Tipu Daya Iblis Kepada Pemimpin dan Penguasa

14 Oct

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Tipu Daya Iblis Kepada Pemimpin dan Penguasa

 

Alhamdulillah wa shollatu wa sallamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa aalihi wa ashaabihi ajma’ain.

Iblis dan bala tentaranya dari golongan jin dan manusia tidak akan pernah membiarkan seorang hamba Allah. Tak terkecuali para pemimpin kaum muslimin dan penguasanya. Menjadi pemimpin atau penguasa kaum muslimin bukanlah suatu hal yang pada dasarnya tercela. Namun ketika anda diserahi kepercayaan dan amanah untuk mengurusi urusan kaum muslimin maka hendaklah memperhatikan dan mematuhi aturan Allah ‘Azza wa Jalla. Disamping itu hendaklah anda mewaspadai tipu daya iblis sebagai berikut.

Ibnul Jauziy Rohimahullah dalam Kitabnya Talbis Iblis mengatakan,

Tipu Daya Iblis Atas Penguasa1

‘Iblis telah menipu dan mengacaukan mereka (para pemimpim dan penguasa –ed) dari banyak sisi. Berikut kami sebutkan beberapa induknya :

Pertama, Iblis memperlihatkan kepada mereka bahwasanya Allah ‘Azza wa Jalla mencintai mereka. Karena kalau tidak demikian, Allah tidak akan memberikan kepada mereka kekuasaan dan tidak menjadikan mereka sebagai pengganti-Nya dalan mengurusi urusan-urusan hamba-hamba Allah !

Tipu daya ini dapat terbongkar dengan mengatakan, bahwsanya jikalah mereka benar-benar menjadi pengganti Allah dalam mengurusi urusan hamba-hamba Allah dengan sebenar-benarnya maka hendaklah mereka menjadidan Syari’at Allah sebagai hakim (yang menjadi patokan hukum mereka –ed.), mengikuti hal-hal yang Allah ridhoi. Jika demikian keadaannya maka Allah akan mencintai mereka karena mereka menta’ati Allah ‘Azza wa Jalla.

Adapun kerajaan dan kekuasaan, maka sesungguhnya (kebanyakan -ed) Allah berikan kepada orang-orang yang Dia murkai. Allah melapangkan dunia bagi mereka orang-orang yang Dia tidak ingin melihat mereka (dalam keridhoan –ed). Allah menguasakan beberapa orang dari mereka atas wali-wali Nya dan orang-orang sholeh. Maka orang-orang itu memerangi dan mengalahkan mereka. Maka apa yang Allah berikan kepada mereka bukanlah untuk kebaikan mereka. Hal ini termasuk dalam firman Allah Subhana wa Ta’ala,

إِنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ لِيَزْدَادُوا إِثْمًا

“Sesungguhnya Kami memberikannya kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka”. (QS. Ali ‘Imron [3] : 178)

 

Tipu Daya Iblis Atas Penguasa2

Kedua, Iblis membisikkan kepada mereka bahwa kekuasaan/kepemimpinan membutuhkan kewibawaan. Maka mereka menyombongkan diri dari para penuntut ilmu agama, majelisnya para ulama. Sehingga mengamalkan pendapat mereka semata yang akhirnya akan merusak tatanan agama.

Merupakan sebuah hal yang sudah diketahui bahwa tabiat, mencuri sifat orang-orang yang bergaul satu sama lain. Bila para pemimpin dan penguasa bergaul dengan orang-orang yang lebih mementingkan dunia dibandingkan aturan syari’at. Maka tabiat mereka akan mencuri sifat-sifat orang yang bergaul dengannya, disamping mereka sendiri sebenarnya telah memiliki sifat-sifat buruk orang-orang yang lebih mementingkan dunia tersebut. sehingga para penguasa tidak akan mendapatkan orang yang mau mengingatkannya dan memperingatkannya. Inilah sebab kehancuran dan kebinasaan.

 

Tipu Daya Iblis Atas Penguasa3

Ketiga, Iblis dan bala tentaranya menakuti-nakuti penguasa dan pemimpim kaum muslimin agar mereka takut kepada musuh, memerintahkan para penjaganya untuk memperketat penjagaan[1]. Sehingga orang-orang yang terzholimi dan teraniaya haknya tidak dapat menemui mereka.

Abu Maryan Al Asadiy Rodhiyallahu ‘anhu telah meriwayatkan dari Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bahwa beliau bersabda,

مَنْ وَلاَّهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ شَيْئًا مِنْ أَمْرِ الْمُسْلِمِينَ فَاحْتَجَبَ دُونَ حَاجَتِهِمْ وَخَلَّتِهِمْ وَفَقْرِهِمُ احْتَجَبَ اللَّهُ عَنْهُ دُونَ حَاجَتِهِ وَخَلَّتِهِ وَفَقْرِهِ

Barangsiapa yang Allah serahi urusan kaum muslimin lalu dia menutup diri dari mereka dengan tidak menunaikan hajat/urusan mereka, kebutuhan mereka dan kemiskinan/kefaqiran mereka maka Allah akan menutup diri darinya terhadap hajat/urusan, kebutuhan dan kemiskinan/kefaqirannya”[2].

Catatan :

Berdasarkan Kaidah Ushul Fiqh dan Tafsir, yaitu isim nakiroh dalam konteks syarat memberikan faidah keumuman. Sehingga susunan kalimat hadits di atas bersifat umum. Artinya barangsiapa (siapapun dia) yang mengurusi urusan kaum muslimin (urusan apapun itu) termasuk dalam ancaman ini. Allahu a’lam.

Tipu Daya Iblis Atas Penguasa4

Keempat, sesungguhnya mereka mengangakat orang-orang yang tidak memiliki kemampuan (baca : kapabel), tidak berilmu, tidak bertaqwa dan takut kepada Allah. Sehingga orang-orang akan mendo’akan keburukan bagi mereka karena kezholiman mereka. Dia (penguasa/pemimpin) memberikan makan dari yang haram dengan transaksi yang rusak[3]. Menetapkan hukuman terhadap orang-orang yang tidak layak mendapatkannya. Semua ini dilakukan karena anggapan bahwa meraka telah berbuat kebaikan berupa menunaikan kewajiban yang telah Allah pikulkan di atas pundak mereka.

Tipu Daya Iblis Atas Penguasa5

Kelima, sesungguhnya mereka menganggap bahwa apa yang telah mereka lakukan berdasarkan pertimbangan akal mereka semata adalah sebuah kebaikan. Sehingga mereka memotong yang tidak boleh dipotong, memerangi/membunuh orang yang yang tidak boleh diperangi/dibunuh. Iblis mengelabui mereka dengan menganggap hal tersebut adalah sebuah kebijakan (pilihan pemimpin/penguasa –ed). Lebih dari itu, apa yang mereka lakukan mengandung makna adanya anggapan bahwa syari’at masih kurang, masih membutuhkan penyempurnaan. Mereka menganggap kami akan menyempurnakannya dengan pertimbangan akal kami semata.

Ini merupakan seburuk-buruk tipuan. Karena pensyari’atan merupakan suatu hak murni Allah. Mustahil suatu hal yang merupakan perkara hak murni Allah padanya ada kekurangan dan membutuhkan adanya penyempurnaan dari mahluk/manusia. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ

“Tiadalah Kami luput/alpa sesuatupun dalam Al Qur’an (sehingga Kami lupa menetapkannya)”. (QS. Al An’am [6] : 38)

Allah Subhana wa Ta’ala juga berfirman,

لَا مُعَقِّبَ لِحُكْمِهِ

“Tidak ada yang mampu menolak ketetapan Nya”. (QS. Ar Ro’du[13] : 41)

Orang yang mengkaim bahwa syari’at masih kurang dan butuh kepada penyempurnaan dari manusia maka dikhawatirkan terjatuh dalam kekurufuran.

Tipu Daya Iblis Atas Penguasa6

Kedelapan, sesungguhnya iblis mengelabui kebanyakan mereka dengan mengganggap bahwa mereka telah menunaikan kewajiban sebab telah terlihat teraturnya[4] tatanan masyarakat. Padahal seandainya mereka benar-benar meninjaunya maka mereka pasti melihat banyaknya kekurangan.

Tipu Daya Iblis Atas Penguasa7

Kesepuluh, sesunggunya mereka menganggap bahwa mereka dapat (menghapus dosa) dengan bersedakah dari harta ghoshob[5]. Dia mengira bahwa 1 Dirham yang dia sedekahkan dapat menghapus 10 dosa ghoshob.

Hal ini merupakan sebuah kemustahilan, karena dosa ghoshob tetap ada. Sedangkan dirham yang disedekahkan seandainya dari ghoshob maka tidak akan diterima. Namun apabila berasal dari harta yang halal maka tidak dapat menolak/menghapus dosa ghoshob. Karena memberikan sedekah kepada orang yang faqir tidak dapat menggugurkan dosa yang berkaitan dengan orang lain.

Tipu Daya Iblis Atas Penguasa8

Kesebelas, sesungguhnya iblis menjadikan indah, baik menurut akal mereka, disamping mereka terus menerut melakukan perbuatan dosa mereka berziarah kepada orang-orang sholeh yang masih hidup dan meminta mereka berdo’a kepada Allah untuk mereka. Mereka menganggap bahwa apa yang mereka lakukan itu dapat meringankan dosa. Padahal kebaikan ini tidak dapat menghapus keburukan mereka.

Tipu Daya Iblis Atas Penguasa9

Kedua belas, sesungguhnya sebagian dari pemimpin merupakan orang yang menjadi bawahan pemimpin yang lain. Sehingga pimpinannya tersebut memerintahkannya berbuat zholim. Iblis berusaha membuat tipu daya dengan membisikkan bahwasanya yang mendapatkan dosa adalah pemimpinmu bukan kamu.

Ini merupakan sebuah kebathilan. Karena dia telah membantu kezholiman. Sedangkan setiap orang yang membantu perbuatan maksiat merupakan pelaku kemaksiatan. Karena sesungguhnya Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam melaknat sepuluh orang terkait dengan khomer. Beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam juga melaknat perbuatan riba, orang memakan riba, tukang tulis dan saksinya.

Termasuk hal ini adalah seorang bawahan menarik uang untuk atasannya, dia mengetahuinya bahwa atasannya akan berbuat mubadzir dan (menarik uang tersebut) merupakan bentuk penghiatan. Maka orang ini merupakan orang yang membantu perbuatan zholim juga.

Dahulu Maalik bin Diinaar Rohimahullah mengatakan,

كَفَى بِالْمَرْءِ خِيَانَةً أَنْ يَكُوْنَ أَمِيْنًا لِلْخَوَنَةِ

Cukuplah seseorang dianggap penghianat apabila dia menjadi kepercayaan penghianat[6].

 

[Diringkas dengan perubahan redaksi seperlunya dari Kitab Al Muntaqoo An Nafiis min Talbiis Ibliis li Imam Ibnil Jauziy karya Syaikh ‘Ali bin Hasan Al Halabiy hafidzahullah hal. 153-158 terbitan Dar Ibnu Jauziy, Riyadh, KSA]

Maka lihatlah wahai saudaraku yang berani menceburkan dirinya sebagaimana kasus di atas. Mudah-mudahan kita senantiasa dalam penjagaan Allah ‘Azza wa Jalla.

 

 

 

 

Sigambal, setelah ‘Isya

19 Dzul Hijjah 1435 H / 13 Oktober 2014 M / Aditya Budiman bin Usman

[1] Syaikh ‘Ali bin Hasan Al Halabiy hafizhahullah mengatakan, “Mereka adalah orang-orang yang menghalang-halangi masyarakat untuk mengadukan kezhaliman mereka dan menuntutnya”.

[2] HR. Abu Dawud no. 2948, Al Hakim (94/IV) dan lain-lain. Al Hakim mengatakan, ‘Sanadnya syami shohih’. Adz Dzahabiy menyetujuinya. Syaikh Al Albani Rohimahumullah menshohihkannya dalan Ash Shohihah.

[3] Misal riba, penipuan, korupsi, khiyanat dan lain-lain.

[4] Bagaimana jika keadaannya tidak/belum teratur ?! Laa Hawlaa Walaa Quwwata Illaa Billah. Ed.

[5] Harta yang diperoleh dengan cara yang zholim dan aniaya. (An Nihaayah fi Ghoribiil Hadiits wal Atsar oleh Ibnul Atsir Rohimahullah dengan tahqiq Syaikh ‘Ali hal 672 terbitan Dar Ibnul Jauziy, Riyadh.) ed.

[6] Lihat Syu’abul Iman oleh Al Baihaqiy no. 9430.

 

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply