur’an akan sangat banyak kita temukan ayat-ayat Allah yang berhubungan dengan do’a. Demikian pula sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi was sallam demikian banyak yang berhubungan dengan do’a baik yang mengabarkan lafadz do’a para Nabi ataupun keutamaan do’a. Semisal Firman Allah ‘Azza wa Jalla menceritakan do’a bapaknya para Nabi yaitu Ibrohim ‘Alaihissalam,

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS : Al Baqoroh [2] : 127).

Demikian pula hadits Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam,

الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ

“Do’a adalah ibadah”[1].

Penjelasan Singkat Bathilnya Berdzikir dengan Kata Mufrod

5 Jan

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Penjelasan Singkat Bathilnya Berdzikir dengan Kata Mufrod

Segala puji yang disertai pengagungan seagung-agungnya hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala dan perendahan diri kita yang serendah-rendahnyanya hanya kita berikan kepadaNya Robbul ‘Alamin. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam.

Dzikir merupakan sebuah ibadah yang agung di sisi Allah. Demikian agungnya dzikir tersebut sampai-sampai Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan dzikir merupakan ibadah yang dapat membuat hati pelakunya menjadi tenang, sebagaimana Allah sebutkan dalam firmanNya,

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan berdzikir kepada Allah. Ingatlah, hanya dengan berdzikir kepada Allah lah hati menjadi tenteram”. (QS : Ar Ro’du [13] :28).

Demikian juga ibadah yang agung ini di mata para ulama memiliki kedudukan yang agung, sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah,

الذِّكْرُ لِلْقُلُبِ مِثْلُ الْمَاءِ لِلْسَّمَكِ فَكَيْفَ يَكُوْنُ حَالُ الْسَّمَكِ إِذَا فَارَقَ الْمَاءُ ؟

(kebutuhan akan) Dzikir bagi hati semisal kebutuhan ikan akan adanya air, maka bagaimanakah keadaan ikan jika terpisah dari air?[1].

Mereka Tidaklah Sama

25 Dec

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Mereka Tidaklah Sama

Segala puji yang disertai pengagungan seagung-agungnya hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala dan perendahan diri kita yang serendah-rendahnyanya hanya kita berikan kepadaNya Robbul ‘Alamin. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam.

Para pembaca yang semoga dirahmati Allah, diantara kita mungkin ada yang pernah membaca hadits tentang keutamaan surat demikian dan demikian, jika membaca surat yang demikian maka baginya demikian dan demikian. Semisal hadits-hadits berikut.

مَنْ قَرَأَ آَيَةَ الْكُرْسِيِ فِيْ دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ لَمْ يَمْنَعْهُ مِنْ دُخُوْلِ الْجَنَّةِ إِلَّا أَنْ يَمُوْتَ

“Barangsiapa yang membaca ayat kursi setiap selesai sholat yang wajib maka tidak ada yang dapat mencegahnya untuk masuk surga kecuali kematian”[1].

Demikian juga hadits tentang perkataan syaithon kepada Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu ketika beliau menjaga harta zakat.