Zakat Fithri / Fithroh -1

13 Jul

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Zakat Fithri / Fithroh -1

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Kita sudah tiba di penghujung bulan Romadhon. Maka konsentrasi kita tertuju pada dua hal yaitu mendapatkan Lailatul Qodr dan menunaikan kewajiban Zakat Fithri/Fithroh.

Pada kesempatan kali ini kita akan mengetengahkannya dalam koridor Mazhab Imam Syafi’i Rohimahullah dengan mengambil faidah dari kitab yang mudah kami dapatkan.

Pengertian Zakat Fithri/Fithroh

Penulis Kifayatul Akhyar Rohimahullah mengatakan,

Zakat Fithri  Fithroh 1

“Penulis (Matan Abu Sujaa’) Rohimahullah mengatakan, ‘Pasal : Zakat Fithri diwajibkan degan 3 sebab : [1] Islam, [2] Tenggelamnya mata hari pada akhir Bulan Romadhon’.

Zakat ini disebutkan dengan zakat fithri karena diwajibkan dengan adanya fithri/berbuka (berakhirnya Bulan Romadhon –pen.) dan disebutkan juga dengan zakat fithroh yaitu penciptaan maksudnya zakat diri karena zakat ini berfungsi menyucikan jiwa yaitu menyucikannya dan mengembangkan, menambah amalnya” [1].

Penulis Al Fiqh Al Manhaji Hafizhahumullah mengatakan,

Zakat Fithri  Fithroh 2

“Pengertiannya : jumlah tertentu dari harta yang wajib dikeluarkan ketika matahari tenggelam pada hari terakhir Bulan Romadhon dengan syarat-syarat tertentu dan dikeluarkan oleh orang yang sudah terbebani syari’at dan setiap orang yang wajib dinafkahinya”[2].

 

Dalil Pensyari’atannya

Zakat Fithri  Fithroh 3

“Kemudian dalil wajibnya zakat fithri adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim dari Ibnu ‘Umar rodhiyallahu ‘anhuma. Beliau mengatakan,

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-  زَكَاةَ الْفِطْرِ مِنْ رَمَضَانَ عَلَى النَّاسِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى كُلِّ حُرٍّ أَوْ عَبْدٍ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى مِنَ الْمُسْلِمِينَ.

“Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam mewajibkan zakat fithri bulan Romadhon atas orang-orang (yang beriman –pen.) satu sho’ kurma kering atau satu sho’ gandum bagi setiap orang yang merdeka, budak, laki-laki ataupun perempuan dari kalangan kaum muslimin”[3].

Bahkan Ibnul Mundzir Rohimahullah mengklaim adanya ijma’ atas kewajibannya”[4].

 

Syarat Wajibnya

Zakat Fithri  Fithroh 4

“Kemudian syarat wajibnya adalah [1] Islam. Berdasarkan sabda Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam,

مِنَ الْمُسْلِمِينَ.

“Dari kalangan kaum muslimin”.

Al Mawardi Rohimahullah mengklaim adanya ijma dalam hal ini. Sehingga tidak ada kewajiban zakat fithri atas orang kafir atas dirinya sendiri. Namun apakah wajib bagi orang yang kafir mengeluarkan zakat fithri atas budak muslim yang dia miliki ? Maka pada masalah ini terdapat khilaf di kalangan para ulama. Pendapat Syaikh (Abu Sujaa’ -pen), “Dan atas orang-orang yang wajib diberinya nafkah dari kalangan kaum muslimin”. Maka pendapat yang benar adalah wajib bagi majikan kafir mengeluarkan zakat fithri budaknya yang muslim”[5].

Zakat Fithri  Fithroh 5

[2] (Telah masuk –pen) waktu wajibnya. Tentang hal ini terdapat beberapa pendapat :

Pendapat Pertama dan yang paling nampak benar : Imam Syafi’i Rohimahullah menegaskan dalam pendapatnya jadidnya bahwa zakat fithri ini diwajibkan karena tenggelamnya matahari. Karena zakat ini namanya disandarkan pada fithri (berbuka) sebagaimana yang terdapat pada lafazh hadits Ibnu ‘Umar rodhiyallahu ‘anhuma.

Pendapat kedua : sesungguhnya zakat fithri diwajibkan karena terbitnya matahari pada hari raya. Karena zakat fithri merupakan ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah yang berhubungan dengan hari raya. Maka tidak boleh didahulukan seperti qurban.

Pendapat ketiga : bergantung pada dua perkara. Seandainya seseorang memiliki budak setelah tenggelamnya matahari…Maka orang yang membelinya tidak wajib mengekeluarkan zakat fithrinya berdasarkan pendapat yang lebih nampak benar. Demikian juga seandainya dia dikaruniai anak atau menikahi seorang wanita setelah tenggelamnya matahari pada hari terakhir bulan Romadhon maka tidak ada kewajiban fithroh baginya atas mereka. Karena tidak mendapati waktu wajibnya. Allahu a’lam”[6].

Zakat Fithri  Fithroh 6

“Abu Sujaa’ Rohimahullah mengatakan, ‘Adanya kelebihan makanan pokoknya dan keluarganya pada hari tersebut. Dia mengeluarkan zakat atas dirinya dan orang-orang yang wajib dinafkahinya dari kalangan kaum muslimin’.

Inilah sebab ketiga wajibnya zakat fithri. Yaitu adanya kemudahan/kelapangan rizki. Maka orang yang susah tidak wajib mengeluarkan zakat. Ibnul Mundzir Rohimahullah mengatakan adanya ijma’ tentang hal ini”[7].

Mudah-mudahan bermanfaat.

 

 

Bersambung Inysa Allah

Sigambal, setelah subuh.

26 Romadhon 1436 H / 13 Juli 2015 M / Aditya Budiman bin Usman

[1] Lihat Kifayatul Akhyar hal. 279 terbitan Darul Minhaaj, Jeddah, KSA.
[2] Lihat Al Fiqh Al Manhaji hal.229 terbitan Darul Qolam, Damaskus.
[3] HR. Bukhori no. 1504 dan Muslim no. 2278. Berdasarkan hadits ini maka penyebutan yang berasal dari Sunnah Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam adalah zakat fithri. Namun hendaknya jangan berlebihan dalam masalah ini.
[4] Lihat Kifayatul Akhyar hal. 279.
[5] Idem hal. 279-280.
[6] Idem hal. 280.
[7] Idem.

 

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply