Tipu Daya Iblis Kepada Ulama

25 Feb

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Tipu Daya Iblis Kepada Ulama

Alhamdulillah wa shollatu wa sallamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa aalihi wa ashaabihi ajma’ain.

Pada artikel sebelumnya telah kami ketengahkan perkataan Ibnul Jauziy Rohimahullah seputar tipu daya syaithon atas orang-orang miskin (klik di sini).

Setiap insan tidak dibiarkan iblis tenang beribadah kepada Robbnya. Tak terkecuali ulama, bahkan Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda sebagaimanya yang diriwayatkan dari Mush’ab bin Sa’d dari ayahnya, dia berkata,

قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً قَالَ الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الصَّالِحُونَ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ مِنْ النَّاسِ يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ

Aku bertanya kepada Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam, “Siapakah yang paling berat cobaannya ?” Beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab, “Para Nabi, kemudian orang-orang sholeh kemudian manusia yang semisal. Seseorang dicoba sesuai dengan kadar agamanya…….”[1].

Kemudian dalam kesempatan yang lain Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam mengatakan,

إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ

“……….Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para Nabi…….”[2].

Maka dari kedua hadits di atas dapat kita pahami bahwa iblis akan menurunkan bala tentaranya untuk menggoda orang-orang sholeh dan para ulama serta orang orang yang semisal dengan mereka dengan godaan yang luar biasa. Allah ‘Azza wa Jalla akan mencoba manusia sesuai dengan kadar agama dan keilmuannya.

Menariknya Ibnul Jauziy Rohimahullah membahas khusus masalah talbis iblis atas ulama. Beliau Rohimahullah mengatakan,

وَمِنْ تَلْبِيْسِ إِبْلِيْسَ عَلَى الفُقَهَاءِ مُخَالَطَتُهُمْ الْأُمَرَاءَ وَالسَّلَاطِيْنَ, وَمُدَاهَنَتَهُمْ وَتْرْكُ الإِنْكَارِ عَلَيْهِمْ مَعَ القُدْرَةِ عَلَى ذَلِكَ. وَرُبَّمَا رَخَصُوا لَهُمْ فِيْمَا لَا رُخْصَةَ لَهُمْ, فِيْهِ لِيَنَالُوا مِنْ دُنْيَاهُمْ عَرَضًا فَيَقَعُ بِذَلِكَ الفَسَادِ لِثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ :

الأَوَّلُ الأَمِيْرُ, يَقُوْلُ لَوْلَا أَنِّي عَلَى صَوَابٍ لَأَنْكَرَ عَلَى الفَقِيْهِ, وَكَيْفَ لَا أَكُوْنَ مُصِيْبًا وَهُوَ يَأْكُلُ مِنْ مَالِيْ.

والثَّانِي العَامِيُ أَنَّهُ يَقُوْلُ لَا بَأْسَ بِهَذَا الأَمِيْرِ وَلَا بِمَالِهِ وَلَا بِأَفْعَالِهِ فَاِنَّ فُلَانًا الفَقِيْهَ لَا يَبْرَحُ عِنْدَهُ.

والثَّالِثُ الفَقِيْهُ فَإِنَّهُ يَفْسُدُ دِيْنَهُ بَذَلَكَ.

“Diantara tipu daya iblis kepada para ahli fikih adalah iblis mendorong mereka untuk mendekati para pemimpin dan penguasa, mencari pujian/muka dari mereka serta meninggalkan pengingkaran atas kesalahan para pemimpin dan penguasa, padahal mereka –para ahli fikih- mampu.

Terkadang bahkan betapa seringnya para ahli fikih tersebut memberikan keringanan kepada para pemimpin dan penguasa dengan motif untuk mendapatkan kenikmatan dunia dari mereka. Sehingga terjadilah banyak kerusakan dari tiga sisi :

Pertama, Pemimpin. Dia akan berkata, ‘Kalaulah aku tidak berada di atas kebenaran maka pasti para ahli fikih akan mengingkarinya. Bagaimana tidak demikian sementara mereka memakan harta dari ku ?!’.

Kedua, Orang awam. Dia kan berkata, ‘Pemimpin ini harta dan perbuatannya tidaklah salah karena si Fulan yang merupakan ahli fikih selalu bersamanya (dan tidak mengingkarinya- ed.)’.

Ketiga, Ahli Fikih. Agamanya akan rusak karena hal itu.”

Selanjutnya Ibnul Jauziy Rohimahullah melanjutkan,

وَقَدْ لَبَّسَ إِبْلِيْسُ عَلَيْهِمْ فِي الدُّخُوْلِ عَلَى السُّلْطَانِ فَيَقُوْلُ اِنَّمَا نَدْخُلُ لَنَشْفَعَ فِيْ مُسْلِمٍ.

وَيَنْكَشِفُ هَذَا التَّلْبِيْسُ بِأَنَّهُ لَوْ دَخَلَ غَيْرُهُ يَشْفَعُ لِمَا أَعْجَبَهُ ذَلِكَ, وَرُبَّمَا قَدَحَ فِيْ ذَلِكَ الشَّخْصِ لِتُفَرِّدُهُ بِالسُّلْطَانِ.

“Iblis telah menipu mereka (para ahli fikih) karena mereka telah masuk dan mendekatkan diri mereka kepada para penguasa. Mereka akan mengatakan, ‘Sesungguhnya yang mendorong kami untuk mendekatkan diri kepada penguasa adalah karena kami hendak membantu muslim’[3].

Kedok mereka ini akan terlihat jelas jika ada seseorang yang juga ingin berusaha membantunya maka dia tidak akan menyukainya. Bahkan terkadang dia mencela orang tersebut agar hanya dia yang dekat dengan para penguasa”.

Beliau Rohimahullah melanjutkan,

وَمِنْ تَلْبِيْسِ إِبْلِيْسَ عَلَيْهِ فِيْ أَخْذِ أَمْوَالِهِمْ فَيَقُوْلُ لَكَ فَيْهَا حَقٌّ.

وَمَعْلُوْمٌ أَنَّهَا إِنْ كَانَتْ مِنْ حَرَامٍ لَمْ يَحِلَّ لَهُ مِنْهَا شَيْءٌ, وَاِنْ كَانَتْ مِنْ شُبْهَةٍ فَتَرَكَهَا أَوْلَى.

وَاِنْ كَانَتْ مِنْ مُبَاحٍ جَازَ لَهُ الْأَخْذُ بِمِقْدَارِ مَكَانَهُ مْن الدينِ لَا عَلَى وَجْهِ إِتِّفَاقِهِ فِيْ إِقَامَةِ الرُعُوْنَةِ.

وَرُبَّمَا اَقْتَدَى العَّوَامُ بِظَاهِرِ فَعَلَهُ وَاسْتِبَاحُوا مَالَا يُسْتَبَاحُ.

“Diantara talbis iblis atas mereka adalah dalam masalah mengambil harta penguasa. Iblis akan membisikkan pada mereka, ‘Pada harta (para penguasa) ada hak mu. Padahal sebuah hal yang telah dimaklumi bahwa jika harta yang dia ambil dari penguasa itu berasal dari harta yang tidak halal sedikitpun baginya untuk mengambilnya. Jika harta tersebut berasal dari yang syubhat maka meninggalkan dari mengambilnya adalah sesuatu yang lebih utama. Jika harta tersebut berasal dari harta yang mubah maka boleh baginya mengambilnya sekadar yang sesuai dengan kebutuhan agamanya bukan untuk sebagai sebagai infaknya dalam menegakkan kebodohannya.

Maka boleh jadi sebagian besar orang awam akan meniru yang dia lakukan dari yang mereka lihat. Sehingga mereka menganggap boleh sesuatu yang sebenarnya tidak boleh”.

 

Diterjemahkan dengan perubahan redaksi seperlunya dari Kitab Al Muntaqoo An Nafiis min Talbiis Ibliis li Imam Ibnil Jauziy karya Syaikh ‘Ali bin Hasan Al Halabiy hafidzahullah hal. 133-134 terbitan Dar Ibnu Jauziy, Riyadh, KSA]

Maka lihatlah wahai saudaraku yang berani menceburkan dirinya sebagaimana kasus di atas. Mudah-mudahan kita senantiasa dalam penjagaan Allah ‘Azza wa Jalla.

 

 

 

Sigambal, setelah subuh

24 Robi’ul Akhir 1435 H / 24 Pebruari 2014 M / Aditya Budiman bin Usman



[1] HR. Tirmidzi no. 2398, Ahmad no. 1418. Lafadz ini milik Imam Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan sanadnya hasan.

[2] HR. Abu Dawud no. 3643, Ibnu Majah no. 23. Syaikh Al Albani mengatakan “Shahih”.

[3] Syaikh ‘Ali bin Hasan hafidzahullah mengatakan, “Oleh karena itu bukanlah termasuk petunjuk salaf mendekatkan diri ke pintu penguasa. Sebagian mereka mengatakan, ‘Jika kamu melihat seorang ulama berada di depan pintu penguasa maka dia maling’.

Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

إياكم و أبواب السلطان فإنه قد أصبح صعبا و هبوطا

“Jauhilah oleh kalian pintu-pintu penguasa karena sesungguhnya ia akan menjadi sulit dan rendah”.

Ini adalah hadits hasan”.

 

 

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply