Tirulah Penyelesalan Mereka … Mari Bertaubat

25 Feb

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Tirulah Penyelesalan Mereka … Mari Bertaubat

Alhamdulillah wa Sholatu wa Salamu ‘alaa Rosulillah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam.

Taubat merupakan sebuah ungkapan yang ringan di lidah namun sangat berat untuk dikerjakan. Ibnul Qoyyim Rohimahullah mengatakan[1] sebuah ungkapan yang sangat luar biasa berkaitan dengan kedudukan taubat dalam hidup kita,

Tirulah Penyelesalan Mereka ... Mari Bertaubat 1

“Kedudukan/derajat taubat adalah kedudukan awal, pertengahan dan akhir (dari kehidupan seorang hamba- pen). Maka seorang hamba yang hendak berjalan (menuju keridhoan Allah –pen.) tidak boleh meninggalkannya. Ia harus senantiasa bertaubat hingga ruh meninggalkan jasadnya (mati). Ketika dia berpindah dari satu kedudukan (dalam hidupnya –pen) maka taubat pun akan senantiasa menyertainya”.

Beliau Rohimahullah melanjutkan,

Tirulah Penyelesalan Mereka ... Mari Bertaubat 2

“Maka taubat merupakan permulaan seorang hamba dan akhirnya. Kebutuhannya terhadap taubat ketika akhir hidupnya merupakan sebuah kebutuhan yang amat urgen. Sedemikian jua butuhnya ia terhadap taubat pada awal hidupnya. Sungguh Allah Ta’ala telah berfirman,

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Dan bertaubat kalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman seluruhnya. Agar kamu beruntung”. (QS. An Nuur [24] : 31)”[2].

Tirulah Penyelesalan Mereka ... Mari Bertaubat 3

“Ayat ini terdapat dalam surat Madaniah. Allah berfirman dengannya kepada orang-orang yang beriman dan manusia-manusia terbaik agar mereka bertaubat kepada Allah padahal mereka telah beriman, bersabar, berhijrah dan berjihad di jalan Allah. Kemudian Allah kaitkan kesuksesan, kebahagian dengan taubat dengan menggandengkan sebab dan akibat. Kemudian Allah menggunakan kata (لَعَلَّ) yang memberikan kesan adanya harapan[3]. Allah mengingatkan kita jikalau kalian bertaubat maka kalian memiliki harapan untuk sukses, beruntung dan bahagia. Sehingga tidaklah orang-oranng yang berharap kebahagian, kesuksesan dan keberuntungan melainkan orang-orang yang bertaubat. Mudah-mudahan Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang bertaubat”[4].

Maka lihatlah saudaraku….

Firman Allah Tabaroka wa Ta’ala di atas turun kepada Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam dan para Shahabat Rodhiyallahu ‘anhum yang tidak ada keraguan akan kekuatan ilmu, iman dan amalnya …..

Jika mereka saja masih Allah perintahkan untuk bertaubat agar mereka beruntung……

Maka bagaimana dengan kita yang masih jauh, jauh, jauh, jauh sekali dengan mereka dalam hal ilmu, iman dan amal !!!!

Tidakkah kita pernah membaca hadits Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam

يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّى أَتُوبُ فِى الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ

“Wahai sekalian manusia, bertaubatlah kalian kepada Allah. Karena sesungguhnya aku bertaubat kepada Nya dalam sehari 100 kali”[5].

Dalam lafazh milik Imam Bukhori disebutkan,

وَاللهِ إنِّي لأَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأتُوبُ إلَيْهِ فِي اليَومِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً

“Demi Allah, sesungguhnya aku memohon ampun dan bertaubat kepada Nya dalam sehari lebih dari 70 kali”[6].

Ibnu Hajar Rohimahullah mengatakan,

Tirulah Penyelesalan Mereka ... Mari Bertaubat 4

“Sabda Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam (وَاللهِ إنِّي لأَسْتَغْفِرُ اللهَ) ‘Demi Allah, sesungguhnya aku memohon ampun’ pada kutipan hadits ini terdapat sumpah Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam terhadap suatu perkara sebagai penguatan/penegasan walaupun tidak ada keraguan pada orang yang mendengar sabda beliau Shollalahu ‘alaihi wa Sallam[7].

Beliau Rohimahullah melanjutkan,

Tirulah Penyelesalan Mereka ... Mari Bertaubat 5

“Sabda Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam (لأَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأتُوبُ إلَيْهِ) ‘sesungguhnya aku memohon ampun dan bertaubat kepada Nya’ secara zhohir menunjukkan bahwasanya beliau Shollalahu ‘alaihi wa Sallam meminta ampun dan benar-benar berkeinginan kuat untuk bertaubat[8].

Belumkah hati kita tergugah untuk bertaubat kepada Allah ‘Azza wa Jalla ?!!

Mari simak sebuah hadits yang menceritakan keadaan mencekam di hari qiyamat. Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam mengatakan,

أَنَا سَيِّدُ النَّاسِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَهَلْ تَدْرُونَ بِمَ ذَاكَ يَجْمَعُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الأَوَّلِينَ وَالآخِرِينَ فِى صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَيُسْمِعُهُمُ الدَّاعِى وَيَنْفُذُهُمُ الْبَصَرُ وَتَدْنُو الشَّمْسُ فَيَبْلُغُ النَّاسَ مِنَ الْغَمِّ وَالْكَرْبِ مَا لاَ يُطِيقُونَ وَمَا لاَ يَحْتَمِلُونَ فَيَقُولُ بَعْضُ النَّاسِ لِبَعْضٍ أَلاَ تَرَوْنَ مَا أَنْتُمْ فِيهِ أَلاَ تَرَوْنَ مَا قَدْ بَلَغَكُمْ أَلاَ تَنْظُرُونَ مَنْ يَشْفَعُ لَكُمْ إِلَى رَبِّكُمْ فَيَقُولُ بَعْضُ النَّاسِ لِبَعْضٍ ائْتُوا آدَمَ. فَيَأْتُونَ آدَمَ فَيَقُولُونَ يَا آدَمُ أَنْتَ أَبُو الْبَشَرِ خَلَقَكَ اللَّهُ بِيَدِهِ وَنَفَخَ فِيكَ مِنْ رُوحِهِ وَأَمَرَ الْمَلاَئِكَةَ فَسَجَدُوا لَكَ اشْفَعْ لَنَا إِلَى رَبِّكَ أَلاَ تَرَى إِلَى مَا نَحْنُ فِيهِ أَلاَ تَرَى إِلَى مَا قَدْ بَلَغَنَا فَيَقُولُ آدَمُ إِنَّ رَبِّى غَضِبَ الْيَوْمَ غَضَبًا لَمْ يَغْضَبْ قَبْلَهُ مِثْلَهُ وَلَنْ يَغْضَبَ بَعْدَهُ مِثْلَهُ وَإِنَّهُ نَهَانِى عَنِ الشَّجَرَةِ فَعَصَيْتُهُ نَفْسِى نَفْسِى اذْهَبُوا إِلَى غَيْرِى اذْهَبُوا إِلَى نُوحٍ. فَيَأْتُونَ نُوحًا فَيَقُولُونَ يَا نُوحُ أَنْتَ أَوَّلُ الرُّسُلِ إِلَى الأَرْضِ وَسَمَّاكَ اللَّهُ عَبْدًا شَكُورًا اشْفَعْ لَنَا إِلَى رَبِّكَ أَلاَ تَرَى مَا نَحْنُ فِيهِ أَلاَ تَرَى مَا قَدْ بَلَغَنَا فَيَقُولُ لَهُمْ إِنَّ رَبِّى قَدْ غَضِبَ الْيَوْمَ غَضَبًا لَمْ يَغْضَبْ قَبْلَهُ مِثْلَهُ وَلَنْ يَغْضَبَ بَعْدَهُ مِثْلَهُ وَإِنَّهُ قَدْ كَانَتْ لِى دَعْوَةٌ دَعَوْتُ بِهَا عَلَى قَوْمِى نَفْسِى نَفْسِى نَفْسِى اذْهَبُوا إِلَى إِبْرَاهِيمَ -صلى الله عليه وسلم-.

فَيَأْتُونَ إِبْرَاهِيمَ فَيَقُولُونَ أَنْتَ نَبِىُّ اللَّهِ وَخَلِيلُهُ مِنْ أَهْلِ الأَرْضِ اشْفَعْ لَنَا إِلَى رَبِّكَ أَلاَ تَرَى إِلَى مَا نَحْنُ فِيهِ أَلاَ تَرَى إِلَى مَا قَدْ بَلَغَنَا فَيَقُولُ لَهُمْ إِبْرَاهِيمُ إِنَّ رَبِّى قَدْ غَضِبَ الْيَوْمَ غَضَبًا لَمْ يَغْضَبْ قَبْلَهُ مِثْلَهُ وَلاَ يَغْضَبُ بَعْدَهُ مِثْلَهُ. وَذَكَرَ كَذَبَاتِهِ نَفْسِى نَفْسِى نَفْسِى اذْهَبُوا إِلَى غَيْرِى اذْهَبُوا إِلَى مُوسَى.

فَيَأْتُونَ مُوسَى -صلى الله عليه وسلم- فَيَقُولُونَ يَا مُوسَى أَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ فَضَّلَكَ اللَّهُ بِرِسَالاَتِهِ وَبِتَكْلِيمِهِ عَلَى النَّاسِ اشْفَعْ لَنَا إِلَى رَبِّكَ أَلاَ تَرَى إِلَى مَا نَحْنُ فِيهِ أَلاَ تَرَى مَا قَدْ بَلَغَنَا فَيَقُولُ لَهُمْ مُوسَى -صلى الله عليه وسلم- إِنَّ رَبِّى قَدْ غَضِبَ الْيَوْمَ غَضَبًا لَمْ يَغْضَبْ قَبْلَهُ مِثْلَهُ وَلَنْ يَغْضَبَ بَعْدَهُ مِثْلَهُ وَإِنِّى قَتَلْتُ نَفْسًا لَمْ أُومَرْ بِقَتْلِهَا نَفْسِى نَفْسِى نَفْسِى اذْهَبُوا إِلَى عِيسَى -صلى الله عليه وسلم-.

فَيَأْتُونَ عِيسَى فَيَقُولُونَ يَا عِيسَى أَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ وَكَلَّمْتَ النَّاسَ فِى الْمَهْدِ وَكَلِمَةٌ مِنْهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ فَاشْفَعْ لَنَا إِلَى رَبِّكَ أَلاَ تَرَى مَا نَحْنُ فِيهِ أَلاَ تَرَى مَا قَدْ بَلَغَنَا فَيَقُولُ لَهُمْ عِيسَى -صلى الله عليه وسلم- إِنَّ رَبِّى قَدْ غَضِبَ الْيَوْمَ غَضَبًا لَمْ يَغْضَبْ قَبْلَهُ مِثْلَهُ وَلَنْ يَغْضَبَ بَعْدَهُ مِثْلَهُ – وَلَمْ يَذْكُرْ لَهُ ذَنْبًا – نَفْسِى نَفْسِى نَفْسِى اذْهَبُوا إِلَى غَيْرِى اذْهَبُوا إِلَى مُحَمَّدٍ -صلى الله عليه وسلم-

“Aku adalah pemimpin manusia pada hari qiyamat. Tahukah kalian apa yang terjadi pada hari qiyamat dimana Allah mengumpulkan manusia dari awal hingga orang terakhir mereka di suatu padang yang amat luas. Diperdengarkan kepada mereka seorang yang menyeru. Ketika itu mata terbelalak, matahari di dekatkan, manusia pada saat itu berada di puncak ketakutan dan kesusahan terhadap sebuah perkara yang mereka tidak mampu memikulnya. Ketika itu sebagian orang berkata kepada sebagian yang lain, ‘Tidaklah kalian melihat keadaan kalian ini, tidaklah kalian melihat apa yang telah disampaikan kepada kalian, tidakkah kalian mencari orang yang dapat memberikan syafa’at atas kalian kepada Robb kalian ?’ Sebagian orang lain menjawab, ‘Datanglah kalian kepada Adam’. Merekapun mendatangi Adam kemudian mengatakan, ‘Wahai Adam engkau adalah Bapaknya manusia, Allah menciptakanmu dengan tangannya sendiri kemudian menghembuskan ruh kepadamu kemudian memerintahkan malaikat untuk bersujud kepadamu. Maka mintalah syafa’at Robbmu untuk kami. Tidakkah engkau melihat betapa keadaan kami, tidaklah engkau melihat kesusahan yang sudah sampai kepada kami’. Kemudian Adam mengatakan, “Sungguh Robb ku telah murka kepadaku di suatu hari dengan kemurkaan yang luar biasa, tidak ada kemarahan yang semisal sebelumnya dan sesudah itu. ketika itu Allah melarangku mendekati sebuah pohon kemudian aku bermaksiat dengan melanggar perintah itu, wahai jiwaku, wahai jiwaku… pergilah kalian kepada selainku, pergilah kalian kepada Nuh”.

Lalu merekapun mendatangi Nuh kemudian mengatakan, ‘Wahai Nuh, engkau adalah rosul pertama yang diutus ke bumi. Allah menyebutmu sebagai hamba yang bersyukur. Mintakanlah syafa’at Robb mu untuk kami. Tidakkah engkau melihat betapa keadaan kami, tidaklah engkau melihat kesusahan yang sudah sampai kepada kami’. Nuh menjawab, “Sungguh Robb ku telah murka kepadaku di suatu hari dengan kemurkaan yang luar biasa, tidak ada kemarahan yang semisal sebelumnya dan sesudah itu. sesungguhnya aku memiliki sebuah do’a yang aku berdo’a dengannya untuk ummatku. Wahai jiwaku, wahai jiwaku, wahai jiwaku. Pergilah kalian kepada Ibrohim Shollalahu ‘alaihi wa Sallam”.

Merekapun mendatangi Ibrohim lalu berkata, ‘Engkau adalah Nabi Allah, Kekasih Allah dari kalangan penduduk bumi. Mintakanlah syafa’at Robb mu untuk kami. Tidakkah engkau melihat betapa keadaan kami, tidaklah engkau melihat kesusahan yang sudah sampai kepada kami’. Kemudian beliau menjawab, “Sungguh Robb ku telah murka kepadaku di suatu hari dengan kemurkaan yang luar biasa, tidak ada kemarahan yang semisal sebelumnya dan sesudah itu”. kemudian beliau menyebutkan dusta yang pernah beliau lakukan (dalam redaksi Bukhori disebutkan 3 kedustaan -pen). “Wahai jiwaku, wahai jiwaku, wahai jiwaku. Pergilah kalian kepada orang selainku. Pergilah kepada Musa”.

Merekapun mendatangi Musa Shollalahu ‘alaihi wa Sallam kemudian mengakatan, ‘Wahai Musa engkau adalah Rosul Allah, Allah telah mengutamakanmu dari manusia lainnya dengan risalah Nya, berbicara langsung kepada Nya. Mintakanlah syafa’at Robb mu untuk kami. Tidakkah engkau melihat betapa keadaan kami, tidaklah engkau melihat kesusahan yang sudah sampai kepada kami’. Musa pun mengatakan, “Sungguh Robb ku telah murka kepadaku di suatu hari dengan kemurkaan yang luar biasa, tidak ada kemarahan yang semisal sebelumnya dan sesudah itu. sesungguhnya aku telah membunuh seseorang yang aku tidak diperintahkan untuk membunuhnya. Wahai jiwaku, wahai jiwaku, wahai jiwaku. Pergilah kalian temui ‘Isa Shollalahu ‘alaihi wa Sallam”.

Merekapun mendatangi ‘Isa, kemudian mengatakan, ‘Wahai ‘Isa engkau adalah Rosul Allah, engkau berbicara kepada manusia tentang Imam Mahdi, engkau adalah kalimat yang berasal dari Allah, yang Allah tiupkan kepada Maryan sebagai sebuah ruh dari Nya. Mintakanlah syafa’at Robb mu untuk kami. Tidakkah engkau melihat betapa keadaan kami, tidaklah engkau melihat kesusahan yang sudah sampai kepada kami’. ‘Isa Shollalahu ‘alaihi wa Sallam pun menjawab, “Sungguh Robb ku telah murka kepadaku di suatu hari dengan kemurkaan yang luar biasa, tidak ada kemarahan yang semisal sebelumnya dan sesudah itu. namun tidak disebutkan dosa beliau. Beliau mengatakan, “Wahai jiwaku, wahai jiwaku, wahai jiwaku. Pergilah kalian kepada Muhammad Shollalahu ‘alaihi wa Sallam[9].

Lihatlah saudaraku, betapa dosa begitu besar dimata mereka, padahal mereka adalah utusan Allah ‘Azza wa Jalla. Lihatlah betapa mereka tahu keadaan mereka yang pernah berdosa. Betapa kuat rasa penyesalan mereka atas dosa-dosa mereka. Betapa mereka tidak merasa aman dari dosa yang telah lalu ?!!!!

Lalu pantaskah kita tidak bertaubat lagi dan tidak memohon ampun kepada Allah ‘Azza wa Jalla !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

 

 

Selesai Subuh, 1 Jumadil Ulaa 1436 H, 21 Februari 2015 M

Al Faaqir ilaa Maghfiroti Robbihi/Aditya Budiman bin Usman.

[1] Lihat Madaarijus Saalikiin oleh Ibnul Qoyyim Rohimahullahhal. 532/I terbitan Dar Shomi’i Riyadh, KSA.

[2] Idem hal. 532-533/I.

[3] Namun kalimat (لَعَلَّ) jika terdapat dalam firman Allah ‘Azza wa Jalla dan Sabda Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam maka menghasilkan sebuah kepastian.

[4] Lihat Madaarijus Saalikiin oleh Ibnul Qoyyim Rohimahullahhal. 533/I

[5] HR. Muslim no. 2702.

[6] HR. Bukhori no. 6307.

[7] Lihat Fathul Baari oleh Ibnu Hajar hal. 285/XIV terbitan Dar Thoyyibah, Riyadh, KSA.

[8] Idem.

[9] HR. Bukhori no. 4712, Muslim no. 501

Tulisan Terkait

Leave a Reply