Tipu Daya Iblis Atas Orang-Orang Kaya

28 Jan

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Tipu Daya Iblis Atas Orang-Orang Kaya

Alhamdulillah wa shollatu wa sallamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa aalihi wa ashaabihi ajma’ain.

Hidup berkecukupan dan tidak meminta-minta adalah sebuah hal yang dipuji dalam Islam. Bahkan tidak ada celaan bagi seseorang semata-mata karena orang tersebut adalah orang yang berkecukupan/kaya. Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda mencela orang yang meminta-minta,

لاَ تَزَالُ الْمَسْأَلَةُ بِأَحَدِكُمْ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ وَلَيْسَ فِى وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ

“Tidaklah sikap meminta-minta terdapat pada diri seseorang hingga ketika dia bertemu Allah sementara di wajahnya tidak ada daging sedikitpun”[1].

Demikian juga sabda Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam yang menunjukkan keutamaan orang yang berkemampuan dan suka memberi,

الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى وَالْيَدُ الْعُلْيَا الْمُنْفِقَةُ وَالسُّفْلَى السَّائِلَةُ

“Tangan di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah. Karena tangan yang di atas adalah tangan orang yang berinfaq dan tangan yang di bawah adalah tangan orang yang suka meminta-minta”[2].

Demikian juga perkataan para sahabat kepada Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam,

يَا رَسُولَ اللَّهِ ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ بِالأُجُورِ يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّى وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ وَيَتَصَدَّقُونَ بِفُضُولِ أَمْوَالِهِمْ.

 “Wahai Rosulullah, orang-orang kaya datang dengan membawa pahala yang banyak. Mereka sholat kami pun sholat, mereka puasa kamipun puasa namun mereka bersedekah dengan kelebihan harta yang ada pada mereka (sedangkan kami tak mampu seperti mereka -ed.)”[3].

Dan sudah menjadi tabiat manusia senang dengan banyaknya harta. Allah Tabaroka wa Ta’ala berfirman,

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu : wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia”.

(QS. Ali ‘Imron [3] : 14)

Syaikh ‘Abdur Rohman bin Nashir As Sa’diy Rohimahullah mengatakan,

يخبر تعالى أنه زين للناس حب الشهوات الدنيوية، وخص هذه الأمور المذكورة لأنها أعظم شهوات الدنيا وغيرها تبع لها

“Allah Subhana wa Ta’ala mengabarkan kepada kita bahwa sesungguhnya telah dijadikan indah bagi manusia dan kecintaan mereka atas syahwat duniawiyah. Allah Subhana wa Ta’ala mengkhususkan hal-hal di atas karena hal itulah syahwat terbesar manusia di dunia. Sedangkan selainnya mengikuti hal tersebut”[4].

Oleh karena itulah sebagai hamba Allah ‘Azza wa Jalla dan di saat bersamaan sebagai musuh syaithon kita hendaknya memperhatikan jerat-jerat syaithon ketika mencari harta.

Ibnul Jauziy Rohimahullah mengatakan,

وقد لبس إبليس على أصحاب الأمول من أربعة أوجه :

أحدها من جهة كسبها فلا يبالون كيف حصلت وقد فشا الربا في أكثر معاملاتهم وأنسوه حتى أن جمهور معاملاتهم خارجة عن الإجماع.

“Iblis telah memperdayai orang-orang yang memiliki banyak harta dengan 4 jenis jeratnya.

Pertama : Dari jalan/cara mendapatkan harta tersebut. Mereka tidak peduli bagaimana cara mendapatkan harta itu. Riba menjamur pada kebanyakan transaksi mereka sehingga mereka menganggap hal itu biasa. Hingga kebanyakan muamalah dalam cara mereka mendapatkan harta telah menyimpang dari ijma’/kesepakan para ulama.

والثاني من جهة البخل بها فمنهم من لا يخرج الزكاة أصلا إنكالا على العفو.

ومنهم من يخرج بعضا ثم يغلبه البخل فينظر أن المخرج يدفع عنه.

ومنهم من يحتال لإسقاطها مثل أن يهب المال قبل الحول ثم يسترده. ومنهم من يحتال بإعطاء الفقير ثوبا يقومه عليه بعشرة دنانير وهو يساوي دينارين ويظن ذلك الجهل أنه قد تخلص.

ومنهم من يخرج الردىء مكان الجيد.

ومنهم من يعطي الزكاة لمن يستخدمه طول السنة فهي على الحقيقة أجره.

ومنهم من يخرج الزكاة كما ينبغي فيقول له إبليس ما بقي عليك فيمنعه أن يتنفل بصدقة حبا للمال فيقوته أجر المتصدقين ويكون المال رزق غيره.

Kedua : dari jalan/cara bakhil terhadap harta. Diantara mereka ada yang tidak mau membayar zakat sama sekali dan berharap Allah akan mengampuninya.

Diantaranya ada juga yang mengeluarkan sebagiannya saja kemudian kebakhilan mengalahkannya. Dia menganggap bahwa sebagian zakat yang telah ia keluarkan mampu mencegah dirinya dari Adzab Allah.

Diantara mereka ada juga yang mencari berbagai alasan untuk menggugurkan zakatnya, misalnya dia menghadiahkan zakatnya sebelum mencapai haulnya kemudian setelah itu memintanya kembali !

Diantara mereka ada yang melakukan tipu daya dengan memberikan pakaian kepada orang fakir yang dia hargai dengan sepuluh dinar pada sebenarnya harga pakaian tersebut adalah dua dinar. Orang yang bodoh ini menyangka dengan melakukan hal itu dia sudah terbebas dari kewajiban.

Diantara mereka ada yang mengelauarkan harta yang buruk untuk menggantikan harta yang baik.

Diantara mereka ada yang mengeluarkan zakat kepada orang yang mereka pekerjakan sepanjang tahun, padahal sebenarnya yang dia keluarkan tersebut adalah gaji pekerjanya.

Diantara mereka ada yang mengeluarkan zakat sebagaimana seharusnya. Lalu iblis membisikkan kepadanya ‘apalagi yang tersisa untukmu’. Sehingga iblis mampu menahannya untuk tidak mengeluarkan zakatnya karena cinta harta. Lalu hilanglah pahala bagi orang-orang yang mengeluarkan zakat darinya padahal harta tersebut adalah rezeki orang lain (yang dia tahan)”.

والثالث من حيث التكثير بالأموال فإن الغني يرى نفسه خيرا من الفقير وهذا جهل لأن الفضل بفضائل النفس اللازمة لها لا تجمع حجارة خارجة عنها كما قال الشاعر:

غنى النفس لمن يعقل … خير من غنى المال

وفضل النفس في الأنفس … وليس الفضل في الحال

Ketiga, dari jalan memperbanyak harta. Karena sesungguhnya orang kaya menilai dirinya lebih baik dari pada orang fakir. Padahal ini adalah sebuah kebodohan karena keutamaan adalah keutamaan jiwa bukan dengan mengumpulkan bebatuan (harta –ed.) dari luar jiwa. Sebagaimana yang dikatakan seorang penyair dalam syairnya :

Kaya Jiwa bagi Orang yang Berakal………….

Lebih Baik dari pada Kaya Harta……………..

Keutamaan adalah Keutaman Hati/Jiwa…………..

Bukanlah Keutamaan Itu pada Keadaan Harta……….”.

والرابع في إنفاقها فمنهم من ينفقها على وجه التبذير والإسراف تارة في البنيان الزائد على مقدار الحاجة وتزويق الحيطان وزخرفة البيوت وعمل الصور وتارة في اللباس الخارج بصاحبه إلى الكبر والخيلاء وتارة في المطاعم الخارجة إلى السرف وهذه الأفعال لا يسلم صاحبها من فعل محرم أو مكروه وهو مسؤول عن جميع ذلك.

Keempat, dari jalan membelanjakannya. Diantara mereka ada yang membelanjakannya dengan boros dan berlebihan.

Terkadang untuk membangun rumah melebihhi kebutuhan, menghiasi dinding, memperindah rumah, membuat ukiran-ukiran rupa.

Terkadang untuk menggunakan pakaian yang menyeret pemakainya pada kesombongan dan keangkuhan dan pakaian.

Terkadang untuk memamakan makanan yang keluar hingga batas berlebihan.

Pelaku perbuatan-perbuatan ini tidaklah selamat dari melakukan perbuatan yang haram atau hal yang dibenci dalam syariat. Padahal dia akan ditanya untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatannya”.

عن أنس بن مالك قال قال رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “يا أبن آدم لاَ تَزُولُ قَدَمَاك يوم القيامة بَيْنِ يَدَيِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَتَّى تُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ ، عَنْ عُمْرِكَ فِيمَا أَفْنَيْتَهُ ، وَعَنْ جَسَدِكَ فِيمَا أَبْلَيْتَهُ ، وَعَنْ مَالِكَ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبْتَهُ ، وَفِيمَا أَنْفَقْتَهُ, وَعَنْ عِلْمِكَ مَاذَا عَمِلْتَ فِيْهِ ؟

“Dari Anas bin Malik, dia berkata, ‘Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Wahai anak keturunan Adam, tidaklah kedua kakimu akan beranjak di hari qiyamat pada saat di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla hingga engkau akan ditanya 4 perkara : tentang umurmu untuk apa kau habiskan, tentang ragamu untuk apa engkau pergunakan, tentang hartamu dari mana engkau mendapatkannya dan untuk apa kau habiskan, tentang ilmu seberapa yang engkau beramal dengannya ?”[5]

ومنهم من ينفق في بناء المساجد والقناطر إلا أنه يقصد الرياء والسمعة وبقاء الذكر فيكتب اسمه على ما بنى ولو كان عمله لله عز وجل لأكتفى بعلمه سبحانه وتعالى ولو كلف أن يبني حائطا من غير أن يكتب اسمه عليه لم يفعل

“Diantara mereka ada yang berinfaq untuk membangun mesjid-mesjid dan jembatan-jembatan namun yang mereka inginkan adalah riya’, sum’ahsanjungan manusia. Maka dia menuliskan namanya di mesjid-mesjid atau jembatan-jembatan yang sudah ia bangun. Seandainya perbuatannya tersebut karena Allah ‘Azza wa Jalla maka dia akan merasa cukup bahwa Allah Subhana wa Ta’ala telah mengetahuinya. Seandainya dia diminta untuk membuat bangunan tanpa menuliskan nama di bangunan tersebut niscaya dia tidak akan mau membangunnya !”

ومن هذا الجنس إخراجهم الشمع في رمضان في الأنوار طلبا للسمعة ومساجدهم طوال السنة مظلمة لأن اخراجهم قليلا من دهن كل ليلة لا يؤثر في المدح ما يؤثر في إخراج شمعة في رمضان ولقد كان أغناء الفقراء بثمن الشمع أولى.

“Termasuk model ini, mereka memberikan minyak pada Bulan Romadhon untuk lampu penerangan karena sum’ah. Padahal mesjid-mesjid mereka gelap sepanjang tahun. Karena mereka memberikan sedikit minyak untuk lampu mesjid setiap malam tidak dapat mendatangkan pujian. Hal ini kontras ketika pada Bulan Romadhon. Padahal pemberian nilai/harga minyak untuk mencukupi orang-orang fakir lebih utama”.

ومنهم من إذا تصدق أعطى الفقير والناس يرونه فيجمع بين قصده مدحهم وبين إذلال الفقير

“Diantara mereka ada yang apabila bersedekah kepada orang fakir sementara orang-orang melihatnya. Ketika itu dia menyatukan dua hal yaitu bermaksud untuk mendapatkan pujian dan merendahkan orang-orang fakir”.

وفيهم من يجعل منه الدنانير الخفاف فيكون في الدينار قيراطان ونحو ذلك وربما كانت رديئة فيتصدق بها بين الجمع مكشوفة ليقال قد أعطى فلان فلانا دينارا

“Diantara mereka ada yang membuat dinar-dinar ringan, satu dinar dicampur dengan dua qiroth atau yang sepertinya. Terkadang keadaan lebih buruk, ia bersedekah di depan khalayak ramai agar orang-orang mengatakan ‘Fulan telah memberikan sedekah dengan dinarnya’’.

وبالعكس من هذا كان جماعة الصالحين المتقدمين يجعلون في القرطاس الصغير دينارا ثقيلا يزيد وزنه على دينار ونصف ويسلمونه إلى الفقير في سر فاذا رأى قرطاسا صغيرا ظنه قطعة فاذا لمسه وجد تدوير دينار ففرح فإذا فتحه ظنه قليل الوزن فاذا رآه ثقيلا ظنه يقارب الدينار فاذا وزنه فرآه زائدا على الدينار اشتد فرحة فالثواب يتضاعف للمعطى عند كل مرتبة

“Kebiasaan orang sholeh yang terdahulu merupakan kebalikan dari hal di atas. Mereka dahulu memberikan sedekah dinar beratnya dengan menutupinya dengan kertas (amplop -ed.) yang kecil. Mereka biasanya menambah berat dinarnya tersebut dengan tambahan setengah dinar beratnya. Kemudian mereka memberikannya kepada orang yang fakir secara sembunyi-sembunyi. Sehingga ketika si fakir melihat amplopnya kecil maka dia akan mengira bahwa isinya hanya sepotong kertas. Kemudian ketika ia menyentuh/merabanya maka ia akan mendapatkan ternyata pada kertas tersebut ada dinarnya. Sehingga si fakir kegirangan ketika membukanya. Dia menyangka isinya hanya kertas ringan namun ketika melihatnya yang ia adalah dinar yang berat. Ketika melihatnya dia mengira beratnya hanya satu dinar namun ketika dia menimbangnya ia kemudian mengetahui ternyata beratnya lebih dari satu dinar sehingga bertambah senanglah dia. Sehingga pahala mereka yang bersedekah akan bertambah karena telah memberikan sedekah dan membuat si fakir girang”.

ومنهم من يتصدق على الأجانب ويترك بر الأقارب وهم أولى

“Diantara mereka ada yang bersedekah kepada orang-orang yang jauh dan meninggalkan berbuat baik/ sedekah kerabat dekat mereka, padahal merekalah yang lebih utama”.

عن سليمان بن عامر قال سمعت رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يقول: “الصدقة على المسلمين صدقة والصدقة على ذوي الرحم اثنتان صدقة وصلة”

Dari Sulaiman bin ‘Amir, dia mengatakan, ‘Aku mendengar Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

“Sedekah seorang muslim kepada muslim lainnya pahalanya adalah sebagaimana seorang muslim bersedekah. Sedangkan sedekah seorang muslim kepada muslim lainnya yang memiliki hubungan kekerabatan atasnya mendapatkan dua pahala yaitu pahala sedekah dan pahala menyambung tali silaturahim”.

ومنهم من يعلم فضيلة التصدق على القرابة إلا أن يكون بينهما عداوة دنيوية فيمتنع من مواساته مع علمه بفقره ولو واساه كان له أجر الصدقة والقرابة ومجاهدة الهوى

“Diantara mereka ada yang mengetahui keutamaan bersedekah kepada kerabat namun karena ada tendensi duniawiyah berupa permusuhan maka dia menolak memberikannya kepada kerabatnya padahal ia mengetahui kerabatnya tersebut adalah orang yang fakir. Seandainya dia mau bersedekah kepada kerabatnya tersebut, maka dia akan mendapatkan pahala besedekah, berbuat baik kepada kerabat dan melawan dorongan hawa nafsu”.

ومنهم من ينفق في الحج ويلبس عليه إبليس بأن الحج قربة وإنما مراده الرياء والفرجة ومدح الناس

“Diantara mereka ada yang membelanjakan hartanya untuk haji. Kemudian iblis mengelabuinya (sehingga dia tidak jadi melaksanakannya –ed.) dengan mengatakan bahwa haji itu adalah ibadah untuk mendekatkan diri dan yang engkau inginkan darinya adalah riya’ dan suka cita dan sanjungan orang”.

قال رجل لبشر الحافي اعددت ألفي درهم للحج فقال احججت قال نعم قال اقض دين مدين قال ما تميل نفسي إلا إلى الحج قال مرادك أن تركب وتجيء ويقال فلان حاجي

Seorang laki-laki berkata kepada Bisyr Al Haafii. ‘Aku telah menyiapkan seribu dirham untuk melaksanakan haji’. Kemudian Bisyr bertanya, ‘Apakah kamu sudah haji ?’ Dia menjawab, ‘Ya’. Bisyr mengatakan, ‘(Kalau begitu –ed.) bayarlah dengan uangmu tersebut hutang orang-orang yang terlilit hutang’. Dia berkata, ‘Hatiku tidaklah condong kepada ibadah lain dengan uang tersebut kecuali untuk melaksanakan haji’. Bisyr mengatakan, ‘Yang engkau inginkana adalah jalan-jalan ke tanah haram lalu ketika pulang orang-orang akan berkata bahwa kamu telah pulang dari menunaikan ibadah haji’.

ومنهم من ينفق على الأوقات والرقص ويرمي الثياب على المغني ويلبس عليه إبليس بأنك تجمع الفقراء وتطعمهم

“Diantara mereka ada yang membelanjakan hartanya untuk nyanyian/musik dan joget padahal iblis telah mengelabuinya (untuk melegalkan perbuatannya tersebut –ed.) dengan membisikkan bahwa yang engkau lakukan adalah memberikan makan orang-orang fakir (hanya saja sambil mendengarkan musik dan nyanyian –ed.)”.

ومنهم من إذا جهز أبنته صاغ لها دست الفضة ويرى الأمر في ذلك قربة وربما كانت له ختمة فتقدم مجامر الفضة ويحضر هناك قوم من العلماء فلا هو يستعظم ما فعل ولا هم ينكرون اتباعا للعادة

“Diantara mereka ada yang bila menyiapkan putrinya untuk menikah, dia membuat untuknya sebuah nampan dari perak. Dan menganggap hal itu sebagai bentuk taqqorrub/mendekatkan diri kepada Allah. Terkadang dia juga membuat majelis khataman, lalu pembakar kayu gaharu dipersiapkan. Majelis ini dihadiri banyak pihak diantaranya ada ulama’. Maka ulama tersebut tidak dapat mengingkari hal tersebut karena sudah terbiasa mengikuti rutinitas setempat”.

ومنهم من يجوز في وصيته ويحرم الوارث ويرى أنه ماله يتصرف فيه كيف شاء وينسى أنه بالمرض قد تعلقت حقوق الوارثين به

“Diantara mereka ada yang membolehkan menggunkan wasiat dan meninggalkan hukum waris. Kemudian mereka tidak membolehkan waris dan berpendapat bahwa hartanya tersebut adalah murni hartanya (Allah Ta’ala tidak ikut campur -ed) oleh karena itulah dia ingin memberikannya kepada siapa yang dia mau. Dia lupa bahwa ketika dia sedang sakit maka hak-hak waris telah terikat pada hartanya”.

[Diterjemahkan dengan perubahan redaksi seperlunya dari Kitab Al Muntaqoo An Nafiis min Talbiis Ibliis li Imam Ibnil Jauziy karya Syaikh ‘Ali bin Hasan Al Halabiy hafidzahullah hal. 542-547 terbitan Dar Ibnu Jauziy, Riyadh, KSA]

Maka lihatlah saudaraku betapa tipu daya iblis itu amat halus dan samar bagi sebagian besar orang-orang yang memiliki harta melimpah.

Mudah-mudahan bermanfaat.

 

 

 

Sigambal, setelah mencuci pakaian Hudzaifah

28 Shofar 1435 H / 31 Desember 2013 M / Aditya Budiman bin Usman



[1] HR. Bukhori No.  1405 dan Muslim no. 2443.

[2] HR. Bukhori No.  1429 dan Muslim no. 1033.

[3] HR. Muslim no. 1006.

[4] Lihat Taisir Karimir Rohman.

[5] HR. Tirmidzi no. 2417 dan lain-lain. Syaikh Al Albani Rohimahullah mengatakan, “Shahih”.

 

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply